
Marco melemparkan pandangan tajam yang menusuk pada Rolan, membuat dokter itu otomatis menutup mulut dengan tangan sambil tersipu malu.
"Bagus sekali, Rolan. Apa gunanya berahasia? Kau teriakkan saja pada semua orang apa yang kita tahu." Marco memutar bola mata. Kecerobohan Rolan benar-benar tak biasa. Dokter itu biasanya selalu pandai menutup mulut. Rolan adalah orang yang hati-hati, karena itu Marco memercayainya.
Rentetan hal yang tidak biasa hari ini membuat Marco makin merasa tidak nyaman.
"Maaf," gumam Rolan. "Hutan ini rasanya benar-benar menyesakkan. Aku jadi gelisah."
Seolah mendukung pernyataan Rolan, udara berdesir melewati mereka, membentuk sapuan angin yang bergulung. Daun-daun berkerosak di atas mereka. Sekejap, semua orang berhenti dari pekerjaan mereka untuk memandang ke atas, ke tempat asal suara.
Marco tidak percaya pada hal mistis, tapi ia mulai yakin hutan ini memang bisa memanipulasi orang. Suasananya membuat orang merasa tak nyaman, seperti diawasi lekat-lekat.
"Jadi, bagaimana maksudmu tadi?" Rolan mengembalikan pandangan ke depan, menatap Marco dengan hati-hati. Ia berbisik, "Tuan W lewat? Kau yakin?"
Marco mengangguk. "George menghubungiku melalui pesuruh. Dia jelas-jelas bilang bahwa Hans dan Gerald gagal menjalankan tugas. Tidak ada terjemahan selain kematian."
"Bagaimana dengan Hans dan Gerald?"
"Belum kupastikan. Aku harus pulang sekarang. Yang jelas, mereka belum mati."
"Aku merasa tidak nyaman mendengar pilihan katamu."
Marco meringis. "Kalau ingin mendengar kalimat yang membuatmu nyaman, jangan minta padaku."
"Tentu saja tidak, demi Tuhan, seolah kau bisa membuat orang nyaman saja!" Rolan memutar bola mata. "Kenapa dia bisa lewat? Kupikir, dia bukan tipe orang yang berani membunuh dirinya sendiri."
__ADS_1
Dalam riwayatnya berurusan dengan hal-hal kotor, Rolan tidak jarang menemukan orang yang lebih suka menggigit lidahnya sampai putus dan mati karena pendarahan daripada harus membuka mulut. Ada juga kisah-kisah tentang orang yang menelan racun demi menjaga agar informasi tidak jatuh ke pihak luar. Wallace jelas bukan termasuk dalam kelompok-kelompok nekat seperti itu. Kelihatan jelas dari ketakutan dan sifat tamaknya, dia tipe orang yang memikirkan diri sendiri.
"Kita akan tahu nanti. Aku harus mengatur banyak hal. Terlalu banyak yang harus kupikirkan ulang. Terlebih, nanti malam akan ada festival."
"Apa sebaiknya aku ikut kembali?" Rolan bertanya. "Di sini sudah diurus oleh petugas forensik dan Robert. Kurasa tidak ada perlunya aku di sini."
"Kau tetap di sini," Marco berkata. Ia teringat pada cara Robert menatapnya, serta beberapa hal yang mengganggunya dari inspektur tersebut. Ada banyak hal yang perlu ia pastikan. "Malam nanti, aku perlu tahu dengan rinci, apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dan kau harus bisa melaporkan padaku."
Rolan mengedikkan bahu dengan santai. Kematian Wallace sama sekali tidak mengganggunya, meski dalam hati, ia ingin jadi yang melenyapkan pria buntal itu dengan tangannya sendiri.
Ketika Marco menghilang dari pandangan, Rolan melihat bahwa orang-orang sudah mulai berbenah. Petugas damkar membuat jembatan darurat untuk petugas kepolisian, tetapi mereka sendiri sudah pergi entah sejak kapan. Para petugas kepolisian sendiri sudah mulai meninggalkan TKP. Robert sedang bicara dengan dua anak buahnya.
"Kenapa semua orang tergesa pergi?" tanya Rolan heran pada dirinya sendiri. Ia baru saja melangkah maju untuk menemui Robert ketika sebuah jawaban dilayangkan padanya.
Rolan menggerakkan kepala, menoleh dengan kaku. Lima langkah dari tempatnya berdiri barusan, sedikit tertutupi pintu belakang mobil ambulans yang terbuka, sepasang muda mudi berdiri bersisian, menatap padanya dengan bola mata menyorot aneh.
