
Lapangan rumput hijau itu penuh dengan butir-butir kotoran kambing, tapi tidak ada yang keberatan. Lagi pula mereka tidak duduk langsung di atas rumputnya. Rolan meminjam sebuah karavan dari kenalannya sebagai tempat berlindung sementara. Malam di Bjork sangat dingin, tak mungkin ia membiarkan kakaknya berkemah dengan tenda kain. Ia juga sudah bicara dengan kepala desa di Selatan dan memberitahukan mengenai kedatangannya. Nolan melakukan tugasnya dengan baik karena tidak ada yang keberatan dengan kehadiran mereka. Orang-orang desa malah mempersilakan mereka menginap di rumah-rumah penduduk kalau mau. Rolan berterima kasih dengan sopan.
Karavan itu tidak besar, tapi cukup untuk menampung Renata, Helga istri Robert, Albert dan Winona Garnet, serta Maria. Para pelayan akan menumpang di rumah orang-orang Selatan atau tidur berjaga di luar.
Saat ini di dalam karavan, Renata sedang menerangkan apa yang sebenarnya terjadi di Bjork sambil berhati-hati agar tidak menyebut soal tumbal. Status Maria dan Marco serta keterlibatan keduanya harus tetap dirahasiakan. Ia hanya menerangkan apa yang sudah disepakati untuk dikeluarkan pada publik: yaitu bahwa sekte Scholomance adalah dalang dari hilangnya orang-orang di Bjork dan penyebab munculnya serombongan mayat kemarin malam.
Maria ikut mendengarkan sambil sesekali menoleh keluar jendela karavan untuk menatap Jose yang sedang bicara dengan Rolan di luar. Pipinya memanas kembali setiap kali benaknya memutar kembali apa yang terjadi di dalam kereta. Ia seperti masih bisa merasakan hangat dan kokohnya pelukan lelaki itu, rasa bibir mereka saat bertemu, serta bagaimana setelahnya mereka malah tertawa tak habis-habis karena kening mereka terantuk keras tanpa sengaja saat kereta terguncang. Mereka menghentikan diri sendiri sebelum tidak bisa mengontrol diri lebih jauh dan mulai membicarakan hal-hal lain untuk memadamkan gairah.
Namun Maria masih merasakan kobaran api itu dalam dadanya sampai sekarang. Ketika Jose menciumnya, yang ia rasakan berbeda dengan yang apa yang dirasakannya dalam bayangan bersama Sir William, membuat Maria jadi berharap bahwa peristiwa itu memang tidak pernah ada. Semuanya hanya ilusi. Jose memang sudah meyakinkannya bahwa sesuatu yang abstrak seperti keperawanan bukan hal yang dituntutnya dari Maria, juga tidak pernah dipikirkan olehnya. Namun Maria tidak bisa tidak memikirkannya. Ia ingin segala miliknya yang pertama diberikan pada orang yang ia cintai.
Terdengar suara rentetan ledakan dari kejauhan di sebelah timur Bjork Utara, bunyinya membuat jantung Maria ikut bergetar. Awalnya hanya ada satu ledakan. Semua yang ada di dalam karavan diam dan menunggu agak lama, kemudian muncul bunyi lain yang lebih keras dan dahsyat. Selang beberapa saat, bunyi tadi muncul lagi.
"Marco sudah mulai," kata Renata tenang, seolah ia menghadapi malam-malam seperti ini setiap hari hingga terbiasa. "Yang bisa kita lakukan sekarang hanya berdoa."
Tidak ada yang cukup tenang untuk berdoa. Semuanya terlalu tegang dan takut. Kedua orang tua Maria masih kebingungan. Marquis Garnet memakai mantel luarnya dan pamit keluar karavan untuk merokok. Kini tinggal para wanita di dalam karavan. Rentetan tembakan kembali berdentum di kejauhan. Mendengar tembakan membuat Helga merasa tidak tenang karena teringat suaminya yang bertugas di luar sana. Ia ingin berjalan-jalan di luar dan Renata mengizinkan. Tiga orang yang tersisa memilih duduk merapat di bangku empuk karavan agar hangat.
