
Pantas saja dia trauma, pikir Rolan. Ia tidak meragukan sedikit pun cerita Jose, tapi ia harus memastikan kembali apakah mayat Gladys memang hilang dari kamar mayat. Hal ini harusnya sudah sampai ke telinga Argent dengan cepat—andai Marco masih ada. Lagi-lagi Rolan menyadari betapa pentingnya sosok Marco dalam pusaran informasi di Bjork.
Edgar mengangguk pelan mendengar cerita Jose. Ia tidak menampakkan keterkejutan sedikit pun di wajahnya, meski sebenarnya dalam hati ia cukup cemas. Semua ini benar-benar edan. Hantu hitam, orang-orang hilang, mayat kering, dan sekarang ada mayat berjalan. Ia tidak tahu apa lagi yang bisa mengagetkannya lebih dari cerita Jose. Jika ada satu mayat hidup, apakah mungkin ada mayat hidup lain?
Apakah ia harusnya memberi tahu polisi? Tapi ia tidak punya bukti. Edgar memutuskan untuk mencari tahu apakah mayat itu benar-benar hilang dari kamar mayat.
Baik Rolan maupun Edgar tidak mengkomunikasikan keinginan ini. Mereka tidak terbiasa bekerja sama. Rolan biasanya hanya mendiskusikan keputusannya dengan Marco, begitu pula Edgar.
"Mungkin saja aku salah," kata Jose. "Mungkin aku melihat hal lain yang menakutkan dan otakku memberi gambaran yang lain. Mungkin saja."
"Sekarang kau tidak yakin?" tanya Edgar heran.
Jose menggeleng. "Aku seratus persen yakin pada apa yang kulihat dan kudengar. Tapi aku juga tahu ini hal yang mustahil. Aku harus memastikan dulu apakah aku salah atau tidak. Sekarang harusnya kita memeriksa apakah mayat Gladys memang hilang. Run mendorongnya ke jurang. Dia pasti mati ... uh, maksudku ... dia pasti hancur? Mungkin. Kalaupun dengan suatu keajaiban dia bisa kembali lagi ke Bjork, dia tentu tidak akan kembali ke kamar mayatnya. Kalau kita memeriksanya dan ternyata Gladys masih di kamar mayat, aku salah lihat. Setidaknya satu hal akan jelas. Setidaknya kita akan tahu dengan makhluk apa lagi kita berhadapan."
Rolan mengangguk. "Aku baru berpikiran untuk mengecek mayatnya."
Edgar menaikkan sebelah alis. "Aku juga."
Keduanya saling memandang agak lama, menimbang-nimbang dalam hati apakah mereka bisa mengandalkan satu sama lain.
__ADS_1
Jose mengetuk-ngetuk ujung kakinya ke lantai. "Kalau begitu aku akan menyerahkan urusan ini pada Paman," ucapnya sambil menoleh pada Rolan. "Paman selalu bersama Paman Marco. Soal ini, Paman pasti lebih tahu cara dan aksesnya."
"Kau sebaiknya tidur setelah ini, Jose." Edgar mengerutkan kening, tidak terlalu suka melihat putranya melibatkan diri dalam bahaya seperti ini. "Kudengar kau akan menemani Garnet ke pesta Sir William?"
"Apa?" Rolan mengerutkan kening. "Kau akan ke rumahnya?"
"Maria diundang, dia memintaku menemani." Jose tersenyum teringat gadis itu. "Bukankah aku sudah pernah cerita pada Paman?"
Rolan tidak ingat Jose pernah bercerita apa pun. Ia lupa. "Kau harusnya tidak ke sana!" geramnya. "Kau tahu sendiri bahayanya!"
"Bahaya apa?" tanya Edgar curiga.
Jose tertawa. "Ada polisi patroli di mana-mana. Aku sudah biasa pergi jam segitu. Pestanya tidak terlalu malam, kok. Lagi pula aku hanya pergi ke tempat Sir William. Ayah ingat kan, aku selalu bermain di puri itu waktu masih kecil?"
Edgar mengangguk. "Marquis Garnet sudah menelepon dan aku juga sudah mengiyakan, tidak ada alasan untuk melarangmu." Ia menatap Jose agak lama. "Bagaimana hubunganmu dengan Maria?"
Jose membeliak. "Maksudnya?"
