
Sir William terkekeh geli mendengar tawaran Jose. Pria itu menyugar rambut pirangnya ke belakang, lalu menghela napas. "Dan kenapa aku harus percaya padamu, Argent?"
"Kau tidak harus percaya padaku," sahut Jose sambil mengurai syalnya lebih longgar agar ia lebih peka pada perubahan suhu. Udara Bjork dingin, tapi suhunya cukup stabil, tidak ada penurunan. Itu berarti keadaan relatif aman. Meski belum bisa menemukan apa hubungannya, tapi Jose sudah belajar dari pengalaman bahwa semakin anjlok suhu di sekitarnya berarti bahaya akan datang. "Tapi aku sudah memberimu peringatan. Iblis itu menipumu hanya agar kau memberikan banyak nyawa untuknya. Pada akhirnya, dia tidak akan memberikan Arabella. Semua yang kau lakukan hanya sia-sia, nyawamu juga akan diambil. Dia cuma butuh kau untuk memanen nyawa manusia."
"Baik sekali kau memberiku peringatan." Namun Sir William tidak terdengar berterima kasih sama sekali. Nadanya dingin dan benci. Ia mengibaskan tangan dengan lagak tak peduli sembari melangkah makin dekat. Tepat tiga langkah sebelum sampai di depan Jose, pria itu berhenti. "Kami terikat kontrak, karena itu dia membantuku. Kalau dia mau nyawa manusia, dia bisa mengambilnya sendiri. Dia cukup kuat untuk itu. Tidak perlu memanfaatkanku."
Pembelaan! Jose gembira mendengarnya. Sebuah klarifikasi hanya diberikan jika lawan bicaranya cukup tertarik pada topik bahasan. Itu juga berarti Sir William tidak sedang buru-buru membunuhnya. Dia penasaran, Jose menaksir. Sir William hanya sedang menunggu dibujuk agar tidak kelihatan seperti menyerah tanpa syarat. Kehadiran sosok Arabella barusan jelas berhasil menggoyahkan hatinya.
"Dia tidak bisa sembarangan mengambil nyawa dengan tangannya sendiri karena terikat aturan," Jose berusaha menjelaskan. "Dunia ini punya aturan. Segala hal yang berada di permukaan bumi terikat dengan aturan tersebut. Dia tidak bisa menyentuh manusia secara langsung karena itu sama saja melakukan intervensi atas sistem yang sudah dibuat. Intervensi semacam itu akan membuat sistem mengoreksi secara otomatis. Koreksi atau pembenahan oleh sistem akan menimbulkan luka, ganjaran, harga yang harus dibayar. Dia tidak akan mau. Tapi kau bisa melanggar aturan itu untuknya, dia akan mendapat manfaatnya tapi terbebas dari ganjaran apa pun. Mau tahu untuk apa nyawa-nyawa itu nantinya?"
Sir William diam, menunggu.
"Kiamat," Jose menjawab sendiri pertanyaannya dengan dramatis. "Ragnarok. Armageddon. Apokalips. Apa pun istilahnya, yang jelas semua ini adalah persiapan akhir dunia. Nyawa-nyawa yang kau korbankan tidak akan diterima di sisi-Nya, bahkan tidak akan berada di limbo. Semuanya akan menjadi penduduk kegelapan, mereka akan membantu malaikat-malaikat iblis." Jose berhenti sendiri karena teringat Bjork yang lain, yang lebih dingin, yang pernah ia datangi. Semua yang ia jabarkan barusan bukan karangan. Ia memang tahu karena diberi bisikan oleh Yang Kuno ketika tenggelam di sungai. "Karena itu dia mendidik Solomonari. Dia tidak akan mengembalikan Arabella untukmu, kupastikan itu. Katamu kalian terikat kontrak? Ingat kembali isi kontrakmu, apa dia mengatakan bahwa Arabella akan dikembalikan?"
Sir William diam agak lama. Matanya menatap beku seperti patung batu.
Kena kau, pikir Jose. Diam berarti iya. Ia yakin iblis itu memang tidak mungkin mengembalikan Arabella. Nyawa manusia bukan hal yang bisa dikembalikan oleh iblis.