"Kau tahu ini sejak lama, Mary?" Winona menoleh pada putrinya. "Semua misteri ini? Karena itu makanya kau ada di rumah Argent?"
"Maria ada di rumahku karena Rolan ingin memeriksanya," Renata menyahut tangkas sebelum Maria sempat menjawab. Ia menyentuh tangan Nyonya Garnet dan menyipitkan mata penuh penilaian. "Winona, kau kan tahu adikku dokter. Maria mengeluh pusing, Rolan butuh waktu memantau kondisinya. Aku juga selalu melaporkan perkembangan Maria padamu, kan?"
Maria tersenyum penuh rasa terima kasih karena Renata membuatnya tidak perlu mengarang cerita. Ia akan sangat malu kalau sampai harus berbohong pada ibunya sendiri.
"Yah, aku bukannya mencurigaimu, Reny."
"Oh aku tahu, aku tahu," Renata menyahut sambil mengibaskan tangan dengan santai. Suaranya kembali riang, membuat suasana ceria. "Kalau aku punya anak perempuan, aku juga akan secemas kau. Apalagi kalau dia secantik Maria. Aku masih selalu berharap andai dia putriku."
Winona tertawa malu-malu, tapi juga bangga. Ia menoleh pada putrinya dengan penuh harap. "Itu sih terserah Mary. Bagaimana, Sayang? Kau mau jadi putri Nyonya Argent?"
Maria menatap kedua wanita itu dengan agak gemas, tahu bahwa keduanya sengaja menggiring pembicaraan dengan luwes menuju topik soal pertunangan. Ini memang bukan pertama kalinya kedua wanita itu mengungkit soal pertunangan atau pernikahan. Maria sudah sering berada dalam situasi yang sama persis sebelumnya. Dulu ia hanya akan tertawa dan berkelit dengan luwes, menampiknya sebagai candaan. Biasanya baik ibunya maupun Renata akan mengalah dan langsung mengubah topik, lalu baru mengungkitnya lagi di lain kesempatan. Kali ini berbeda. Maria tidak ingin menampik.
"Hanya kalau Jose mau," katanya pelan. Ia sebenarnya ingin membuat suaranya kedengaran tenang dan sedikit misterius, tapi yang keluar dari bibirnya malah suara malu-malu yang agak berharap. Isi hatinya terlihat dengan jelas hingga Renata sampai membeku selama hampir satu menit.
"Wine?" Renata menatap kawannya dengan kaget. Jemarinya mencengkeram lengan Nyonya Garnet. "Apa aku mimpi?"
"Cubit aku, Reny, kurasa aku juga mimpi. Aku ada di mimpimu atau kau yang di mimpiku? Mana Albert?"
Maria merasa kedua wanita itu bersikap terlalu dramatis. Ia menggoyang lengan ibunya dengan wajah jengah. "Tu-Tunggu, jangan bilang apa pun pada Ayah! Nanti Ayah akan memaksa kami, padahal Jose belum bilang apa-apa padaku! Dan pelankan suara Ibu, aduh, nanti kedengaran dari luar."
"Jose akan setuju! Pasti setuju!" Renata menyahut senang, kelihatan benar-benar bahagia. Rona merah di pipinya membuat ia tampak beberapa tahun lebih muda. "Kau tahu waktu dia pertama kali bertemu denganmu ... berapa usianya ya? Lima tahun kurasa, dia bilang bahwa ada malaikat bicara padanya. Kupikir Jose demam, ternyata dia bertemu denganmu."
Pipi Maria memerah seperti kepiting. Ia tahu itu. Cerita ini sudah dikatakan padanya berulang kali. Ratusan kali. Sebelumnya ia hanya merasa geli tiap kali mendengarnya, sekarang jantungnya berdegup tak karuan dan wajahnya memanas.
Suara-suara tembakan masih terdengar dari kejauhan, mirip letusan petasan.
***
Sebuah oto-mobil terparkir di seberang jembatan. Begitu melihat Tuan Stuart keluar dari sana, Rolan segera bergegas menyongsong. “Kau jangan ke mana-mana tanpa sepengetahuanku!” katanya pada Jose, lalu segera berbalik pergi.
