BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 99


__ADS_3

Festival sudah lama usai, tapi Marco belum juga kembali. Ketika mengatakan bahwa mungkin saja hantu hitam itu berubah target dan mencari Marco, Rolan hanya bercanda. Namun melihat pria itu tidak juga menampakkan diri pagi itu, Rolan jadi cemas.


Edgar kelihatan sama cemasnya. Ia dan Marco sudah mendiskusikan soal kedatangan Jacob, jadi tidak mungkin Marco tidak ikut datang menyambutnya. Marco tidak pernah pergi terlalu lama tanpa meninggalkan pesan sebelumnya. Semua orang tahu betapa disiplinnya Marco soal itu.


Meski malam sudah berlalu, namun keluarga Argent sarapan dengan suasana seolah mereka berada dalam pemakaman.


Jose sendiri juga tak banyak bicara. Ia duduk di meja, di seberang kakak pertamanya.


Jacob masih sama dengan terakhir kali Jose mengingatnya. Kakaknya memiliki perawakan khas Argent. Rambut hitam, mata kelam, dan juga wajah dingin yang tenang. Mereka hanya bersalaman singkat dan saling memeluk sekenanya ketika pertama bertemu, kemudian Jacob kembali bicara dengan Edgar.


Jose memang tidak ingat ia pernah akrab dengan kakaknya itu.


Jacob sebagai anak pertama sebenarnya adalah pewaris sah Keluarga Argent. Ialah yang akan dipanggil dengan gelar Lord Argent jika Edgar atau Marco tiada. Ia yang akan berkuasa atas seluruh tanah Argent. Namun Jacob menolak kesempatan itu, yang ia anggap kuno dan tidak akan memberi pengaruh apa pun. Jacob membangun sendiri kerajaan perdagangannya di luar kota, memutuskan untuk tidak mau menggantungkan diri pada pengaruh keluarga. Otomatis, hak waris atas nama Argent di Bjork ke depannya akan dikendalikan putra kedua yang sedang belajar di luar negeri. Meski demikian, hal itu tidak membuat Jacob dipandang sebelah mata. Orang-orang justru makin menghormatinya dan cara hidupnya.


Hampir semua orang menyukai dan menghormati Jacob.


Jose juga menghormatinya. Sangat. Namun tetap saja kadang ia tidak merasa bisa cocok dengan sifat Jacob.


"Aku belum melihat Paman Marco," kata Jacob ketika sarapan. Ia menangkap suasana tak enak saat sarapan, dan menyimpulkan bahwa mungkin itu berhubungan dengan pamannya. "Di mana Paman? Apa dia sedang tidak di Bjork?"


"Dia sedang ada urusan," sahut Edgar. Matanya menatap pada Rolan dengan kerlingan penuh arti. Tidak ada yang melihat hal itu selain Jose.


"Kudengar, Bjork sedang tidak aman, kan? Aku melihat polisi patroli di mana-mana. Kenapa ibu tidak berlibur bersama kami saja? Kita jalan-jalan ke luar negeri," Jacob berkata, memandang lembut pada ibunya.

__ADS_1


Renata mengangkat wajah dari piring, kemudian tertawa lembut. "Dan meninggalkan ayahmu di sini? Tidak bisa, Sayang."


"Ayah bisa diajak juga kalau mau," Jacob menyahut santai. Ia melontarkan candaan tentang masa lalu, membuat Edgar dan Renata tertawa lepas, tetapi Jose segera menyelesaikan sarapannya, lalu pamit pergi.


"Kenapa buru-buru?" tegur Renata heran. "Kakakmu sudah lama tidak pulang, temani dulu ngobrol sebentar. Bisa, kan?"


"Eh, maaf, Bu ... ada yang harus kukerjakan," Jose berkata pelan. "Ini pesan dari Paman Marco. Aku diminta melakukannya hari ini."


"Tidak bisa menunggu?" tanya Renata kecewa. "Harus sekarang juga?"