"Kau mau bilang bahwa guruku tidak bisa mengembalikannya, tapi kau bisa?" Sir William akhirnya bicara. Suaranya mendirikan bulu roma.
Jose mengangguk tanpa berpikir. "Aku punya anugerah untuk itu," dustanya. "Makanya aku bisa selamat dari pasukan mayatmu. Kau tahu kenapa? Aku mengembalikan mereka semua ke tempat yang semestinya, membebaskan mereka dari rantai kutukanmu. Aku bisa melihat mereka, Bannet. Aku bisa melihat jiwa-jiwa manusia yang penuh sesak di rumahmu. Arabella juga ada di sana. Menurutmu kenapa aku kelihatan panik waktu terakhir datang ke pestamu? Aku melihat mereka!"
Sekarang ada secercah harapan di mata Sir William. Jose mendesak lebih lanjut dengan sabar, "Tapi mengembalikan nyawa orang lain sama saja dengan melakukan intervensi yang merupakan hak Ilahi. Aku tidak cukup kuat. Aku butuh bantuanmu."
Sir William tampak ragu. Kedua tangannya dimasukkan dalam-dalam ke saku mantel. Matanya menatap langit, kelihatan berpikir. Partikel hitam sudah berhenti melesap keluar dari tubuhnya.
"Kau tidak akan rugi apa-apa," kata Jose persuasif.
"Kenapa kau memberi penawaran ini?" Sir William menatapnya lurus-lurus tepat di manik mata.
“Kenapa?” Jose tahu pertanyaan itu akan datang. Ia tertawa serak dan kasar. "Kau harusnya tahu kalau memang mencintai Arabella." Matanya berubah kosong ketika rasa simpati merasuk perlahan. Ini yang mereka lakukan demi cinta. Bahkan meski harus menipu orang lain, bahkan meski harus menumpahkan darah banyak orang, sejauh inilah mereka berani bertaruh demi orang-orang yang mereka cintai. "Aku bisa melakukan apa pun jika itu berarti keselamatan Maria."
"Lalu kenapa tidak kau lakukan sejak awal?" Alis Sir William berkerut. Tangannya menunjuk ke belakang, ke arah timur. "Kenapa kalian perlu menembakiku alih-alih menawarkan opsi damai seperti ini?"
"Pertama, aku baru mendapat anugerah ini beberapa hari lalu, tubuhku butuh waktu beradaptasi. Tidak semua orang tahu aku mendapat anugerah." Jose mengangkat bahu, berusaha kedengaran senormal mungkin, tetapi gagal. Nadanya pahit ketika berkata, "Kedua, hukum pertukaran setara. Setelah melakukannya aku pasti mati. Ini sebenarnya langkah terakhirku."
Selama beberapa saat tidak ada yang bersuara. Jose menggigil karena kedinginan, jadi ia merapatkan kembali syalnya. Ini dingin karena suhunya turun atau karena aku terlalu tegang? Ia tidak tahu mana yang benar. Angin dingin berembus, membuat mantel mereka berkibar-kibar. Mantel Paman Marco, pikirnya muram melihat lambang Argent yang tersulam pada pakaian Sir William.
__ADS_1
Pria itu mendekat ke samping Jose dan mendesis penuh ancaman, "Kalau kau kabur dengan kalungku, aku akan membuatmu menyesal pernah belajar bicara."
"Kau boleh menggandengku kalau takut aku lari," sahut Jose tenang. Kelegaan merambati seluruh tubuhnya, membuatnya hangat. Ia bisa merasakan lagi ujung-ujung jari kakinya di balik sepatu.
Dia masih manusia, pikirnya miris, manusia yang penuh harapan. Bahkan benang setipis apa pun akan ia raih jika itu bisa menariknya kembali ke dunia atas.
