BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Chapter 65


__ADS_3

Mei menggeleng cepat. “Saya yang pertama mendengarnya. Waktu itu hari pertama setelah Linda dan Anna pingsan.”


Pingsan adalah kata ganti yang digunakan Rolan untuk menjelaskan keadaan dua dayang tersebut pada para pelayan lain. Hanya kepala pelayan dan kepala dayang, Margie, yang mengetahui bagaimana keadaan dua dayang itu secara persis.


“Lalu saya yang mendengarnya,” kata Shina, “Tapi saya tidak mendengarnya waktu bertugas membersihkan bangsal belakang. Saya mendengar suara orang bicara sehari setelah Linda dan Anna pingsan. Bersama Era.”


“Itu benar,” timpal Era. “Saya juga mendengarnya. Suara orang bicara lamat-lamat.”


“Apa yang dia bicarakan?”


“Tidak tahu, Dokter,” jawab Era. “Tidak kedengaran dengan jelas, tapi sepertinya pertanyaan-pertanyaan. Tidak ada jawaban juga karena yah, Linda dan Anna kan sedang pingsan.”


“Jadi, yang kalian dengar cuma suara? Kalian tidak lihat siapa yang bicara?” tanya Rolan lagi.


Ketiganya saling berpandangan, kemudian menggeleng.


“Kalau begitu, kenapa bisa yakin kalau itu suara Jack?”


Shina kelihatan heran. “Kalau bukan Jack, memangnya siapa lagi?”


Marco menatap pelayan itu tajam, membuatnya menunduk dengan cepat. Marco selalu membenci pertanyaan balik. Menurut aturannya, pelayan harusnya cuma menjawab apa yang ditanyakan saja.


“Kami beranggapan, suaranya milik Jack karena sepertinya itu suara dia,” Era menyahut.


Rolan meminta mereka mendeskripsikannya, dan kini ketiga pelayan itu mendeskripsikan suara yang mereka dengar dengan sedikit keraguan. Kalau dipikir-pikir lagi, Jack memang rasanya tidak akan masuk ke dalam ruang perawatan. Anak itu adalah pekerja yang tekun. Dia merasa berutang budi pada Keluarga Argent dan bertekad untuk hidup lurus. Dia tidak banyak bicara, tapi cepat belajar dan ringan tangan, serta taat aturan. Kalau ada perintah tidak boleh memasuki sebuah kamar, Jack bukan orang yang akan melanggarnya.


Mei menyampaikan pendapatnya itu dengan ringkas, disambut anggukan singkat oleh Rolan, yang mempersilakan ketiganya keluar dan kembali pada pekerjaan masing-masing.

__ADS_1


“Apa yang kau dapat?” tanya Marco setelah pintu ditutup. Matanya menelusuri tiap gurat yang membentuk raut wajah Rolan. “Aku merasa kau meragukan kesaksian mereka.”


Rolan memberi senyum gelisah. Dia menatap pada pintu yang tertutup, kemudian kembali pada Marco. “Aku tidak meragukan kesaksian mereka. Tidak ada alasan bagi mereka untuk bohong pada kita soal ini. Tidak ada untungnya, kan?”


“Memang, itu juga yang mau kukatakan. Jadi?”


“Bagaimana kalau bukan Jack yang mereka dengar?”


“Bisa saja, tapi apa hubungannya dengan semua ini? Maksudmu, ada yang menyamar jadi Jack?”


“Tidak, maksudku bukan begitu. Mereka kan ‘mengira’ bahwa yang bicara itu Jack. Tapi bagaimana kalau mereka memang cuma sekadar ‘mengira’? Bagaimana kalau itu benar-benar bukan Jack, lepas dari apakah dia sedang menyamar atau tidak?”


“Memangnya menurutmu siapa?” Marco mengerutkan kening.


Sekarang Rolan menyandarkan punggung kembali pada kursi. Tumit sepatunya mengetuk-ngetuk karpet dengan pelan. “Ikan Kering ketiga hilang, lalu Ikan lain datang tambah banyak. Penyusup datang ke rumah ini sampai dua kali. Salah satunya membuat Higgins mati, yang kedua membuat dua dayang pingsan. Kemudian, ada suara orang bicara dengan dua dayang yang trauma itu. Apa menurutmu semua ini tidak berhubungan?"


“Tidak, tapi—“


“Makanya,” potong Marco kesal. “Yang kau bicarakan barusan juga semuanya tidak ada hubungannya!”