"Renata," tegur Edgar kaku. "Marco yang menyuruhnya, biarkan dia lakukan itu."


Renata menghela napas. "Dan aku pikir, setidaknya putra-putraku bisa berkumpul setengah. Baiklah. Lakukan saja apa yang kau mau, Jose."


"Ya, ya, aku tidak bisa diatur," gerutu Jose sambil memutar bola matanya.


"Apa kau sebenci itu pada kakakmu?" Dari belakang Jose terdengar suara geli.


"Apa Paman harus selalu muncul dari belakang tanpa suara?" balas Jose tanpa menoleh. Ia sama sekali tidak mendengar langkah pamannya. Tahu-tahu saja suara itu muncul. Namun ia mengenal suara bernada penuh canda itu. "Kenapa Paman ikut keluar? Tidak mau ngobrol dengan Jake?"


"Dan merusak reuni mengharukan antara keluarga inti? Tidak bisa, itu bukan gayaku," Rolan menyahut. Ia menjajari langkah Jose, mengamati wajah muram itu dengan pandangan geli. "Kau sendiri tidak benar-benar sedang melaksanakan perintah Marco, kan? Dia bahkan tidak memberi pesan apa-apa padamu, benar kan?"


"Paman tahu, ya?" Jose tersenyum masam. Ia berjalan cepat ke luar rumah menuju istal. Beberapa pelayan yang berpapasan dengan mereka segera menepi dan menunduk hormat untuk memberi jalan.

__ADS_1


"Jose, aku sudah bekerja bersama Marco sejak lama. Satu-satunya hal yang akan disuruh Marco untuk kau lakukan hanyalah belajar."


Jose tertawa. "Paman benar, aku memang cuma sedang ingin kabur saja. Apa Paman akan terus mengikutiku sampai istal?"


"Aku tahu apa yang mau kau lakukan." Rolan menggeret lengan pemuda itu, mendorongnya ke samping. Mereka saling berhadap-hadapan di tengah jalan batu yang disusun manis menjembatani taman yang menuju istal. "Kau sedang menyelidiki Sir William, kan? Hentikan itu."


"Paman bicara soal apa? Aku cuma mau berkuda," balas Jose dingin.


Rolan mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menyadari bahwa Jose sedang balas bersikap pura-pura tidak tahu. "Bukan kau satu-satunya yang tahu cara menggunakan informan, Jose. Aku tahu apa yang kau pinjam dari Pusat Arsip."


"Tentu saja Paman tahu," tukas Jose cepat, hampir tidak peduli. "Aku meminjam arsip."


"Kau menyelidiki kasus mayat kering," Rolan mengucapkannya dari sela gigi. Begitu selesai, ia segera menoleh ke sekitar, memastikan tidak ada orang yang mendengar mereka.


Koridor rumah terlihat sepi. Samar-samar terdengar suara geradak roda gerobak dari kebun serta bunyi percakapan dan tawa di ruang makan. Tidak ada orang lain di sekitar mereka. Jose menatap pamannya dengan iba. Rambut cokelat Rolan kusut masai, matanya bengkak, dan pakaian yang dikenakannya kusut. Rolan kelihatan seperti habis begadang sebulan dan tidak sempat makan atau mandi.


"Istirahatlah Paman," kata Jose. "Paman membutuhkan itu. Jangan cemaskan aku."


"Jose, jangan keras kepala! Ini bukan urusanmu! Menjauh dari kasus ini!"


"Lalu, kenapa ini bisa jadi urusan Paman?" balas Jose dingin. Ia menyentakkan tangan Rolan yang mencekal pergelangan tangannya, lalu kembali berjalan ke istal.


Rolan menatap punggung Jose dengan kesal. Marco sudah mewanti-wantinya sebelum ini, meminta agar ia menjauhkan Jose dari Sir William. Rolan sendiri belum mengerti jelas duduk perkara kasus yang sedang mereka alami. Yang ia harap sekarang hanya semoga Marco cepat kembali.

__ADS_1


***


__ADS_2