BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 76


__ADS_3

Nolan melihat sendiri bahwa Jose tidak main-main dengan pernyataannya tadi. Begitu mendengar laporan Jose, polisi patroli segera bergerak. Mereka dibawa ke kantor pusat agar laporan mereka dicatat, dan surat-surat yang diperlukan segera turun begitu mereka melihat Jose mengeluarkan emblem keluarganya.


Tadinya baik Nolan maupun Jose diminta tetap menunggu di Utara, tetapi keduanya menolak. Mereka harus melihat langsung apa yang terjadi.


Selain polisi, dipanggil juga pemadam kebakaran dan petugas paramedis. Rombongan besar itu menarik perhatian banyak orang. Penduduk Bjork Selatan yang awalnya hanya mengintip takut-takut kini terang-terangan keluar karena penasaran.


***


Jose memperhatikan para petugas berseragam menggunakan tangga sebagai jembatan untuk menyeberang demi menyelamatkan perempuan bergaun putih yang tadi menjadi pajangan tambahan di hutan yang gelap.


Dua orang petugas menarik Jose dan Nolan, meminta identitas dan menegur keduanya dengan alasan sipil seharusnya menjauh.


Awalnya, para petugas memberi perlakuan dingin yang tidak mengenakkan. Tetapi begitu mencatat nama Argent pada berkas pemeriksaan, semua orang segera berubah lebih lunak dan ramah.


"Argent," tukas Nolan ketika kedua petugas tadi pergi. "Itu nama dewa atau apa? Semua orang takut sekali padamu."


Jose membalasnya dengan senyum tipis. Ia mengulurkan tangan ke depan, menunjuk beberapa orang dengan gerakan cepat yang tak kentara. "Itu, itu, itu dan yang itu. Mereka berhutang pada keluargaku," katanya. Ia menoleh pada Nolan. "Lebih mudah mengendalikan seseorang kalau kita tahu kelemahannya, dan kelemahan semua orang di sini tercatat rapi di kepalaku."


Tengkuk Nolan meremang. Ia belum pernah melihat Jose sedingin ini sebelumnya. "Baik, jagoan," katanya, menaikkan suara agar tidak kalah pada rasa gentar. "Gunakan data di kepalamu supaya kita dapat minum panas! Aku kedinginan!"


Jose tertawa. "Itu sih tinggal minta perawat."


Mereka menghampiri mobil putih paramedis untuk minta minuman hangat. Lagi-lagi tak ada yang menolak Jose.

__ADS_1


Paramedis memberi keduanya minuman hangat. Nolan menerimanya dengan senang, meski kepalanya tidak bisa diam. Gadis itu terus-terusan melongok ke kanan dan ke kiri, kadang melambai ke kejauhan pada orang yang dikenalnya, yang datang untuk melihat keributan.


Jose mengamati para petugas yang sudah berjalan melewati jembatan buatan. Ia merasa tidak nyaman.


Wanita itu sudah mati. Mayatnya dibawa dengan tandu, dengan selimut putih menyelimuti tubuhnya.


Tubuhnya sudah mengalami kekakuan penuh. Kemungkinan sudah lebih dari dua belas jam waktu kematian. Jose melihat beberapa petugas forensik yang datang saling berbisik-bisik, bicara dengan suara direndahkan. Bisikan itu diteruskan pada penyidik, diteruskan pada Petugas Patroli Bjork, diteruskan lagi pada Inspektur Robert, yang berbisik pada Marco.


Paman Marco?


Jose mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia tidak salah lihat. Itu memang pamannya, Marco serta Rolan. Ia tidak heran melihat kedua pamannya datang. Bagaimanapun, yang menemukan mayat itu adalah putra keluarga Argent. Dan Rolan serta Marco memang pasti akan datang jika ada kejadian aneh di Bjork. Mereka sudah seperti wajah Bjork.


"Wanita itu sudah mati." Nolan memiringkan kepalanya ke arah Jose ketika berbisik.


Jose hanya mengangguk. Matanya masih mengawasi gerak-gerik kedua pamannya. Baik Rolan maupun Marco tidak ada yang beranjak mendekatinya. Kedua orang itu sedang sibuk dengan urusan masing-masing.


"Apanya?"


"Soal mayat itu. Menurutmu cuma kebetulan? Coba dipikir lagi, kenapa kita berjalan menyusuri sungai?" Nolan berkata pelan. Beberapa polisi patroli ada di dekat mereka, bercakap-cakap dengan suara pelan, tetapi Nolan tahu bahwa mereka memasang telinga dan mendengarkan. Ia selalu benci pada anjing pemerintah.


Jose melirik Nolan, mengetahui maksud gadis itu. Saat ditanya oleh detektif tadi, mereka berkata bahwa mereka ada di sana untuk berjalan-jalan saja, hanya iseng menyusuri sungai setelah gagal memancing. Dilihat dari pandangan mata detektif itu, Jose tahu bahwa keterangannya diragukan. Lagi pula, polisi memang akan selalu meragukan jawaban yang datang.


