
“Kau yang menyimpan semua ini?” tanya Jose.
“Bukan aku semua, kadang adikku, kadang tetangga juga membantu. Ini bukan khusus milikku,” Nolan menerangkan dengan jujur. Hatinya sedikit senang melihat ketertarikan Jose. “Tapi aku yang biasa menata semuanya, dan aku yang membawa lebih banyak dari yang lain!” tambahnya bangga, tiba-tiba ingin pamer. “Lihat yang menggunung rapi berbentuk segitiga itu? Aku yang menatanya.”
Sebenarnya ia juga ingin mengatakan bahwa cuma dirinya yang peduli pada kerapian penyimpanan, bahwa yang kering harus ditaruh di paling bawah dan yang lembap di atas, serta hal-hal kecil lainnya. Namun Nolan menahan lidah karena tahu bahwa meski topik itu menyenangkan baginya, Jose jelas tidak akan tertarik. Sebagai gantinya, gadis berpenampilan lelaki itu hanya bertanya dengan suara yang tidak terlalu ketus, “Cari apa di sini? Kalau mau beli kayu bakar, di pasar Bjork Utara kan jual yang sudah kering dan bagus?”
“Aku bukan ke sini untuk membeli kayu bakar, yang benar saja.” Jose tertawa geli, membuat Nolan sadar bahwa yang ada di depannya adalah seorang tuan muda. Mana mungkin lelaki itu jalan-jalan membeli keperluan rumah.
“Terus, mau ngapain?”
Jose tidak segera menjawab. Kalau ditanya untuk apa ia bertandang ke tempat Nolan, ia sendiri tidak terlalu mengerti. Segala hal soal persekongkolan kedua pamannya membuat Jose bingung. Ia masih tidak bisa membaca apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan pencarian penyusup yang mengendus semalam kini terasa seperti sekadar mimpi. Hari yang cerah membuatnya sedikit melupakan rasa ngeri yang dialaminya semalam di pondok Higgins.
Jose menoleh pada Nolan, kemudian berdehem pelan sebelum bertanya, “Kau ada waktu, kan? Mau jalan bareng?”
Nolan menaikkan sebelah alisnya tinggi-tinggi.
Nolan biasanya tidak menerima ajakan dari orang asing—apalagi yang kaya. Namun Jose tetap saja orang yang menarik baginya. Ia biasanya hanya bicara dengan orang-orang jalanan yang jelek dan dekil, juga tidak tahu apa-apa. Bicara dan bercanda dengan Jose sedikit menstimulasi otak Nolan. Ia teringat tatapan kagum keluarganya malam lalu ketika Jose mengajaknya bicara. Kedatangan orang dari Utara sama sekali tidak biasa, dan Nolan merasa bangga karena jadi salah satu orang yang menerima tamu tak biasa. Namun kebanggaan itu tiba-tiba terasa konyol. Nolan cepat-cepat menepisnya.
Mereka melintasi jalan setapak menuju permukaan Hutan Lindung Bjork. Tempat itu terang dan pepohonannya bukan jenis yang tumbuh merapat. Nolan biasa mencari jamur serta tumbuhan herbal di sana, meski tidak berani masuk lebih jauh dari lima puluh meter. Setelah jarak itu, pepohonan akan semakin rapat dan lumut bahkan tumbuh di tanah, membuat jalanan jadi licin.
__ADS_1
“Kutebak kau datang bukan karena kalungmu,” Nolan memecah suasana. Mereka sudah diam selama hampir sepuluh menit.
Jose mengikutinya meloncati batang pohon mati yang melintang menghalangi jalan. Pohon itu besar dan licin karena embun, diameternya hampir semeter, tetapi Jose meloncatinya dengan gampang, membuat Nolan sedikit kagum.
“Kalung?” Lelaki itu bertanya ringan, tetapi kemudian meralatnya sendiri sambil mengangguk-angguk. “Oh, maksudmu kalung yang kemarin. Tidak, memang bukan karena itu. Paman Marco sudah menyimpannya dalam kamar kerja. Mungkin dia akan menemukan pemiliknya segera. Kita mau ke mana?”
“Ke sungai, tugasku sekarang adalah mencari ikan." Nolan menunjukkan alat pancingnya yang sempat ia bawa sebelum mengajak Jose memasuki hutan.
