BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 96


__ADS_3

Begitu ketiga orang lainnya sudah berpamitan pulang, Marco memberi instruksi pada Krip, "Kalau Jose bertanya-tanya soal Sir William, jauhkan dia dari pemuda itu."


Krip terpekur sesaat. "Kenapa, Tuan? Maksud saya, tentu saja saya akan melaksanakan apa pun perintah Tuan. Tapi bagaimana kalau Tuan Kecil memaksa?"


Marco menggeleng serius. "Kau masih ingat Tuan Bannet tiga puluh tahun lalu, kan?"


"Masih, Tuan. Dia punya aura dingin yang mengerikan. Suhu ruangan seolah turun setiap ia datang. Sepertinya Tuan Bannet junior mewarisinya."


Marco mendengus. "Tidak ada senior atau junior."


"Maaf, Tuan?" Krip berhenti. Mereka kini ada di tangga kayu yang menuju ke lantai satu. Marco dua anak tangga di depan Krip, memimpin jalan. "Tidak ada senior atau junior?"


Marco ikut berhenti. Ia menoleh sedikit pada Krip, kemudian berkata lirih, "Mereka orang yang sama."


Krip membeliak kaget. Sekujur tubuhnya seperti disiram air dingin. Lidahnya kelu. Jika William Bannet tiga puluh tahun lalu dan sekarang adalah orang yang sama, seharusnya usianya sudah tujuh puluhan tahun.


Marco mengembalikan pandangannya ke depan tangga. "Jika Jose berhasil menemukan informasi ini dari kepalanya sendiri atau dari usahanya sendiri, kau boleh saja membantunya. Tapi selama dia tidak tahu apa pun, biarkan saja. Itu berarti kasus ini bukan urusannya."


Krip menarik napas pelan dan mengembuskannya untuk menenangkan diri. "Tentu, Tuan," bisiknya. Dalam benaknya kembali terbayang kengerian 30 tahun lalu, ketika beberapa mayat ditemukan dalam kondisi koyak di Bjork Selatan.

__ADS_1


***


Selepas dari pertemuan di toko Krip, Marco sebenarnya ingin segera pulang. Malam masih cukup panjang. Kembang api baru mulai dinyalakan ketika Marco berjalan sendirian dalam gang-gang sepi di Bjork. Semua orang sudah berjubelan di jalan utama, menonton parade dan kembang api.


Tanpa manusia-manusia yang mengisi tiap lekuk Bjork, kota ini seperti tumpukan batu mati. Marco mempercepat langkah, tapi sengaja berusaha tidak membuat suara sedikit pun. Kebiasaannya setiap kali berjalan pulang dan pergi dari pertemuan rahasia adalah berusaha berjalan sesunyi mungkin, agar rutenya tidak diketahui orang lain.


Kembang api tunggal meledak di langit.


Marco mengangkat wajah untuk melihat, tetapi pandangannya menangkap hal lain yang lebih menarik. Robert, Inspektur Bjork, berjalan mengendap ke sisi gang yang berseberangan dengan Gedung Diskusi. Robert tidak mengenakan seragam, kini hanya melapisi tubuhnya dengan mantel tua berwarna cokelat dan topi lusuh. Kalau hanya dilihat sekilas, tidak ada yang akan mengira pria kecil itu adalah inspektur galak bermata tajam yang jarang bicara. Meski begitu, Marco mengenali cara jalannya. Itu memang Robert. Dan pria itu tidak sendirian. Ada dua orang lain yang bersamanya.


Marco menyipitkan mata, tetapi bayangan itu terlalu buram. Ia berjalan pelan menyeberangi jalan utama, menelusup di antara kerumunan dengan mudah. Langkahnya yang terlatih berhasil menemukan celah-celah di mana tubuhnya bisa lewat.


Dalam sekejap saja, Marco sudah berada lima meter di belakang Robert dan kawan-kawannya. Ketiga pria itu berjalan tanpa tergesa, juga tidak saling bicara. Mereka berjalan dalam pola segitiga. Yang paling depan adalah Robert, sementara dua yang di belakang adalah Charles Hastings dan Xavier Hastings. Marco mengenali Charles dari sepatu yang dikenakan pria itu, sementara tubuh kurus tinggi yang selalu mengikuti Charles sudah pasti Xavier. Xavier adalah sepupu Charles. Charles hanya seorang baron suatu tempat kecil di sudut Bjork, tetapi termasuk diperhitungkan di Bjork karena usaha dagangnya.


