BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 190


__ADS_3

"Masuklah," Marco mengibaskan tangan, meminta kedua orang di ambang pintu mendekat. "Garnet baru saja akan turun untuk sarapan."


"Garnet," Lady Chantall menyapa dengan senyum ramah, seolah matanya barusan tidak berkilat menusuk.


"Milady," Maria membalas senyuman itu sama ramahnya, mulai mengerti kenapa Nolan menghindari wanita ini sampai perlu sembunyi di kamar Jose. Tinggi mereka hampir sama, tapi Lady Chantall punya tubuh ramping yang lebih berlekuk yang mengingatkan Maria pada jam pasir. Bahkan rompi cape polos yang dikenakan wanita itu pun tidak bisa menyembunyikan bentuk tubuhnya. Wanita itu cantik, tapi keberadaannya mengintimidasi, seolah ada dinding api berkobar mengelilinginya.


"Jangan pergi dulu," Lady Chantall menangkap lengan Maria dengan sigap, menariknya lembut kembali ke sofa di ruang duduk. "Maaf kalau agak memaksa, tapi aku ingin memastikan satu hal denganmu."


"Aku tidak melakukan apa-apa barusan," ucap Maria cepat dengan defensif. Rolan menyemburkan tawa geli sementara Lady Chantall memberinya tatapan kosong.


"Aku belum bertanya apa-apa, tuan putri. Tahan dulu lidahmu." Mata hijau wanita itu kembali berkilat dingin. Ia duduk di sisi Maria. "Flora Spencer akan melakukan perayaan untuk pembukaan dapur umumnya. Kudengar kau juga diundang?"


Maria mengangguk kaku. "Katanya, kami akan menonton gerhana bersama." Ia diam sejenak. Ditatapnya mata hijau wanita itu dengan kaget. "Apakah ..."


Lady Chantall mengangguk. "Spencer ada hubungannya dengan semua ini, Garnet. Kau belum tahu? Kusarankan kau jangan pergi." Ia tersenyum lega. "Baguslah, kita sekarang tahu di mana mereka bermaksud melakukan ritual terkutuk itu."


"Garnet akan tetap datang," Rolan berkata.


"Kau tahu apa yang akan akan terjadi di sana, kan?" Lady Chantall menyemburkan protes. "Garnet adalah kunci utamanya, selama mereka tidak bisa mendapatkannya, ritual apa pun yang mereka ingin lakukan tidak akan bisa terjadi!"


"Aku cuma mengatakan padamu apa yang dia pikirkan," Rolan mengangkat sebelah tangannya ke arah Maria. "Kau lihat matanya? Dia akan tetap datang. Lalu lihat orang ini." Ibu jarinya dilempar ke arah Marco yang berdiri bersidekap di belakangnya. "Dia juga akan datang ke sana."


"Aku memang dapat undangannya," Marco membenarkan.


Lady Chantall melebarkan kedua matanya tak percaya. "Kalian pasti punya rencana, bukan ingin mengantar nyawa, kan?"


Marco mengangguk. "Itu yang akan kudiskusikan dengan Stuart saat dia datang nanti." Senyumnya terkembang manis. "Kalian tahu kapan saat yang paling tepat untuk melancarkan serangan balik?"


"Saat lawan lengah," sahut Lady Chantall.


"Saat lawan terkepung?" balas Rolan.


Maria menatap Marco dalam-dalam, merasa mengerti maksud pria itu. "Saat mereka ingin membunuh kita?"

__ADS_1


Marco tertawa. "Saat musuh berpikir dia sudah mendapatkan kita."


***


Jose masih tiduran di sofa ketika Maria kembali. Kedua matanya terkatup rapat, napasnya berembus teratur tanpa suara.


Rolan mendekat, memeriksa nadinya. "Dia cuma tidur. Aku menaburkan obat di makanannya untuk membuat dia istirahat. Cuma itu yang dibutuhkannya sekarang setelah loncat ke sana dan ke sini seperti bajing."


"Dia ada janji dengan Clearwater dan Marsh," cetus Maria. Ia duduk di sofa tunggal di sisi kepala Jose, dari situ ia bisa lebih leluasa memandangi wajah kawan sejak kecilnya. Alisnya lebih bagus daripada punyaku, pikirnya sebal, kenapa para lelaki justru diberi alis bagus dan perempuan harus selalu membetulkan garis alis tiap pagi? Tuhan memang maha iseng.


"Aku tahu soal itu. Justru karena itu aku ingin dia istirahat." Rolan mengelus rambut hitam Jose seperti yang biasa dilakukannya waktu keponakannya itu masih kecil. "Dia sangat penting bagi kota ini nantinya."


Maria mengerti maksud pria itu. Ia mengulurkan tangan ke depan, menjentik sehelai rambut hitam berombak yang terdekat. "Dulu aku tidak bisa membayangkan dia menggantikan Paman Marco," katanya, meletakkan dagunya pada lengan sofa.


"Dulu?"


"Dulu." Maria menghela napas. "Ada banyak yang berubah, Dokter. Semua hal berubah. Aku seperti diberi kaca mata baru untuk melihat banyak hal ... banyak hal yang sudah kusia-siakan."