“Aku belum pernah memancing. Boleh aku mencobanya nanti?”
Nolan merasa lucu mendengar pertanyaan Jose. Orang-orang Utara yang ia kenal biasanya menggunakan nada memerintah tiap kali bicara dengan kaumnya. Ini pertama kalinya ia mendengar seorang terhormat meminta dengan sopan untuk diizinkan mencoba memancing.
“Kenapa memangnya?”
“Umpannya hal-hal semacam itu. Kalau kau tidak berani memegangnya, percuma saja, aku tidak akan mau memasangkan umpan untukmu.”
Nolan menebak Jose akan memberi penolakan sopan dan memikirkan ulang soal memancing, tetapi lelaki itu ternyata lebih aneh dari dugaannya semula. Jose berlari kecil di sisinya, tersenyum dengan jenaka dan berkata, “Cacing dan serangga? Itu sih kecil! Aku makan binatang seperti itu tiap hari untuk sarapan!”
Nolan tertawa geli. “Baiklah, aku sekarang mengerti bahwa kau memang aneh! Tapi aku yakin, seaneh apa pun orang sepertimu, tidak mungkin kau datang ke sini untuk diajari memancing! Cepat katakan saja apa maumu! Aku tidak suka bebelit-belit!”
__ADS_1
Jose ikut tertawa, menyadari bahwa meski Nolan selalu bicara dengan pedas dan kasar, gadis itu tetap penuh rasa ingin tahu dan ketertarikan. Ia suka pada cara Nolan bicara, cara berjalannya yang kasar dan sembrono, juga pada keterus-terangan gadis itu.
“Temanku hilang hari ini,” ujarnya sambil mengikuti langkah Nolan menerabas tumbuhan perdu liar. Mereka sampai ke dataran yang terbuka. Rumput hijau pendek terlihat sejauh mata memandang.
Dua meter di depan mereka ada aliran sungai yang jernih. Warnanya benar-benar bening sampai dasarnya kelihatan jelas. Ada ikan-ikan gemuk maupun gepeng berlarian dengan lincah dari tepi ke tepi, kadang berhenti sebentar di pinggir untuk mencucuki tumbuhan air. Sungai itu terlihat dangkal dan lembut, tetapi Nolan segera mewanti-wanti agar Jose jangan nekat menceburkan diri. Meski kelihatan dangkal, sebenarnya sungai itu dalam. Suara gemericik air meningkahi bunyi cericit burung. Di alam terbuka yang ditumpahi cahaya matahari itu, kejadian semalam benar-benar terasa seperti mimpi belaka bagi Jose. Kalau saja Dave tidak menghilang.
“Maksudmu ‘hilang’ itu bagaimana?” Nolan sebenarnya tidak biasa bicara saat memancing. Ikan-ikan bisa kabur. Kabar dari Jose juga tidak menarik. Orang-orang hilang setiap hari di tempatnya, berita tentang hal seperti itu sudah lama tidak menarik. Hanya karena ingin mengobrol dengan Jose saja, maka ia menanggapi sekenanya.
Jose duduk di atas rumput di samping Nolan, tidak peduli meski pakaiannya akan kotor terkena tanah. Ia memperhatikan gadis itu memasang cacing gemuk pada kail, lalu membenahi pelampung yang berhiaskan bulu ayam.
“Entahlah, kemarin kami harusnya bertemu, tetapi dia tidak datang. Karena itu, aku jadi tersesat ke rumahmu.” Jose mengangguk seperti memberi ketegasan soal waktu. “Siang ini aku baru tahu bahwa dia tidak pernah pulang ke rumah. Dia bukan cuma tidak menemuiku, tapi juga menghilang mendadak dari kota ini. Seperti ditelan bumi, tidak ada yang tahu di mana dia berada.”
Nolan menoleh sekilas, “Jadi, temanmu itu datang ke selatan Bjork?”
“Tidak. Kan sudah kubilang, kami janji bertemu, tapi dia tidak datang.”
“Apa dia punya kepentingan di Selatan Bjork?”
Jose mengerutkan keningnya dengan bingung, lalu menggeleng. “Tidak, setahuku tidak. Dia tipe tuan muda yang suka menebar pesona, lebih suka berpesta daripada bertualang. Kurasa dia tidak akan ada keperluan di sebelah sini.”
__ADS_1