BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 95


__ADS_3

Hans dan Gerald ada di atas kasur, berbalut selimut dan menggenggam segelas brendi. Begitu melihat Rolan datang, keduanya segera bangkit dari kasur.


"Dokter baik-baik saja?" tanya Gerald cepat. "Maaf, kami seharusnya segera ke kamar Dokter begitu siuman."


Rolan melambaikan tangan dengan santai. "Sama seperti kalian, aku juga pesuruh Argent. Tidak perlu terlalu formal. Nah, duduklah, duduk saja."


Tentu saja ucapan Rolan tidak dianggap serius oleh siapa pun di ruangan itu. Meskipun Rolan bukan seorang Argent, dia adalah adik dari Renata, Nyonya mereka. Mana mungkin tidak diperlakukan dengan hormat.


George mengambilkan tempat duduk untuk Rolan, kemudian menutup pintu. Kini hanya empat orang itu yang ada di dalam ruangan.


"Terima kasih, George. Pasti repot membawa kami ke rumah utama," kata Rolan.


George mengerti maksud Rolan sebenarnya, pria itu tidak benar-benar merasa sungkan. Justru sebaliknya, Rolan sedang memastikan apa yang terjadi di pondok Higgins tidak diketahui siapa pun. "Tidak perlu cemas, Dokter. Finnian dan Harold membantu saya, mereka pelayan Argent yang setia, tidak akan ada keributan. Mereka pandai menutup mulut."


Rolan tersenyum tipis, kemudian mengembalikan pandangan pada Gerald dan Hans di depannya. "Tunjukkan lagi talisman yang kalian punya."


"Talisman, Dokter?" Gerald mengerutkan kening. "Maksudnya, tato kami?"


Rolan mengangguk. "Yaa, kalau Marco mendengarku bicara, dia pasti akan meledek lagi, menyebutku tenggelam dalam takhayul. Tapi, kalian tahu apa arti tato yang digambar pada kulit kalian itu?"


Gerald menggeleng. Ia dan Hans duduk di bibir ranjang, di depan Rolan. "Ini lambang keluarga kami. Maksud saya, saya dan Hans berasal dari keluarga yang berbeda, tapi desa kami sama. Di sana, ada kebiasaan untuk menatokan lambang keluarga di tubuh setelah anak-anak akil balik. Sebagai jimat dan pengingat asal lahir."


Rolan menyeringai. Ia tahu desa yang dimaksud. Ia menemukannya tak sengaja ketika membaca-baca artikel demi mencari tahu apa arti lambang pada medalion emas yang ditemukan Nolan. Desa asal Hans dan Gerald tidak memiliki nama, tetapi punya tradisi yang menarik, yang berkaitan dengan agama kuno Bjork.


Tato talisman pengusir mimpi buruk.

__ADS_1


"Itu memang jimat," sahut Rolan. "Tidak, lebih tepatnya, itu doa. Sigil."


"Segel?" tanya Hans dan Gerald kompak.


"Sigil dan segel adalah dua hal yang berbeda." Rolan berhenti karena George menuangkan brendi untuknya. Ia memang merasa kedinginan. "Yah, sebentar, hampir-hampir sama, sih. Yang bisa mengurai sigil kalian cuma pembuatnya, karena itu bukan sigil umum seperti yang biasa digunakan untuk pemanggilan malaikat atau iblis. Kalian mendapat semacam doa sepertinya. Lingkaran itu adalah penguat sebuah doa. Aturan umum pembuatan sigil adalah menghilangkan huruf vokal, meringkas konsonan yang berulang, lalu menyusun huruf yang tersisa sedemikian rupa sehingga membentuk satu kesatuan utuh, lalu disempurnakan dengan lingkaran. Jadi, aku tidak bisa mengurai apa yang menjadi pelindung kalian. Pokoknya, apa pun itu, talisman kalian bekerja. Sigil kalian ampuh. Makanya, kalian bisa menghadapi apa pun makhluk yang datang membunuh Wallace."


Hans dan Gerald saling berpandangan, kelihatan jelas merasa bangga dan lebih tenang, meski tetap bingung.


"Setahu saya, tato ini untuk melindungi seseorang dari mata jahat." Hans menggaruk pipinya.


Rolan mengangguk. "Ya, untuk melindungi kalian dari makhluk-makhluk malam juga. Dan karena itulah kita berhasil selamat. Tidak ada penjelasan lain."