"Kau menemaninya ke mana-mana." Edgar tertawa. "Jujur saja, ada beberapa orang yang minta dikenalkan padamu. Kau selalu menolak pilihan Marco, jadi aku juga berusaha sebisa mungkin mengelak dari mereka. Tapi mereka masih terus mendesak. Kalau kau memang cuma belum memikirkan apa pun soal pernikahan, kurasa tidak ada salahnya bertemu dengan satu atau dua putri kenalan Ayah. Tapi kalau kau menyukai anak Garnet ... " Edgar mengangkat bahu. "Setidaknya aku akan punya alasan menolak mereka."
__ADS_1
"Ini alasan Ayah memanggilku?" Jose bertanya kesal. "Paman Marco menghilang, ada hantu hitam mengendus, aku barusan bertemu mayat hidup, dan Ayah memikirkan perempuan?"
"Memikirkan pernikahanmu," koreksi Edgar. "Kau sudah hampir dua puluh empat. Aku menikah dengan ibumu waktu berumur sembilan belas."
"Aku tidak ingin menikah hanya karena dikejar umur," sahut Jose datar. "Pernikahan bukan sesuatu yang bisa diburu-buru. Aku akan hidup dengan orang itu sampai aku mati, buatku ini hal penting yang sebaiknya tidak diputuskan cuma karena umur atau karena desakan orang luar. Lagi pula, masih banyak yang ingin kulakukan."
"Kau bisa melakukan apa pun yang kau inginkan bahkan setelah kau menikah. Untung bagimu kau terlahir sebagai lelaki, tidak ada batasan-batasan yang melarangmu melakukan ini dan itu seperti halnya kalau kau terlahir perempuan."
Jose tahu ia beruntung. Ia sangat beruntung terlahir sebagai lelaki di keluarga Argent. Ia tidak kekurangan apa pun dan memiliki banyak hak istimewa yang tidak dimiliki orang biasa. Sebagai satu-satunya putra keluarga Argent yang belum menikah, bahkan meski ia anak keempat, ada begitu banyak orang yang minta dikenalkan padanya untuk dinikahi. Banyak yang cantik, banyak yang kaya, tak sedikit yang berpengaruh. Namun ia tahu mereka semua mengincar koneksinya, mengincar nama dan statusnya. Jose tidak naif, ia bisa menerima semua itu sebagai konsekuensi atas segala keberuntungannya. Ia tahu pada akhirnya nanti kemungkinan besar ia akan menikah dengan salah seorang pilihan keluarganya, gadis baik-baik dari keluarga terhormat yang tahu cara mengatur keluarga, gadis yang tahu cara tutup mulut pada segala rahasia keluarga. Gadis yang akan dididik dengan cara Argent.
Ketiga kakaknya bahkan tidak lolos dari kutukan ini. Mereka semua memilih perempuan mana yang paling mereka sukai dari daftar yang sudah dipilihkan Marco. Awalnya bahkan Jacob bersikeras bahwa ia menikahi istrinya berdasar pilihannya sendiri, dan mereka hanya secara tidak sengaja bertemu, kemudian akhirnya terbongkar bahwa wanita itu adalah pilihan Marco, yang sengaja mendekati Jacob dan membuat semua hal kelihatan seolah tak disengaja. Jacob mencintai istrinya, jadi bahkan meski hal itu terungkap, ia tidak terlalu peduli.
Namun Jose peduli pada hal-hal semacam ini. Ia bisa menebak akhir perjalanannya, kisah asmaranya tidak akan bertabur bunga dan gula. Ia mungkin tidak akan punya kisah asmara, hanya pernikahan yang dingin dan resmi. Sarapan dan makan malam yang sopan, kewajiban yang dingin di kamar, pesta-pesta membosankan yang akan ia hadiri bersama gadis itu, Jose bisa membayangkan setiap hari di masa depannya dengan jelas. Semua itu adalah garis yang disediakan untuk dirinya. Namun ia tidak akan membuat segalanya jadi mudah. Ia bertekad untuk berontak selagi masih bisa, sejauh yang bisa ia lakukan.
"Aku akan menemui mereka kalau itu keinginan Ayah," kata Jose dari sela gigi. Pernikahan bukan topik yang ingin dibahasnya saat ini. "Tapi aku akan menolak mereka. Sebaiknya minta pada kenalan Ayah untuk bersiap menghadapi kelakuanku yang tidak sopan."
"Jose," tegur Edgar, heran pada kekeraskepalaan anak itu.
Rolan memperhatikan dari samping, sedikit iba pada Jose. Ia tahu bahwa sejak dulu Jose menyukai Maria, bahkan meski dulu Jose sendiri tidak menyadari perasaannya.
__ADS_1
Mungkin sekarang dia sudah sadar, pikir Rolan.