BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 145


__ADS_3

Rolan memisahkan diri dari Jose di landasan utama dan berjalan turun kembali ke kamar pelayan. Ia sendiri juga perlu memastikan satu hal pada Nolan. George entah bagaimana caranya sudah sampai lebih cepat dari Rolan dan ia sedang menyampaikan pesan pada Gerald dan Hans. Kedua raksasa bercambang lebat itu mengangguk-angguk mengerti mendengar perintah yang diberikan pada mereka.


"Saya akan mengumpulkan orang. Hans akan tetap di sini bersama Dokter," kata Gerald sebelum pergi.


Rolan mengangguk. Ia lebih tenang kalau satu dari dua orang itu bersamanya. Siapa yang bisa menjamin hantu hitam tidak akan datang di siang hari?


Nolan tiduran di atas sofa, tetapi matanya membuka lebar, menatap ke langit-langit.


Melihat sikap itu, Rolan mendadak takut Nolan berubah jadi seperti Anna atau Linda. Ia sudah mencoba menceburkan kedua dayang tersebut ke bak mandi, mencari tahu apakah cara yang digunakannya pada Jose akan berhasil untuk orang lain, tetapi ternyata gagal. Kondisi kedua dayang itu masih sama, bahkan memburuk karena keduanya tidak makan.


"Nolan?" panggil Rolan pelan. Hans ikut menengok ke dalam begitu mendengar suara Rolan sedikit aneh.


Nolan menoleh, mengerjap satu kali, lalu membetulkan letak selimutnya lebih rapat.


Rolan mengembuskan napas lebih lega. Ia mendekat, memeriksa kembali perban yang membebat lengan gadis itu dan mengukur suhunya. Tubuh gadis itu agak panas. Ia tidak heran. Justru luar biasa kalau Nolan jalan-jalan di malam hari dalam keadaan terluka seperti ini dan tetap baik-baik saja.


Hans diundang untuk duduk di dalam karena Rolan masih selalu merasa waswas. Ia masih selalu dihantui bentuk bayangan peyot di dalam pondok Higgins, wajah itu masih membekas dalam ingatan, menerornya. Kalau bisa, ia lebih suka selalu berada di tengah banyak orang saat ini.


Hans masuk dengan patuh dan duduk di bangku tunggal tanpa sandaran yang terletak di samping sofa tempat Nolan tidur. Ia bisa mengawasi seluruh isi kamar dari tempatnya duduk.


"Aku ingin menanyakan sesuatu," mulai Rolan. "Kau bisa mengedip satu kali sebagai tanda iya, dan mengedip dua kali untuk menjawab tidak. Mengerti?"


Nolan mengerjap sekali.


Rolan senang karena gadis itu pintar dan gampang mengerti ketika diberi instruksi. Ia menarik bangku lain dan duduk di depan sofa, berhadapan dengan wajah Nolan. "Kau bilang, kau membuntuti tiga orang di hutan. Salah satunya adalah polisi yang memenjarakanmu: Robert Dawson. Benar?"


Satu kali kerjapan.


"Kau melihat tiga orang itu memanggil hantu hitam?"


Nolan berpikir sebentar, kemudian mengerjap dua kali.


"Lho, bukannya tadi begitu urutannya? Atau tiga orang itu jalan-jalan di hutan dan bertemu hantu hitam?"

__ADS_1


Nolan mengerjap lagi dua kali.


"Tiga orang itu membuat hantu hitam?"


Satu kerjapan.


Rolan membuka tas gendong hitam yang selalu dibawanya, mengeluarkan buku catatan bersampul samak kulit dari sana, lalu melirik Nolan. "Aku akan membacakan sesuatu. Kalau kau mengenalnya atau pernah mendengarnya, kerjapkan lagi matamu."


"Halizza," Rolan mengeja, menatap Nolan dengan cermat. Gadis itu mengangkat satu bahu, memberi tanda bahwa ia tidak mengerti.


"Soluzen?"


