BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 151


__ADS_3

Robert mengelus lencananya di kamar, kemudian menyimpannya ke dalam laci. Ia tidak yakin akan bisa bertahan terlalu lama untuk mengenakan lencana itu. Robert menarik napas panjang dan dalam, mengaduh ketika bahunya tersengat sakit. Peluru dalam bahunya sudah dikeluarkan, tetapi tetap saja ia merasa nyeri.


Semoga luka ini tidak menghambat, pikir Robert. Dalam benaknya terputar kembali peristiwa tadi pagi.


Ketika Robert dijatuhkan ke lantai elevator, sudah kentara bahwa Marco memang berniat menyingkirkannya. Ia tahu Marco bukan jenis pria yang mau memberi kesempatan kedua pada orang lain. Pria itu selalu sangat berhati-hati. Sedikit saja ia mendapati seseorang akan mengkhianatinya, Marco tak akan segan memutus rantai hubungan. Robert menggeliat tepat waktu ketika Marco menembak ke arah kepala, membuat peluru hanya bersarang di bahunya.


"Kalau kau menembakku sekarang, kau tidak akan bisa lolos dari sini! Kau akan mati!" seru Robert, tersengal.


"Persetan," sahut Marco ketus. "Hidup dan matiku adalah urusanku. Aku akan menyeret sebanyak yang kubisa ke neraka bersamaku."


Robert menggeram, tidak pernah suka pada cara pikir Marco yang ekstrem. Kenapa dia tidak pernah mencari jalan tengah?


"Kau tidak akan mati!" serunya dalam sisa-sisa harapan. "Dengarkan rencanaku! Kau bisa pergi dari sini nanti malam! Aku bersumpah! Sumpah demi anakku!"


Putra Robert meninggal setahun lalu pada umur delapan bulan, terkena campak. Istrinya sangat sedih sampai sakit. Yang membangkitkan hati wanita itu adalah kultus aneh yang bernama Scholomance, yang mengaku bisa menghidupkan kembali orang mati.


Robert bahkan tak tahu istrinya mengikuti kultus macam itu. Ia senang melihat istrinya pulih, karena itu tidak banyak bertanya setiap kali wanita itu pamit untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Ia baru mengetahui yang sebenarnya tiga bulan lalu, ketika istrinya dengan gembira membicarakan soal gerhana dan bahwa sebentar lagi mereka akan bisa bertemu dengan putra mereka.


Tidak ada yang bisa menggambarkan betapa hancurnya hati Robert. Ia merasa malu dan gagal menyadari kesedihan hati istrinya, serta betapa wanita itu sudah tersesat terlalu jauh dalam omong kosong yang kejam.


Marco menurunkan revolver begitu mendengar sumpahnya, membuat Robert bersyukur pria itu tidak sekeji yang ia kira.


Robert memberi tahu apa sarannya dalam kondisi masih dipilin ke lantai karena Marco tetap tak percaya padanya.

__ADS_1


Rencana pertama Robert adalah membawa Marco yang berpura-pura gila ke kastil bagian depan, beralasan bahwa bahaya kalau pria itu ditinggalkan di tempat yang tanpa pengawasan.


Marco akan diikat di kursi, dan beberapa orang akan diatur untuk menjaganya. Jika Marco berhasil meyakinkan orang-orang bahwa ia memang gila, maka Robert bisa menjamin penjagaan pasti lebih lunak. Marco bisa pergi dengan menyamar jadi salah satu penjaga dan Robert tidak akan dicurigai bekerja sama karena berada jauh dari puri kapel saat pelarian itu dilakukan.


Setelah mendengar rencananya secara utuh, Marco bersedia berpura-pura gila ketika dibawa ke bagian depan kastil, ke lantai dua. Pria itu bahkan membiarkan dirinya diolok-olok dan dihina pada saat berpura-pura trauma, tetapi Robert tahu bahwa Marco mengingat satu per satu muka mereka dan akan membalasnya.


***


Marco merampas jubah rahib dari pemuda yang bertubuh lebih tinggi dan memakai tudungnya yang lebar untuk menyembunyikan kepala. Ia meletakkan salah satu mayat di kursi, dan salah satu mayat lagi ia taruh di pojok ruangan yang gelap. Dengan begini ia bisa mengulur lebih banyak waktu.


