
Jose akhirnya muncul, tetapi lelaki itu muncul dari pintu yang menuju ke dalam rumah. Wajahnya pucat dan rambutnya acak-acakan. Maria meninggalkan teman-temannya dan bergegas menghampiri lelaki itu.
"Jose!" bisiknya gemas. Ia bisa melihat separuh tamu memperhatikan mereka. "Jose, apa yang kau lakukan di sana? Kau ke kamar kecil?"
Jose mengangkat wajah, awalnya ia menatap Maria dengan ngeri, kemudian menangkupkan kedua tangannya di muka dan bertanya dengan suara teredam, "Apa makanan kesukaanku?"
"Apa?" Maria mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. "Kau mabuk?"
"Aku tidak mabuk. Kalau kau Mary, kau akan tahu apa makanan kesukaanku."
Maria memutar bola mata. "Kau tidak punya makanan kesukaan! Semua makanan sama saja bagi lidahmu, kau selalu bilang ini enak, itu juga enak, ini luar biasa, itu lezat. Tidak ada yang kau suka dan tidak ada yang kau benci."
Jose menurunkan tangannya dari wajah. Ia menatap Maria dengan ekspresi lega luar biasa. "Kau memang Maria," bisiknya.
Sebelum Maria sempat bereaksi, Jose sudah menarik pinggangnya dan mendekap gadis itu erat-erat.
Maria gelagapan. Ia bisa mendengar suara riuh kesiap kaget. Dan ada suara suitan kurang ajar—pasti Adrian Marsh.
"Jose lepaskan aku!" Maria berbisik gemas. Jantungnya berdegup sangat kencang dan pipinya memanas. Ia bisa merasakan panas tubuh Jose secara langsung, bahkan meski mereka dibatasi helaian kain. Ia bisa merasakan detak jantung lelaki itu di dadanya. Bukannya melepaskan, Jose malah mempererat pelukannya hingga Maria merasa sesak. "Jose! Aku tidak bisa bernapas!"
"Maaf," kata Jose cepat sambil melepaskan pelukan, membiarkan Maria menarik napas. Ia menatap sekitar dengan rikuh. "Aku cuma senang."
Sir William mendekat ke arah mereka. Langkahnya tegas dan marah. "Tuan Argent," katanya ketika mendekat. "Aku mengerti kau bukan jenis orang yang bisa mengendalikan diri, tapi tadinya kuharap kau tidak mempermalukan Nona Garnet di depan umum."
Ada kebencian yang amat sangat dalam nada suara Sir William, yang meletik emosi Jose. Tanpa peringatan sebelumnya, Jose menghantamkan tinju ke hidung Sir William hingga pria itu oleng.
Semua orang berteriak kaget. Jose menghantam sekali lagi sampai Sir William jatuh ke lantai. Maria buru-buru menangkap lengan Jose yang siap memukul lagi.
__ADS_1
"Jangan, Jose!" Maria berseru ngeri. Ia belum pernah melihat kawannya semarah ini. "Lihat sekitarmu!"
Para pelayan Sir William serta kawan-kawan barunya sudah bergerak maju dengan marah untuk mengusir Jose, tetapi Adrian Marsh meloncat ke tengah mereka dan menggoyangkan telunjuknya di depan orang-orang itu, memperingatkan mereka untuk tidak mendekat. Lucas Clearwater, masih membawa gelas anggurnya, ikut melangkah ke samping Jose dengan tatapan mengancam, seolah berkata bahwa ia akan melenyapkan siapa pun yang berani ikut campur. Simon Rutlan mengusap wajah dengan pasrah. Ia ikut maju ke samping Jose untuk menunjukkan dukungannya.
"Aku mengundangmu ke rumahku tapi ini jawabanmu?" Sir William bangkit perlahan, mengeluarkan sapu tangan dari kantongnya untuk mengusap darah di hidung. "Inikah kesopanan ala Argent yang didengungkan di seluruh penjuru Bjork?"
Maria tidak mengerti apa yang sedang terjadi, tapi ia memeluk erat-erat lengan Jose agar lelaki itu tidak melancarkan pukulan lain. "Ini semua salah paham, ini pasti salah paham," katanya lembut, masih berusaha mencari jalan damai. "Jose, mungkin sebaiknya kita pulang ..."
"Nona Garnet—“
"Jangan sebut namanya!" Jose memotong tajam, menunjuk wajah Sir William tepat di depan hidungnya. Napasnya tidak beraturan karena ia begitu marah. "Bahkan dalam hati pun kau tidak berhak menyebut namanya, monster! Tega benar kau ... orang-orang itu ..." Jose mengusap rambut hitamnya yang jatuh menutupi kening. "Pelayanmu ... semuanya ... bahkan kekasihmu sendiri ...!"