“Kenapa kau menolak untuk mengakui bahwa bisa saja masalah orang-orang hilang ini punya hubungan tertentu?! Para korbannya pasti punya kesamaan!”


“Kalau begitu, tunjukkan di mana kesamaannya!” tukas Marco. “Tunjukkan! Beri aku bukti! Beri aku kaitannya, setelah itu baru aku percaya.”


Rolan menatap Marco dengan kesal. Jantungnya berdegup kencang karena tekanan darahnya naik. “Buktikan aku salah!” balasnya.


Marco menghela napas, mencoba untuk sabar. “Rolan, Rolan, beban pembuktian ada pada orang yang memberi klaim. Sudah pernah dengar itu, kan? Kau tidak bisa minta orang yang menolak percaya untuk membuktikan penolakannya. Astaga, kadang-kadang aku penasaran kau ini tolol atau pintar.”

__ADS_1


Rolan menggertakkan gigi, tetapi sadar bahwa ia barusan kehilangan ketenangannya. Ia yang biasa tidak pernah emosi seperti ini. Ia memang bukan anggota keluarga Argent, tetapi ketenangan juga ada dalam salah satu prinsip utamanya. Dan humor. Harusnya ia ingat itu. Rolan mengembuskan napas yang menggembung di pipi. Ia menggaruk-garuk pipinya yang tidak gatal, kemudian kembali menekuri berkas dokumen di pangkuannya.


“Tetap saja,” ujarnya, masih tidak mau kalah, “Tiga dayang itu tidak membuktikan bahwa yang masuk ke dalam kamar perawatan memang Jack. Jangan coba potong aku, Marc. Bisa saja semua ini memang berhubungan. Kita sebaiknya berpegang pada semua kemungkinan. Bukankah itu kebiasaanmu? Berpikiran terbuka?”


Marco menaikkan sudut bibirnya ke atas. “Baiklah, aku kena. Lanjutkan dugaanmu.”


Rolan menoleh, ikut tersenyum. “Ada sesuatu yang dicari, aku akan menemukan apa pola di baliknya.” Dia menyortir berkas-berkas dan catatan yang dibuatnya.


Marco memperhatikan pekerjaan Rolan dari samping. Pikirannya melayang ke mana-mana. Ia hanya separuh yakin bahwa Charles Hastinga adalah pelaku di balik penyusupan. Meski selalu mencela dengan pedas teori-teori yang dikemukakan Rolan, ia sebenarnya sengaja bersikap kontra untuk membuat status jadi sebanding sehingga mereka berdua tidak mengalami bias dalam menilai sebuah peristiwa. Itu juga sebenarnya inti dari Gedung Diskusi yang ada di Bjork: tidak membiarkan orang-orang terlena pada satu pemikiran. Dengan menghadirkan pro dan kontra sekaligus di sebuah ruang, maka orang-orang akan bisa melihat berbagai macam pandangan dan alasan-alasan yang mendasarinya, kemudian diharapkan akan bisa bertindak dan berpikir dengan lebih terbuka. Supaya orang-orang Bjork tidak terkungkung pada satu kotak pemikiran yang kaku.


Rolan masih memilah berkas. “Ini aneh,” gumamnya. “Aku baru memperhatikannya sekarang. Beberapa orang ada hubungan langsung dengan keluarga Argent.”


Sekarang Marco tertarik. “Masa? Siapa saja?”


“Yang sudah meninggal: Higgins, Jack, Arthur, Fatso, Liondre, Ernest, Caroline.”


“Jack belum ditemukan, Rolan. Jack dan Higgins memang pelayan keluarga ini. Sisanya?”


“Arthur, dia mondar mandir beberapa kali di pertanian keluarga Argent. Dia ditangkap polisi patroli karena berkeliaran saat malam dan ternyata tidak punya rumah. Fatso, dia masuk lewat pintu belakang rumah Argent untuk meminta makanan pada para pelayan. Liondre—“


“Tunggu, dari mana kau tahu hal itu?” potong Marco.


“Robby yang memberi tahu.”


“Robert?” Marco mengerutkan kening mendengar nama Inspektur Bjork. Ia belum menerima berkas apa pun soal kelima orang yang disebutkan Rolan sekarang. Hal ini membuatnya heran. Seharusnya, setiap informasi diberikan padanya lebih dulu sebelum diberikan pada orang lain.


Rolan masih melanjutkan keterangan tentang orang-orang yang disebutkan ‘berhubungan’ dengan keluarga Argent, tetapi pikiran Marco sudah berada di tempat lain.

__ADS_1


__ADS_2