Apa yang mereka lakukan malam-malam begini? Marco mengikuti mereka dengan mudah dari belakang, tidak terkejut ketika mendapati ketiganya berjalan melewati kantor pajak, menuju ke jembatan kayu yang menghubungkan dua bagian Bjork.


Marco menimbang-nimbang sesaat. Ia bisa saja kembali ke rumahnya sekarang, kemudian datang lagi membawa pasukan. Namun ia akan kehilangan jejak penting. Ia bisa saja menanyakan ini pada Robert besok. Mungkin saja inspektur itu sedang melakukan investigasinya sendiri.


Marco menertawakan sendiri kemungkinan yang terpikir barusan. Robert Dawson jelas mengkhianatinya. Dan ia akan mencari tahu sendiri untuk apa inspektur itu mengkhianatinya, serta apa yang ketiga pria itu lakukan malam-malam begini.

__ADS_1


***


Marco melangkah dengan teratur dan ringan, merayap perlahan menyeberangi jembatan yang menghubungkan dua bagian Bjork. Mantel gelap membungkus tubuhnya. Di balik mantel itu ada sebuah revolver dengan enam butir peluru serta sebilah belati. Marco cukup percaya diri pada kekuatan fisiknya, tetapi ia juga tahu bahwa usia tetap memengaruhi segala hal. Ia tidak akan bisa lagi melempar dua pria dengan tangan kosong seperti saat muda. Karena itu ia selalu membekali diri dengan kedua senjata tersebut.


Ia menyeberangi padang rumput yang menjadi halaman hutan sambil memperhitungkan jarak waktu antara dirinya dengan tiga orang yang ia ikuti. Seolah menyambut, angin bertiup melewati hutan, menimpulkan suara-suara gesekan daun yang ribut di atas sana. Marco menatap sekitar dengan waspada. Ada hal yang aneh di bagian selatan Bjork, dan itu jelas bukan soal orang-orang yang membangun rumah tanpa izin tinggal. Ini soal hutannya.


Hutan yang dibelah sungai sakral Bjork, hutan yang mengeluarkan kabut aneh pada jam-jam tertentu. Sekarang, ia akan masuk ke dalamnya.


Marco memasukkan kedua tangannya ke dalam mantel, berusaha untuk menyatu dalam kegelapan, meski di langit, tepat di atasnya, kembang api memberi cahaya yang menyilaukan.


Marco orang yang berani, tetapi tidak gegabah. Ia bukannya sedang ingin sok berani menjelajahi hutan malam hari. Namun ia merasa kesempatan emas semacam ini tidak akan datang lagi.


Matanya masih mengawasi Robert dan kawan-kawan yang berjalan lima meter di depannya.


Gerombolan itu memang tidak terlihat mencolok di kota. Tidak ada yang aneh melihat beberapa pria terpandang berjalan bersama dengan Inspektur polisi. Tetapi sekarang, saat mereka berada di tepi hutan yang asing, rombongan itu baru terlihat misterius.


Marco berjalan pelan-pelan dalam jarak jangkau. Sesekali ia merayap ke balik pohon, tanpa tergesa, ketika dirasanya akan ada yang menoleh. Sambil berjalan, Marco memikirkan kembali misteri-misteri yang melanda Bjork, memikirkan apakah mungkin semuanya berhubungan.


Ketika mereka akhirnya sampai ke sungai yang melintang di tengah hutan, Marco segera menyelinap ke balik pohon akasia besar yang hampir rubuh. Ia menangkap kelebatan sosok lain barusan, sosok yang gerakannya lincah tetapi tidak teratur. Sosok itu begitu kecil, ikut membuntuti rombongan yang diikuti Marco, tetapi tidak menyadari keberadaannya.

__ADS_1


Jantung Marco sesaat seperti berhenti berdegup. Ia sempat mengira bahwa sosok itu adalah Jose saat melihat kelincahannya. Tetapi ketika memperhatikan dengan lebih cermat, Marco menyadari siapa orang itu.


Nolan.


__ADS_2