
Selagi Marco disibukkan dengan urusan-urusan gelap yang sempat ia tinggalkan, Jose menyambar mantel di kamarnya dan berniat menemui Maria. Ia harus memastikan sesuatu.
Namun Rolan menahannya di pintu depan. "Jangan ke mana-mana dulu," kata dokter itu. "Aku belum mendengar cerita lengkap darimu dan ada banyak hal yang perlu kita diskusikan."
"Nanti, Paman. Aku harus pergi sekarang." Jose merasa sudah terlalu banyak waktu terbuang semalaman. Harusnya ia langsung menemui Maria begitu tahu bahwa ada sesuatu yang ganjil pada gadis itu, harusnya ia menemui Maria sesegera mungkin setelah menyeberang ke dunia lain untuk pertama kalinya. Namun kemarin prioritasnya adalah menjemput Marco, lalu tubuhnya kelelahan dan ia ambruk di tempat tidur berjam-jam semalaman.
Rolan menggeser kaki, menggunakan tubuhnya sebagai penghalang ke pintu utama. "Kau tidak boleh ke mana-mana."
"Tugasku sudah selesai," Jose mengingatkan. "Paman tidak membutuhkanku lagi, segala hal sudah kembali ada di tangan Paman Marco. Sekarang menyingkirlah. Aku harus ke rumah Garnet sekarang."
"Kau bisa menggunakan telepon kalau mau bicara." Rolan merentangkan sebelah tangan untuk menahan Jose. "Teknologi sudah canggih dan rumah kalian punya telepon."
Jose menggeser lengan Rolan dengan gampang dan membuka pintu, hanya untuk dihadang oleh Gerald dan Hans.
"Minggir," perintah Jose. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang bergeser. Ia berusaha mendorong mereka, tetapi keduanya seperti patung batu. "Hans, Gerald, aku mau lewat. Menyingkir."
"Mereka tidak akan menyingkir, bahkan meski kau memukuli mereka."
"Sekarang aku tahanan di rumah sendiri?" Jose menoleh, tidak mengerti apa salahnya. "Paman tidak punya hak melakukan ini."
Rolan memutar tubuh menghadap Jose. Bibirnya mengembang dalam senyum jenaka. "Aku? Tentu saja aku tidak punya hak. Aku bukan Argent. Tapi bukan aku yang menyuruh mereka menahanmu."
Jose tahu siapa. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. "Paman Marco ..."
"Ya. Seperti katamu, dia kembali memegang kendali atas semua pekerja, semua hal di rumah ini, dan juga semua hal di Bjork." Rolan mendekat, menepuk pelan bahu Jose dua kali seolah bersimpati. "Dan kau akan mematuhinya seperti biasa."
Jose mengeraskan rahang, menahan umpatan. Ia tahu kepemimpinannya atas para pekerja hanya sementara. Ia hanya pengganti. Begitu Marco kembali, ia akan kembali menjadi anak keempat yang tidak punya kuasa. Ia pikir ia sudah siap, tetapi ternyata menjadi biasa lagi rasanya tetap menyakitkan. Pagi ini ia seperti diingatkan bahwa ia bukan siapa-siapa, hanya boneka kecil di tangan pamannya.
Jose mengamati Hans dan Gerald, yang kemarin begitu mematuhi dan mengandalkannya. Kedua pria itu masih menatapnya dengan rasa hormat yang sama, tetapi di mata mereka ia jelas bukan lagi orang nomor satu. Jose bisa melihatnya.
Mungkin ini juga yang dirasakan musuh-musuh kami, pikirnya, saat Paman Marco tidak ada, mereka bisa berkuasa. Keselamatan Paman jelas merenggut banyak hal dari mereka. Rasa kekuasaan.
"Kenapa aku ditahan?" tanyanya pada Rolan setelah menutup pintu, menghapus wajah-wajah dua raksasa pekerja itu dari pandangannya. "Aku tidak melakukan kesalahan!"
