BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 178


__ADS_3

Dalam kondisi genting, manusia bisa mengeluarkan kekuatan yang tidak terduga. Maria baru menyadari kebenarannya hari ini. Dengan tenaga yang mengejutkan, ia mengangkat batu seukuran kepala yang tadi ia gunakan untuk duduk, lalu menghantamkannya sekuat mungkin ke mayat yang menerjang ke arahnya.


Bunyi batu menumbuk tengkorak terdengar memualkan. Mayat itu jatuh dengan suara blug daging basah. Setengah kepala bagian kirinya remuk. Maria memekik ngeri. Serpihan otak, gigi, dan daging busuk berceceran di mana-mana, juga menempel di ujung batu yang masih ia cengkeram. Darah yang berceceran sama sekali tidak cair, tapi menggumpal hitam seperti karet, dan bau. Aroma busuknya menyengat, menghambur kental di udara.


Bahkan dengan setengah kepala hancur dan rahang lepas, mayat itu masih menyeret tubuh hancurnya dan mendekat, mengeluarkan bunyi berdekut aneh seolah berusaha bicara dari tenggorokannya yang mampat. Maria terhuyung. Kepalanya terasa pengar dipenuhi rasa jijik, membuat tanah yang dipijaknya seolah terasa lembek.


Mayat itu merayap dalam gerakan ganjil menggunakan kedua sikunya, lalu tersentak dan terseret mundur sebelum ujung jarinya sempat menyentuh sepatu Maria.


Di belakang sana, Jose menarik pergelangan kaki si mayat dan menggeretnya menuju ke sungai di samping utara lapangan rumput, kemudian melemparkan mayat itu ke sana.


Selama beberapa saat, yang terdengar hanya bunyi debur air dan kecipak ribut dari tubuh yang meronta. Mayat itu masih mencoba melentingkan tubuhnya keluar hingga Jose memutuskan untuk ikut menceburkan diri ke dalam sungai dan menahannya di sana.


Maria memandangi detik-detik itu tanpa sanggup bicara. Sungai itu tidak terlalu lebar, tapi cukup dalam dan arusnya kuat. Jose bisa ikut tenggelam. Ia melihat ke sekeliling dengan putus asa, mencari pertolongan. Matanya berhenti pada sosok Lucas Clearwater dan Adrian Marsh yang terdiam mematung di jembatan kayu dengan wajah tercengang.


Sejak kapan mereka di sana? Maria merasa heran bercampur lega.


Tanpa pikir panjang, ia bergegas lari dengan cepat, sempat nyaris jatuh karena menginjak ujung gaunnya sendiri, tapi bisa menegakkan tubuh dengan segera dan kembali memelesat.


"Lord Clearwater!" serunya, melambai-lambaikan tangan sambil terus berlari. Napasnya tersengal. Dadanya panas. Tenggorokannya seperti terbakar. "Marsh!"


Kedua pria itu masih terdiam mematung ketika ia sampai. Maria memegangi sisi pinggangnya yang sakit karena berlari terlalu kencang. Disambarnya lengan Clearwater dan ditariknya menuruni jembatan, tetapi pria itu bergeming. "Clearwater! Tolong Jose! Cepat!" serunya. Ketika pria itu masih tidak bergerak, ia beralih pada Adrian Marsh dan melambaikan tangan di depan wajahnya. "Marsh! Cepat! Jose bisa tenggelam! Aku tidak mungkin menariknya!"


Keduanya masih memasang wajah bingung, seolah baru bangun dari mabuk berat. Maria menggeram frustrasi. Ia mengangkat tangan tinggi-tinggi dan melayangkannya, menampar pipi Clearwater begitu kuat hingga pria itu terhuyung mundur beberapa langkah. Adrian Marsh mengerjap kaget, langsung sadar begitu melihat kawannya digampar, ia buru-buru bergeser untuk menghindari tamparan Maria, tetapi tangan gadis itu bergerak lebih cepat. Pipinya terasa panas.


"Aku kan sudah sadar!" protes Marsh sambil mengusap pipinya yang tergores berdarah. Maria barusan menampar dengan punggung tangan yang ada mata cincinnya.


"Tolong Jose!" seru Maria sambil menunjuk ke arah sungai.


Clearwater tidak membuang waktu. Ia sudah bergegas lari menyusuri sungai, menghampiri Jose yang kepalanya hilang timbul di sungai dan terseret arus makin jauh ke hilir sungai.

__ADS_1






Gelembung-gelembung udara keluar dari mulut dan hidungnya. Jose mencoba menahan pria itu, mayat itu, apa pun itu, agar tetap di dalam air, tetapi kini ia justru ikut tenggelam. Serpihan daging dan gumpalan darah mayat itu tersapu arus, sebagian menempel di wajah Jose, tetapi ia tidak menghiraukannya. Yang jadi fokus perhatiannya sekarang adalah bagaimana ia bisa menjaga agar mayat itu berhenti mencakar dengan jemari buntungnya yang busuk agar ia bisa menjaga hidungnya tetap di atas air.


Jose menelan seteguk besar air sungai yang rasanya menjijikan. Ia mau muntah. Hidungnya sakit. Dadanya panas. Matanya perih. Ia menggerakkan kaki, mengayuh, kesusahan berenang karena pakaiannya yang berlapis-lapis menyerap terlalu banyak air dan memberatkannya, membuatnya tenggelam.