"Kita ke Selatan. Tapi itu karena aku butuh bantuan segala hal yang sakral di Bjork," Jose buru-buru menambahkan begitu merasakan tubuh sir William kembali menegang dalam kondisi waspada. Keringat dingin menitik di pelipisnya. "Kau tahu kan gunung Bjork adalah tempat yang sakral? Energinyalah yang kita butuhkan. Karena itu aku butuh iblismu juga, aku akan menggunakannya nanti. Keluarkan dia saat kuminta."
Sir William menatapnya lama seperti berusaha menimbang baik serta buruknya permintaan itu, lalu mengangguk kaku.
Jose berbalik untuk memimpin jalan. Ia mengeluarkan jam saku. Pukul setengah dua belas. "Kita akan mulai secepat mungkin," katanya. "Lebih cepat lebih baik."
"Untuk pertama kalinya aku setuju denganmu, Argent."
***
Lady Chantall akhirnya menemukan Marco. Ia mendapati pria itu tergeletak di jalan tak jauh dari kantor pajak. Ada lubang besar di tengah dadanya yang tembus sampai ke pungung, darah sudah tidak lagi merembes dari sana. Gumpalan darah beku merah kehitaman menyumpal luka. Kulit tubuhnya dingin. Rona kemerahan sudah hilang sepenuhnya dari wajah Marco.
Sekali lihat saja jelas bahwa pria itu sudah mati. Namun Lady Chantall tetap menempelkan telinganya di dada Marco dengan penuh harap, masih berharap bisa menemukan bunyi detak jantung di tengah ribut degupnya sendiri.
Tubuh itu belum kaku. Ia menebak Marco meninggal bukan karena tusukan melainkan kehabisan darah. Saat diseret pergi tadi, Marco memang masih hidup. Andai aku mengejarmu tadi, sesalnya. Andai aku membawa senjata tadi. Ia meraih dan menggenggam jemari Marco, mendekapnya erat di dada. "Kau janji kita akan bertemu lagi besok," isaknya. Ia mencoba tersenyum, tapi sudut bibirnya bergetar dan tertarik turun.
Ia membungkuk, memeluk tubuh mati tersebut lalu menjerit, menjerit, dan menjerit lagi.
Jeritan panjang menggema di seluruh dinding Bjork, kedengarannya seperti raungan binatang liar yang kesakitan.
***
Maria mengangkat wajah dengan kaget. Barusan rasanya ia seperti mendengar seseorang menangis. Namun tidak ada orang lain yang bereaksi, jadi Maria mengambil kesimpulan suara itu hanya halusinasinya saja.
Demi keamanan, Rolan memindah karavan dari padang rumput ke tengah desa di Selatan. Tidak ada yang menyambut mereka di sana kecuali Nolan, yang segera menceritakan apa saja yang dilakukannya begitu kembali ke Selatan. "Semua orang ketakutan," gadis itu masih meneruskan ceritanya. "Banyak yang melihat bagaimana sungai bersinar semalam dan barusan tadi."
Mereka duduk di depan karavan, menghangatkan diri dengan api unggun yang dibuat oleh Dave. Hanya ada Maria, Susan, Dave, serta Nolan di depan api. Orang-orang Utara yang lain berembuk serius di dalam karavan. Rolan dan Tuan Stuart juga di dalam sana.
"Apa yang diminta Jose padamu?" Maria bertanya penasaran pada Dave yang menambah kayu untuk menjaga nyala api. "Dia memintamu membuat sigil apa?"
"Entah apa namanya, tapi itu untuk melemahkan iblisnya," jawab Dave jujur tanpa mengalihkan mata dari api unggun. "Sir William menggunakan darah untuk membuat sigil yang mengurungmu di Bjork, tapi Jose menggunakan air Sungai Sakral. Masalahnya, air tidak sekental darah. Cepat atau lambat efeknya pasti akan hilang. Jika dia tidak bisa memancing Sir William dan mengucapkan doa tepat pada waktunya, sigil itu tidak akan bisa diaktifkan."
__ADS_1
"Jadi dia bakal berdoa di depan William?" Nolan bertanya heran. "Itu kan susah! Mana mungkin orang itu tidak tahu kalau dia sedang dijampi-jampi!"
