BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 91


__ADS_3

Ketiga pria itu bangkit dengan segera. Kursi-kursi di belakang mereka bergeser dan jatuh. Gerald berusaha membuka pintu sementara Hans menggedor-gedor jendela kayu, tapi tidak ada yang bisa membukanya. Mereka terperangkap.


"Brengsek!" Rolan mengumpat. Lampu bohlam dalam rumah itu bergoyang lembut ke kanan dan ke kiri, membuat kerlap-kerlap mengerikan dalam ruangan.


Ada sesuatu yang tidak beres. Rolan segera merasakannya. Ia tidak bisa lagi mendengar suara letupan kembang api di luar sana, padahal seharusnya masih ada beberapa kali letusan setelah satu yang paling besar.


Kenapa kami terkurung? Apa yang akan terjadi? Rolan mendekap erat tas hitamnya yang berisi dokumen-dokumen serta berkas penelitiannya. Otaknya diperas kuat-kuat.


"Gerald, Hans, berhenti!" Ia berteriak tepat ketika Hans sedang mengangkat kursi untuk dilempar ke jendela kayu. Rolan melambaikan tangannya, memanggil. Mereka bertiga bertemu di tengah ruangan, di samping meja.


"Cepat perlihatkan tatomu," perintah Rolan cepat. Matanya menatap tajam pada Hans dan Gerald. "Cepat!"


Meski berpikir bahwa waktunya tidak tepat, Gerald melanjutkan menggulung lengan baju, memperlihatkan sebuah tato yang dibentuk dalam lingkaran. Bentuknya hanya garis-garis yang saling menyambung dan terlihat acak.


"Kau!" seru Rolan pada Hans, yang sudah membuka kancing baju dan memperlihatkan tato lain di dada sebelah kiri. Tatonya tidak mirip, tetapi digambar dalam sebuah lingkaran berdiameter sama, dengan garis lengkung yang juga tidak putus. Tidak ada huruf apa pun di sana, hanya garis dan lengkung di dalam lingkaran, diterakan dengan tinta permanen dalam bentuk tato.


Pondok Higgins diguncang keras. Perabotan bergemeretak seperti mau pecah. Engsel-engsel berkeriyut mengerikan, seperti menuntut Rolan untuk melakukan sesuatu.


"Kalian, kalian saling memegang tangan, cepat!" Rolan memberi instruksi, selagi penerangan masih ada, meski mati-nyala. "Bukan bergandengan! Bentuk sebuah kurungan! Ya, seperti itu!"


Hans dan Gerald saling menggenggam kedua tangan satu sama lain. Tepat pada saat lampu di atas mereka pecah. Keadaan berubah gelap gulita, tetapi Rolan sudah duluan memelesat masuk ke antara Hans dan Gerald yang berpegangan tangan.

__ADS_1


"Baik, kita duduk pelan-pelan, supaya keseimbangan tidak goyah. Jangan lepaskan tangan satu sama lain," ucap Rolan. Ia melanjutkan dengan suara gemetaran, "Kalau bisa pejamkan mata, maka pejamkanlah. Seribut apa pun yang terjadi di luar, seaneh apa pun sosok yang akan kalian lihat setelah ini, jangan lepaskan pegangan tangan! Jangan pernah! Kalian mengerti?!"


"Ya, Dokter!" seru Hans dan Gerald mantap. Meski takut, yang bisa mereka lakukan hanya percaya.


"Aku tidak bisa memejamkan mata," ucap Hans setelah beberapa saat. Ada kengerian dalam nada bicaranya. Suaranya gemetar. Ia ingin memejamkan mata atau melihat lurus ke depan, tetapi ekor matanya malah bergerak liar menyapu kegelapan di sekitarnya. Lampu benar-benar mati, dan pondok itu diliputi kegelapan total, dengan suara derak kayu yang ganjil. Seolah ada orang yang mengendap di dekat mereka.


"Aku juga tidak bisa memejamkan mata," sahut Gerald lebih kalem. Ia sebenarnya juga merasa takut, tetapi mendengar rekannya panik, ia merasa tidak baik untuk tambah memperkeruh suasana. "Tenanglah, jangan lepaskan tanganku. Dokter, Dokter masih di situ?"


"Tentu saja masih. Aku ada di antara kalian! Kau kan menyentuh kakiku! Cuma aku yang tidak terlindungi," gumam Rolan, masih mendekap erat tasnya. "Ingat, apa pun yang kalian lihat atau dengar, jangan lepaskan tangan kalian."


