BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 214


__ADS_3

"Aku tidak butuh permintaan maaf," kata Maria, menyerah menyeka pipinya. Air mata masih saja meleleh karena campuran rasa sakit di kepala. Pelipisnya berdenyut nyeri dan bayang-bayang kenangan yang bukan miliknya masih selalu berkelebat seperti adegan rusak, mengganggu.


Maria ingin melanjutkan penegasannya, mengatakan bahwa ia bukan tidak percaya melainkan takut melihat Jose terluka. Namun pernyataan itu pasti malah akan melukai harga diri Jose, jadi ia menahan diri.


"Aku bukannya membahayakan diriku dengan sengaja," ucap Jose lirih.


Mereka duduk berdampingan, tapi suara lelaki itu seperti berasal dari tempat lain yang sangat jauh, sekejap membuat Maria waswas Jose akan menghilang tiba-tiba.


"Masalahnya, dalam beberapa kesempatan, hanya itu pilihan yang kumiliki. Kalau aku berhenti sejenak untuk memikirkan apakah ada pilihan lain, waktu akan terbuang. Jika waktu terbuang, yang akan terjadi bisa saja malah pilihan terburuk. Aku bisa saja malah justru tidak bisa menyelesaikan apa pun yang tadinya ingin kulakukan." Jose memandang lurus ke depan. Sorot matanya sekeras batu. "Tidak ada waktu untuk ragu. Sekali ragu, aku bisa terpeleset."


Maria tahu lelaki itu memikirkan Higgins. Jose masih selalu menyesali pekerjanya yang meninggal karena ia tidak bergerak lebih cepat, tidak membuat keputusan lebih tepat. "Kau terlalu keras pada dirimu sendiri."


Jose menggeleng. "Aku baru menyadarinya akhir-akhir ini ... bahwa dalam setiap gerakanku, aku juga memikul nasib orang lain." Ia mengatupkan kelopak matanya. "Ada orang yang rela terluka atau bahkan mati untukku. Tak sedikit yang bersumpah mendevosikan hidupnya melindungiku ... salah satunya sudah meninggal. Dia bahkan belum dimakamkan. Aku belum sempat memberinya pemakaman yang layak ... kalau aku tidak bersikap keras pada diri sendiri, berapa orang yang akan mati saat aku teledor?"


"Kalau begitu kau harusnya tahu bagaimana perasaanku sekarang," Maria menyahut kering. "Itu yang kurasakan. Ini semua terjadi karena aku punya wajah mirip dengan Arabella, kan?"


"Kalian tidak mirip," sergah Jose. Ia menoleh tajam, mengamati profil wajah Maria. "Kalau kalian memang semirip itu, Paman Marco pasti segera sadar dan heran sejak awal. Kau kan tahu dia tidak pernah lupa pada wajah orang. Dia pernah melihat Arabella yang lain, yang digunakan sebagai medium sebelumnya."


"Bagi Paman Marco, semua wajah orang memang beda," tukas Maria datar. "Bahkan kembar identik pun bisa dia bedakan dengan mudah karena kelihatan beda di matanya. Kau juga begitu, kan. Ada dalam gen kalian, kurasa."


"Rambut Arabella pirang, rambutmu cokelat. Lagi pula kau lebih cantik."


Maria memutar mata. "Pembicaraan serius tidak menghentikanmu melemparkan rayuan, hm?"


Jose tertawa. Ia diam sejenak, kemudian melanjutkan dengan nada sedikit mendesak, "Jangan pergi menemuinya. Kalau Clearwater dan Marsh berhasil merusak gugusan perisai yang dibuat Sir William, kau bisa berlindung dulu di luar Aston sampai ini selesai."


"Kau menyuruhku bersembunyi seperti tikus pengecut?"


"Apanya yang pengecut dari menyelamatkan diri?"


"Kau tidak berhak mencegahku, Jose Argent." Maria meloncat turun dari ranjang, berbalik dalam satu putaran tajam. Kali ini tak ada air mata. Tak ada raut sedih. Mata birunya berkilat marah. "Kau sendiri tidak mau diam dengan tenang demi keselamatanmu, kan? Ketika paman-pamanmu menyuruhmu diam demi keselamatan, apa yang kau rasakan? Apa kau sembunyi di kamarmu seperti tikus kecil? Harusnya kau yang paling mengerti apa yang kurasakan saat ini!"

