
Sambil berjalan ke arah hutan, Jose menceritakan apa yang terjadi mulai dari awal. Dari kematian Higgins yang ganjil, kedatangan hantu hitam, kedatangan Nolan dengan talisman emas, kemudian mengenai kecurigaannya pada Sir William, munculnya Gladys, serta hilangnya Marco. Jose juga menceritakan secara singkat bagaimana ia pergi ke alam kematian, dunia yang lain, Bjork yang lebih dingin.
Maria benar-benar kebingungan mendengar begitu banyak cerita diungkapkan padanya. Namun segalanya jadi terasa masuk akal: baik soal kemisteriusan sikap Jose akhir-akhir ini, perkelahian di pesta Sir William, serta kekacauan di Bjork. Ia menghentikan langkahnya ketika mendengar soal raksasa jamur dan perjalanan Jose melihat dimensi lain dengan begitu banyak versi Arabella dan kurban yang ditumbalkan. Wajahnya memucat.
"Marry?" Jose menoleh. Mereka masih di lapangan rumput yang merupakan halaman hutan. Ditatapnya Maria dengan saksama. "Kau kenapa?"
"Aku sekarang tahu apa maumu," Maria tertawa pahit. "Kau ingin pergi ke sana lagi."
"Ya?" Jose mengusap ke belakang anak rambutnya yang jatuh ke kening.
Maria menunduk, menatap tangan mereka yang masih bertaut. Jemarinya tenggelam dalam genggaman hangat Jose. Rasanya seperti masih kemarin sore telapak mereka sama besarnya dan tubuh mereka sama tingginya. Rasanya seperti masih tadi pagi mereka berdua tidur-tiduran di bawah pohon Tilia di dekat danau favorit mereka dan mengobrolkan hal-hal yang tak penting. Sekarang semuanya berubah. Ia mengangkat wajah, menatap Jose dengan kedua matanya yang basah. "Kau ingin mencoba kembali ke alam kematian itu, kan? Kau ingin menyeberang lagi dan meminta petunjuk dari orang-orang yang sudah mati."
Angin berdesir melewati mereka, menimbulkan suara kemerosak daun yang ribut. Bunyinya seperti bisikan hutan.
Jose menatap ke arah bukaan hutan, kemudian kembali pada Maria. "Ya," katanya enteng, seperti tidak peduli pada risikonya. "Aku melihat banyak hal ketika bertemu dengan raksasa jamur itu, yang menurutku adalah manifestasi leluhur kita. Mereka ingin memberi petunjuk, dan kurasa tak ada salahnya ke sana lagi. Aku ingin melihat lebih banyak hal. Aku toh sudah pernah ke sana dua kali dan tetap selamat. Tapi dari mana kau tahu? Kau bisa menebak pikiranku sekarang?"
Maria menggeleng. "Bukan aku, tapi mereka."
"Mereka?" Jose bergidik. Ia melihat ke sekeliling tanpa sadar, tetapi tidak ada apa pun yang aneh. Beberapa orang Selatan memandangi mereka sambil lalu dari perkampungan di kejauhan.
"Kau merasakan dengung psikis dan bisikan-bisikan yang membuat kepalamu serasa mau pecah, yang membuat isi perutmu seperti dibalik dan ditarik paksa keluar dari mulut, tubuhmu lemas dan kau merasa ingin muntah. Kau juga merasakan bagaimana matamu sakit melihat matahari selama beberapa saat di pagi hari. Aku benar?"
Jose mendekat selangkah pada Maria. Wajahnya curiga. "Dari mana kau tahu, Marry?"
Sekarang gantian Maria yang menceritakan apa yang dialaminya beberapa hari terakhir. Ceritanya singkat dan padat. Ia tidak menceritakan apa pun soal ilusi erotis yang dialaminya semalam serta ketika menemui Sir William. Ia tidak berani. Itu memalukan. Ia hanya menceritakan soal jalan sambil tidurnya, perasaan diawasi, perasaan seolah ada sesuatu yang lain dalam tubuhnya, serta teror doa yang dialaminya semalam. Ketika selesai dengan ceritanya, Maria merasa serangan mual kembali merundungnya, membuatnya terlihat begitu menderita.
"Dan setelah itu pun kau masih berani datang ke rumah Sir William?" Jose bertanya sembari menuntun Maria ke tempat yang lebih teduh untuk duduk. Perasaannya campur aduk antara marah, jengkel, cemas, sedih, lega, dan juga bangga dengan keberanian Maria; semuanya berjubel tak karuan sehingga ia tidak tahu mana yang harus ditunjukkannya.
