
Jika etika dan sopan santun adalah prinsip utama yang dijunjung oleh Argent, pada Garnet yang paling diutamakan adalah ketenangan. Dalam keadaan apa pun, mereka dituntut untuk selalu tenang di depan umum. Maria menerima latihan bertahun-tahun secara ketat sebagai satu-satunya putri Keluarga Garnet.
Yang di belakang punggung pria itu jelas iblis. Maria mengetahuinya tanpa perlu berpikir panjang. Sesuatu yang kuno dalam dirinya mengenali eksistensi itu, seolah mereka pernah bertemu sebelumnya di masa lalu, berabad-abad lalu.
Maria hanya menatap kosong ke mata Sir William, mengabaikan sepenuhnya makhluk mengerikan di belakang pria itu. "Apa maksudmu, Sir? Apakah pernyataanmu yang barusan adalah pengakuan bahwa kau memang memakai guna-guna?"
Sir William mengerutkan kening. Salah satu makhluk di belakangnya yang berkepala kambing menjulurkan leher mendekati Maria dan bernapas di depan hidung gadis itu sambil mengeluarkan derik serak dari sela bibir.
Jangan gentar, Maria menguatkan dirinya sendiri. Jangan berkedip. Jangan mengalihkan pandangan.
"Menarik," gumam Sir William pelan. "Kau memang tidak melihatnya? Atau pura-pura tidak melihat?"
Maria mengangkat satu tangan ke udara ketika pria itu berjalan memutari meja, mencegahnya mendekat. "Tetap di tempat!"
"Atau apa? Kuakui, kau cukup berani datang ke sini sendirian. Tapi lalu sekarang apa?" Wujud iblis di punggung Sir William lenyap. Suhu ruangan kembali normal. Lelaki itu meraih pergelangan tangan Maria dan menyentaknya mendekat hingga tubuh mereka saling menubruk.
Maria mengangkat tangan lainnya yang bebas dan mengayunkannya untuk menampar, tetapi pria itu menangkapnya dengan gampang. Kini kedua tangannya dicekal.
"Lepaskan," kata Maria dari sela gigi.
Sir William tidak menjawab, justru menundukkan wajah mendekat. Napas pria itu menyapu keningnya dengan panas, membuatnya bergetar ingin. Maria berjuang mati-matian untuk tidak hanyut dalam sensasi asing yang bergejolak dalam dirinya.
"Sekarang, bagaimana caramu lolos dari sini?" Sir William tersenyum, terhibur melihat keteguhan yang terpancar di mata gadis itu. "Apa Romeo-mu akan datang menyelamatkan?"
Jantung Maria berdegup lebih cepat, menyalurkan darah ke sekujur tubuhnya, membuat pipinya merona dalam semburat kemerahan.
__ADS_1
Sampai beberapa hari yang lalu ia masih punya impian kekanakan tentang pernikahan dengan pangeran berkuda putih yang akan menolongnya kapan pun ia mengalami kesulitan. Namun ia sudah insaf. Pangeran itu hanya gula-gula dalam mimpi kekanakannya. Yang bisa menolongnya saat ia dalam kesulitan hanya dirinya sendiri. Dan ia, Maria Garnet, tidak akan berdiam diri menunggu pertolongan dari orang lain.
"Aku akan menggigit lidahku sampai putus," bisik Maria. Ia mengangkat wajah, menatap lurus pada manik biru gelap di depannya. Bibir mereka hanya berjarak beberapa senti. Senyumnya melengkung mesra, tetapi memberi kesan sinis. "Apa pun yang kau inginkan, kau hanya bisa melakukannya setelah melangkahi mayatku."
Sir William melepaskan kedua tangan Maria perlahan, membiarkan gadis itu melangkah mundur menjauh darinya. Maria tetap terlihat tenang, terkendali.
"Hanya itu yang ingin kusampaikan," katanya sambil menepuk-nepuk lengan gaun, seperti menepis kotoran yang menempel. Maria tidak memberi salam perpisahan ataupun salam hormat. Ia berbalik pergi begitu saja, bunyi ketuk sepatunya memantul dalam gema lembut di sepanjang ruangan.
Sir William mengikuti kepergian perempuan itu dengan pandangan mata, bertanya-tanya sendiri apakah Maria memang tidak melihat bayangan iblis yang menempel padanya atau perempuan itu hanya aktris yang handal. Ia juga ingin tahu sejauh mana yang diketahui Maria tentang dirinya, tentang mereka.
Ketenangan Maria membuatnya gemas. Ia ingin mengacak-ngacak emosi gadis itu, ingin melihat bagaimana reaksinya saat lepas kendali, tapi juga tidak mau membuat Maria melukai dirinya sendiri. Tubuh gadis itu sangat penting, dan gerhana masih beberapa hari lagi.
***
Jose menunggu di ruang tamu, Susan mengabarkan itu sambil sesekali mengeluh, meminta agar Maria berhenti bepergian tanpanya. Maria tidak menggubris. Ia berpesan agar tidak ada yang mengganggunya saat sedang bicara dengan Jose. Susan mengangguk patuh tanpa banyak protes kali ini, membuat Maria berpikir pasti itu karena wajahnya kelihatan berang sekarang.
