BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Chapter 59


__ADS_3

“Apa?” Jose mengangkat kerah, mencium pakaiannya sendiri. “Aku tidak pakai parfum. Aku cuma pakai kalau ke pesta.”


“Oh, jadi bukan kau.” Nolan terlihat santai, seolah itu bukan masalah besar baginya.


Di sisi lain, jantung Jose berdegup sangat kencang. “Sebentar, kau juga menciumnya? Aroma mawar itu? Kapan? Dan ... dan apa kau juga mencium aroma lain? Sesuatu yang seperti besi berkarat?”


“Aroma darah?” Nolan bertanya ragu. “Maksudmu ... kau juga mencium aroma seperti itu? Kupikir cuma hidungku saja yang aneh.”


Rasanya seperti ada sumbat yang lepas di kepala Jose. Ia tidak bisa menggambarkan rasa lega yang dirasakannya sekarang. “Jadi kau juga menciumnya! Di mana? Pada saat hantu itu datang ke rumahmu?”


Nolan menggeleng pelan. Mata birunya terlihat gelisah. “Waktu di toko pakaian tadi. Waktu itu aromanya kuat sekali, kupikir cuma bau benda toko.”


Darah Jose terasa membeku.


Nolan menyadari perubahan ekspresi lelaki itu. Ia menatap Jose dengan heran.  “Kenapa dengan bau itu?”


“Setiap kali mencium aroma itu, sebaiknya kau segera menjauh,” tukas Jose cepat.


“Karena?”


“Bahaya.”


Namun tidak ada hal lain yang dikatakan Jose setelahnya. Berkas-berkas dirapikan dan Jose berniat mengantarkannya pulang.


“Aku bisa pulang sendiri,” tolak Nolan cepat. Ia tidak menyukai perubahan sikap Jose. Tadinya ia ingin menceritakan juga bahwa adiknya kadang melihat hantu hitam itu, tapi ia membatalkannya. Bisa-bisa ia ditertawakan karena menganggap serius cerita anak kecil. Nolan menunduk, menatap gaun putih yang ia kenakan. Gaun ini terasa memalukan. “Tapi aku tidak mau pulang dengan penampilan begini. Kembalikan pakaianku!”


Jose menggaruk pipi. Ia tidak tahu di mana pakaian Nolan yang lama. Maria pasti sudah membuangnya di tempat sampah. “Pakaianmu kotor.”


“Bodo amat! Itu pakaianku!” Gadis itu bersikeras. Wajahnya mulai cemberut.

__ADS_1


“Baiklah, jujur saja, aku tidak tahu di mana pakaianmu. Kau kan masuk berdua ke dalam toko bersama Maria?”


Itu benar. Nolan teringat pada saat ia berganti pakaian di tempat yang mengerikan itu, tempat di mana seluruh dindingnya berwarna putih dan ia diguyur, dikeramasi, dililit handuk, dan badannya diolesi banyak hal yang baunya menyengat hidung. Rasanya ia meninggalkan pakaiannya di suatu tempat di sana.


“Aku tidak mungkin pulang begini,” Nolan menggumam. “Bisa-bisa jadi bahan tertawaan!”


“Masa?” balas Jose heran. “Bagaimana bisa? Apa di Selatan, kalian menertawakan orang cantik?”


Rasanya sulit untuk menahan agar kedua pipinya tidak merona merah, tetapi Nolan mencoba. Ia membalas pandangan Jose dengan tajam, berharap bisa mengurangi kegugupannya. “Berhenti mengatakan hal yang memalukan!”


Lelaki itu tertawa. “Aku cuma jujur. Baiklah, bagaimana kalau begini? Aku ada pelayan yang ukuran tubuhnya hampir sama denganmu. Mungkin dia punya pakaian yang bersih. Sebenarnya aku lebih suka membelikanmu pakaian baru, tapi kau pasti tidak mau.”


“Pakaian bekas sudah cukup,” tukas Nolan cepat.


Jose mengangguk, kemudian menelepon ke bawah untuk menyuruh Jack membawa pakaiannya yang paling bersih. Jack, yang tidak tahu untuk apa pakaian itu akan digunakan, kalang kabut di kamarnya. Isi lemari dan kopornya dikeluarkan semua, dan sambil menggaruk-garuk kepala karena bingung, ia berusaha memilih satu pakaiannya yang paling bersih. Ia bahkan sampai menggeret-geret pelayan perempuan untuk membantunya memilih.


“Pilih saja satu yang putih itu!” Sana menukas kesal. Tangannya menunjuk kemeja yang terlipat rapi di bawah tumpukan pakaian lain.


