
Renata tidak ikut bersenang-senang di festival Bjork karena ia sedang bersiap untuk menjemput Jacob. Edgar sendiri sudah siap sejak lama. Ia baru saja keluar dari kamar kerjanya ketika bertemu dengan George di koridor.
"Ke mana Dokter Rolan?" tanyanya. "Aku tidak melihat dia sejak sore tadi.
George berhenti dan menjawab dengan sopan, "Di pondok Higgins, Tuan. Bersama dengan Gerald dan Hans. Apakah ada masalah?"
Edgar menggeleng. Ia masih bergidik mendengar pondok Higgins disebut. Namun jika Rolan bersama dengan Gerald dan Hans, itu berarti ketiganya sedang mengurus hal penting suruhan Marco. Kemungkinan terkait misteri mayat kering di Bjork.
Edgar mengangkat tangan, menatap arloji yang melingkar di sana. "Aku mengerti bahwa mereka pasti sedang melakukan hal penting, tapi sebentar lagi makan malam. Renata tidak akan suka kalau meja makan sepi. Kalau menjelang makan malam nanti Dokter Rolan tidak juga muncul, kau bisa dobrak pintu pondok dan seret dia ke meja."
"Saya akan mengingatnya, Tuan," sahut George khidmat.
Tepat satu jam sebelum makan malam, Rolan belum juga muncul, jadi George memutuskan untuk melihat keadaan. Untuk berjaga-jaga, ia juga membawa dua orang pelayan bersamanya.
Jarak antara pondok Higgins dengan rumah utama cukup dekat, hanya lima menit jalan kaki. George melihat pintu dan jendela pondok tersebut tertutup rapat. Tidak ada cahaya keluar dari celah-celah pondok.
Kondisi ini mengingatkan George pada pintu kamar kerja Marco yang tertutup rapat, di mana Gerald dan Hans tergeletak pingsan bersama mayat Tuan Wallace. Rasa tidak nyaman merasukinya. Ia mendekat, mengetuk pintu dengan sopan.
George menunggu beberapa saat, tetapi tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi, kali ini lebih keras. "Dokter?" serunya, "Apa ada masalah?"
George menunggu lagi. Ia menempelkan telinga ke pintu, berusaha mendengarkan, tetapi tidak ada suara apa pun.
"Mungkin ada masalah," gumam Harold, salah satu pesuruh yang dibawa George. Di sampingnya, Finnian sudah mengambil sebuah kapak.
"Sebaiknya kita dobrak saja pintunya," George membuat keputusan, setelah tidak mendapat balasan untuk ketiga kalinya. Ia mengerutkan kening melihat kapak di tangan Finnian. "Kalau bisa, simpan kapakmu untuk nanti, Finnian."
Finnian meringis konyol, menjatuhkan kapaknya ke tempat aman, kemudian membuat ancang-ancang untuk mendobrak pintu bersama Harold.
__ADS_1
Harold memberi aba-aba, dan keduanya maju bersamaan, menabrak pintu dengan bahu mereka. Pintu hanya berderak pelan, namun belum membuka. Kedua pesuruh itu mundur lagi lima langkah untuk mengambil ancang-ancang. Harold kembali memberi aba, dan mereka menerjang. Engsel pintu berbunyi, daun pintu berderak, namun pondok Higgins masih kokoh.
Finnian tergelak canggung, tetapi Harold mengumpat. Tidak ada yang menyangka pintunya sekuat itu.
Di percobaan ketiga, barulah hasilnya terlihat. Pintu itu menjeplak roboh. Sebelum daun pintunya jatuh menghantam tanah, Harold dan Finnian dengan sigap menangkap kayu tersebut. Dengan hati-hati, keduanya memiringkan daun pintu dan mengeluarkannya dari pondok. Benda itu mereka sandarkan hati-hati pada dinding pondok di luar.
George mengangguk penuh persetujuan melihatnya. Akan bahaya kalau ternyata di belakang pintu tersebut ada benda yang ringkih atau ada manusia. Baik Finnian maupun Harold sudah membuktikan bahwa mereka terlatih menjadi pelayan Argent.
Di dalam pondok gelap. George melangkah masuk lebih dulu. Lampu minyak yang dibawanya menerangi isi pondok, menimbulkan bayang-bayang panjang yang jatuh pada tiga tubuh di lantai.