Jose mengamati pamannya sambil berjaga di depan sungai. Ia tidak bisa melihat pemandangan Bjork Utara dari tempatnya berdiri. Yang bisa ia lihat hanya tembok dinding rumah yang catnya sudah terkelupas. Suara-suara tembakan masih terus terdengar dalam tempo teratur, makin lama makin dekat. Samar-samar, ia juga bisa mendengar bunyi radio meski tidak jelas. Orang-orang Bjork dengan patuh mendengarkan apa yang disampaikan Hubbert serta orang-orang Lady Chantall di tiap saluran berbeda.
__ADS_1
“Jadi,” sebuah suara berat menegur dari belakang. Jose berbalik sopan, mengenal suara itu milik Albert Garnet, ayah Maria. “Maria sakit apa?” tanya pria itu.
“Anemia,” jawab Jose tenang. “Paman Rolan sebenarnya lebih tahu mengenai detailnya, yang saya tahu hanya bahwa Mary kena anemia.”
“Itulah juga yang dikatakan dokter kami,” sahut Albert tenang. Marquis Garnet berusia empat puluhan, sepantaran dengan Edgar tapi lebih berisi. Rambutnya yang cokelat muda dan lurus dibelah pinggir. Kumisnya melintang rapi cukup tebal. “Tidak ada diagnosa baru? Aku ingat kau mengantar Maria pulang dengan cukup panik tempo lalu, meminta kami menutup semua pintu dan jendela. Apa semua ini berhubungan?”
Pria yang tajam, pikir Jose. Saat menatap mata gelap itu, ia tahu bahwa akan sulit membohongi Albert Garnet. Yah, membohongi pedagang memang tidak pernah mudah, pikirnya. “Saya belum bisa memberi info apa pun, my lord.”
“Tapi kau berhubungan dengan ini semua?” tanya Albert dalam nada tanya yang tidak bisa dielakkan. Rokok pria itu terbakar di sela jari, dibiarkan menjadi abu setengahnya dan jatuh rontok ke atas rumput. Matanya tidak lepas mengamati Jose. “Apa kau berhubungan dengan penyakit Maria?”
“Sir?” Jose tidak mengerti. “Apa maksud Anda?”
Puntung rokok dimatikan ke kotak korek, kemudian diletakkan dalam lipatan kertas dan disimpan di saku mantel Albert. Pria itu memang selalu menyimpan sampahnya untuk dibuang ke tempat sampah. “Maria anemia,” katanya. “Benar?”
“Begitulah yang saya tahu, Sir.”
“Sebelumnya, dia sulit bangun pagi. Dia selalu mual. Terakhir kali Susan membawakan makanan, dia muntah begitu mencium baunya.”
Jose mengangguk pelan, berpikir bahwa itu pasti reaksi penolakan ketika kedua jiwa bercampur jadi satu. Fase yang oleh Maria disebut kepompong. “Saya juga sudah mendengarnya dari Mary dan Susan.”
“Akhir-akhir ini dia hanya pergi denganmu,” Albert masih menjelaskan dengan suara tenang. “Kami percaya padamu. Winona percaya padamu, karena itu dia mengizinkan Maria keluar malam hanya kalau sedang bersamamu.”
Jose diam. Ia menatap sungai agak lama, berusaha mencerna apa maksud pria itu. “Anda tidak mengira bahwa saya bersikap tidak sopan pada Maria, kan?” suaranya sarat kemuakan.
Albert memang menduga itu. Jose bisa melihat dari raut dingin dan tatapan kerasnya yang seperti topeng kayu.
Amarah yang dingin menguasai Jose, membuat kepalanya mendadak jernih. Ia bisa melihat bahwa Albert hanya cemas pada putrinya. Maria punya penyakit aneh yang tidak jelas apa dan gadis itu barusan bepergian dengannya, lalu menginap seharian penuh di rumahnya, wajar saja. Jose ingin berpikir wajar bahwa ia dicurigai, tapi tidak bisa. Ia merasa sangat marah sampai tidak bisa mengatakan apa pun untuk beberapa menit.
“Saya mencintai Maria,” akhirnya ia mengakui, tenang dan jernih.
