BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Chapter 60


__ADS_3

Jack tahu. Dua orang itu masih lumpuh dan shock. Tidak bisa diajak bicara, apalagi beraktivitas. Dokter Rolan merawatnya di salah satu bangsal yang terpisah, tempat khusus untuk orang yang sakit. Rumah ini memang luas dan mengerikan besarnya. Ada banyak kamar dan kelokan. Tetapi tuan-tuan rumah yang utama hanya berkeliaran di bagian depan.


Ia mendengar bahwa dua dayang Nyonya Besar tersebut pingsan di depan kamar, membiarkan pintu tersegel dengan tubuh mereka. Keduanya dipuji oleh George dan pelayan senior lain sebagai dua dayang yang mampu melaksanakan tugas dengan baik. Keduanya memang pingsan, tetapi tidak membiarkan penyusup atau tamu tak diundang untuk masuk ke dalam kamar kedua tuannya. Perbuatan itu dijadikan contoh dan juga dihormati, tidak ada satu pun pelayan di keluarga Argent yang keberatan merawat keduanya.


“Tentu saja tahu,” Jack menukas. “Mereka masih belum sadar.”


“Katanya, mereka melihat hal yang semestinya tidak mereka lihat.”


“Apa maksudmu?”


“Coba hubungkan ini, waktu itu, anak dekil itu datang.”


“Kami mengikatnya di gudang jerami.” Jack memutar bola mata, tidak tahu harus menanggapi Sana dengan cara apa lagi. “Lagi pula tidak mungkin anak seperti dia bisa menakut-nakuti dua dayang senior sampai segitunya. Mereka trauma, kata dokter Rolan.”


“Lho, masa kau berpikir begitu? Bicara soal mungkin dan tidak mungkin, apa kau pernah berpikir, bagaimana mungkin Tuan Kecil berkawan dan membawa masuk orang kumuh dari Bjork Selatan?”


Jack terdiam.


“Tahu dugaanku? Mungkin dia punya guna-guna,” bisik Sana lagi. “Hati-hati saja.”


Jack baru mau menimpali, tetapi pintu kamarnya sudah terbuka lebar. George ada di ambang pintu, menatap keduanya dengan dingin. Sana segera bangkit dari duduknya dan berdiri dengan hormat, begitu pula dengan Jack.


Kepala pelayan tersebut menyipitkan mata menatap Jack. “Bukankah Tuan Muda minta kau segera mengambilkan pakaian untuknya?”


Jack tergesa-gesa mengiyakan, kemudian berlalu dari kamar. Sekilas ia mendengar suara George memarahi Sana. Kakinya tambah cepat melangkah.


Ketika mengetuk pintu ruang santai, Jose sendiri yang membukanya, menerima pakaian yang dibawanya, lalu menyerahkannya pada gadis itu.

__ADS_1


“Nolan, coba dulu, apa ukurannya sama denganmu?”


Nolan menerima tanpa rasa sopan, menoleh ke sana kemari sebelum bertanya, “Aku ganti di mana?”


Jose menunjuk salah satu pintu yang tertutup, dan Nolan berjalan ke sana.


“Terima kasih, Jack,” sahut Jose ketika kembali menatapnya. “Nanti akan kupanggil lagi kalau butuh.”


Jack menunduk, kemudian cepat-cepat berlalu. Satu hal yang ia sukai dari majikannya yang paling muda tersebut adalah kesopanan serta keramahannya. Jose tidak memiliki sifat dingin dan angkuh seperti anggota keluarga Argent yang lain, terlebih Marco. Bahkan, Renata yang anggun dan lembut pun memiliki sentuhan angkuh dan aura dingin yang membekukan, sesuatu yang seolah mengatakan bahwa tidak ada yang boleh mendekatinya. Pandangan mata yang membuat dinding batas yang tinggi.


Jack tentu saja memaklumi hal tersebut. Bagaimanapun juga, mereka memang berada di kelas yang beda. Pelayan dengan majikan. Ia merasa semua hal itu wajar—sampai ia melihat Jose bicara dengan para pelayan.


Yang ia tahu hanyalah bahwa Jose merupakan anggota keluarga termuda, anak nakal yang selalu lari ke sana kemari kabur dari tutor maupun kampus. Ia sering melihat para pelayan berkeliaran mencari majikannya yang satu itu. Hanya akhir-akhir ini saja Jose bersikap tenang di dalam rumah.


Ketika melihatnya untuk pertama kalinya, Jack merasa bahwa lelaki itu terlalu berbeda. Jose memiliki kepedulian dan empati yang tinggi. Ia mendengar soal Jose yang membiarkan Higgins tidur karena mencemaskannya, alih-alih membangunkan pria itu dan menyuruhnya mengurus kuda pada malam buta.