"Sepertinya sekarang sudah aman," kata Gerald. Memang, tidak ada lagi suara berderak di sekitar mereka, dan penerangan sudah kembali, meski temaram. Ia bisa melihat wajah bingung Hans, dan juga melihat bagaimana Dokter Rolan duduk memeluk kaki, dengan tas hitam tersempil di pelukan. "Kami boleh melepas tangan?"


"Jangan." Rolan belum mau bergerak dari tempatnya. Napasnya tersengal. "Jangan lepaskan sampai kuperintahkan. Jangan bergerak. Jangan bangun."


"Ya, aku juga mendengarnya," sambut Gerald, juga kedengaran lebih tenang.


"Oho, tuan-tuan, ingat apa yang kubilang? Jangan lepaskan tangan, apa pun yang terjadi." Rolan mulai cemas. Pondok mulai berguncang lagi, seperti berada dalam ruang simulasi gempa. "Bahkan meski yang di luar memang benar Marco, dia sudah menyerahkan kendali penuh atas kalian berdua padaku. Jadi, patuhi perintahku untuk malam ini saja."


"Dokter, Tuan Marco dalam bahaya!" tukas Gerald cemas. Tangannya bergerak-gerak gelisah, tetapi tidak melepaskan genggamannya dari Hans. Suara yang ia dengar makin keras, memanggil-manggil dengan panik.


"Sebenarnya ada apa ini?" Hans mulai komat-kamit. Jantungnya berdeburan. "Apa Dokter tidak mendengarnya?"

__ADS_1


"Suara Marco?" Rolan menyahut heran. "Tentu saja dengar. Dia berteriak-teriak memanggil kita dengan marah. Nah, sekarang dia minta tolong."


"Kalau Dokter mendengar, berarti itu bukan tipuan, kan?" Gerald gelisah. Tugas utamanya adalah menjaga Marco, bukan berpegangan tangan dengan Hans dalam pondok sempit. Meski begitu, ruang yang berguncang dan suara-suara angin berkelebat membuatnya takut untuk melepaskan tangan. Kini lampu mulai mengerjap mati lagi. "Kita harus keluar segera! Saya dan Hans bisa mendobrak pintunya!"


"Benar," sahut Hans. "Gempanya kuat! Saya yakin Tuan dalam bahaya!"


"Be-begini," Rolan buru-buru mencekal tautan kedua tangan pria itu, berusaha supaya tidak tergencet di tengah dua badan pekerja kekar. "Coba pikir, Marco ... Tuan kalian itu ... mungkinkah dia berteriak-teriak minta tolong? Bahkan kalau dia dipukuli sampai setengah mati, kalian pikir dia akan menjerit seperti anak perempuan?"


Tentu saja tidak.


Hal itu disadari dengan cepat oleh Gerald dan Hans. Bahkan kalau ada orang yang bisa membunuh Marco, mereka yakin, majikan mereka itu malah akan menyambut sendiri kematiannya sambil tertawa. Segila itulah orang yang mereka layani. Marco tidak pernah mau memperlihatkan rasa takut pada orang lain.


"Aku juga mendengarnya, tapi aku yakin itu bukan Marco," Rolan berkata lagi, berusaha membujuk agar kedua pria itu menuruti perintahnya. "Dan itu bukan Jose!" serunya segera begitu suara di luar berganti. "Siapa pun yang ada di luar, dia gagal memancing dengan suara Marco, jadi sekarang menggunakan suara Jose!"


"Kami mengerti," sahut Gerald sebelum Rolan menjerit-jerit lagi. "Tuan Kecil juga tidak akan menjerit-jerit seperti itu."


Hans mengangguk. Ia masih bingung, tapi ia juga berpendapat bahwa Jose tidak akan menjerit-jerit saat ada dalam bahaya.


Menyadari bahwa dua pekerja itu mulai tenang, Rolan kembali mengingatkan agar mereka tidak melepaskan pegangan tangan masing-masing. Saat itu, pondok terguncang dengan sangat keras, seperti dihantam gada. Kemudian ada suara jerit ngeri yang memekakkan telinga. Kali ini bukan jeritan Marco atau Jose. Bahkan bukan suara manusia.


Bulu kuduk Gerald meremang. Ia merasa seluruh rambut di tubuhnya seperti ditarik bersamaan. Bola matanya bergerak sendiri menatap ke sebelah kiri, menatap langsung pada sesosok wajah peyot yang membuka mulut, memuntahkan asap putih.

__ADS_1


Gerald memekik ngeri. Kemudian Hans. Rolan tidak bisa menemukan suaranya.


__ADS_2