BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 103


__ADS_3

Rolan menghabiskan pagi untuk membujuk Edgar menenangkan para pekerja Argent. Edgar melakukannya dengan baik. Ia berhasil menahan para pekerja agar tidak ribut.


"Mereka seperti lebah kehilangan ratunya," keluh Rolan begitu Edgar berhasil mengembalikan para pekerja ke posisi mereka masing-masing.


Edgar tertawa pelan. Ia menyalakan cerutu dan mengisapnya sambil memandangi tanah luas yang membentang di hadapannya. Mereka berdua ada di bagian belakang rumah, duduk di balkon yang menghadap pada jalanan tanah Argent.


"Itu wajar," sahut Edgar pelan. "Kakak memang pemimpin dan pemilik semua ini. Ketiadaannya membuat tanah ini seperti lahan tak berpemilik."


"Kau juga seorang Argent," Rolan mengingatkan. Sesuai dengan hierarki, gelar Lord Argent adalah milik Marco. Kalau Marco meninggal, gelar itu akan dimiliki Edgar karena Marco tidak menikah dan punya anak. Kalau Edgar meninggal, gelar akan dimiliki oleh Jacob sebagai anak pertama. Seharusnya begitu. Di rumah bangsawan lain begitu. Namun Rolan menyadari keluarga Argent tidak peduli pada hal semacam itu. Kepala keluarga di rumah ini ada 2. Marco mengurus bagian luar dan bagian-bagian kasar serta gelap di Bjork serta di rumah mereka sementara Edgar mengurus bagian ringan di permukaan. Keduanya seperti dua wajah yang saling melengkapi.


Edgar akan bisa mengatasi rumor serta menghentikan gosip di permukaan. Tapi tanpa Marco, maka para pekerja kasar Argent, para tukang pukul, para rentenir,  orang-orang yang berhubungan dengan dunia gelap, mereka semua tidak akan bisa dikendalikan. Mungkin mereka akan mencari tuan lain, mungkin mereka akan berontak.


***


Rolan tahu ketenangan yang mereka alami sekarang hanya ada untuk sementara waktu. Dan karena itulah sekarang ia di sini, di kantor polisi Bjork.


"Aku tidak tau apa pun soal Wallace," ucap Robert ketus ketika Rolan mengunjunginya di kantor.


Rolan menghaluskan jas putihnya, menatap pada deretan foto yang menghiasi dinding ruangan. Ia menarik kursi kayu di depan meja kerja Robert dan duduk di sana. "Aneh, padahal Tuan Wallace sering mengunjungimu."


Robert mendengus dari balik meja kerjanya. "Semua orang sering mengunjungiku. Lalu, apa yang akan kau lakukan dengan fakta itu? Kau ini dokter, bersikaplah seperti seorang dokter saja, sembuhkan orang-orang sana! Berhenti sok jadi detektif!"


"Wo, wo, wo, tenang, Robby ...,"

__ADS_1


"Robert!" ralat pria itu tajam. Kumisnya yang tebal berkedut-kedut di bawah hidung. Matanya menatap nyalang. "Jangan sok akrab memberiku nama panggilan! Kau dan semua anggota keluarga Argent, kalian sama-sama suka ikut campur! Selalu terjun di tempat yang bukan urusan kalian!"


Rolan berhenti melihat-lihat, matanya menatap lurus pada mata hitam Robert. "Wah, kenapa kau jadi panas begini? Aku kan cuma tanya kenapa Tuan Wallace sering mengunjungimu?" Ia mengetukkan sol sepatunya pada lantai kayu. Senyum tipis terbit di bibirnya. "Kenapa kau jadi panik?"


Robert menggebrak meja dengan keras. Rolan pasti terlonjak kaget kalau saja ia tidak sedang fokus memikirkan banyak jalan yang harus ia lalui tanpa Marco.


"Aku tidak panik! Camkan itu!" geram pria itu marah. "Aku muak pada orang-orang sepertimu! Seperti Marco! Kenapa kalian tidak mengurus saja bokong kalian sendiri dan berhenti mengendus ke sana kemari? Kenapa begitu serakah? Tiap orang punya porsinya masing-masing! Damkar memadamkan kebakaran, dokter menyembuhkan pasien, polisi mengurus kejahatan, pedagang menjual produk! Tapi kalian ingin menguasai semuanya! Orang-orang tamak!"


Rolan menjilat bibirnya sendiri. Robert adalah orang yang paling gampang diprovokasi yang pernah ia temui. "Tenanglah, Robby. Kami juga tidak suka mengurus bokong orang. Tapi kan kepolisian juga tidak bisa menemukan pelaku pembunuhan kawan-kawan kering kita?"


"Namaku! Robert!" Seluruh wajah Robert berubah-ubah warnanya. Mulai dari cokelat, ke kuning, ke merah, sekarang hampir ungu.