Sungai ini harusnya tidak terlalu dalam, pikir Jose dalam sisa-sisa ruang di kepalanya. Ia mendongak ke atas, melihat gelembung udara dan cahaya di permukaan air yang terasa makin jauh. Mayat itu kini memeluk pinggangnya, seolah berniat menariknya ke dasar sungai yang gelap. Jose menunduk, seperti bisa melihat mayat itu menyeringai meski tanpa rahang atau separuh kepalanya.


Di bawah mereka hanya ada warna hitam yang ganjil, bayangan gelap yang seolah mengisap segala hal yang hidup. Harusnya dasar sungai tidak sedalam itu, tetapi percuma memikirkan soal keanehan sungai sekarang.


Jose berjuang membebaskan diri dari mantelnya dalam air, tetapi bahkan setelah waistcoat-nya ikut ia lepas, mereka berdua tetap makin jauh dari permukaan sungai.


Dengan sisa-sisa tenaganya, Jose menjambak rambut mayat itu, berusaha menyentakkannya menjauh. Pria itu menatapnya dengan satu bola mata berlensa putih katarak yang nyaris copot. Matanya seperti mata ikan.


Sekilas, wajah itu berubah jadi seperti manusia biasa, menampakkan wajah tirus dengan dua bola mata biru. Biru, bukan putih seperti yang barusan ia lihat. Jose mengerjap heran. Pria itu menatapnya sedih.


"Anak-anakku menunggu di rumah," bisik pria itu. Gelembung-gelembung kecil seukuran debu keluar dari hidung dan mulutnya. Dia menggeleng putus asa. "Aku tidak mau merasakan sakit itu lagi."


Jose melepas cengkeramannya pada rambut pirang itu. Mereka di dalam sungai, dikelilingi air. Namun ia yakin mendengar suara pria itu barusan. Suara bariton yang berat. Dan wajah itu entah kenapa terasa familier baginya. Jose mengerutkan kening.


Nolan?


Tidak ada waktu untuk berpikir. Rasa sakit menyerang Jose, menusuk-nusuknya hingga ke seluruh sendi dan tulang. Wajah pria yang masih menggelayut di pinggangnya kini berkeriyut rusak, kembali berubah menjadi mayat berkepala hancur dengan otak terburai.

__ADS_1


Kemudian segala hal berubah jadi merah di mata Jose, seolah seseorang menumpahkan selautan saus tomat ke dalam sungai.


***


Jose mendapati dirinya berdiri di ruangan aneh yang serba putih. Ia menoleh ke kanan dan kiri, merasa risih dengan setiap suara yang terdengar begitu jelas di telinganya. Ia bahkan bisa mendengar bunyi gemerisik kain yang dikenakannya. Ia bisa mendengar desir darahnya sendiri kalau mencoba fokus.


Setelah berjalan bolak-balik tak tentu arah dan tidak menemukan warna lain atau titik lain di tempat itu, Jose mulai merasakan bibit-bibit rasa panik bermunculan. Ia baru merasa agak lega ketika mengusap kepala dan merasakan ujung-ujung jarinya bisa meraba tekstur nyata tiap helai rambut. Ia mencubit lengannya sendiri. Rasanya sakit. Ketika menempelkan telapak ke dada kiri, jantungnya juga berdetak lembut dari balik pakaian. Anehnya, saat ini ia mengenakan mantel hitam berat yang sempat dilepasnya ketika tenggelam di sungai.


Apakah yang tadi itu cuma mimpi, atau sekarang ini yang mimpi? Jose mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan cemas. Ia menggunakan kedua telapak tangannya sebagai corong di depan mulut, lalu berteriak memanggil orang lain, siapa pun, apa pun, tetapi tidak ada yang menyahut. Bahkan suaranya sendiri seperti hilang ditelan warna putih.


Jangan panik, pikirnya sambil menata napas. Aku belum mati. Aku tidak mungkin mati sekarang.


"Kau memang belum mati," sahut sebuah suara dari belakangnya. Suara itu begitu tenang, begitu jernih.


Jose memutar tubuh, terkejut ketika menemukan dirinya sendiri berdiri semeter di belakangnya, mengenakan setelan yang sama persis. Ia seperti menatap cermin. Hanya saja, sosok itu tidak mengikuti gerakannya.


"Akhirnya kita bertemu," dirinya yang lain bicara, tetapi suara itu tidak hanya satu, melainkan berlipat ganda.


Rasanya seperti mendengar ada begitu banyak orang berbicara berbarengan dalam tempo dan nada yang sama.


"Akhirnya kita bisa bicara dengan lebih jelas, J͙̹̠̙̞̈͊̑͊͟͠o̶̭͎̬̱̼̳͇̺̿͛̅̆̐̽̽̀͘͞ͅs̵̢͎͈̪̱͔̟̞͎̿̔̓͞͠ē̵͓̪̹͍̲̙͔̦̉̽̐̃͊͗ A̵̧͇̹͕͍̳̺̗̺͒̅͊̓̑̔̈̚͞͝r̺̝͚̮͔̺̒̄̇̑͛͟͜͡͡g̛̛̮͉̜̭͓͖̪͔̼̏͂̕e̘̻͓͍͚͉̋͑̅͆̃̕͜ǹ̷̩̬͔͓̞̱̬̅͗̆̄̚͝ͅt̶̜͓͙͚͉͊̃̋̒͘̕͢."


Jose tersentak, mengenali suara itu.


Itu suara yang selalu berteriak padanya dari sela dengung psikis. Suara yang menyuruhnya menenggelamkan mayat hidup ke dalam sungai.


Suara dari alam kematian.


***

__ADS_1


__ADS_2