
Doppelgänger adalah fenomena supranatural, sesosok makhluk yang wujudnya menyerupai kembaran seseorang dari ujung rambut sampai ujung kaki. Awalnya Jose pikir ia bertemu dengan Doppelgänger, tetapi instingnya mengatakan entitas yang menyerupainya ini bukan makhluk semacam itu. Ini sesuatu yang lebih kuno, lebih luhur.
Jose bahkan tidak perlu bertanya untuk memastikan identitas sosok di hadapannya. Seluruh sel dalam tubuhnya dan seluruh kesadarannya mengenali entitas itu. Yang sedang berdiri di depannya saat ini adalah perwujudan dari segala yang disebut energi. Daya. Sistem. Bjork. Sesuatu yang ada dalam dirinya dan dalam diri semua orang. Yang Esa.
Entitas itu adalah keseluruhan hal yang tua dan sakral di Bjork.
Jose menjatuhkan dirinya dalam posisi berlutut. Kepalanya ditundukkan dalam-dalam. Pantas saja ia merasa suara-suara itu memberi kesan akrab. Dari sanalah ia dulu berasal. Dari sanalah sumber semua kesadaran, dan ke sanalah semua kesadaran tadi akan bermuara.
"Bangunlah, Nak," ucap sosok itu. "Bukankah kau bilang, jika kami ingin minta tolong padamu, kamilah yang harus memohon?"
Jose menundukkan kepalanya makin dalam, tidak sanggup berkata-kata.
Sosok itu tertawa lembut, mengusap rambut Jose dengan kasih sayang seorang ayah, kemudian menuntunnya berdiri. "Kami memperhatikan kalian," katanya. "Kami selalu mencoba bicara dengan kalian semua, tapi tidak ada yang mendengar. Kami senang kau menyeberang, tapi ini belum waktumu."
Jose mengangkat wajah pelan-pelan tepat ketika sosok itu terdistorsi. Citranya buram seperti bayangan pada air yang beriak. Entitas itu mendekatkan wajahnya, kemudian membisikkan rahasia ke telinga Jose.
***
Ketika Clearwater menceburkan diri dan menyelam untuk mencari Jose, Marsh melepas satu demi satu setelan yang ia kenakan mulai dari mantel, kemeja panjang, celana, lalu menalikan ujung demi ujung dan mengubah semuanya jadi tali darurat. Ia juga menggunakan mantel dan kemeja Clearwater yang ditinggalkan di tepi sungai. Maria bisa menangkap dengan cepat apa yang ingin dilakukan lelaki itu, dan membantu membuat simpul secepat dan seketat mungkin.
Arus sungai lebih kuat dari dugaan Clearwater, tetapi ia bisa mengatasinya. Ia sudah menemukan Jose. Kawannya itu di dasar sungai, sebelah kaki tersangkut tumbuhan air. Tidak ada tanda keberadaan makhluk lain di sekitar mereka. Tidak ada jejak mayat hidup di dekat Jose. Clearwater menggunakan belati untuk membebaskan kaki Jose, kemudian membawa lelaki itu ke permukaan sungai.
Udara tak pernah terasa semanis ini.
Keduanya menghirup oksigen dengan rakus begitu kepala mereka muncul di permukaan. Jose di samping Clearwater, tersedak dan batuk-batuk, berjuang menjaga agar kepalanya tetap di atas permukaan air. Telinga mereka kemasukan air, dan bunyi arus sungai begitu ribut menenggelamkan suara lain, tetapi keduanya bisa mendengar seru-seruan yang memanggil nama mereka.
Adrian Marsh, kini hanya mengenakan pakaian dalam dan celana pendek, berteriak sekuat tenaga memanggil-manggil sambil berlari menyusuri sungai. Ia membawa tali daruratnya yang terdiri dari pakaian-pakaian yang disambung jadi satu. Begitu mendapatkan perhatian Clearwater dan saling bertukar isyarat lewat pandangan mata, ia melempar talinya dengan ketepatan akurat.
Clearwater manyambar ujung celana yang dilemparkan padanya, lalu melilitkannya di lengan. Sebelah tangannya merangkul Jose, menariknya berenang ke tepian sungai.
Berada di daratan terasa lebih berat daripada dalam sungai. Keduanya menyeret tubuh sekuat tenaga, dibantu oleh Marsh.
__ADS_1
Jose berguling menjauhi sungai, masih batuk-batuk dan tersedak memuntahkan air sungai. Air menetes dari sekujur tubuhnya, membuatnya kelihatan seperti kain pel yang baru diperas.
"Sebaiknya kau segera pakai lagi pakaianmu, Marsh," Maria menganjurkan. "Orang-orang penasaran sudah datang."
Beberapa orang dari Selatan muncul dari kejauhan, sepertinya penasaran apa yang dilakukan orang-orang Utara di sungai.
Adrian Marsh mengurai tali darurat buatannya, memilih hanya mengenakan mantelnya yang masih kering dan meninggalkan setelan lain yang basah. Tanpa banyak bicara, mereka berempat bergegas pergi menyeberangi jembatan, langsung merubung Tin Lizzie yang masih diparkir di samping dinding tinggi kantor pajak.
"Kau bisa menyetir?" tanya Maria curiga ketika Marsh mengambil tempat di belakang kemudi.
Lelaki itu terbahak. "Pria mana yang tidak bisa menyetir?" Ia menepuk keras kursi di sisinya. "Silakan duduk, Tuan Putri!"