Sekarang wajah Sir William berubah seputih kapas. Bahkan matanya terlihat seperti kobaran api. "Keluar," perintahnya dengan suara rendah. "Keluar! Keluar! Keluar! Minggat sana Argent!"
Sir William meneriakkan kata-katanya dalam bahasa yang sangat kuno hingga nyaris tak bisa dimengerti siapa pun. Selama satu menit penuh, yang ada hanya kesunyian. Tidak ada yang bergerak.
Satu per satu tamu berjalan pulang mengikuti contoh Jose, dan tidak ada satu pun yang pamit pada Sir William. Semuanya ketakutan.
***
Rolan menghabiskan waktunya di mobil untuk mempelajari berkas-berkas yang ia kumpulkan dari Krip—Jose memerintahkan Krip memberi semua informasi pada Rolan.
Ia sekarang menemukan satu kesimpulan baru. Ia mulai bisa menebak siapa lawan mereka sekarang. Ia butuh penguat, tentu saja. Mungkin kalau ia bisa membujuk Jose, ia akan bisa dipertemukan dengan Tuan Stuart—informan milik Marco. Ia penasaran apakah pria itu akan menyetujui dugaannya.
Rolan baru menyusun rencana membujuk Jose ketika matanya menangkap sosok lelaki itu melangkah keluar gerbang, tanpa memakai mantel. Mantel Jose melingkar di lengan Maria. Dan dua orang itu dikawal oleh tiga pria jangkung yang menyeramkan. Rolan bergidik. Ia mengenali siapa yang berjalan bersama keponakannya. Adrian Marsh, Simon Rutlan dan Lucas Clearwater. Tiga orang itu adalah bangsawan serta putra bangsawan yang ternama; ketiganya berbahaya kalau dijadikan musuh.
Yah, Argent juga bahaya kalau dijadikan musuh, sih. Jadi mereka sama saja. Seperti kata pepatah: serigala memang akan memanggil serigala, pikir Rolan.
__ADS_1
Ketika melihat wajah-wajah itu sangat muram, Rolan segera keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Jose dan Maria. "Apa ada masalah?" tanyanya.
"Inspektur Robert harus dipanggil ke rumah besok," geram Jose. Ia menatap ke arah Clearwater. "Jaga dirimu, kumohon. Lalu datanglah besok ke rumahku begitu hari terang."
Clearwater mengangguk tenang. Ia menepuk pundak Jose beberapa kali. "Aku tidak akan hilang," katanya dengan nada datar. "Bukan aku yang meninju hidungnya sampai berdarah."
Jose tahu lelaki itu hanya mencoba bercanda, tetapi ia tidak nafsu tertawa.
Adrian Marsh yang tertawa. "Kenapa?" tanyanya waktu menyadari ia diperhatikan. "Itu lucu, kok. Aku suka melihat Jose menghajar orang. Tinjunya keren. Woosh wooshhh!" Ia meninju udara dua kali.
"Kau melakukan apa?" Rolan menoleh pada Jose. "Siapa yang kau hajar?"
Simon menaikkan kedua tangannya dalam pose menyabarkan. "Jose, aku dan Adrian akan bersama Luke semalaman di estatku. Kau tidak perlu cemas. Dokter, sebaiknya ini tidak dibahas sekarang. Jangan dibahas di tempat ini. Setidaknya antarlah Nona Garnet pulang dulu."
Rolan menoleh ke arah Maria yang masih berwajah kusut. Ia mengangguk, mengucapkan terima kasih pada Simon karena sudah mengingatkan, kemudian mereka berpisah dengan tiga orang itu. Rolan mengemudikan mobil pulang. Tadinya ia berniat menunggu hingga mereka sampai, tetapi Rolan tak tahan. "Kau berkelahi dengan siapa?"
"Dia memukul Sir William!" Maria yang berkata. Suaranya pecah. Sekarang barulah gadis itu menangis. "Kau benar-benar parah, Jose! Apa yang kau lakukan? Harusnya kau tidak minum terlalu banyak!"
"Aku tidak minum sama sekali!" Jose menukas marah. "Dia itu monster! Dia membunuh banyak orang! Mereka semua menderita dan ingin dibebaskan!"
"Oh ya? Dan hantu-hantu itu bicara langsung padamu, minta kau bantu mereka?!" bentak Maria sinis.
Ya, Jose ingin mengatakan itu. Ya, mereka minta tolong padaku!
Namun ia diam saja. Rolan menaikkan kedua alisnya tinggi-tinggi di depan kemudi. Ia perlu menanyakan detailnya secara rinci di rumah nanti.
***
__ADS_1