Jack dan Higgins sangat akrab, karena itu segala perhatian Jose pada Higgin dianggap Jack sebagai sebuah hal yang luar biasa. Higgins. Setiap kali mengingat pria tua itu, Jack jadi sedih sekaligus merinding. Ia mendengar rumornya. Mati kehabisan darah. Katanya, tubuhnya bolong-bolong. Ada yang bilang kepalanya terpisah dari tubuhnya. Yang lain lagi berkata bahwa Higgins tinggal abu.


Satu hal yang Jack tahu hanyalah bahwa Jose menyelidiki soal kematian Higgin. Ia mendengarnya dari para pelayan. Hal lain yang ia tahu bahwa sosok yang mencurigakan itu berada di koridor kamar tempat majikannya tersebut berada.


Jack menyadari, mungkin saja Jose diincar.


***


Marco mengeluarkan sebuah kalung liontin dari dalam laci, ia meletakkannya di atas meja supaya tampilannya lebih jelas. Di samping liontinnya terdapat buku tebal yang terbuka. Deretan simbol dan lambang terpampang jelas di sana.


Bagian depan medalion kalung dihiasi dengan ukiran daun yang terjalin manis, melingkari gambar simbol infiniti—simbol tak terhingga. Di depan simbol tersebut, tepat di kunci putarnya, huruf A kapital menonjol timbul.

__ADS_1


Marco mengenali banyak simbol dan lambang keluarga di berbagai macam kota. Lagi pula, lambang keluarga maupun kelompok diharuskan terdaftar pada Lembaga Simbol Nasional, yang akan menerbitkan buku baru tiap tahunnya. Buku yang ada di atas meja Marco sekarang adalah edisi terbaru.


Namun, lambang pada medalion tersebut tidak terdapat di sana. Marco menyusurkan jarinya pada rantai emas kalung; perhiasan yang dibawa Nolan ke rumahnya karena mengira benda itu adalah milik Jose yang terjatuh.


"Ini aneh," gumamnya pelan pada diri sendiri. Ia mulai berpikir, mungkin lambang itu bukan simbol keluarga, tetapi membantahnya sendiri dalam hati. Kalau bukan melambangkan hal penting atau identitas pribadi, untuk apa diukir dengan begitu indah? Marco bisa melihat kehalusan dan ketelitian tinggi pada ukiran tersebut. Ini kalung yang berharga. Orang tidak akan memesan ukiran mahal hanya untuk iseng, kan? Tetapi kalau memang ukiran tersebut melambangkan identitas, apa artinya kalau tidak didaftarkan pada Lembaga Simbol Nasional?


Sudut bibir Marco tertarik ke atas, membentuk senyum tertarik. Sudah lama ia hidup di dunia ini, sampai rasanya segala hal menarik sudah habis ia jelajahi. Namun di depannya sekarang ada dua misteri. Misteri besar adalah mayat-mayat kering yang muncul di Bjork, yang kedua adalah kalung yang aneh ini.


Kalau Nolan memang benar menemukan kalung itu di Bjork Selatan dan bukannya cuma asal mencuri dan menggunakannya sebagai alasan untuk bertemu dengan Jose, maka kalung berinisial A ini adalah misteri baru.


Marco berpikir untuk mencari buku Lembaga Simbol Nasional edisi yang paling lawas.


Buku tersebut sudah mengalami banyak pengurangan. Lembaga membuang banyak lambang dan simbol yang sudah tidak terpakai dan mengarsipkannya di museum nasional. Seharusnya Pusat Arsip memiliki salinannya.


Marco memanggil George, memerintahkannya untuk menyiapkan mobil.


***


Ketika adiknya bilang ada tamu menunggunya di luar, Nina sama sekali tidak memiliki dugaan tertentu. Ia pikir, mungkin Lia dari bagian Keuangan, Jane, atau malah Luke, mantan pacarnya. Pria itu sudah berulang kali datang ke rumah maupun ke tempat kerjanya di Pusat Arsip, mengemis kesempatan kesekian. Nina sudah sering memberi kesempatan yang kemudian disia-siakan oleh Luke.


Tadinya, Nina pikir, dia cuma mendapat tamu tidak penting.


Ia tidak pernah menyangka akan bertemu dengan tuan muda dari Argent secepat ini. Jose sedang membelai kelopak mawar yang ditanam Nina ketika gadis itu membuka pintu depan.


"Jangan disentuh-sentuh! Tanganmu panas!" seru Nina cepat, mengagetkan tamunya.


Jose segera menarik jarinya, berbalik pada Nina yang menatapnya dengan mata membeliak. "Oh, hai, semoga aku tidak mengganggumu."

__ADS_1


Nina menganga, tidak mampu bereaksi dengan benar. Tadinya ia ingin mengatakan sesuatu yang lebih wah, semacam sapaan seksi gaya gadis ningrat di buku novel. Namun entah kenapa malah teguran keras yang keluar, kebiasaan buruknya.


"Sekarang sudah waktunya makan siang," Jose mengangkat tangan, menatap arloji yang melingkar di sana. "Aku tahu restoran yang bagus. Mau ke sana?"


__ADS_2