BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 187


__ADS_3

Charles Hastings kira-kira seumuran dengan Marco. Rambutnya juga sudah memutih semua, tapi dipotong pendek dan selalu diminyaki dan disisir ke belakang. Senyum selalu menempel di bibirnya, tetapi matanya tidak pernah ikut tersenyum.


Meski kabar mengenai hilangnya Marco sudah dibantah langsung oleh Edgar dan diklarifikasi, itu tidak menghentikan gerak Charles. Hilangnya Marco hanya alasan yang digunakan olehnya untuk mengumpulkan orang-orang berpengaruh di satu tempat dan membujuk mereka berpindah faksi. Ia memang sudah menebak bahwa Edgar pasti akan buru-buru datang, karena itu diutusnya orang ke Jorm untuk membawa massa.


Jika ada kekacauan di Bjork, Edgar pasti akan pulang ke sana dan ia akan mendapat waktu lebih banyak melobi para pimpinan aliansi dagang dan bangsawan berpengaruh. Namun entah kenapa Edgar tidak bergerak. Pria itu tetap tinggal di Aston dan Charles tidak mendapat kabar lagi dari utusannya.


Mereka gagal. Charles segera menebak. Sebelum kedatangan Edgar, ia sudah bisa memengaruhi beberapa orang, meski kebanyakan masih ngotot setia pada Argent.


Orang-orang bodoh, pikir Charles. Ia yakin bisa membalik hati semua orang andai Edgar tidak datang secepat itu. Seolah semuanya belum cukup buruk, kini Jacob ikut muncul di Aston. Satu Argent saja sudah merepotkan, apalagi dua.


"Mereka menghampiri kita," bisik Arthur Spencer di sisinya. Mereka berdua baru saja selesai bertemu dengan beberapa pimpinan dagang Venedik dan meyakinkannya untuk berpindah faksi—atau setidaknya pura-pura tidak melihat ketika mereka menitipkan dagangan lain ke karavan mereka. Namun orang-orang itu tidak mau menjawab sebelum tahu pasti bagaimana keadaan Marco.


Marco cuma pria tua impoten yang menyepi di kota terkutuk, tapi mereka semua bahkan tak berani makan tanpa minta izin padanya dulu! Charles mencengkeram tongkat metaliknya, menumpukan setengah berat tubuhnya ke sana. "Kita lihat apa mau mereka," katanya tanpa menoleh. Ia memperhatikan bagaimana ayah dan anak Argent berjalan mendekati mereka. Edgar tampak santai seperti biasa, tetapi Jacob tidak. Charles ingat bahwa pria itu yang paling temperamental dibanding anak-anak Argent yang lain. Ia memiringkan sedikit kepalanya, kembali berbisik pada Spencer, "Kembali ke restoran, minta orang-orang melihat ke bawah. Yakinkan mereka bahwa Marco memang sudah mati, karena itu keponakannya sampai datang dari Delton."


Spencer menyimpulkan senyum. "Kau harus membuatnya marah, Hastings. Sangat marah, atau akan sulit bagiku membuat narasi yang meyakinkan."


Charles tertawa kecil. "Lihat saja demonstrasiku. Satu pukulan di pipi. Cuma itu yang kubutuhkan untuk membuat mereka tahu bahwa Ketenangan dan Kestabilan yang dijunjung Argent sudah rusak. Dan itu pasti cukup bagimu untuk meyakinkan mereka bahwa yang mengontrolnya sudah tidak ada."


Spencer tersenyum keji, kemudian menyentuh ujung topinya sebagai salam hormat dan berbalik kembali ke dalam restoran.


"Selamat datang, Jacob," sapa Charles begitu Edgar serta Jacob dan istrinya sampai. Mereka berdiri di pinggir jalan besar. Beberapa orang menoleh untuk mencuri-curi lihat ke arah mereka, tetapi tidak ada yang berani menatap terang-terangan. "Pagi yang cerah, eh? Mau sarapan di Covent?" Ia merentangkan tangan ke samping, ke restoran yang berada satu meter di belakangnya. "Sekarang agak penuh karena sudah jam segini, tapi kurasa masih ada tempat kosong tadi. Dekat toilet."


Edgar tersenyum. "Kami tidak akan mengambil tempatmu, Hastings. Kami tidak sekasar itu."


Charles tertawa ramah. "Jujur saja, aku tidak pernah mengharapkan kelembutan dari seorang Argent." Matanya beralih pada Jacob. "Halo Nak, lama tidak bertemu. Kapan kau sampai di Aston? Semalam? Bagaimana keadaan Delton?"