Gerald, Hans, serta Rolan terbaring di lantai, di sisi meja. Mereka terbaring dengan mata membuka, tapi tidak kelihatan sadar. Gerald dan Hans saling memegang tangan satu sama lain, sementara Rolan ada di tengah mereka, memeluk tas. Ada alat perekam suara yang jatuh berantakan di lantai. Corong penangkap suaranya hancur. Kaca mata Rolan juga pecah.
"Demi Tuhan yang hidup!" bisik George kaget. Ia melangkah mendekat dengan cepat, meski tetap hati-hati. Lampu minyak diletakkannya pada meja di tengah ruangan. Finnian dan Harold bergegas masuk, keduanya terkesiap melihat kondisi tiga orang di dalam ruangan.
Hal pertama yang dilakukan George adalah memeriksa apakah ketiganya masih hidup. Ia memeriksa napas dan nadi mereka, kemudian menghela napas lega ketika menemukan semuanya masih hidup. Kemungkinan hanya kaget.
Finnian dan Harold segera mematuhi tanpa banyak tanya, bahkan meski keduanya sangat penasaran apa yang sebenarnya terjadi di pondok tersebut.
George mengawasi semua hal dengan sangat teliti, tidak ingin kecolongan sedikit pun. Ia bahkan meneliti kondisi pondok Higgins dengan cermat, serta mengamati posisi baring Hans dan Gerald dengan saksama.
***
Baik Rolan, Hans, serta Gerald ditempatkan di kamar yang berbeda. Rolan di kamarnya sendiri sementara Hans dan Gerald di kamar tamu. George sengaja tidak memerintahkan Hans dan Gerald dibaringkan di kamar pembantu supaya tidak timbul gosip. Ia meminta pelayan membalurkan minyak ke telapak tangan dan kaki ketiga orang tersebut.
Gerald yang pertama sadar, diikuti Rolan dan Hans.
"Di mana aku?" Rolan melotot. Ia melihat ke sekeliling kamar, kemudian menyadari ia sedang memeluk tas kerjanya. "Kaca mataku?"
__ADS_1
"Pecah, Dokter. Maafkan saya."
"Hans dan Gerald?"
George menawarkan segelas brendi untuk menghangatkan tubuh, dan Rolan menerimanya.
"Dokter ada di rumah utama sekarang, di kamar Dokter. Hans dan Gerald di kamar tamu. Kami menemukan Dokter bersama mereka di pondok Higgins."
Rolan mengangguk pelan. Ia bergidik. "Aku ingat. Jam berapa sekarang?"
"Belum ada jam tujuh, Dokter."
"Bawa aku ke kamar tamu. Hans dan Gerald sudah sadar?"
George mengangguk sopan. "Sudah, Dokter. Keduanya masih sedikit bingung ketika saya meninggalkan mereka. Namun keduanya sudah sadar."
Rolan segera merosot turun dari ranjang. Seluruh tubuhnya masih dibanjiri rasa ngeri, tetapi brendi yang diminumnya barusan berhasil menghangatkan dan memberinya keberanian, membuatnya jadi bisa berpikir lebih jernih. "Kau yang membawa kami?"
George berjalan agak di belakang Rolan, mengikutinya ke kamar tamu. "Tuan Edgar berpesan, kalau Dokter Rolan tidak segera muncul pada saat jam makan malam, saya harus mendobrak pondok dan mengeluarkan Dokter dari sana. Apa pun yang terjadi."
"Wow," gumam Rolan. "Bagaimana dia bisa tahu apa yang akan terjadi? Maksudku, kalau pesan itu datang dari Marco, rasanya lebih masuk akal."
"Sebenarnya, Tuan Edgar tidak serius soal mendobrak," George tertawa kecil. "Itu hanya kelakar Tuan saja. Tetapi Tuan memang serius soal mencari Dokter kalau Dokter tidak muncul pada saat makan malam. Sekarang, Tuan dan Nyonya sedang keluar untuk menjemput Tuan Muda Jacob. Mereka pasti ingin Dokter ada di rumah saat Tuan Muda pulang."
Rolan mengusap rambut cokelatnya yang kusut masai. Ia tertawa pelan. "Aku diselamatkan kebetulan?"
"Nasib, Dokter, katanya sudah ada yang menggariskan," George berkata. Kini mereka sudah ada di depan pintu kamar tamu, tempat Hans dan Gerald berada.
__ADS_1
"Kalau kami selamat, itu bukan berkat takdir atau nasib," Rolan menukas. Ia memutar handle pintu. "Tapi karena talisman yang tergambar di tubuh dua orang ini!"