Albert melebarkan mata. Kedua alisnya yang tebal berkerut dan wajahnya mengencang. “Aku sudah tahu,” katanya. “Aku bisa melihatnya dengan jelas. Marco juga. Kurasa karena itu dia berusaha menjodohkanmu dan putriku.”
Putriku. Jose menyadari pria itu ingin menekankan status Maria.
“Saya mencintai Maria, putri kesayangan Anda,” katanya, mengalah. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, kemudian meneruskan perlahan. “Dan Mary menerima perasaan saya tanpa paksaan. Tapi jangan salah paham, Sir. Kami tidak melakukan apa pun yang mencoreng nama keluarga kami. Saya sangat ... sangat menghormatinya, saya serius ingin membahagiakannya. Saya mengerti jika Anda mungkin keberatan dengan saya. Bahkan meski seorang Argent, saya hanya anak keempat. Mana mungkin punya hak mengulurkan tangan pada putri tunggal Anda.” Jose memejamkan mata sekilas. “Jika saya berada dalam arena yang adil dengan pelamar lain, saya pasti kalah telak.”
“Jika?” balas Albert dengan mata dipicingkan. “Maksudmu saat ini kau memimpin di depan orang lain?”
Dari nada tinggi pria itu, Jose tahu Albert memikirkan soal anak. Pria itu curiga ia dan Maria sudah punya anak, bahkan meski ia barusan jelas-jelas berkata bahwa hubungan mereka tidak seperti itu. “Ya,” katanya dengan senyum puas. “Karena Mary mencintai saya.”
“Cinta?”
“Itu yang paling penting, kan?” balas Jose sok polos.
Albert tidak lagi bernafsu berputar-putar. Ia langsung bertanya, “Kalian tidak kebablasan?”
Pura-pura kaget dengan dramatis, menjawab dengan sopan, atau memasang wajah tersinggung? Jose memikirkan pilihan-pilihan itu dengan jengkel. “Saya mencintainya dengan cara yang murni, Sir,” katanya tenang. “Mary adalah gadis terdidik yang terhormat. Tentu saja dia tidak akan mungkin melakukan hal yang akan membuat orang tuanya malu. Saya dididik dengan cara yang tak kalah disiplin dengannya dan punya prinsip yang sama dengannya, Sir. Jika Anda tidak cukup percaya pada saya, setidaknya percayalah pada putri Anda.”
“Aku percaya pada Maria.” Albert mengangguk sambil tersenyum ramah.
__ADS_1
Tapi kau tidak percaya padaku, Jose menangkap maksud senyum itu. Ketika angin bertiup sekali lagi, sisi mantelnya tertarik terbang, membuatnya sadar bahwa ia sama sekali tidak kelihatan rapi di depan Albert. Pantas saja dia jahat sekali padaku, pikir Jose agak sedih, mencari alasan kenapa ia sampai diperlakukan sekasar ini.
“Saya dan Mary saling menyayangi,” Jose mengulang, dengan gerakan alami dan tidak mencolok menutup mantelnya. Ia memberi jeda dramatis sebelum melanjutkan, “Dan saya ingin menikahinya dengan izin Anda.”
Angin dingin bertiup ke antara mereka, mengirim gelenyar mistis dari arah hutan yang terus berbisik. Ujung-ujung jari Jose terasa dingin, tapi kepalanya tersengat rasa panas yang memabukkan. Ia merasa tanah yang dipijaknya seperti berubah lembek.
"Dan jika aku tidak mengizinkan?"
Jose tersenyum manis. "Tidak apa," katanya. "Umur saya masih panjang. Saya punya banyak waktu untuk meyakinkan Anda. Saya masih akan mencintai Maria pada tahun-tahun selanjutnya, sampai seumur hidup saya."
Albert memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, menatap Jose dari atas sampai bawah dengan saksama. "Kalau aku tidak memberimu restu seumur hidupku?"
Jose menatap pria itu dalam-dalam, merasakan tantangan dalam nada itu. Seorang Argent tidak pernah lari dari tantangan "Umur saya masih panjang," ulangnya lembut. "Dan saya orang yang sabar. Menunggu Anda sampai tutup usia bukan perkara sulit, Sir."