__ADS_1


"Kondisi kita beda. Aku kan tidak terancam bahaya."


"Tidak terancam bahaya?" Maria mengibaskan tangan tak sabar. "Karena itu kau diburu mayat hidup semalaman? Karena itu kau muntah darah dan mimisan?"


Kesunyian yang canggung mengisi ruangan. Keduanya saling menatap keras kepala, tidak ada yang mau mengalah meski sebenarnya sama-sama bingung kenapa mereka malah jadi bertengkar.


"Baiklah," akhirnya Jose mengalah. Suaranya sedingin es. "Sesukamu saja. Kau bisa berkeliaran bebas di luar sana, percayakan dirimu pada orang lain, siapa pun, gembel sekali pun, asal bukan aku."


"Kau merajuk seperti anak-anak."


"Kau yang sedang merajuk, Marry," sambar Jose, kini ikut bangkit berdiri, sebelah tangan ditaruh di pinggang. "Kau datang ke sini untuk marah. Sejak awal datang, kau bukan ingin menjenguk tapi memarahiku."


"Aku memang mencemaskanmu!"


"Omong kosong. Apa pun yang kukatakan, kau cuma ingin mementahkannya. Sudahlah! Aku malas berdebat denganmu." Jose mulai jengkel. "Pergi sana ke mana pun kau suka!"


Maria menggigit ujung bibir, mati-matian menahan air mata. Awalnya ia pikir tangisan itu datang dari kepalanya yang seperti mau pecah dan dipenuhi bunyi dengung lebah. Namun ia salah. Penolakan Jose menggoresnya, menyakitinya lebih dalam dari yang ia duga, dan ia tidak menyukainya.


Ia mengedarkan pandangan ke sekitar ruangan, seperti mencari celah untuk berlindung. Tidak ada tempat sembunyi. Kamar ini adalah teritorial Jose. Segala hal adalah milik lelaki itu.


Maria menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan debur jantungnya. "Akhir-akhir ini ... tiap kali bersamamu, aku tidak bisa menjadi diriku sendiri." Napas satu. "Aku selalu kacau. Setiap kali aku selalu mencemaskanmu, tidak bisa berhenti marah dan jengkel, dan kau bahkan tak peduli itu." Napas dua. "Aku membencimu."


Jose menjatuhkan kepala ke sisi kanan, ekspresi wajahnya tak bisa ditebak. "Begitu ya?" balasnya lirih.


Lagi-lagi keheningan panjang mengisi kamar. Maria mengerjap-ngerjapkan bulu matanya yang berat dan basah. "Aku membencimu," bisiknya cepat, lebih seperti meyakinkan dirinya sendiri.


"Kalau perasaan itu kau sebut benci, aku juga merasakannya. Karena kebencian padamulah aku ingin kau berada di tempat yang aman. Jangan datang ke tempat Flora. Kumohon."


Maria mengangkat wajah. Ada getar listrik aneh menyengat perutnya ketika mata mereka bertemu pandang. Jose di sana, dua langkah darinya, hanya berdiri diam tanpa melakukan apa pun. Namun keberadaan serta cara lelaki itu menatapnya sudah cukup membuat Maria merasa begitu lemah sekaligus kuat di saat bersamaan. Perasaan yang membingungkan dan campur aduk. Ia ingin benar-benar menyerah, tenggelam memanjakan diri dalam perasaan itu, tapi kelebatan-kelebatan ingatan dalam kepalanya membuat dinding pembatas yang tinggi. Bayangan bagaimana ia bercumbu dengan Sir William menghalanginya seperti pagar onak berduri, mengingatkannya bahwa ia tidak pantas.


Jose tersenyum lembut, hampir seperti malu-malu. Namun mata hitam itu menatap lekat dan serius. "Aku sudah membencimu lebih dulu, Marry. Jauh sejak sebelum semua ini terjadi ... aku sangat ... sangat membencimu."

__ADS_1


Maria benar-benar ingin menyerah.


***


Kotak-kotak kayu berisi senjata terhampar di halaman manor Argent. Marco mengambil satu senapan laras ganda dari sana, mengintip melalui celah bidik.


"Sama seperti sigil kertas, senjata ini tidak berguna," Rolan mengingatkan. Ia sebenarnya sangat lelah, tapi tetap tidak bisa tidur meski sudah mencoba berbaring di ranjang. "Aku sudah cerita kan bahwa Jose mengenai tengkoraknya?"