Sebelum Maria sempat menanggapi, Clearwater sudah membuka pintu depan dan menempati kursi di samping Marsh, mengabaikan seruan protes kawannya itu. Maria duduk di tempat yang tersisa di sisi Jose, di kompartemen belakang.
"Mantelmu?" tanya Maria sambil memberikan sapu tangannya untuk menyeka wajah.
"Hanyut," Jose menjawab dengan suara tak jelas. Ia bersin beberapa kali. "Sialan, airnya dingin sekali."
"Kenapa kalian di sini?" Jose memandang kedua kawannya di kompartemen depan.
Marsh sudah menyalakan mesin dan mulai menjalankan automobil itu. "Aku dengar kau pinjam tiga puluh pengawal Luke semalam!" serunya, sengaja melantangkan suara untuk meningkahi bunyi mobil. "Kalau saja kau bilang padaku, aku bisa meminjamkan lebih banyak!"
Jose hanya tertawa.
"Luke juga bilang, Marquis Argent sudah kembali, jadi aku makin penasaran dan mau berkunjung untuk memberi salam."
"Lalu kami melihat kalian," sambung Clearwater sambil mengusap sisa air sungai dari wajah dengan tangan. Pakaiannya basah kuyup. Tubuhnya menggigil kedinginan. "Kalian berputar-putar mengelilingi kota dengan wajah bingung."
Marsh tergelak pendek. "Kalian seperti turis tersesat, putar-putar tak jelas begitu. Yah, lalu karena penasaran apa yang mau kalian lakukan di Selatan, kami mengikuti."
"Kami baru memutuskan untuk pulang saat melihatmu berlutut di depan Garnet." Clearwater berdehem pelan, kali ini bukan karena tersedak air sungai. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu bahwa kedua orang di kompartemen belakang pasti sama-sama tersipu. "Lalu Adie melihatmu mengeluarkan belati."
__ADS_1
"Kupikir kau diserang bandit, jadi aku berniat menonton," timpal Marsh, membelokkan mobil ke jalan utama Bjork. "Dan berniat ikut terjun kalau-kalau kau butuh bantuan. Siapa sangka yang menyerangmu bukan bandit tapi ... apa itu? Hey, itu wagonmu, kan?"
Jose melongokkan kepala keluar jendela, bertemu mata dengan Gerald yang berpapasan jalan dengan mereka. Pria itu duduk di kursi sais, mengendalikan empat kuda yang menarik wagon berukuran sedang berlambang dua pedang Argent. Wagon itu biasa digunakan untuk mengangkut barang-barang ketika bepergian, tetapi Jose tahu isinya saat ini pasti sepuluh pekerja. Begitu melihatnya, Gerald segera berputar arah dan mengikuti mereka. Hans meloncat turun dari sana dan berlari di sisi automobil, memastikan keadaan Jose.
"Aku tidak apa-apa," kata Jose, meyakinkan pekerja itu bahwa ia memang akan pulang. "Ini memalukan," keluhnya begitu dua orang pekerja lain meloncat turun dari wagon dan berjalan menjajari mobil mereka dengan sikap mengawal.
Marsh tidak menurunkan kecepatan mobil sedikit pun. Lagi pula kendaraan itu hanya bisa berjalan maksimal dua puluh kilo perjam. "Kalau begini saja memalukan, kau harusnya lihat bagaimana Luke selalu dikawal minimal lima pembunuh bayaran!"
"Dia tuan tanah, aku bukan."
"Kau seorang Argent," sahut Clearwater seolah itu adalah alasan yang cukup bagi Jose untuk mendapat pengawalan ketat.
"Argent yang bisa tenggelam di sungai memang perlu pengawasan tinggi," celetuk Maria, ditanggapi tawa keras Marsh. Lelaki itu selalu tertawa seolah semua hal di dunia ini adalah lelucon baginya.
"Makhluk apa itu tadi, Jose?" Marsh melanjutkan dengan nada lebih serius.
"Adie," Clearwater menegurnya pelan.
"Kenapa? Memangnya yang tadi itu satu dari urusan Argent yang tidak boleh dicampuri?" balas Marsh heran. "Kau menceburkan diri ke sungai untuk menolongnya. Masa tidak penasaran? Sedikit pun tidak?" tambahnya ketika Clearwater diam saja.
Maria melirik Jose. Ia sendiri juga penasaran makhluk apa yang menyerang mereka barusan. "Makhluk itu ada hubungannya dengan ... semua ini?"
Jose mengangguk. Matanya masih mengawasi jalanan. Orang-orang menoleh ke arah mereka sekilas, tetapi kemudian segera kembali ke kegiatan masing-masing. Mobil yang dikawal banyak tukang pukul bukan sesuatu yang mengherankan di mata mereka, apalagi setelah melihat wagon yang mengikuti mobil itu memiliki lambang Argent.
"Apa itu semua ini?" tanya Marsh lagi, masih ngotot ingin tahu apa yang terjadi. "Kau tahu kau bisa mengandalkanku kan, Jose? Aku punya orang lebih banyak dari Luke!"
Clearwater mendengus.
"Aku akan memberi tahu kalian saat kita sampai," kata Jose geli. Ia memejamkan mata. Pelipisnya masih berdenyut menyakitkan, hidungnya perih karena kemasukan air, dan ia benar-benar kedinginan. "Lagi pula, aku butuh bantuan kalian."
***
__ADS_1