BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 141


__ADS_3

Gerald muncul dari salah satu pintu sambil memapah Nolan, yang masih mengenakan mantel Marco. Wajah gadis itu sembap, tapi senyum mengembang tipis di bibir pucatnya.


"Nolan! Syukurlah kau baik-baik saja," sambut Jose tulus. Ia sedih melihat kondisi gadis itu, tetapi tetap memasang wajah topengnya. Ia tidak boleh menunjukkan ekspresi lunak sedikit pun. Lelaki itu mengawasi Nolan yang digendong Gerald ke dalam kereta. Setelah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Nolan aman di dalam keretanya, ia kembali mengedarkan pandangan ke sekeling ruangan. "Nah? Ternyata kawanku memang ada di sini. Andai sejak tadi kalian bilang padaku, tentu aku tidak perlu mengganggu pagi berharga Tuan-tuan sekalian."


Robert tidak sanggup berkata-kata. Ia merasa seperti melihat Marco waktu muda, hanya saja yang ini versi lebih brutal dan nekat. Jose bahkan tak ragu menggunakan publik sebagai senjata untuk balik menyerang lawan.


Mata Jose berhenti pada Wayne, yang kali ini tidak berani balik menatap. "Inspektur Robert," ucapnya kalem. Ia menoleh, tatapannya selembut bayi baru lahir. "Aku mendengar rumor bahwa pamanku Marco hilang, aku mendengarnya barusan dari lidah opsir di sini. Tapi itu kan aneh? Kau dan Paman Marco cukup dekat. Kalau Paman Marco hilang, tentunya kau pasti tahu. Dan kalau kau tahu, pasti kau sudah mencarinya. Tapi kau tidak mencarinya sampai sekarang, sampai detik ini. Bukankah itu berarti dia tidak hilang?"


Robert tidak mengatakan apa pun. Bibirnya terkatup rapat. Ia tahu pertanyaan itu jebakan untuk mengunci gerakannya. Kalau ia bilang iya maka ia memberi keterangan resmi yang membantah rumor. Kalau ia bilang bahwa Marco hilang, Jose akan merongrongnya padahal ia tidak bisa menebak langkah selanjutnya pemuda itu.


"Aku menganggap diam sebagai iya." Jose memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantel, menunggu. Ketika tidak ada yang bersuara, ia melantangkan suaranya, "Lihat, Opsir Wayne? Inspekturmu sendiri sudah memberi bantahan mengenai fitnah yang kau lontarkan!" Jose merentangkan tangan menyapu udara, memberi gestur penegasan. "Kalau sampai aku mendengar satu saja rumor tentang pamanku diucapkan lagi oleh orang di gedung ini, aku akan menganggap itu sebagai bendera permusuhan terhadap Keluarga Argent, terutama terhadapku! Dan yang akan menanggung amarahku saat itu adalah kalian semua yang mendengarnya, tapi tidak mencegahnya! Kalian yang bersikap abai sama seperti kalian mengabaikan ketidakadilan yang dialami Nolan! Dan jika saat itu muncul aku bersumpah akan membuat kalian membayar mahal."


Robert tercengang, tidak membayangkan Jose akan menggunakan cara ini untuk mengancam sekaligus mengunci mulut kantor polisi. Andai yang ada di hadapan mereka adalah pemuda biasa, ucapan itu pasti akan ditertawakan. Namun yang ada di hadapan mereka adalah seorang Argent yang membawahi ratusan tukang pukul di Bjork dan punya koneksi dengan beragam bangsawan berbahaya. Tidak ada yang menganggap enteng ancaman tersebut, terlebih dengan belasan tukang pukul menanti di luar.


Tubuh mereka bergetar dalam sengatan dingin membayangkan harga yang harus mereka bayar jika melanggar peringatan itu. Tidak hanya nyawa mereka yang dipertaruhkan di sini. Jose Argent, dengan sikapnya yang blak-blakan dan tanpa kenal takut jelas mungkin saja melaksanakan sumpahnya dengan lebih brutal dan kentara, tidak sesenyap Marco.


Jose melemparkan tatapan sengit pada Wayne sebagai peringatan sebelum berbalik pergi. Tak lupa ia mengangguk sopan pada Robert dan memberi salam, "Selamat bekerja kembali, Tuan-tuan. Oh, satu lagi. Mohon diingat bahwa hari ini kalian tidak pernah bertemu denganku, tidak juga bertemu dengan Nolan. Kejadian pagi ini tidak pernah ada. Aku juga akan melupakannya. Nah, semoga hari kalian diberkati."

__ADS_1


***


Jose tidak pamit pada Rolan ketika berangkat pergi, juga tidak meninggalkan pesan apa pun. Ketika Rolan tahu dari George bahwa pemuda itu pergi ke kantor kepolisian Bjork untuk menjemput Nolan, yang ada dalam kepala Rolan adalah ledakan demi ledakan. Ia ingin sekali meledakkan kepala Jose dan mengguncang-guncang tubuh pemuda itu untuk menyadarkannya pada kegentingan situasi mereka saat ini. Ia pikir Jose hanya sedang bermain-main dengan Nolan seperti dulu. Ia tidak menyangka akan dikejutkan oleh Gerald.


Gerald pulang duluan dengan kereta kuda yang tadinya digunakan oleh Jose. Pria itu berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Rolan sambil menggendong anak kecil dalam balutan mantel biru gelap.


Rolan mengenali mantel itu. Ia juga mengenal anak perempuan yang sedang digendong tersebut. Rolan segera berlari menjajari langkah Gerald yang membawa Nolan ke kamar pelayan.