"Kau akan selamat, Maria. Kau akan baik-baik saja," Rolan berusaha menenangkan. "Kau tahu bagaimana Marco kan? Dia selalu punya rencana. Dan dia akan mengeksekusi rencananya dengan tepat seperti biasa. Jangan lupa bahwa Jose juga pasti memastikan seribu kali bahwa kau akan selamat."


"Maksudmu? Kau tidak percaya Jose?"


"Sebaliknya, aku sangat percaya." Maria memejamkan mata. Aku percaya dia akan melakukan hal nekat hanya untuk menyelamatkanku, dan itu masalahnya. Ia bangkit dari kursinya. "Aku mau turun untuk menemui Nyonya Renata. Dia pasti sudah ada di taman."


Rolan mengangguk. Begitu Maria pergi, ia menyentil kening Jose. "Bangun. Aku tahu kau tidak tidur."


Jose membuka kelopak matanya. "Kalau Paman menaburkan racun di sarapanku lagi, aku akan membakar gudang riset Paman. Sungguh."


"Itu bukan racun tapi obat." Rolan tertawa, dalam hati mencatat untuk memindahkan berkas risetnya ke tempat lain. "Aku memang memberimu obat karena ingin kau istirahat. Tapi kenapa kau bisa bangun? Seharusnya saat ini kau sedang jalan-jalan di alam mimpi."


Jose bangkit dan bergeser, bersandar di lengan sofa panjangnya. "Paman melatihku agar kebal obat bius."


"Marco?"

__ADS_1


"Memangnya aku punya paman lain yang lebih gila?" balas Jose ketus. "Aku bisa pulih sebelum satu jam berlalu. Ini rekorku. Biasanya aku perlu waktu satu sampai dua jam."


Rolan mengangguk maklum. Ia bahkan tidak akan heran kalau Jose mengaku Marco memberinya racun tiap hari agar kebal. Marco benar-benar menyiapkan Jose sebagai penggantinya. "Lalu kenapa pura-pura tidur waktu Maria datang?"


Jose menekuk sebelah lutut dan meletakkan keningnya di sana. Ia menghela napas. "Aku cuma akan kesal dan mengajaknya bertengkar kalau kami bicara."


"Kenapa?"


"Paman Marco membuat rencana gila, aku tahu itu. Aku bisa menebaknya. Dan Maria malah mengikutinya."


Rolan tergelak. "Yah, mereka memang sedang merencanakan sesuatu saat aku ke sana tadi. Tapi kau tidak perlu cemas, Marco selalu melindungi keluarganya."


"Itu masalahnya," Jose mengeluh. Ia mengangkat wajah, menatap pamannya lekat. "Paman hanya akan melindungi keluarganya. Bahkan meski harus mengorbankan orang lain, bahkan meski ribuan orang mati di kakinya, dia tidak akan peduli."


"Kalau begitu lamar saja Maria. Jadikan dia seorang Argent," sahut Rolan santai. "Kalian seumuran. Kau lajang, dia lajang. Renata dan Edgar suka padanya. Status keluarga kalian selevel. Kalian saling kenal sejak kecil. Gampang, kan? Aku bisa mengurus pernikahannya. Kau mau pakai jas putih atau hitam?"


Jose menggeram rendah mendengar kelakar itu. "Ini bukan waktu yang tepat untuk bercanda, Paman."


"Aku tidak bercanda, aku memang selalu berpikir kalian cocok." Rolan tersenyum. "Dan kau menyukainya."


Jose mengalihkan pandangan pada meja kopi di sampingnya. Pelayan sudah membereskan perkakas bekas sarapannya dan mengganti dengan satu set cangkir keramik dan seteko teh panas. "Apa gunanya terlihat cocok kalau dia tidak merasa begitu."


Rolan tidak setuju. Barusan ia melihat cara Maria memandangi Jose, dan itu bukan tatapan seorang teman. "Kau coba saja pastikan," katanya.


"Dia sudah menolakku jauh sebelum aku mengatakan apa-apa."


"Itu kan dulu. Kau dengar sendiri dia bilang banyak hal sudah berubah," kata Rolan. "Kalian tumbuh bersama seperti saudara, wajar dia menolak. Dulu dia tidak melihatmu sebagai lelaki. Tapi sekarang kan berbeda. Lagi pula dulu mungkin Marco mengacaukan segalanya dengan salah bicara atau semacam itu. Kau harus mencobanya lagi sekarang, mengatakannya sendiri secara langsung."


"Aku hampir mencobanya, hampir mengatakan padanya kemarin." Jose memejamkan mata, merasa malu mengingat Adrian Marsh dan Lucas Clearwater juga melihatnya saat itu. "Syukurlah ada mayat hidup menghentikanku. Kalau dia menolakku, aku pasti bakal kacau sekarang. Aku tidak akan bisa memikirkan rencana apa pun."


"Siapa bilang dia akan menolakmu?" tanya Rolan gemas. Ia ingin langsung mendorong keponakannya ini pada Maria, tapi itu pasti malah akan memperburuk banyak hal, apalagi dalam situasi segenting ini. "Siapa tahu dia akan memikirkannya."


"Mustahil. Dia bahkan tidak percaya padaku," gumam Jose pahit. "Dia lebih percaya Paman Marco."

__ADS_1


***


__ADS_2