"Untuk apa bertanya soal kedatanganku?" balas Jacob kasar. "Apa untuk datang ke sini aku perlu izinmu dulu?" Ia maju selangkah lebih dekat, berhenti setengah meter di depan Charles. Senyumnya mengembang tipis. "Untuk info saja, aku tidak berangkat dari Delton melainkan dari Bjork."


Charles menyipitkan kedua matanya. Pantas saja, pikirnya. Orang-orangku pasti sudah dihabisi olehnya. Tapi dia tidak mungkin melacaknya sampai padaku. Dia cuma asal menebak, untung-untungan. Aku cukup menjaga raut wajah.

__ADS_1


"Kudengar Marco menghilang," Charles memulai. "Aku ber—“


"Marquis baik-baik saja," potong Jacob tajam. "Seseorang menculiknya, tapi dia berhasil meloloskan diri. Sekarang dia di rumah, di Bjork. Semalam Paman pasti sudah menghubungi satu persatu kawannya untuk memberi kabar."


"Ah. Aku turut sedih mendengarnya. Apa dia terluka?"


"Tidak ada luka yang berarti, jadi aku maklum kalau kau sedih."


Charles menelan ludah. Jadi untuk inilah kedua Argent datang memberi salam pagi-pagi, untuk memamerkan kabar bahwa Marco selamat. Ia tidak meragukan keterangan Jacob. Charles tahu menangkap Marco tidak akan mudah. Harusnya ia tidak memercayakan penjagaan puri pada Robert. Masalahnya, tidak ada lagi orang yang bisa ia andalkan di Bjork. Sepupunya terlalu sembrono dan lebih suka mabuk daripada berpikir.


"Kau salah paham," Charles menyabarkan. "Maksudku adalah, aku turut sedih atas pengalaman tidak mengenakkan yang sudah kalian alami."


Edgar menaikkan kedua alis. "Oh, kau sepertinya tahu benar pengalaman apa saja itu."


"Hanya menebak." Charles meringis. "Apa pun alasan di baliknya, pada kenyataannya Marco memang sempat hilang—itu kalau dia memang benar sudah ditemukan. Nah, tapi seingatku sampai kemarin kau masih bersikeras bahwa dia tidak pernah meninggalkan Bjork."


"Kakakku memang tidak meninggalkan Bjork." Edgar tertawa. "Setelah membalik setiap rumput dan batu di Bjork, kami menemukannya. Kau tahu apa yang sedang dia lakukan saat pekerja kami menjemputnya? Dia membantai orang-orang yang menyekapnya."


"Apa Hastings memang suka berpura-pura bodoh seperti ini Ayah?" tanya Jacob dengan nada polos, tetapi tidak ada keluguan pada sorot matanya. "Atau dia tidak sedang berpura-pura? Padahal dia pasti tahu kenapa Ayah sampai harus menyembunyikan soal penculikan Paman. Tentulah untuk mencegah orang-orang tolol dari Jorm memanfaatkan momen dan menyerang rumah kita."


"Aku tidak mengerti apa yang kau maksud sejak tadi," Charles berkata tenang, masih yakin bahwa ia aman. Selama tidak ada bukti, yang mereka bisa hanya menduga dan menuduh. Tidak akan ada yang bisa mereka katakan.


"Kau tentu tahu, karena itulah kau sibuk mencium sol sepatu para aristokrat di Aston." Jacob tersenyum mengejek. "Seolah itu bisa menggoyahkan kesetiaan mereka."


"Tidak ada yang namanya kesetiaan dalam bisnis, Nak," Charles berkata dengan nada kebapakan. "Yang ada hanya kepentingan."


"Dan kepentingan yang berbeda apakah bisa disamakan dengan cara menjilat bokong orang?" balas Jacob heran. "Pelajaran menarik. Tapi aku tidak akan mungkin seputus asa itu hingga menerapkan pelajaran darimu."


Beberapa pejalan kaki dan orang sekitar mulai menghentikan kegiatan mereka sesekali untuk menonton. Jelas ada aura pertikaian terlihat di mata semua orang.

__ADS_1


Charles melirik sekilas ke tangan Jacob, menghitung momen. Jantungnya berdegup bertalu-talu dalam dada. "Putra-putramu benar-benar persis Marco," katanya santai pada Edgar. Ia mengeluarkan rokok dari saku dan menyalakannya.


Tidak ada rasanya. Ia terlalu tegang untuk mencecap rasa apa pun. Diembuskannya asap rokok ke atas, sekalian mendongak untuk melihat ke jendela lantai dua Covent.


Spencer mengangguk padanya dari sana begitu mereka bertemu mata.