Nolan memejamkan mata, tetapi keningnya mengerut, seperti berusaha mengingat.


Rolan tersenyum tipis. "Atau mereka mengucapkannya seperti ini? Abdia, ballaton, bellony, halliy, halliza, soluzen!"


Nolan membuka kedua matanya lebar-lebar. Ia bahkan hampir meloncat bangkit andai saja tulang-tulangnya tidak nyeri tiap ia bergerak. Hans membuka tutup kepalan tangannya, merasa tak nyaman mendengar bahasa aneh yang diucapkan Rolan.


***


Ketika Jose meneleponnya untuk minta maaf, Maria sebenarnya tidak sedang tidur. Ia sedang bicara serius dengan Susan dan Edna di kamar, membahas fenomena berjalan dalam tidur yang terjadi semalam. Dale juga ada di situ, kepala pelayan itu yang mengangkat telepon. Ia kembali menghadap Maria begitu selesai menolak Jose. Mereka berempat ada di kamar Maria, di ruang duduknya.


Susan bersikeras berkata bahwa ia melihat bayangan hitam bersama dengan Maria di danau itu. Edna sempat panik mendengar itu dan hendak memanggil dokter, tetapi Maria menghentikan. Ia tahu yang dipikirkan Susan dan Edna, keduanya mencemaskan kehormatannya.


Maria yakin ia tidak apa-apa. Justru kalau dokter dipanggil datang untuk memastikan hal itu, maka gosip pasti akan langsung tersebar. Semua orang akan bertanya-tanya apa yang sudah dilakukan Maria Garnet sehingga perlu memanggil dokter untuk memeriksa keperawanannya.


Tidak penting dokter berkata bahwa ia masih perawan, fakta bahwa ia memanggil dokter untuk memeriksa hal itu saja akan membuat nama Maria jatuh begitu rendah. Ini hal yang serius. Akhirnya baik Susan, Edna, maupun Dale sepakat untuk merahasiakan kejadian semalam dari siapa pun. Maria bahkan meminta mereka bersumpah satu-satu dengan tangan di atas kitab suci.


"Apa Nona ingat sesuatu semalam?" tanya Dale prihatin. "Apa pun?"


Maria menyembunyikan kitab suci bersampul hias rendanya di balik bantal. Ia kembali duduk di sofa, dalam kamar yang jendelanya ditutup tirai tebal berlapis-lapis hingga matahari tidak bisa masuk. Penerangan dalam ruangan itu hanya berasal dari beberapa fairy lamp yang tersebar. Maria mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi semalam, tetapi tidak ada satu pun yang muncul. Ia bahkan tidak ingat apakah ia bermimpi atau tidak.


Ketukan pintu menyela mereka. Maria menggerakkan kepala, dan Susan membukanya. Seorang pelayan memanggil Dale dan Edna, membutuhkan petunjuk mereka untuk beberapa hal.

__ADS_1


"Pergilah," kata Maria. Ia baru sadar sudah menahan kepala pelayan dan kepala dayangnya terlalu lama di kamar. Mereka pasti punya pekerjaan lain yang menumpuk di rumah. "Aku akan bersama Susan seharian ini. Tolong batalkan kelas-kelas Madam Polignat, aku butuh waktu sendirian."


"Nona sudah tidak mengikuti pelajaran tiga kali," Edna mengingatkan.


"Dan aku membuatnya jadi empat kali sekarang." Maria tersenyum, lalu melambai meminta mereka segera pergi. Begitu pintu ditutup, ia kembali menoleh pada Susan, kali ini dengan ekspresi cemas. "Kau harus mengawasiku malam ini, Sue. Aku tidak mau ikut hilang! Aku tidak mau namaku dicetak dalam daftar nama orang hilang di koran picisan di Bjork!"


Susan mendekati Maria dan berlutut di depannya. Ia meraih kedua tangan halus gadis itu dan menggenggamnya erat. Maria tidak menangis, tetapi Susan tahu gadis itu sangat ketakutan. "Saya tidak akan tidur," janjinya.