"Dia terlempar jatuh," kata Marco, yang tidak pernah melupakan detail sekecil apa pun. "Dia juga jatuh saat Jose menghajarnya di pesta dansa, kan? Jadi dia bisa dijatuhkan. Kalau iblisnya muncul, kita bisa coba siramkan air suci atau air bawang atau minyak, dan membakarnya. Masukkan dia dalam kereta kuda, lemparkan dia ke sungai Bjork. Jose akan berjaga di sana dan aku mau lihat sendiri bagaimana Keajaiban Argent yang akan jadi topik utama koran besok. "


Lady Chantall akan menggunakan tema itu setelah mendengar cerita lengkap apa yang terjadi semalam. Setelah diberi segala materi yang telah disaring Marco dan dimanipulasi Lady Chantall, Hubbert mendukung mereka sekarang, dan pria itu akan sangat membantu dalam penyebaran berita di kalangan bawah. Akhirnya, semua orang akan berpihak pada mereka.


"Aku harap kau tidak hanya mengandalkan senjata," Rolan masih mewanti-wanti. "Kau tidak tahu apa yang kau hadapi."


"Aku tahu, tentu saja aku tahu." Marco membuka kotak lain yang berisi amunisi. "Apa pun yang memiliki tubuh fisik akan bisa dihancurkan juga secara fisik. Mungkin saja yang kita hadapi adalah iblis, tapi selama kita ada di bumi, dia juga terikat hukum alam dan aturan bumi."


"Kata siapa?"


"Siapa lagi? Jelas kataku. Bahkan yang disebut-sebut sebagai tuhan atau dewa oleh Jose pun tidak bisa melakukan intervensi sembarangan, kan?" Marco menoleh dengan seulas senyum puas seolah ia telah memenangkan pertarungan. "Mereka tidak bisa sembarang membasmi makhluk jahat, ada aturan mainnya mulai dari kekuatan kepercayaan umat serta apakah ada kuil kepercayaan lain yang menghalangi. Lalu dengan iblis di sisinya pun, Sir William tidak bisa langsung membangkitkan Arabella. Jose juga tidak bisa sembarangan melenyapkan mayat-mayat hidup, dia harus melakukan sesuatu meski itu hanya ritus singkat. Nah, lihat? Ada aturan yang harus ditepati. Mereka semua—kita semua berjalan dalam roda aturan yang semestinya, sesuai hukum alam. Tinggal kita periksa saja batasan-batasan yang ada dan sejauh mana aturan itu bisa kita jadikan senjata."


Rolan membenamkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Wajahnya menengadah ke langit, ke arah matahari pagi. Ini pertama kalinya ia merasa cukup optimis setelah beberapa hari didera rasa cemas. "Baiklah, itu kedengaran masuk akal. Kau memang ahli meyakinkan orang lain," katanya. Ia masih tak habis pikir bagaimana Marco bisa selalu membuat semua hal kedengaran seolah berada di bawah kendalinya. Ia jadi ingat pada Jose, pada kestabilan suara pemuda itu yang selalu menularkan ketenangan yang sama pada pendengarnya. "Kalau ada kursus bagaimana jadi seperti seorang Argent, aku mau mendaftar. Kemampuan persuasif kalian bagus. Aku butuh itu. Kadang aku perlu membujuk diriku sendiri untuk tetap tenang."


"Kalau ada kursus yang kau butuhkan, itu adalah bagaimana cara berhenti bersikap konyol," Marco menukas. Ia menaikkan sebelah alisnya ketika menoleh ke kiri, ke arah gerbang utama manor. "Akhirnya Robert datang?"


Rolan meletakkan sisi tangannya di kening sebagai penghalang sinar matahari. Ia melihat sosok berseragam biru melangkah mendekat bersama pria lain yang berambut cokelat gelap. "Yang di belakangnya itu Tuan Stuart?"


"Ya. Dan dilihat dari mimik mukanya, sepertinya dia membawa kabar buruk."


"Oh, aku benci pola ini." Rolan mengerang, kelihatan begitu merana. Ia menatap Marco dengan pandangan menyalahkan. "Apa tak pernah ada pagi yang tenang di rumahmu?"


***

__ADS_1


__ADS_2