"Dari mana kau dapat ini?" tanya Rolan, merujuk pada mantel yang dikenakan Nolan. Marco tidak pernah meletakkan mantelnya sembarangan—apalagi yang ada emblem keluarga mereka. Mantel itu ada pada Nolan hanya bisa berarti satu hal: Marco sendiri yang memberikan. Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, Rolan akhirnya merasa gembira. "Marco bersamamu?"


Nolan membuka mulut, mengeluarkan suara serak tertahan, kemudian mengangguk dengan wajah kesakitan, lalu menggeleng. Rolan mengernyitkan kening, tidak tahu apakah itu berarti iya atau tidak. Yang ia tahu adalah gadis itu kondisinya lebih parah dari yang ia perkirakan.


Gerald memanggil Margie, meminta bantuan housekeeper itu untuk membantu memandikan Nolan, yang terlalu lemah untuk bergerak sendiri. Nolan tidak menolak kali ini. Ia tidak punya tenaga untuk menolak.


Karena baju lamanya tidak mungkin dipakai, Margie memberinya satu set seragam pelayan Argent yang adalah gaun terusan hitam berlengan panjang yang dilengkapi dengan lapisan apron putih dijahitkan di bagian depan. Rolan memotong bagian lengan seragam dengan terampil supaya ia bisa merawat luka koyak di sana.


Gadis itu hanya mengernyit sakit tanpa merengek ketika Rolan membersihkan luka di lengannya yang bengkak bernanah karena infeksi. Nolan bahkan bergeming saat Rolan membersihkan luka baretnya di sana-sini dengan alkohol.

__ADS_1


Namun ketika Rolan selesai membersihkan luka Nolan dan menanyakan dengan lembut mengenai keberadaan Marco, bulir-bulir air lepas dari pelupuk mata gadis itu, membasahi pipinya. Nolan menunduk, kedua tangannya mencengkeram erat ujung-ujung apron yang basah karena kena tetes air mata.


Rolan menaikkan kedua alis tinggi-tinggi mendapati reaksi tak terduga itu. Ia buru-buru menoleh pada Margie, yang saat ini sedang meremat sapu tangan dan menatap iba pada Nolan. Hati keibuan wanita itu terketuk. Rolan menggerak-gerakkan mata dan dagunya, memberi kode pada Margie, yang segera mengangguk dan duduk di bibir ranjang, di sisi gadis itu.


Lengannya melingkari bahu Nolan, merangkulnya hati-hati. Margie sudah mendengar kabar bahwa Nolan adalah bocah Selatan kurang ajar yang diikat di gudang jerami karena menendang pasir ke celana Marco. Ia mendengar kabar tentang bagaimana gadis itu sengaja berpakaian bagus agar bisa masuk rumah Argent, serta gosip bahwa anak itu mengejar Jose. Namun Margie melupakan semua itu begitu melihat orang aslinya. Di matanya sekarang Nolan terlihat tak berdosa, polos tanpa tipu muslihat, hampir-hampir kelihatan manis.


Gerald yang sejak awal tidak menyukai anak kurang ajar itu kini bahkan bersimpati. Apa pun yang dialami Nolan pasti hal yang berat kalau dilihat dari luka-lukanya. Ia sebenarnya ingin Rolan segera menanyai anak itu mengenai keberadaan Marco, tetapi Gerald tahu tempatnya. Ia diam saja dan hanya mengalihkan pandangan ke arah lain karena merasa tidak sopan memandangi anak perempuan yang sedang menangis.


Nolan terkesiap kaget ketika bahunya dirangkul lebih erat, tetapi Margie menyapanya lembut dan memperkenalkan diri untuk membuatnya lebih tenang. Meski tidak tahu siapa wanita itu, tetapi Nolan bisa merasakan tidak ada permusuhan atau kecurigaan dalam tatapan matanya, dan cara Margie merangkul justru membuat Nolan ingat pada Marco yang menarik dan melemparnya ke luar menara. Nolan menjatuhkan kepala ke bahu Margie, siap meledakkan tangis.


Namun pintu kamar keburu menjeplak terbuka dan Jose menerjang masuk dengan napas hampir habis. Ia melangkah tanpa dosa dengan senyum lebar terpasang di wajah puasnya. "Nolan! Kau sudah tidak apa-ap—“ Jose mengatupkan lagi mulutnya dengan canggung begitu menyadari suasana di kamar sangat sendu. Ia berjalan mundur beberapa langkah dan menutup pintu perlahan sambil menggumamkan permintaan maaf atas ketidaksopanannya.


"Masuklah, Jose. Kau toh sudah merusak suasananya," seru Rolan dari dalam. "Masuk dan jelaskan apa yang kau perbuat di kantor polisi, serta kenapa kau tidak memberi tahu aku dulu!"


Jose membuka kembali pintu kamar dengan wajah merasa bersalah. Hans ada di belakangnya, bertukar pandang dengan Gerald dalam bahasa yang hanya mereka mengerti. Yang sekarang sedang melangkah masuk ke dalam kamar dengan ekspresi tidak enak hati ini jelas Tuan Kecil mereka, sosok yang jauh berbeda dengan Tuan Muda Argent yang mengancam semua orang di kantor polisi tadi.


Jose seolah mengoleksi banyak topeng yang berbeda wajah dan hanya tinggal memilih mau mengenakan yang mana.

__ADS_1


Namun yang mana pun topeng pilihan Jose, baik Gerald maupun Hans tahu bahwa mereka akan menyukai dan melayani semuanya.


***


__ADS_2