Maria tersenyum tipis. Ia belum memberi tahu siapa pun, tetapi sejak beberapa hari yang lalu ia merasa tubuhnya berubah menjadi sesuatu yang berbeda, sesuatu yang asing baginya. Ia memaksakan diri untuk menelan beberapa suap bubur pagi ini, tetapi perutnya menolak. Makanan dan minuman terasa hambar. Ia bahkan tidak lagi bergairah melihat puding custard yang dulu disukainya.


Perubahan ini terjadi begitu perlahan, sehingga Maria awalnya tidak sadar. Ia pikir tubuhnya hanya terasa tidak enak karena ia mau datang bulan. Ia selalu mengalaminya dengan teratur, pada tanggal yang sama persis. Namun tanggal tersebut sudah lewat dan ia belum juga haid. Susan sudah memanggil dokter dua hari lalu, yang meyakinkan Maria bahwa masih normal untuk terlambat beberapa hari dan Maria hanya kecapekan.


Maria tidak merasa capek. Malahan, dari hari ke hari ia merasa sangat terjaga. Ia begitu awas akan banyak hal, terutama tubuhnya sendiri.


Ia bisa merasakan napasnya memanjang. Awalnya Maria berpikir semua orang bernapas terlalu cepat, tetapi tidak mungkin semua orang sekaligus bernapas dengan tempo cepat dan tetap kelihatan normal. Namun ia tidak terlalu memikirkannya. Baru sekarang Maria menyadari, bukan orang-orang yang bernapas terlalu cepat, ialah yang menarik napas lebih lambat dan lama.


Maria merasa ia tidak sendirian dalam tubuhnya. Sesuatu yang asing ada jauh di dalam sana, mendesaknya, seperti ingin menguasainya. Sesuatu itu masih terasa begitu kecil dan sepele, tetapi Maria tahu hanya masalah waktu sampai hal itu jadi kuat dan besar. Masalahnya, ia sendiri bahkan tidak tahu apa sesuatu itu dan kenapa ia bisa berpikir demikian.


"Nona? Apa yang Nona pikirkan?" tanya Susan, cemas melihat Maria diam mematung begitu lama.


Maria tidak mengedip. "Aku merasa tidak sendirian," akhirnya ia mengakui.


"Tentu saja Nona tidak sendiri. Nona punya banyak teman. Nona punya keluarga Nona. Saya dan semua pelayan Garnet juga ada untuk Nona."


Maria tersenyum tipis. "Aku tahu itu, Sue. Tapi maksudku dalam tubuhku," katanya. "Aku merasa seperti berada dalam rumah kecil, dan sesuatu mengerikiti rumah itu seperti tikus. Persis seperti tikus, ia sembunyi saat aku ada, dan aku tidak melihatnya dengan mataku sendiri—tapi aku tahu ia ada di sana, dan akan muncul begitu aku sedang tidak di rumah atau saat aku sedang tidur."


Maria menangkap mata Susan, menyadari bahwa dayangnya kebingungan. Namun Maria tidak berhenti. Ia merasa perlu mengatakan apa yang dipikirkannya. "Dan sejak tikus itu mengerikiti rumahku, aku merasa seperti berada di rumah orang lain. Rumah itu seperti bukan milikku lagi, ketika aku tidur di sana, seluruh dindingnya berteriak padaku."


Susan tidak bisa memahami apa yang dikatakan Maria, tetapi ia tetap mencoba mengikuti. "Berteriak bagaimana, Nona?"


Maria memejamkan mata lama, seperti mencoba mendengarkan dalam hati. Sebelah tangannya memijat pelipis dengan lembut. Ia membuka kelopak matanya perlahan dan menatap Susan. "Soluzen," bisiknya. "Hanya bagian itu yang terdengar jelas. Soluzen. Soluzen. Soluzen. Rasanya seperti dimantrai."


***

__ADS_1


__ADS_2