
Jose mengepalkan kedua tangannya.
Ia bukan orang yang gampang percaya hal-hal mistis, tetapi melihat sosok itu berkali-kali membuatnya bisa memercayai kesimpulan tersebut dengan gampang. Masalahnya sekarang adalah, makhluk macam apa itu.
Apa tujuannya?
Hanya sekadar mengisap darah?
Apa hanya satu atau ada banyak?
Dari mana mereka datang?
Jose merinding.
Namun hal yang membuatnya jadi lebih ngeri sebenarnya bukan pada fakta bahwa ada makhluk aneh semacam itu, melainkan dirinya sendiri.
Jose sadar bahwa seharusnya pada kesimpulan ini, dia merasa ngeri, tetapi Jose justru menemukan dirinya sendiri menerima segala kesimpulan dengan mudah. Mungkin kedua pamannya benar, mungkin dirinya memang aneh.
Jose menggeleng, menepikan segala pertanyaan dan keraguan pada dirinya sendiri. Ia merasa bodoh. Harusnya ia merasa senang karena memiliki keteguhan hati yang kuat dan pikiran yang terbuka. Ia menarik napas, mengingat kebali untuk apa dia datang ke tempat Krip hari ini. Masalah makhluk yang aneh itu memang sudah masuk dalam dugaan awalnya. Maka ia meneruskan penyelidikan ke satu tahap yang lebih jauh.
“Sudah berapa lama kau di kota ini?”
“Seumur hidupku, Tuan! Seumur hidup!”
“Berarti sudah ... tujuh puluh tahun?” Jose menyeringai jahil.
Tawa Krip menggelegar. Dia menepuk pahanya dengan keras, “Jangan ditambah begitu, dong! Masih lima puluh lima ini!”
“Ah, benar. Omong-omong, kau tentu tahu soal Sir William Bannet, kan.”
“Siapa yang tidak tahu? Dia sedang dalam puncak popularitasnya, kan?” Krip mengambil kaleng kue di bawah meja kasir, kemudian membukanya. Di dalam sana tidak ada biskuit, hanya ada uang kertas. Sebagian dalam bentuk gulungan rapi, sementara yang lainnya masih tersebar berantakan dalam kaleng. Dia meraup bagian yang tidak tergulung, menyusunnya sesuai dengan bagian depan-belakang dan atas-bawah, juga sesuai warna. “Sir William yang tampan! Tentu saja! Kenapa memang?”
Jose tidak jadi bicara.
Ia mencium aroma itu. Aroma mawar yang menyengat, bercambur sedikit bau seng dan karat.
__ADS_1
Krip mengangkat wajahnya, menatap Jose dengan heran karena pemuda itu berhenti bicara.
Kenapa dengannya? Pikir Krip heran. Ia baru saja berniat membuka mulut untuk bertanya ketika sebuah suara lain bicara padanya, suara yang selembut beledu.
“Selamat siang, saya ambil kue jahe yang ini.”
Krip menoleh kaget. Ia tidak mendengar suara lonceng penanda tamu yang dipasang pada pintu. Ia lebih kaget lagi ketika melihat siapa tamunya.
Sir William sendiri. Pantas saja Jose mendadak diam.
Namun yang membuat Krip ikut bungkam seribu bahasa adalah bahwa ia tidak bisa merasakan hawa keberadaan pria itu. Sebagai seorang informan, mata dan telinga keluarga Argent, Krip bisa mengenali siapa-siapa saja yang datang mendekat padanya lewat aroma serta intuisinya. Pelanggan yang sering datang ke tokonya, dari orang tua pincang di ujung jalan sampai anak sekolah dasar di depan rumah, ia mampu mengenali mereka bahkan sebelum orang-orang itu mendekatinya.
Kali ini beda.
Bahkan setelah melihat lelaki tinggi dengan senyum lebar itu menaruh sepaket keluarga kue jahe—istri Krip mencetak sepasang suami-istri kue jahe lengkap dengan kue jahe mini sebagai anak dan diletakkan dalam keranjang untuk dijual—di atas meja kasir, Krip masih merasa bahwa tidak ada orang selain dirinya dan Tuan Kecil di tempat itu.
Si Tuan Kecil sendiri memundurkan sedikit kepalanya untuk membuat dirinya tersembunyi di balik kotak-kotak plastik yang menumpuk, namun wajah bengong Krip justru memberitahu Sir William bahwa ada orang lain lagi di tempat itu. Lelaki itu menengok ke arah pandang Krip barusan, bertatapan langsung dengan mata hitam Jose.
“Oh, Tuan Jose Argent,” Sir William melepaskan senyum lebarnya sekali lagi. “Aku baru melihatmu di situ.”