Selain jubah, Marco juga merampas pisau pendek dari salah satu mayat. Ia memilih yang pisaunya paling bagus, mencari mana yang tidak rompal atau berkarat. Setelah menengok keadaan sekitar, ia merayap keluar kamar, melongokkan kepala keluar dari jendela, lalu membatalkan keinginan untuk loncat dari sana. Kalau ia masih muda, ia akan loncat tanpa ragu. Loncat sekarang dengan kondisi lapar dan umurnya saat ini jelas cari mati.


Ia berjalan melintasi koridor, ke arah anak yang mengompol tadi datang. Marco membawa obor dengan santai. Tidak membawa penerangan hanya akan membuatnya kelihatan mencurigakan. Lagi pula kastil ini gelap.


Ingat bahwa salah satu anak tadi bicara bahwa di bawah ada minum-minum, Marco mencari tangga turun. Ia akan bergabung dengan keramaian, menyambar minuman kalau bisa, lalu pulang sebelum hari gelap.


Marco segera berputar balik. Ia masih hapal jalan yang barusan ia lewati. Kalau ia menyusuri kelokan yang berbeda, lorong pasti akan membawanya ke ruang yang benar.


Ia menemukan persimpangan awal, dan kali ini berjalan ke arah yang belum ia lewati. Di tengah koridor, ia melihat dua pemuda berjubah rahib yang membawa obor berjalan ke arahnya. Kedua pemuda tersebut mengobrol sambil tertawa santai.


Pengganti jaga dari dua yang tadi, pikir Marco. Ia berjalan santai dan tenang, membawa obor di sisi tengah jalan agar wajahnya terhalang cahaya.


Ketika berpapasan dengannya, dua pemuda itu mengangguk sopan padanya sebagai salam. Marco membalas sama sopannya.

__ADS_1


Dua langkah berlalu.


Tiga langkah.


Lima langkah.


Kemudian langkah dua pemuda di belakang Marco terhenti.


"Eh, bukannya tadi itu jubah rahib muda?" salah satu pemuda bertanya heran.


Sebelum mereka benar-benar menyadari apa yang terjadi, Marco sudah menjatuhkan obor, berbalik, lalu menjambak rambut pemuda itu dari belakang dan menggorok lehernya. Hanya butuh lima detik untuk melakukan itu. Pemuda yang satu lagi masih melotot kaget waktu Marco berjalan ke arahnya dan memuntir kepalanya hingga patah. Tidak ada perlawanan berarti.


Marco memandang dua tubuh mati di bawahnya dengan hati dingin. Nuraninya tidak terganggu sedikit pun. Kalau ia kasihan sedikit saja, situasi akan berbalik dan ialah yang akan tergeletak tak bernyawa di lantai.


Marco membungkuk, memungut lagi obor yang dijatuhkannya, kemudian melanjutkan perjalanan.


***


Robert berjalan ke kamar istrinya, memperhatikan wajah cantik yang tidur dengan damai itu, kemudian mengehela napas panjang.


Ia tidak tahu apakah Marco akan berhasil kabur malam ini. Jika berhasil, pria itu akan membalikkan keadaan dan mungkin mampu menekan Scholomance hingga tidak beroperasi lagi. Ia tidak berharap Scholomance akan benar-benar hilang. Melenyapkan sebuah agama tidak semudah itu bisa dilakukan. Terlebih agama yang hobi mengobral mukjizat.


Robert memejamkan mata, masih selalu merasa ngeri tiap membayangkan apa yang sempat ia lakukan di Gunung Bjork yang sakral bersama Xavier dan Charles Hastings. Itu dosa besar. Mereka mempermainkan takdir. Setiap kali memejamkan mata, Robert merasa melihat wajah-wajah mayat yang dibawanya malam itu.

__ADS_1


Charles yang jadi penyedia mayat. Katanya, ia punya kenalan yang bagus dan membayar mahal untuk mayat-mayat itu. Namun Robert makin lama makin sangsi. Sayangnya ia tidak punya bukti apa pun, hanya firasat bahwa Charles Hastings adalah penyebab hilangnya sebagian orang di Bjork. Lelaki itulah penyedia mayatnya.


***


__ADS_2