“Lalu kenapa?”


“Kau gila atau bagaimana? Masa menyerahkan barang cacat untuk Tuan Kecil?”


“Dia tidak akan keberatan! Kancing mana yang lepas? Oh, yang paling atas, biar kujahitkan satu, deh.”


“Oh, kau penolong, kau dewi penolong,” ucap Jack ketika melihat Sana mengeluarkan alat jahit dari balik kantong celemeknya. Para pelayan perempuan selalu membawa alat jahit sederhana seperti segulung benang dan dua batang jarum. “Tapi kalau bisa, cepat, ya. Nanti Tuan menunggu kita.”


“Kalau kau ribut, kutusuk juga bola matamu,” sahut Sana ketus. Dia menoleh dan berkata, “Kau tahu tidak, untuk apa pakaian ini?”


“Tidak tahu. Tuan memintanya barusan. Katanya, siapkan yang paling bersih dan layak pakai.” Wajah Jack berubah sedikit heran. “Tidak mungkin untuk dipakai Tuan Kecil, kan? Tubuhnya kan lebih tinggi.”

__ADS_1


Sana memutar bola mata. “Untuk apa Tuan memakai pakaianmu? Jangan mimpi! Ini untuk anak gadis yang dibawa Tuan.”


“Anak apa?” Jack hampir merasa telinganya rusak.


“Anak cewek. Anak perempuan. Kau ingat anak perempuan yang katamu ditangkap di gudang jerami itu, kan?”


“Anak itu ke sini?”


“Tuan yang membawanya.” Sana menusukkan jarum ke bagian lubang benang pada kancing. “Waktu pertama melihat, kupikir orang lain. Wajahnya berubah sekali, dia jadi cantik. Pakaiannya juga bagus. Tuan membawanya ke kamar dan mereka berdua mengurung diri di sana.”


Jack diam saja. Ia tidak mau ikut bergosip. Untuknya, apa yang terjadi di kamar majikannya sama sekali bukan urusan para pelayan.


“Kau tahu?” sambung Sana, menggigit benang simpulnya sampai putus. Dia sudah selesai menjahit. “Ada yang aneh pada anak itu.”


“Apa?” Sekarang, Jack waspada. Gosip memang bukan urusannya, tetapi kalau sampai menyangkut keselamatan majikan, itu beda urusan.


“Entahlah, tidak bisa kujelaskan, tapi anak itu rasanya aneh.”


“Maksudmu dekil?”


“Aneh.” Sana menggeleng. “Auranya, sikapnya, raut wajahnya. Bukan aneh dalam artian kasar atau kampungan, kau tahu aku sudah lama bekerja pada keluarga ini dan melihat banyak tamu datang ke kamar Tuan Besar Marco. Tamu-tamu yang datang pada beliau, semuanya punya ‘bau’ yang ganjil. Kau merasakannya? Ah, tentu saja tidak. Kau masih terlalu kecil. Kau pasti tidak tahu.”


Jack masih diam dan menyimak. Kemeja di tangannya terlipat rapi, semua kancing sudah utuh pada tempatnya. Ia tinggal menyambar satu celana dan ikat pinggang, lalu menyerahkannya pada majikannya di ruang santai.


“Wajah anak itu seperti menginginkan sesuatu,” ucap Sana dengan bisikan lembut. Mata cokelatnya memberi peringatan tanpa suara.


“Dia datang ke sini malam-malam untuk mengembalikan kalung,” ucap Jack, menyangkal nada konspirasi pada kalimat Sana. “Dia pikir kalung itu milik Tuan Kecil. Kalau dia menginginkan sesuatu, lebih baik kalungnya dijual saja, sepertinya harganya mahal, karena Tuan Besar Marco yang menyimpankan.”


Sana menggeleng sambil mendecak-decakkan lidah. “Kau tidak mengerti. Makanya kubilang, kau masih kecil. Kadang, kita harus mengorbankan hal kecil untuk mencapai hal yang besar. Pengembalian kalung itu bisa saja trik untuk mengambil simpati. Maksudku, bukankah aneh? Kalau dia memang berniat untuk mengembalikan, kenapa harus malam-malam buta seperti itu? Dan saatnya juga bersamaan dengan ketika Tuan Kecil melihat sosok yang aneh itu.”

__ADS_1


“Aku tidak tahu apa maksudmu, San,” Jack menukas pelan. “Aku akan serahkan pakaian ini pada Tuan Kecil di atas. Tuan pasti sudah menunggunya.”


Sana memberi senyum penuh arti. “Kau tahu kan, apa yang terjadi pada Linda dan Anna?”


__ADS_2