“Tidak, aku tidak ada apa-apanya dibanding Keluarga Argent,” William tertawa kecil. “Sungguh, kehormatan rasanya kau datang ke pesta kecil itu kemarin. Nona Garnet juga sangat baik dan manis, kalian sangat serasi.”
Keluarga Argent derajatnya lebih tinggi daripada Bannet, tetapi Sir William tidak menggunakan bahasa paling sopan dan menyebut Jose dengan kau alih-alih Anda karena kalau dibandingkan secara individu, kedudukan Sir William lebih tinggi dibandingkan Jose yang hanya anak keempat.
Kalimat terakhir pria itu yang menanyakan Maria adalah kalimat basa-basi khas yang sebenarnya mempertanyakan hubungan antar dua orang. Jose tidak mau menanggapi hal itu dengan penolakan maupun persetujuan. Ia merasa hubungannya dengan Maria lebih baik tidak perlu dicampuri orang asing. Apalagi orang yang sedang dia selidiki.
“Pesta yang meriah, aku akan selalu datang ke tempat yang menyenangkan.” Jose tersenyum, tidak mau menanggapi bagian soal Maria. “Orang Downfall memang pandai menjamu orang.”
“Downfall?” William mengerutkan kening pada Jose, tetapi mengangguk dan tersenyum pada Krip yang menanyakan apakah William hanya mengambil kue jahe dan apakah ada barang lain yang diperlukannya.
“Aku dengar para gadis bilang kau berasal dari sana.” Jose mengerjap-ngerjapkan matanya dengan lugu. “Atau mereka salah?”
Downfall ada persis di sebelah Bjork. Tidak ada seorang pun yang berkata bahwa Sir William berasal dari sana, tetapi Jose memang sedang mengarang barusan. Dia perlu memastikan paling tidak satu hal.
“Mereka salah.” William membayar dengan selembar uang kertas. “Aku tidak berasal dari sana.”
__ADS_1
“Oh, maafkan. Tapi kau datang ke kota ramai seperti Bjork, tolong maklumi desas-desus yang kacau balau di sini.”
“Aku menikmati itu. Bjork adalah kota yang menarik.”
Jose mengangguk kecil. “Apa kau tidak merasa sayang, datang ke kota yang tidak ada apa-apanya begini? Atau ... ” Ia mengusap rahang, melayangkan pandangan dengan hati-hati. “Dulu pernah tinggal di sini?”
“Entahlah, aku tidak terlalu ingat masa kecilku.” William mengedikkan bahu. “Tapi ini memang kunjungan pertamaku sejauh yang kuingat. Ketenangan di kota ini menyenangkan.”
“Polisi patroli memang selalu bisa diandalkan dalam menjaga ketenangan,” Jose menukas kalem. “Atau mungkin kita perlu berterima kasih pada orang-orang yang hilang itu.”
William melirikkan pandangan lembut pada Jose. “Kupikir itu topik yang sensitif.”
“Justru karena itu jadi menarik dibicarakan, bukan?” Jose menantang, ingin sekali tahu bagaimana pandangan lelaki itu soal orang-orang yang hilang di Bjork.
“Biasanya sesuatu disebut sensitif kalau tidak boleh dibicarakan secara bebas, kan?”
“Kita bukan orang-orang biasa,” sahut Jose tenang.
“Oho.” William memberi tatapan menyelidik. “Kita?”
“Tentu, aku seorang Argent dan kau Don Juan baru,” Jose membuat suaranya terdengar lunak dan bercanda, tetapi matanya menyorot serius. “Kenapa harus jadi orang biasa kalau bisa tidak biasa?”
“Pandangan yang menarik, tetapi aku lebih suka jadi orang biasa.”
“Biasa itu membosankan.”
“Biasa berarti tidak mencolok. Biasanya berarti juga aman.”
“Orang yang cuma cari aman tidak bisa dikatakan hidup.”
Dua lelaki itu saling bertatapan agak lama, kemudian William tertawa renyah dan mengangkat kedua tangannya seperti menyerah. “Baiklah,” ujarnya. “Kau punya pandangan yang menarik tentang kehidupan, Tuan Jose Argent. Tapi aku juga punya pandanganku sendiri. Kita bisa tetap hidup sampai sekarang berkat pandangan masing-masing, jadi tidak ada yang pantas diperdebatkan.”
***
Penting dibaca:
__ADS_1
Banyak yang bilang novel ini alurnya lambat lalu protes ke aku. Total novel ini ada 250 bab dengan 1 alur tanpa season2an, jadi kalau kalian pengennya baca cerita yg langsung konflik dan selesai, mudah bosan, atau ga doyan misteri, cerita ini mungkin bukan selera kalian. Putar balik tinggalkan aja ya. Ga perlu protes atau marah-marah atau pake pamit di kolom komentar😌 itu ga ngaruh soalnya. 😘