"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi barusan, Dokter?" tanya Gerald linglung.


"Tenang saja, di sini aman." Rolan menjawab yakin. "Kita barusan diganggu. Aku memang sengaja menanyai kalian di pondok Higgins, mengingat makhluk itu dilihat Jose sempat berada di sana, mungkin Higgins tidak sengaja mengundangnya sehingga pondok itu jadi mudah dimasuki. Kalian tahu mitos bahwa vampir tidak akan bisa masuk ke suatu tempat kalau tidak dipersilakan? Kemungkinan Higgins tak sengaja membiarkan makhluk itu masuk, jadi pondok itu memang tidak aman."


Hans diam agak lama, kemudian bertanya pelan, "Meski mengetahui tempat itu bahaya, Anda sengaja menanyai kami di sana?"


Rolan mengedikkan bahu. "Kutebak, siapa pun yang baru saja mengincar Wallace, pasti masih mengintai. Dia pasti mencari apa yang tidak bisa ditemukannya di kamar Marco. Seperti yang kuduga, dia mendengarkan kita, dan sepertinya menebak kalung itu ada padaku. Maka dia menyerang kita."


George yang sejak tadi mendengarkan, menepuk tangannya satu kali, mengembuskan napas lega. "Syukurlah, Dokter Rolan selamat."


Rolan tersenyum lebar. "Aku mengakui, aku ceroboh," katanya. "Tapi aku bersyukur Hans dan Gerald menyelamatkan kita. Dan tentu saja, itu semua berkat pengetahuanku juga."


"Kenapa Dokter memaksa saya dan Hans bergandengan tangan?" tanya Gerald penasaran.

__ADS_1


"Setelah melihat bahwa tato kalian adalah sigil pelindung, aku segera tahu bahwa itulah yang menyebabkan kalian selamat padahal Tuan Wallace tidak." Rolan menenggak brendinya, memejamkan matanya sedikit ketika merasakan panas itu menyebar dari tenggorokan ke dada, lalu ke sekujur tubuhnya. "Maka, aku jadi satu-satunya yang tidak terlindungi di pondok itu. Jadi, aku cuma membuat pelindung dari kalian. Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, lingkaran membentuk pelindung yang kuat. Kalian melingkariku tentu saja sama saja melindungiku."


Hans mengangguk pelan. "Jadi, kami berfungsi sebagai sigil untuk Dokter?"


Rolan meringis, mengusap rambut cokelatnya yang ikal. "Tentu saja. Sudah kubilang, lingkaran adalah simbol yang kuat. Kalau dua orang yang dilindungi seperti kalian melingkari diriku, itu akan membentuk pelindung sendiri. Kau lihat hasilnya kan, aku selamat. Ah, jangan marah. Penemuan ini bisa membantu kalian melindungi tuan kalian. Peluk saja Argent mana pun yang ingin kalian lindungi."


Hans terdiam sejenak, kemudian ia tertawa keras, diikuti dengan Gerald.


"Benar-benar dokter keluarga Argent," ucap mereka di sela tawa.


Rolan menelengkan kepala, mengangkat gelas brendinya ke atas. "Terima kasih. Ayo, kita semua bersulang. Kau juga, George."


"Kalau Dokter mengizinkan, satu gelas saja," sambut George.


Mereka mengangkat gelas-gelas ke atas, Rolan bangkit dari kursinya untuk memimpin. "Bersulang untuk tetap hidup sampai hari ini."


"Bersulang," sambut tiga pria lainnya sambil menyentakkan gelas.


"Tapi Dokter," Hans menaruh gelas kosong di tangan ke atas meja kayu di depannya. Rona di wajahnya sudah kembali. "Kenapa Dokter bisa yakin kita aman sekarang? Siapa tahu makhluk itu datang lagi?"


"Kita akan meremukkannya," Gerald mendengus, memukulkan kepalan tangan kiri ke telapak kanan. Setelah mendengar soal talisman dan minum brendi, ia jadi percaya diri dan lebih berani.


"Tenang saja, dia tidak akan datang ke sini," Rolan berkata. "Dia mengira bahwa kalungnya tidak ada padaku. Sekarang aku yakin bahwa makhluk itu dan kalungnya memang berhubungan. Mungkin sekarang dia sedang mengejar Marco. Siapa tahu?"


Ruangan mendadak senyap.

__ADS_1


__ADS_2