Baik Jose maupun Nolan, tidak ada yang buka mulut soal alasan sebenarnya mereka berada di sana. Selain karena tidak ingin menambah panjang masalah, mereka berdua merasa tidak akan ada yang percaya kalau mereka mengatakan sedang menyelidiki soal Hantu Hitam, lalu mencari tahu apa yang ada di hutan seberang berdasar halusinasi seorang pelayan.

__ADS_1


"Tapi, bagaimana kalau itu bukan halusinasi?" bisik Nolan, kepalanya ditelengkan lebih dekat pada Jose. Mereka berdua duduk di salah satu dahan pohon yang ambruk melintang, di sebelah mobil pemadam kebakaran. Untuk sampai ke tempat ini, petugas pemadam kebakaran memang harus menyibak hutan dengan susah payah. Untungnya, hutan paling utara di sebelah selatan Bjork cukup lengang karena sering dilewati oleh manusia. Jalan setapak yang biasa dilalui penduduk Bjork selatan kini terlihat melebar. Rerumputan dan pohon muda tersibak di kanan dan kiri, seperti habis dilewati gajah.


Ban mobil sempat melesak ke dalam tanah saat menyusuri tepian sungai, membuat petugas datang terlambat.


Marco sendiri datang setengah jam setelah petugas forensik selesai melingkari TKP dengan pita hitam kuning yang seperti lebah. Inspektur Robert datang padanya dengan tergesa, memberitahu bahwa keponakannya menemukan sosok manusia di kawasan hutan Bjork bagian dalam. Marco memanggil Rolan ikut serta dan dengan kasar mengusir William pergi dari rumahnya. Ia tahu bahwa dirinya sudah melanggar sendiri etika serta tata krama yang dijunjungnya sangat tinggi pada saat mengabaikan tangan Sir William, tetapi Marco punya alasan sendiri. Pemuda itu mengenakan cincin yang aneh, membuat Marco waspada dan berpikir kalau-kalau ada jarum beracun dilumurkan di sana. Kejutan-kejutan ganjil pada hidupnya sudah membuat Marco melatih diri sendiri untuk segala kemungkinan terburuk. Terlebih kalau perasaannya mengatakan bahwa ada yang ganjil.


Ketika sampai di tempat kejadian, Marco sedikit kecewa melihat banyaknya orang sipil berkeliaran berkat kehebohan yang ditimbulkan petugas pemadam kebakaran. Bahkan polisi patroli pun tidak mampu membubarkan orang-orang jelata dari Bjor Selatan.


Yang lebih membuat Marco kesal lagi adalah ketika ia melihat Jose bersama dengan Nolan. Matanya sempat bertemu dengan mata hitam pemuda itu, tetapi Marco segera mengalihkannya dengan cepat. Ia akan menginterogasi anak itu sesampainya di rumah.


"Ke sini sebentar, Marc," Rolan muncul mendekat dan berbisik tiba-tiba di sebelahnya, membuyarkan lamunan Marco. Tangan dokter itu menggamit lengan Marco. Mereka berjalan ke sisi yang sedikit lebih sepi, jauh dari jangkauan telinga usil. "Ada yang aneh pada mayat ini."


"Kenapa?" balas Marco waspada. "Apa lagi yang aneh?"


"Darahnya tidak habis. Dia mati kehabisan napas. Sepertinya sudah delapan belas jam yang lalu."


"Oh, kecelakaan biasa?" Ada nada kecewa dalam nada suara Marco. Ia menatap mata cokelat Rolan, menangkap semburat kegelisahan di sana. "Sepertinya bukan, ya?"


Rolan menggeleng. "Marc, meski modus operandinya beda, tapi pelakunya sama. Ada jejak-jejak yang sama."


"Padahal kau bilang, pada mayat-mayat itu tidak ada ciri khas yang sama selain lubang di kulit?" desis Marco. Kedua matanya menyipit.


"Tidak, karena aku belum melihat mayat yang masih utuh seperti ini," Rolan mengusap leher, menatap ke sekeliling dengan gerakan tak kentara. "Satu lagi yang penting. Ada yang memindahkan mayat itu."

__ADS_1


"Maksudmu, paramedis?" Marco mengerutkan kening, makin tidak mengerti ke arah mana Rolan membawa pembicaraan ini. Angin dingin bertiup ke antara mereka, membuatnya sekilas menggigil. Marco menyesal tidak membawa mantel yang lebih hangat.


"Bukan. Ini anehnya, Marc," Rolan menatap lewat balik kacamata, tatapan yang menyiratkan kemisteriusan. "Mayat itu barusan ditaruh di sana. Tidak ada jejak-jejak mayat berumur delapan belas jam. Dia mati di tempat lain dan sengaja ditaruh di sana. Petugas forensik juga merasa hal ini sangat aneh."


__ADS_2