__ADS_1
"Kenapa kau pikir kau sedang ditahan?" balas sang dokter, mau tak mau tersenyum melihat kepatuhan keponakannya. "Kau cuma tinggal minta izin pada Marco. Tapi kusarankan melakukannya setelah sarapan. Renata sudah menunggu di ruang makan."
"Siapa saja yang di ruang makan? Jake?"
"Jacob dan istrinya, Lady Chantall, Renata. Aku dan kau. Marco makan di atas. Hastings biar saja kelaparan."
Jose tertawa. "Dia tamuku. Setidaknya minta pelayan bawakan roti kering ke kamarnya."
"Aku cuma bergurau. Renata sudah mengurusnya." Rolan menjajari langkah Jose, lega karena pemuda itu tidak ngotot keluar rumah dan membuat masalah. "Semua hal diurusnya dengan baik di sini. Tanpa dia, kita pasti ambruk berantakan."
Jose setuju. "Bagaimana dengan Nolan? Dia sarapan di kamarnya?"
"Tidak. Dia makan dengan Marco." Rolan tertawa melihat ekspresi kaget di sampingnya. "Kau sendiri yang menjanjikan dia bakal jadi yang terakhir. Dia menagihnya. Dan karena waktu sarapan sudah tiba, dia makan dengan Marco. Aneh juga melihat mereka seperti itu, kadang aku merasa Marco seperti ingin menempelengnya."
"Paman tidak akan melakukan itu," tukas Jose tenang.
Ia kembali berjalan ke ruang makan tanpa mengatakan apa pun. Marco sudah kembali. Situasi kembali seperti dulu di mana ia tidak punya kekuasaan atau kekuatan yang besar. Karena itu ia juga akan menggunakan cara yang dulu biasa dilakukannya: kabur.
***
"Siapa yang mengajarimu?" tanya Marco heran. "Renata?"
Nolan terkekeh. Ia mengusap bibirnya dengan lap makan. "Sudah kubilang, aku bisa sopan kalau aku mau."
"Ya, kau bilang ayahmu yang mengajari." Marco menyesap kopi hitam panasnya. "Dia orang Utara?"
Nolan mengangguk. "Dia kerja di sini. Di Utara, maksudku. Bukan di rumahmu."
"Masih di sini?"
"Sudah meninggal. Ayah tidak pulang sangat lama. Di Bjork, itu cuma berarti satu hal." Nolan mengangkat wajah. Ujung bibirnya terangkat sedikit. "Kau tidak bilang turut berduka?"
"Haruskah? Kau tidak kelihatan berduka."
__ADS_1
Nolan tertawa. Ia bangkit dari kursinya dan menjelajahi kamar itu dengan lancang. Ujung jarinya ia sapukan pada rak buku, dan ia terkikik melihat memang ada toples kaca berisi permen di atas meja. "Aku tidak berduka. Ayah selalu bilang, aku tidak boleh berduka saat mengingatnya."
"Orang yang keras." Marco menganggukkan kepala penuh persetujuan. "Kebanyakan orang Utara memang sedingin dan sekeras itu, dari bangsawan sampai rakyat jelatanya. Sudah sifat kami." Ia merapikan letak peralatan makannya yang sudah terpakai. George akan datang membereskan beberapa menit lagi, tetapi ia merasa perlu membuat semua sudutnya terlihat seimbang. "Wanita yang bermata hijau di luar, namanya Jeanne de Chantall. Dia bukan orang Utara. Bukan warga Bjork. Tapi dia juga sama kerasnya. Dia bisa membuat seisi Bjork memusuhimu dalam semalam."
Nolan mengerutkan kening, berbalik penuh pada Marco. Yang bisa ia lihat dari tempatnya berdiri hanya bagian belakang rambut pria itu yang keperakan. "Lalu?" tuntutnya. "Kau mengancamku?"
"Aku memperingatkanmu," Marco mengoreksi. Nadanya tajam. "Kau pikir aku tidak tahu kau sengaja membuatnya marah?"
