BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 84


__ADS_3

Rolan tersenyum sekilas, sudah bisa menebaknya. "Dia tidak menemukannya?"


"Terakhir kuingat, kalung itu kuserahkan padamu."


"Tepat. Masih ada padaku, aman." Rolan mengeluarkan kalung dari saku dadanya. "Aku membawanya terus karena takut dia akan hilang. Benda ini kelihatannya sangat penting."


Marco mengayunkan tumitnya, melangkah pasti menuju Rolan. Ia mencabut selembar foto dari jari dokter itu, kemudian menunjukkan bentuk laci-laci yang tertutup. "Lucu, bukan? Semuanya berantakan, tapi laci-laci tertutup rapat."


"Bukannya itu berarti bahwa siapa pun yang membunuh Tuan Wallace, dia cuma sedang ingin mengamuk?"


Marco menggeleng pelan. "Dia berusaha menyembunyikan suara geseran laci. Kalau seseorang benar-benar ingin mengamuk, untuk apa dia menutup kembali laci yang sudah dibukanya?"


"Menutup kembali?" ulang Rolan. Ia merebut kembali foto barusan dari tangan Marco.


"Aku selalu meletakkan barang-barang dengan konsisten. Bahkan letak pulpen dalam laci juga tidak sembarangan." Marco tersenyum, meraih selembar foto lagi dari atas meja dan menyerahkannya pada Rolan. "Meski isi dalam laci ini rapi, tetapi itu bukan susunanku. Ada yang mengacak-acaknya."


"Wow," cuma itu yang bisa diucapkan Rolan. Ia memang tahu bahwa Marco adalah tipe orang yang perfeksionis. Ia sering melihat pria itu mengatur ulang apa-apa yang tergeletak di atas mejanya. Tetapi sama sekali tidak menyangka bahwa semua pengaturan itu dilakukan dengan niat untuk mengetahui kalau ada yang menyentuh barang pribadinya. "Dan, sepertinya kau sudah punya dugaan siapa yang melakukan itu?"

__ADS_1


"Sir William yang memesona itu tentu saja," Marco memutar bola mata. "Kau ingat Wallace sempat gembira mendengar kedatangan tamu yang datang, yang mana adalah Sir William sendiri. Menurutmu itu kebetulan?"


"Menurutku, Tuan Wallace tidak mungkin tahu yang datang adalah Tuan Bannet." Rolan menampik. "Lagi pula, dia malah mati, lho. Memangnya, untuk apa Tuan Wallace dibunuh?"


"Mungkin Bannet berpikir Wallace membocorkan sesuatu yang penting?"


"Misalnya?"


"Wallace kelihatan tahu soal kalung itu. Tidak hanya sekali dia mengamuk hendak menyerangku," Marco mengempaskan tubuhnya di depan Rolan, mengamati ruangannya yang sudah terlihat lebih rapi.


Mayat Wallace sudah dikubur tanpa nisan di salah satu gudang di peternakan Argent, ditimbun jerami. Tempat itu jarang disambangi dan hanya dibersihkan seminggu sekali. Tidak ada benda penting diletakkan di sana. Setelah mengamankan tubuh mati Wallace, George segera memanggil para pelayan dan melakukan pembersihan kilat. Seorang perusuh masuk, hanya itu yang dikatakan George sebagai penjelasan untuk para pelayan yang penasaran.


"Dan menurut laporanmu," Marco membolak-balik buku catatan yang diterimanya dari Rolan, menatap deretan kalimat yang dicatat dengan tulisan tangan. "Ritual darah memang memerlukan benda pengorbanan, bukan hanya manusia. Dari mana kau dapat buku catatan ini?"


Rolan merapikan kembali foto-foto di tangannya. "Aku juga punya koneksiku sendiri. Meski begitu, aku sendiri tidak yakin 100% kalungmu punya hubungan dengan ritual Bjork lama."


"Kalung dengan lambang yang sangat sederhana." Marco berkomentar, "Aku tidak bisa menemukan apa artinya dan darimana datangnya."