"Aku bukan melakukannya karena dorongan impulsif," Maria membela diri, menemukan tempat duduk yang nyaman di atas batu, di bawah pohon aspen dekat bukaan hutan. Mereka masih berada di pinggir lapangan hijau tempat domba disebar merumput. Gembalanya tidak terlihat. "Aku merasa kalau kejadian semalam dibiarkan saja, cepat atau lambat aku akan gila. Atau dia akan membunuhku. Yang mana pun juga, itu bukan pilihan bagus. Jadi selagi pikiranku masih waras dan tubuh ini masih milikku, aku ingin datang ke sana dan memaki di depan wajahnya. Aku perlu menunjukkan bahwa aku tidak akan merengek pasrah di sudut kamarku."
Ia mengusap wajah dengan satu tangan, menahan sakit yang menusuk kepalanya. "Tapi bahkan saat melihat iblis itu di rumahnya, aku merasa aneh. Rasanya seolah kami pernah bertemu dulu, jauh sebelum dunia dijadikan. Rasanya seperti bertemu kawan lama. Dan aku tidak tahu, tapi ketika melihat Sir William, aku ... aku merasa rindu. Awalnya kupikir aku sudah gila," tambahnya cepat-cepat begitu menyadari ekspresi Jose berubah dingin. "Tapi setelah mendengar ceritamu, aku jadi lega. Itu bukan perasaanku. Itu perasaan orang lain, yang ... jiwanya bercampur padaku. Itu perasaan Arabella."
Tidak sulit bagi Maria memahami konsep itu karena ia sendiri sudah merasakannya. Ia merasakan bagaimana dirinya seperti terusir dari tubuhnya sendiri, ia mendengar suara iblis melecehkannya di malam hari, ia melihat ilusi bagaimana dirinya bercinta dengan Sir William. Penjelasan Jose mengenai keberadaan Arabella memberinya pencerahan, membuat Maria merasa lega. Ia tidak gila.
__ADS_1
"Lalu siapa yang meneleponmu semalam?" tanya Jose heran. "Aku tidak melakukannya."
"Suara itu mirip sepertimu, tapi kedengaran lebih dingin." Maria berpikir. "Aku tidak tahu kenapa, tapi aku mulai merasa mungkin saja itu suara leluhur kita? Mungkin dia memberiku bantuan dengan menggunakan suaramu? Mungkin suaramu yang dipakai karena ... yah, kita saling kenal, dan kau pernah bertemu mereka."
Jose mengangguk. "Mungkin saja. Dan hanya kita berdua yang bisa mendengar suara mereka karena kita sama."
Sama-sama dekat dengan kematian, kalimat itu tidak terucap, tetapi keduanya mengerti.
"Tenang saja, Marry." Jose berlutut di sampingnya, meraih tangan gadis itu dan meremasnya lembut. "Aku pasti bisa membebaskanmu dari dia. Kau tidak akan apa-apa. Kau tidak akan hilang."
Hilang tanpa nama adalah hal yang paling ditakutkan Maria. Ia tidak takut mati. Yang ia takutkan adalah jika ia hanya menjadi angka statis di dunia, hanya tercatat sebagai salah satu angka pada baris natalitas dan mortalitas. Menjadi tak berkesan.
Yang diinginkan gadis itu adalah agar hidupnya berarti. Ia ingin merasakan benar-benar hidup seutuhnya, bukan hanya sekadar ada.
Jose mengetahui itu karena mereka sering mendiskusikan kelemahan satu sama lain bersama.
"Kau baik sekali, Jose." Maria tersenyum lembut. Bahkan meski kata-kata yang diucapkan lelaki itu hanya penghiburan belaka, hatinya tetap terasa hangat. "Tapi jangan lakukan hal yang bahaya. Pergi ke dunia lain membutuhkan ganjaran. Aku tidak suka rencana itu. Kau masih hidup, jadi sebenarnya terlarang untuk menyeberang ke sana. Kau hanya kebetulan saja bisa ke sana dan masih hidup karena kalung itu bersamamu, menjagamu. Bahkan dengan kalung itu pun kau tetap kesakitan. Aku tahu sampai sekarang kau masih sakit, kan? Kau punya kebiasaan mengusap rambutmu ke belakang saat menahan sakit."
"Itu karena rambut depanku sudah panjang dan bikin gatal," sahut Jose cepat dan datar, matanya kelihatan jujur.
"Hanya kalau kau berjanji untuk tidak menemui Sir William, bahkan meski perempuan lain di dalammu itu menjerit-jerit ingin bertemu."
"Pikirmu aku suka bertemu dengan dia?"
"Sampai beberapa hari lalu kau masih menyebut-nyebut namanya."