“Doa!” koreksi Dave, “bukan jampi-jampi, eh kau mau ke mana?” tanyanya begitu melihat Maria sudah bangkit dari duduk. Ia cepat-cepat menghampiri gadis itu dan mencekal lengannya. "Percayakan pada Jose! Kalau kau ke sana, semuanya bisa saja rusak!"
"Kau ingin aku diam saja ketika Jose dalam bahaya?" desis Maria. Ia menepis tangan Dave dengan kesal. Jantungnya berdegup sangat kencang dan bunyi dengung dalam kepalanya tidak mau berhenti sejak ia menyeberang ke Selatan. Semua itu membuatnya mudah senewen. Ia ingin bertemu Jose.
"Dia menempuh bahaya demi kau!" Dave berhenti sejenak lalu meralat, "Secara teknis demi semua orang di Bjork sih, tapi terutama demi kau. Kalau kau ke sana, Garnet, kau akan menyusahkannya. Itu yang kau mau?"
Itu benar. Maria menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga terasa sakit.
"Tenanglah," celetuk Nolan datar dari tempatnya duduk. "Dia itu pinter ngomong. Dia pasti nggak akan apa-apa."
Maria justru tambah jengkel mendengar nada sok tahu itu. Ia tahu Nolan hanya berusaha menghiburnya, tapi Maria tidak suka mendengar nada suara gadis itu ketika membicarakan Jose. Ia yang paling mengenal Jose. Orang lain tidak perlu meyakinkannya apa pun soal lelaki itu.
Maria diam saja, tapi dalam hatinya bertekad untuk mencari celah menyelinap ke lapangan rumput sesegera mungkin. Ia tidak akan mengganggu Jose, yang ingin dilakukannya hanya berjaga-jaga saja dari tempat tersembunyi. Ia ingin memastikan Jose akan tetap baik-baik saja.
“Sue?” bisiknya pada Susan ketika Dave sudah kembali duduk dan sibuk mengobrol dengan Nolan. “Kau sudah menyiapkan apa yang kuminta?”
Susan mengangguk. Perempuan itu mengeluarkan kantung kulit pipih dari saku rok, lalu memberikannya pada Maria. “Saya menggunakan burung merpati … apa itu tidak masalah? Nona tidak menyebut spesifik binatangnya ...”
“Tidak masalah. Merpati yang malang,” gumam Maria sambil mengelus kantung kulitnya yang disamak rapi. Besarnya dua kali empat senti, cukup tipis sehingga relatif mudah dikoyak. Ia menyimpan benda itu di balik korset dengan hati-hati.
Susan membantu membetulkan letak gaun yang bergeser. “Saya harap Nona tidak perlu melakukan itu,” bisiknya lemah. “Rasanya terlalu bahaya … bagaimana kalau ada kesalahan?”
“Aku sendiri tidak berharap rencana Paman Marco akan diperlukan. Yang kucemaskan adalah kalau justru Jose yang syok, bukan Sir William.” Ia menggigit bibir bawahnya perlahan. “Tapi bagaimanapun juga, aku harus melakukan sesuatu alih-alih menonton dari pinggir. Aku harus siap untuk segala hal yang mungkin terjadi.”
Susan masih terlihat cemas. Dayangnya itu berjalan mendekat hingga bahu mereka saling bersentuhan, lalu berbisik pada Maria. “Tapi saya dengar pembicaraan, Nona … katanya … katanya Marquis Argent sudah meninggal.”
Maria menoleh kaget. “Hush! Bilang apa kau? Jangan bergosip!”
Susan cepat-cepat meminta maaf, tapi dayang itu tetap ngotot, “Saya mendengarnya tidak sengaja. Dokter Rolan bicara dengan Tuan Stuart tadi. Saya … hanya sekilas mendengarnya, tapi tidak mungkin salah.”
Maria mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Kalau itu benar, bagaimana dengan rencana kami?
***
¬limbo: tempat penyucian dosa/tempat penantian. Dalam doktrin gereja Katolik diterangkan bahwa ada tempat transisi bagi orang berdosa yang sudah meninggal.
__ADS_1