"Bernapaslah, Robby, wajahmu mulai biru. Biru adalah tanda gagal napas." Rolan mendekat, memberi bisikan bernada persekongkolan. "Seperti Tuan Wallace, dia juga biru. Ada yang mencekiknya." Ia mulai memancing.


Rolan mengerutkan kening. Ia barusan sengaja memancing, memberi kode soal kematian Wallace dengan harapan Robert akan kaget dan menginterogasinya, menanyainya soal Wallace. Namun ternyata Robert tetap defensif, ia bahkan tidak bertanya apa yang Rolan ketahui soal Wallace.


Seolah dia sudah tahu Wallace sudah mati, pikir Rolan.  Tapi tahu dari mana? Marco tidak memberi tahu siapa pun.


Napas Robert berubah makin cepat. Ia meraih pinggiran meja dan menumpu tubuhnya hingga bangkit. Badannya menjulang tinggi, menjatuhkan bayang-bayang gelap pada Rolan yang masih duduk dengan tenang. Robert tampak mengancam.


"Kau pikir karena dia tidak ada, lalu kau bisa seenak perut memerintah ke sini dan ke sana?" geramnya. "Kau pikir dokter sepertimu bisa memimpin dunia belakang? Memimpin Bjork? Memimpin kepolisian? Hah! Tanpa pria tua arogan itu, yang tersisa dari Argent cuma pedagang mata duitan, serta anak kecil yang seperti bajing loncat!"


Rolan menyatukan kedua tangannya di depan, membentuk posisi piramida. Mata cokelatnya menatap tajam dari balik kaca mata. "Dari mana kau tahu, Robby?"

__ADS_1


"Tahu bahwa kau ingin mengambil alih apa yang dilakukan Marco?" Robert tertawa keras, kedengaran mencemooh. "Semua orang bisa melihat apa yang kau incar! Aku ini polisi terlatih! Aku bisa melihat obsesi di matamu!"


"Tidak. Yang aku tanyakan adalah, dari mana kau tahu bahwa Marco tidak ada?" Rolan mengerutkan kening. "Aku ke sini karena ingin membicarakan itu, ingin tahu di mana Marco berada. Ingin bertanya apakah kau mungkin tahu dia sedang menginvestigasi apa. Marco hanya tidak pulang semalaman, jadi kami tidak meributkannya. Tidak ada yang tahu bahwa Marco hilang selain Keluarga Argent ... dan penculiknya."


Wajah Robert berubah bingung. Kemudian matanya bergerak gelisah. Pria itu menggeram marah. "Semua orang juga tahu dia hilang kalau melihat kau berjalan-jalan sendirian dengan lagak jagoan, menyelidik ke sana-ke sini! Aku ini seorang polisi! Aku tahu perubahan sekecil apa pun yang terjadi di kota ini!"


Rolan menggaruk pelipis dengan heran. "Aneh. Memangnya apa yang membedakan aku hari ini dengan aku kemarin? Kemarin, atas perintah Marco, aku juga berjalan sendirian ke sana-kemari, bahkan sampai ke luar kota segala. Tapi kau tidak mengira bahwa aku bergerak sendiri. Daya observasimu pasti sangat tajam, Robby."


Robert mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Wajahnya kembali memerah.


"Ya, tapi kau salah," Rolan tertawa. "Marco ada di rumah, kok. Aku datang ke sini atas perintahnya." Ia bangkit dari duduknya. "Marco minta aku bertanya padamu, apa Wallace datang untuk informasi tertentu. Dia ingin tahu informasi macam apa yang dimintanya dari kepolisian. Tapi kau tidak mau jawab, ya sudah. Aku akan bilang padanya."


Robert masih diam, tetapi Rolan menangkap perubahan pada sorot matanya. Pandangan mata orang yang sangat marah tetapi tidak mampu membalas karena tertahan sesuatu. Bagi orang sesombong Robert, hanya satu yang bisa menahannya untuk membalas, yaitu kekhawatiran rahasianya terbongkar.


"Ternyata, kau tidak sehebat bualanmu, Robby," Dokter itu masih memancing sebelum berjalan keluar. "Hanya karena aku datang sendiri, langsung menyimpulkan berbagai konspirasi sampai planet Pluto!" Ia berjalan pergi sambil tertawa dengan suara dilantangkan.


Tawanya masih bergaya sama dengan yang sudah-sudah, tawa ramah yang menyenangkan. Tapi kini ia menyuarakan itu untuk memanas-manasi Robert.


Sekarang ia tahu Marco ada di mana.


Ia pasti akan bisa menemukan pria itu, asal Jose mau menurut sedikit dan tidak mengacau.


***

__ADS_1


__ADS_2