Nolan mendengus. Ia kembali ke kursinya di seberang Marco dengan langkah dihentakkan saat berjalan. "Bukan aku yang mulai! Tadi pagi aku bangun dan jalan-jalan karena tubuhku sakit semua, lalu Nyonya Argent datang dan mengajakku bicara, mengatakan kau sudah pulang dan sembuh. Aku senang, aku cerita padanya apa yang terjadi di menara itu. Nyonya Argent juga mendengarkan dengan senang. Lalu cewekmu itu tiba-tiba datang memarahiku! Katanya aku tidak sopan! Sok sekali dia!"
Lady Chantall mengira Nolan adalah pelayan, Marco menebak. "Karena itu kau memakai gaun bagus dan merias diri? Untuk menunjukkan statusmu dan melakukan balas dendam kecil?"
"Yah, itu berhasil bikin dia kesal. Jadi memakai gaun seperti ini nggak masalah buatku."
Bukan itu yang ingin dikejar Marco. "Renata membantumu soal ini, ya?" tanyanya.
Nolan bahkan tidak mengerjap ketika mengiyakan, "Ya. Dia bilang kalau cewek itu suka padamu, makanya dia kaget ketika mendengarku menyebut-nyebut namamu. Padahal apa gunanya nama kalau tidak disebut? Namamu kan memang Marco!"
Marco tertawa. "Dasar berandal cilik. Kau jelas tahu apa arti nama depan di Utara. Jika ayahmu cukup cerdas untuk mengajari cara melakukan curtsy, dia pasti juga memberitahumu soal nama."
"Memang, tapi aku bukan orang Utara. Jadi hal semacam itu tidak penting buatku." Nolan meringis. Ia menyisir rambut pirangnya ke belakang dengan ujung-ujung jari. "Lagi pula kita kan teman seperjuangan."
Semua ini jelas bukan rencana Nolan. Marco bisa menebak Renata ada di belakang keusilan tadi pagi. Nolan ada di bawah lindungannya sebagai Nyonya Argent, jadi ketika Lady Chantall menghina Nolan sama saja wanita itu telah menghina Renata. Dan seorang Argent tidak pernah menerima penghinaan begitu saja tanpa membalasnya lebih berat. Renata bahkan bisa lebih berbahaya dari Edgar kalau mau. Yang tadi pagi hanya lelucon belaka bagi wanita itu, kemungkinan karena mempertimbangkan Lady Chantall tidak bermaksud buruk. Ia bertanya-tanya dalam hati sejak kapan Renata tahu Lady Chantall menyukainya, dan apakah hanya ia sendiri yang tidak sadar. Menilik dari reaksi Rolan yang selalu terkekeh dan menahan tawa, lelaki itu pasti juga sudah tahu sejak lama.
"Oh iya, pembicaraan seriusnya," Nolan berkata setelah menepuk kening dengan ringan. "Aku tidak tahu apakah ini penting bagimu atau tidak ... sudah kuceritakan bahwa aku tidur di hutan, kan? Nah, aku mimpi aneh. Mimpinya tidak seram, tapi ada satu yang penting banget. Entah kenapa aku bisa lupa dan baru ingat tadi pagi. Harusnya aku mengatakan ini pada Jose sejak kemarin."
"Apa itu?"
"Aku mimpi ada cewek cantik yang jalan-jalan di sungai," kata Nolan ringan. "Dia terus-terusan minta aku bilang pada Argent. Diulang-ulang terus. Tapi aku tidak tahu bilang apa. Tidak terlalu jelas."
"Pembicaraan seriusmu adalah soal mimpi?" Marco menaikkan sebelah alis.
"Rasanya mimpi itu penting banget. Lagi pula ada namamu. Nama kalian." Nolan memiringkan kepala, mengingat lagi. "Nama cewek itu Arabella. Aneh ya, aku ingat detail-detail semacam itu tapi tidak ingat apa yang dia minta."
__ADS_1
***