__ADS_1


"Jangan tertipu kesederhanaan desain." Rolan menggeleng. Medalion tersebut ia letakkan ke atas meja agar Marco bisa melihatnya. "Seringnya, simbol paling sederhana adalah yang maknanya paling kaya. Terlebih simbol infiniti, bentuk yang seperti angka delapan ini. Sebagai simbol matematika, infiniti 'ditemukan' pada tahun 1655 oleh John Wallis. Tetapi sebagai simbol dalam agama, jelas lebih tua daripada itu. Lingkaran ini merefleksikan keseimbangan. Kau tahu, kan? Seperti yin dan yang, infiniti juga menggambarkan keseimbangan yang kontras. Berlawanan. Lelaki dan perempuan, siang dan malam, terang dan gelap. Simbol ini juga ada dalam kartu tarot, di atas kartu The Magician."


"Ya, kau sudah menerangkan bahwa itu adalah simbol okultisme. Pertanyaan dariku adalah, untuk apa? Di mana? Dan oleh siapa. Tolong jangan melebar ke mana-mana."


"Tidak, kau harus mendengarkan dulu sampai selesai," Rolan berkata. "Lingkaran dalam infiniti ditempatkan bersisian, merepresentasikan kesetaraan antara dua hal yang berlawanan. Dua kekuatan yang berlawanan, tepatnya. Titik sambungnya ada di tengah. Simbol ini adalah penyatuan seksual, yang berarti dua hal menjadi satu. Infiniti adalah lambang untuk keutuhan. Penyatuan."


"Aku tahu bahwa agama dan seksualitas tidak bisa dipisahkan. Manusia dewasa ini menghujat okultisme serta agama pagan sebagai kepercayaan yang tidak senonoh yang selalu mengeksploitasi sisi seksualitas manusia, bahkan tak jarang menuduh kepercayaan semacam itu melakukan praktek tidak senonoh. Pada dasarnya, agama yang sekarang dan dulu tidak jauh bedanya. Mungkin dalam agama masa depan, kalau di masa depan agama masih ada, orang akan beranggapan bahwa kepercayaan yang sekarang ini juga barbar," Marco menuturkan pendapatnya pelan-pelan, mengambil tumpukan foto yang barusan dirapikan Rolan dan menyusunnya di atas meja. "Inti dari agama sebenarnya memang masalah seksualitas."


Rolan melirik pria tua itu dengan tatapan mencemooh. "Kau tahu, Marc? Kalau orang-orang mendengarmu mengatakan hal ini, bisa-bisa kau langsung dibakar di tempat."


"Makanya aku tidak mengatakan pemikiranku pada orang-orang, kan?" sahut Marco luwes. "Jadi, sekarang kita tahu bahwa ada okultisme yang melibatkan darah di Bjork."


Rolan mengangguk. "Kemungkinan meneruskan praktek ritus kuno di Bjork. Kau tahu apa yang dikatakan sejarawan tentang agama lama kita?"


"Katolik Sesat," sahut Marco. "Semacam Kakure Kirishitan."


"Ya. Misionaris datang menyebarkan agama di Bjork, tapi tuan tanah waktu itu menolak agama asing, dan orang-orang kristiani diburu dan dibakar." Rolan ikut duduk di sofa, di seberang Marco. "Masalahnya, kehilangan para misionaris tersebut tidak membuat Bjork putus asa. Banyak yang justru meneruskan praktiknya secara sembunyi-sembunyi, mencampurkanya dengan pagan untuk menyamarkannya. Dan hasilnya justru jadi agama yang sangat aneh, dengan ritual-ritual aneh. Kubayangkan, mereka dulu pasti membuat-buat sendiri ritualnya berdasar ingatan tentang apa yang diajarkan oleh para misionaris."

__ADS_1


"Mereka pikir tubuh dan darah Kristus maksudnya benar-benar tubuh dan darah sungguhan," cemooh Marco. "Informasi yang setengah-setengah selalu memberi akhir yang buruk. Aku tahu sejarah agama lawas Bjork. Kau tidak perlu menerangkannya kembali padaku. Apa hubungannya dengan medalion ini?"


Rolan menghela napas. "Kau tahu bahwa dalam ajaran Kristiani, ada janji yang diperbaharui bahwa Kristus akan datang kembali, kan? Nah ... para penganut Bjork lama berpikir bahwa dengan memberi kurban daging dan darah, mereka bisa membuat Kristus datang kembali."


__ADS_2