BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 89


__ADS_3

Hans dan Gerald duduk di kursi kayu, di depan meja kayu besar yang rata, di dalam pondok Higgins.


Mereka saling menatap satu sama lain, merasa tidak nyaman berada dalam tempat di mana rekannya ditemukan meninggal tanpa darah.


"Kalian ingat siapa nama kalian?" Rolan duduk di seberang keduanya, mengetuk-ngetukkan jarinya ke atas meja.


Kedua pria itu mengangguk, kemudian menyebutkan nama masing-masing untuk membuktikan diri. Tatapan mereka sesekali tertumbuk pada benda mekanik di atas meja. Benda itu dipenuhi roda besi yang berputar dan memiliki corong berbentuk terompet.


Rolan menangkap arah pandang mereka, lalu tertawa sambil mengibaskan tangan. "Tenang saja, itu cuma fonograf. Siapa tahu ada hal-hal yang bisa kita ketahui kalau pembicaraan ini direkam. Ini cuma kebiasaanku saja, kok. Tidak usah cemas."


Ia menarik kursinya lebih dekat, menatap kedua pekerja Argent dengan senyum ramah dari seberang meja. "Kalian pasti tahu apa yang ingin kudengar. Tuan Wallace mati, padahal kalian berdua tidak diperintahkan membunuhnya. Hm?"


"Kami tidak menyentuhnya," geram Gerald. Hans memberi satu anggukan mendukung.


"Benarkah? Sebenarnya, kalau kalian memang tak sengaja mencelakainya, itu tidak masalah," sahut Rolan santai. "Aku paham babi itu memang pandai memprovokasi."


"Kami tidak menyentuhnya," sahut Hans datar. "Sama sekali tidak."


Rolan tahu kedua orang itu memang tidak melakukannya. Tapi ia tidak akan memperlihatkan bahwa ia memercayai mereka.


"Baiklah, aku mengerti," katanya. "Ceritakan apa yang terjadi di tempat itu. Kalian boleh saling menambahkan. Aku juga tidak akan menyalahkan atau membenarkan perbuatan kalian. Apa pun yang kalian lakukan di sana, lepas dari salah atau benar, aku tidak peduli. Aku cuma butuh keterangan lengkap yang jujur. Bahkan kalau kalian memukul batok kepala Tuan Wallace karena kesal dengan mulut besarnya, aku tidak akan menggubris itu. Marco juga tidak akan terlalu memikirkannya."


Yang terakhir jelas bohong. Mereka bertiga mengetahui itu. Marco selalu memedulikan dan memikirkan setiap hal. Terlebih, jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan rencananya.

__ADS_1


"Kami tidak melakukan apa-apa pada Tuan Wallace," ulang Hans pelan. "Kami tidak mungkin melakukan hal yang di luar perintah Tuan Marco."


Para pekerja Marco diizinkan memanggil Marco dengan nama depannya, untuk membedakan dengan panggilan pada Argent yang lain. Marco sendiri yang memberi izin. Dan Rolan juga bukan orang yang peduli pada hal-hal semacam itu, jadi ia tidak mempermasalahkan panggilan yang diucapkan Hans.


Gerald mengangguk setuju pada pernyataan rekannya. "Kami diperintahkan untuk menjaganya sampai Tuan Marco kembali, maka kami menjaganya."


"Tapi kalian memanggil George. Kalian meminta kopi. Hebat sekali," Rolan meringis. "Ah, jangan tegang. Aku juga perlu kopi untuk menyiagakan diri. Atau kalian berniat menyiramkannya pada Tuan Wallace?"


Gerald dan Hans menggeleng bersamaan. Bahkan meski Rolan sudah berusaha untuk mencairkan suasana, keduanya tetap tampak tegang. Mungkin saja ketegangan itu karena mereka ada di pondok Higgins, tapi Rolan tidak mungkin menginterogasi mereka di dalam rumah. Ada terlalu banyak telinga yang bisa mendengar. Jose bisa saja tiba-tiba muncul.


Pondok Higgins adalah tempat yang strategis karena tidak ada yang berani datang ke sini. Dan mereka yang berada di dalam bisa melihat ke sekitar dengan leluasa jika pintu dan jendela dibuka, membuat mereka tahu kalau ada yang mendekat untuk menguping pembicaraan.