Ketika ia masuk ruang tamu, Jose sedang berdiri memandangi lukisan di dinding. Lelaki itu berbalik ke arahnya begitu mendengar suara pintu ditutup. Tanpa basa-basi, bahkan tanpa mengucapkan sapaan, Maria bergegas mendekat dan mendorong kuat-kuat tubuh Jose.
Lelaki itu melebarkan matanya dengan kaget, tetapi oleng pun tidak.
"Sialan kau!" Maria meninju bahunya keras, kemudian mengipatkan tangannya sendiri karena malah ia yang sakit. Ia berjalan tiga langkah melewati Jose, lalu berbalik dan menyikut ketika lewat lagi. "Kau tahu semua ini, tapi diam saja!" semburnya.
"Marry?"
"Jangan panggil aku seperti itu!" Maria mengacungkan jari ke bawah hidung Jose. "Kau tidak pernah menganggapku temanmu!"
__ADS_1
"Tunggu, apa maksudmu?" Jose jadi waswas. "Ini soal apa? Kau habis dari mana? Susan bilang mendadak kau pergi hanya berdua dengan supir."
"Kau ..." Maria berhenti. Bola matanya panas. Rasa takut, kecewa, dan ngeri yang sempat ia tahan sejak tadi kini seperti meletup berbarengan, mendesak keluar. "Kau tahu orang itu hendak mencelakaiku, tapi apa kau peduli? Tidak! Kau diam saja! Bahkan saat aku bilang aku menyukainya dan hendak mendekatinya, kau membiarkanku! Kau suka kalau aku celaka, ha?"
Jose menangkap tangan Maria yang hendak memukulnya, kemudian meremas lembut jari-jari itu. "Marry," bisiknya, "duduklah dulu, tenangkan dirimu."
"Tenang, tenang! Tenang bokongmu!" bentak Maria kesal, benar-benar membuang pelajaran tata kramanya. Ia sebenarnya sadar Jose tidak sepenuhnya salah, tetapi ia butuh pelampiasan. Air matanya sudah mengembang di pelupuk mata, dan ia tidak bisa lagi mengendalikan diri. Persetan dengan ajaran keluarganya soal ketenangan. Bayangan iblis bertanduk itu masih menerornya setiap kali ia memejamkan mata. "Aku takut sekali di sana, tapi apa kau peduli?!"
"Apa? Di mana?" Jose membeliak, kemudian nadanya berubah curiga, "Kau ke rumah Sir William?"
"Kau tidak peduli! Kau cuma bisa memberikan peringatan-peringatan samar yang tak jelas, menelepon tengah malam dan mematikan tanpa menjelaskan apa pun!" Maria menendang tulang kering Jose, membuat lelaki itu mengaduh pelan.
"Aku tidak meneleponmu!" Jose berkata bingung. "Maksudku, aku memang pernah menelepon. Tapi yang menerima adalah Dale. Katanya kau sedang istirahat."
Maria menahan isak. Ia menyentakkan tangan dari genggaman Jose, lalu mengusap pipinya yang basah dengan sapu tangan. "Semalam," katanya serak. Bahunya masih bergetar menahan emosi. "Kau tidak menelepon?"
Jose menggeleng. "Aku ... sibuk seharian kemarin." Mata hitamnya dilumuri rasa bersalah. Ia menatap Maria cemas. "Kau memang ke rumah Sir William?"
Maria mengangguk. Semua ini terasa aneh dan tak masuk akal, ia jadi diam karena butuh waktu memproses apa yang sebenarnya terjadi.
Sekarang gantian Jose yang marah. Lelaki itu mencengkeram kedua bahu Maria dan mengguncangnya. "Apa yang kau pikirkan? Kan sudah kubilang orang itu berbahaya!"
"Mana aku tahu apa maksudmu kalau kau cuma bilang bahaya tanpa menjelaskan!" balas Maria kesal, menepis lengan Jose. Ia bisa melakukannya dengan mudah karena Jose memang melepaskannya, dan gestur kecil itu membuat Maria cukup lega karena ia sudah muak dicekal seperti boneka kain. "Aku selalu tanya padamu apa yang salah darinya tapi kau cuma bilang dia bahaya atau malah tidak menjelaskan apa-apa!"
"Kau ke sana tanpa membawa pengawal dan memberi tahu siapa pun ...!" Jose mengusap mukanya dengan pasrah dan menggeleng-gelengkan kepala. "Setidaknya kau kan bisa menghubungiku dulu kalau mau ke sana ..."
__ADS_1
Mana mungkin aku memberitahumu! Maria ikut frustrasi. Memangnya aku harus bilang apa? Bahwa aku akhirnya ke rumahnya karena semalam dia melecehkan otak dan imanku serta membuatku merasa begitu terhina?! Kau pikir aku bisa bilang itu padamu**?
***