Albert menaikkan kedua alisnya tinggi-tinggi. Ia melangkah mendekati Jose, wajahnya sopan, tapi matanya terlihat sebengis binatang hutan. Bahkan suara sepatunya melindas rumput kedengaran seperti langkah singa. Jose masih berdiri diam dengan senyum di wajah, tidak terlihat gentar.
“Jose Argent,” kata Albert Garnet serak. “Kau pikir itu cara bicara yang benar dengan calon mertuamu?”
“Saya …” Jose baru saja mau berkilah, tapi segera berhenti. Jantungnya seperti melewatkan satu degup barusan. Ia tercekat menahan napas. “Maaf ... bagaimana, Sir?”
Albert mendengus. Ia menyambar kerah mantel Jose, menariknya mendekat, lalu melayangkan satu tinjuan keras-keras ke ulu hatinya. Jose merasa napasnya seperti diambil paksa. Ia jatuh berlutut di depan pria itu dan terbatuk-batuk. Tangannya mencengkeram perut.
"Aku akan menghajarmu lebih parah dari itu kalau kau sampai membuat putriku menangis." Albert menunjuk Jose dengan jarinya. Pria itu menambahkan dengan nada ringan seolah sedang berbincang mengenai masalah cuaca, "Dan yakinlah, jika itu sampai terjadi, aku akan menghajarmu sungguhan hingga kau tidak akan berani pura-pura tidak sempat menghindar.”
Jose memang sengaja menerima tinjuan dari Tuan Garnet karena ia pikir pria itu akan sedikit mengurangi tenaga. Namun napasnya masih sesak sekarang hingga ia perlu berguling di rumput untuk membaringkan diri, menatap langit berbintang di atasnya sambil menata napas. Apakah itu berarti aku diterima? Aku lolos ujian? Jose tidak bisa menebak. Ia masih mengusap-usap ulu hatinya yang nyeri selama beberapa saat, belum ingin bangun meski tahu bahwa mungkin saja ia sedang tidur di atas kotoran kambing. Di kejauhan ada suara langkah seseorang mendekat. Aroma manis yang dikenalnya membuat Jose bisa menebak siapa yang datang.
“Jose!” seru Maria, menjatuhkan diri di rumput di atas kepala Jose. Gadis itu sudah berganti pakaian dan menata ulang rambutnya, kali ini rambutnya hanya dikucir longgar dan disampirkan di bahu. Mantel yang dipakainya baru, tidak ada noda darah Flora di bagian kerah. “Apa yang terjadi? Aku melihatmu bicara dengan Ayah lalu kau jatuh! Ayah memukulmu? Kalian bertengkar?”
Jose tertawa. Ia mendongak, tersenyum kecil melihat wajah cemas Maria. "Aku tidak bisa bergerak. Kalau bergerak aku pasti muntah," bisiknya. "Ayahmu menyeramkan sekali!"
Maria tertawa melihatnya baik-baik saja. Ia menyingkirkan anak rambut yang lembap berantakan di kening Jose. "Lebih menyeramkan dari Paman Marco?"
"Mereka dari jenis yang sama, kurasa. Syukurlah ayahku cukup santai."
"Apa yang kalian ributkan?" Maria bertanya lagi. "Soal mayat itu? Atau soal aku menginap?"
Jose menangkap tangan Maria, mengecup jemarinya dengan lembut. "Soal kau, tentu saja."
"Sudah kuduga, Ayah pasti berpikir yang aneh-aneh." Maria tidak menarik tangannya. Gadis itu tidak lagi menarik diri atau menunjukkan wajah jengah saat Jose menunjukkan afeksi. "Kau bilang apa pada Ayah?"
"Aku tidak mau bilang sekarang. Tidak di atas kotoran kambing seperti ini." Jose tertawa pendek melihat Maria menyipitkan mata dengan curiga. "Tapi yah, kalau kau memaksa … aku bilang kalau aku mencintai putrinya."
Maria mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi.
***
catatan:
lagi belum bisa balas komen ya~ trus hari Sabtu aku ngga ada update. ^^
__ADS_1