Rolan mengenali sorot mata itu. Keingintahuan yang bercampur dengan rasa ngeri. Punggungnya seperti dialisi listrik ringan.
"Sejak kapan kalian di situ?!" semburnya marah. Jantungnya berdegup kencang, bertalu-talu sampai menggedor gendang telinga.
"Kami sudah di sini sejak tadi, sebelum Paman datang dan bicara berbisik-bisik." Jose yang menanggapi.
"Oh hebat sekali, siapa yang mengajarimu menguping pembicaraan orang lain? Teman barumu?" sindir Rolan.
Nolan melotot. Wajahnya memang selalu kelihatan seperti sedang tersinggung, tetapi kali ini anak itu benar-benar marah. "Kau menuduhku menguping?"
__ADS_1
"Memangnya kalian sedang apa lagi? Pesta minum teh?" balas Rolan yang gemas pada volume suara Nolan. Mulut anak itu seperti lonceng balai kota, keras sekali.
"Siapa yang menguping?! Kau sendiri yang berjalan ke dekat kami! Salah sendiri bicara tidak lihat-lihat sekeliling! Kalau memang tidak mau didengar siapa pun, kalian kan bisa tenggelam ke rawa sana dan bicara dari dasar sungai!"
"Nolan," Jose segera menegur, tetapi kalah cepat.
Rolan sudah bergerak cepat mendekat dan menarik kerah baju Nolan hingga anak itu terangkat naik. Ia mengguncang leher anak itu. "Hati-hati kalau bicara denganku, Nak," bisiknya pelan, mengancam. "Kau tidak tahu apa yang bisa dilakukan seorang dokter padamu. Aku bawa peralatan jahit dalam kotak obat. Bagaimana kalau mulut mungilmu ini kujahit, ha? Kau suka? Mungkin itu bakal bisa bikin mulut kecil ini diam!"
"Paman, turunkan dia." Jose berkata hati-hati. Ia bisa melihat ujung kaki Nolan sudah terangkat dari tanah. "Dia memang sembrono, tapi tidak bermaksud jahat. Dia memang dari dulu bermulut kasar. Lagi pula, kami berdua tidak dengar apa-apa. Kami bahkan tidak tahu bahwa yang sedang bicara adalah kalian."
Rolan menoleh, menatap mata Jose dalam-dalam. Pemuda itu membalas tatapannya dengan kekuatan yang sama. Setelah saling pandang selama hampir semenit, Rolan akhirnya melepaskan cengkeraman tangannya pada kerah baju Nolan. Gadis itu terjatuh ke tanah, terbatuk-batuk.
"Sebaiknya kau memang tidak dengar apa-apa, Jose," Rolan berbisik. Ia mendekati keponakannya tanpa melepaskan kontak mata. Jose mendengar semuanya, ia yakin itu. "Bahkan meski kau mendengar sesuatu, akan lebih baik kalau kau tetap berpura-pura tidak tahu, Jose."
Rolan menepuk pipi Jose dua kali, kemudian mencengkeram pundak pemuda itu sebagai penegasan.
Jose meraih tangan pamannya, kemudian membuangnya ke samping. Ia menepuk-nepuk pundaknya sendiri seperti menyingkirkan debu.
"Tidak perlu mengajariku soal berpura-pura, Paman. Aku melakukannya lebih baik daripada siapa pun di Bjork selama ini." Ia mendekat selangkah pada Rolan, menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya pelan. "Mungkin bagi Paman, aku tetap seorang keponakan. Karena itu meski usiaku sudah 23 tahun, Paman tetap memperlakukanku seperti ketika aku berumur 4 tahun."
Mata Jose menggelap dan raut wajahnya jadi dingin ketika ia mengangkat wajah, seolah ia melepas topeng ramahnya dan menggantinya dengan topeng lain yang terbuat dari es. "Tapi meski begitu kuharap Paman tidak lupa bahwa Paman sedang bicara dengan seorang Argent." Ia menepuk pundak Rolan dua kali sebagai balasan yang tadi. "Tidak ada yang pernah bisa memerintah seorang Argent. Tidak pernah ada yang boleh. Atau dia akan menyesal."
Jose tidak menunggu tanggapan Rolan. Ia bahkan tidak menatap ekspresi pamannya ketika melewati dokter itu. Jose menggamit lengan Nolan yang sejak tadi bengong memandangi mereka, mengajaknya beranjak pergi dari situ.
***
__ADS_1