Setidaknya mereka tidak kelihatan bingung, pikir Rolan. Waktu pertama kali dua pria besar itu sadar, keduanya hanya saling menatap dengan bingung, seperti tidak sadar di mana mereka berada, kenapa mereka ada di sana, siapa nama mereka dan terdampar di tahun berapa mereka sekarang.


"Tidak Dokter, semuanya masih sangat jelas," Gerald berkata cepat. "Saya dan Hans merasa sangat mengantuk. Tuan Wallace bicara tentang hal-hal yang kurang ajar, tahu bahwa kami tidak akan menyentuhnya kalau tidak diperintahkan oleh Tuan Marco. Kami muak padanya, tetapi anehnya mulai merasa sangat mengantuk. Kami takut jadi lalai dan ketiduran, jadi Hans menelpon ke bawah untuk minta kopi."


Hans mengangguk. "Saya menelepon George karena tidak mau ada pelayan biasa datang dan melihat apa yang terjadi di ruang kerja Tuan Marco." Sekarang, dia berpandangan dengan Gerald. "Tapi kopinya tidak segera datang, ya."


"Benar, kopinya lama sekali datang. Kami sangat mengantuk."


"George segera membuatkan kopi dan mengantarkannya ke atas segera setelah kalian meminta," Rolan menukas, berpikir apakah seharusnya ia juga mengundang George. Tapi kepala pelayan pasti sibuk. Rolan berniat menanyainya lagi nanti. Ia duduk menyamping, sebelah tangan merangkul sandaran kursi. Kaki kanan ditumpang ke atas kaki kiri. "George membuatkan kopi. Waktunya cuma lima belas menit. Itu tidak lama."


"Tapi rasanya sangat lama, kami seperti menunggu sampai satu jam." Hans menatap Gerald, yang segera mengangguk setuju.

__ADS_1


"Lalu? Apa yang sebenarnya dikatakan Tuan Wallace sampai kalian menganggapnya gila?"


"Dia meracau, Dokter. Dia mengatakan hal yang buruk tentang keluarga Argent."


"Katakanlah, kalau tidak, aku tidak akan bisa melanjutkan penyelidikan." Rolan membujuk, "Apa pun informasi dari kalian, Marco akan sangat terbantu."


Gerald menarik napas. Cambangnya yang kasar bergerak-gerak sesuai gerak otot wajah. Matanya keruh ketika dia melaporkan apa yang didengarnya dari Wallace.


"Babi gendut itu berkata bahwa 'beliau' akan datang. Dia mencaci maki keluarga Argent dengan mulutnya yang kotor, berkata bahwa Tuan Marco menghalangi apa yang coba mereka lakukan. Saya tidak tahu siapa 'mereka' yang dimaksud, karena setiap kali kami bertanya, bajingan itu malah tertawa seperti orang gila."


"Kami pikir, mungkin dia sudah gila," Hans memiringkan jarinya di depan kening. "Kadang orang yang takut sering mengatakan hal-hal gila, mungkin mereka pikir itu bisa membantu mereka untuk lepas dari kesulitan. Atau lepas dari kenyataan."


"Wow, kau tahu kalimat yang cukup sulit," komentar Rolan, membuat Hans tersipu malu. "Tidak apa, aku suka pilihan katamu. Lanjutkan. Kenapa ketika George datang, kalian meminta George mengunci pintu dari luar?"


Sekarang Gerald mengusap wajahnya, merasa tidak nyaman. Suara letusan-letusan kembang api terdengar sampai ke dalam pondok, menggetarkan dada.


"Entah karena suara tawanya yang aneh atau ancaman-ancaman kosongnya, kami merasa sangat tidak nyaman."


Hans mengangguk. "Kami merasa seperti ada sesuatu yang datang. Tadinya, kami pikir mungkin George datang membawakan kopi, tapi bukan. Langkah George tidak seperti itu."


"Kalian bisa membedakan orang lewat langkahnya?" Rolan menaikkan sebelah alis, merasa skeptis.


"Kami harus tahu apakah yang datang adalah Tuan Marco atau bukan," sahut Gerald heran, seolah pertanyaan Rolan adalah hal yang sangat remeh dan tidak perlu. "Kami, para pekerja, bisa membedakan suara langkah keluarga Argent."

__ADS_1


Rolan memberi siulan kagum, membuat pria besar itu tambah semangat bicara.


__ADS_2