"Kan sudah kubilang, itu karena pengaruh Arabella! Sekarang setelah bisa mengenali mana diriku dan mana bagiannya, aku bisa membedakannya."
"Kalau begitu tidak masalah kan, berjanji?"
"Aku juga maunya begitu! Tapi yang itu kan tidak bisa sepenuhnya kukontrol," sahut Maria kesal. "Kenapa kau keras kepala begini, sih?"
"Entahlah, mungkin karena aku tidak mau kehilanganmu?" balas Jose tak kalah kesal.
__ADS_1
"Apa?" Maria membeliak mendengarnya. Dadanya terasa panas, tapi panas ini anehnya terasa sedikit menyenangkan. Jantungnya berdegup ribut mengalahkan suara gemericik air sungai. Ia bahkan sampai kesulitan mendengar suaranya sendiri. Mereka kadang mengucapkan kalimat tadi ketika sedang bergurau atau sedang konyol menggunakan satu sama lain untuk berlatih merayu orang. Seharusnya ia sudah biasa mendengarnya. Namun cara Jose mengucapkannya kali ini membuat pipi Maria memanas dan rasanya seperti ada tabir transparan yang disibak di antara mereka.
Ia bisa melihat Jose dengan lebih jelas, melihat rambut hitamnya yang berombak, tulang-tulang wajahnya yang tegas, alis hitamnya, bola matanya yang selalu menatap lurus mata lawan bicara, dan mendadak Maria sadar lelaki itu sudah lama menyukainya. Sekarang segala hal, segala tindakan lelaki itu selama ini padanya terasa masuk akal. Ia sebenarnya sudah menyadari itu sejak lama, tetapi otomatis selalu menyangkalnya sendiri, berpikir bahwa Jose memang baik pada semua orang dan ia tidak boleh salah paham.
Padahal mungkin tidak pernah ada kesalahpahaman sejak awal.
Maria otomatis jadi menyadari banyak hal. Misalnya betapa dekatnya tubuh mereka sekarang, bagaimana hawa panas dari tubuh lelaki itu bisa ia rasakan dalam jarak sedekat ini, serta bahwa kedua tangannya masih digenggam oleh Jose, dan terutama bahwa lelaki itu menatapnya dengan sangat serius tapi juga intim. Anehnya, keintiman itu tidak membuatnya takut atau jengah.
Jose mengerjap satu kali, dan tanpa sadar Maria mengimitasinya. Ia segera membuang pandangan karena merasa malu. Imitasi adalah tanda ketertarikan paling dasar. Tanpa ia sadari, ia sudah menunjukkan sendiri isi hatinya.
"Marry," ada suara tawa dalam nada itu, dan Maria sedikit jengkel mendengarnya. Jose pasti menertawakan sikapnya yang konyol. Namun Maria tidak bisa menemukan suaranya untuk membalas. Ia bahkan tidak kuasa menarik tangannya dari genggaman Jose.
"Ini mungkin bukan saat yang tepat," lanjut lelaki itu pelan. Maria menyetujuinya, tetapi tetap memasang telinga baik-baik dengan jantung berdebar, bisa menangkap ke arah mana pembicaraan ini berujung. Jose meneruskan, "Tapi aku ingin mengatakan bahwa aku—“
.
.
R̶̖̯̥͔̜̩͎̝̈̋̀̐̓͢͝a̧̧̙̤̫̻͉̬͉̩͗̃͗́̀̄̈̏͠a̡͖̩̣̬̽̏̇̆͛̅̕͜͝h̪͎̦͇̬̫͚̊̇̊̋͌͒̃̍͝!̷̧̛͎͇̣̖̖͓͛̾̈́̿̃̉̂͟͡
.
.
Maria mengembalikan pandangan pada Jose. Sebelah alisnya terangkat naik. "Kau barusan bilang raah?"
Lelaki itu menggeleng dua kali. Wajahnya terlihat muak. Jose sudah melepaskan tangannya. Di masing-masing genggaman lelaki itu sudah siap sebilah belati panjang. Mereka bangkit bersamaan dan berdiri menghadap ke bukaan hutan.
Dari sela semak belukar lima meter dari mereka, muncul tubuh bugil yang berjalan dengan menyeret setengah badannya. Rahangnya lepas. Rambutnya pirangnya berantakan. Dari arahnya tercium aroma bangkai dan lemak dibakar.
"Hmmm, kau bilang hutan ini aman?" Maria tertawa kecil di belakangnya, tetapi suara gadis itu sedikit bergetar.
Jose menarik napas panjang, mengangkat kedua belatinya dalam posisi siaga. "Tentu saja, selama aku bersamamu."
__ADS_1
***