Charles menghadapkan wajahnya kembali ke depan. Puntung rokok terselip di antara dua jari kanan. "Wajah dan sifat mereka persis Marco," lanjutnya ringan seperti berbincang dengan kawan lama. "Dan aku bertaruh tidak hanya aku yang berpikir begitu. Semua orang berpikiran sama, terutama setiap melihat Jose. Dia persis sekali dengan Marco waktu muda. Seperti pinang dibelah dua." Charles menjilat bibirnya yang kering, kembali melirik gagang rapier yang menyembul dari balik mantel hitam Jacob. Sekarang matanya berpindah pada Edgar yang masih memasang wajah lempeng. Ia benci ketenangan pria itu. "Anak pertama dan anak terakhir, hmmm," gumamnya lembut. "Kau yakin semuanya memang benihmu?"


Edgar tidak kelihatan terpengaruh. Ia bahkan tidak menatap ke arah Jacob yang mengepalkan tangan di sampingnya dan mengetatkan rahang. "Provokasimu tidak akan mempan, Hastings."


"Oh ya? Provokasiku mungkin tidak. Tapi bagaimana dengan provokasi Marco pada Renata?" Ia terbahak. Ujung rokoknya ia gunakan untuk menunjuk Edgar. "Karena itu kan dia sanggup melajang sampai bangkotan? Seorang pria tidak mungkin bertahan lama tanpa sentuhan wanita—kecuali dia impoten, tentunya. Tapi dia kan tidak cacat? Jadi kesimpulannya hanyalah ... Marco memang tidak butuh wanita lain karena setiap malam dia bisa naik ke ranjang adik ipar—"


"Jake!" Edgar berseru tepat waktu. Rapier sudah terhunus dalam desing logam yang manis. Sinar matahari berkilat pada bilahnya, memantulkan cahaya kemilau di jalan. Ujungnya yang tajam berhenti sesenti di depan jakun Charles Hastings yang naik turun. "Turunkan rapiermu, Jake," Edgar meminta perlahan. Ia melirik Olivia, memintanya ikut bicara. Wanita itu tidak bergerak, matanya balas menatap Edgar dengan pasrah.


"Lakukan," Charles justru menantang. Puntung rokoknya sudah jatuh ke jalan. "Lakukan saja, gerakkan pedangmu. Kita lihat darah siapa duluan yang akan tumpah."


Orang-orang di sekitar mereka mulai berhenti dan berkumpul di kejauhan untuk menatap mereka terang-terangan, berbisik satu sama lain sambil menunjuk-nunjuk. Jacob memasukkan kembali rapiernya ke dalam sarung pedang, kemudian berbalik pergi tanpa mengatakan apa pun. Semua orang menepi untuk memberi jalan.


Edgar menyusulnya dengan cepat. "Suatu saat," katanya pelan. "Suatu saat aku pasti membunuhnya. Tapi tidak sekarang."


Jacob masih tidak mengatakan apa pun. Bibirnya terkatup rapat dalam amarah. Olivia berjalan di sisinya, meremas jemarinya lembut untuk menguatkan, tetapi Jacob menepis cepat. Darahnya masih mendidih. Ia tidak ingin bersentuhan dengan manusia lain.


Selain rambut dan mata hitam khas Argent, tidak ada kemiripan lain darinya dan Jose dengan Edgar, Jacob tahu itu. Bahkan Juan dan Jeffrey pun mewarisi wajah Renata. Namun Jacob juga tahu bahwa mereka lebih mirip dengan Garland Argent, kakek mereka yang sudah lama meninggal, ketimbang Marco. Mereka sudah sering membahas hal ini waktu kecil sambil melihat-lihat koleksi kotak foto dan lukisan keluarga.


Semua orang tahu bahwa seorang anak tidak selalu mirip persis dengan orang tuanya; bisa saja mirip kakek, nenek, paman, atau bibinya tanpa ada afair dilibatkan. Tuduhan Charles bukan barang baru. Itu adalah olok-olok khas para pembenci pamannya. Ia juga tahu bahwa Charles sengaja melebih-lebihkan kemiripan mereka dan memprovokasi untuk tujuan tertentu.


Jacob benci pada dirinya sendiri karena meskipun tahu bahwa itu jebakan, ia tetap saja melangkah ke sana. Seharusnya ia tidak melakukan itu. Kedatangannya ke Aston adalah untuk membantu ayahnya, bukan malah menyusahkan.


Jacob menarik napas panjang-panjang, menghirup sebanyak mungkin udara pagi untuk menenangkan diri. Ia benar-benar ingin membuat wajah Charles Hastings bersimbah darah karena telah menghina mereka.

__ADS_1


Tak peduli apakah lawan mereka adalah iblis, monster, atau manusia, Jacob bersumpah akan menghabisi semua yang menentang mereka di Aston.


***


__ADS_2