
“Ayah!” seru Jose lebih keras. Pintu itu harusnya tidak terlalu tebal. “Mana Gerald? Dobrak pintunya!” perintahnya pada Gerald.
“Gerald tetap di sini,” Marco berjalan ke telepon meja yang sengaja diletakkan di ujung koridor. Ada satu telepom diletakkan di koridor rumah sayap barat dan timur.
Jose terdiam. Rasa malu lagi-lagi menghantamnya. Kenapa ia bisa lupa pada teknologi bernama telepon?
“Halo? Kami sudah di depan kamar … oh, oke … buka pintunya dulu. Ya, ya, kita bicarakan itu nanti.” Marco menutup telepon dan kembali menghampiri pintu.
Ada suara geseran benda-benda berat. Suara itu terdengar samar.
Tidak lama kemudian pintu sudah terbuka lebih lebar. Jose bisa melihat kedua orang tuanya, Edgar dan Renata, dengan pakaian yang masih sama dengan saat terakhir mereka berpisah di ruang kerja Marco.
Renata memeluk Jose, dan Edgar menghampiri Marco. Mereka berdua saling bertukar tatapan dengan misterius.
“Kami mendengar suaramu, tapi Ibu takut itu bukan kau,” Renata berkata sambil menepuk-nepuk singkat bahu Jose.
“Apa yang terjadi? Penyusupnya sudah ketemu?” Edgar bertanya. “Kami baru saja selesai menaruh semua barang di depan pintu, lalu kalian datang.”
“Kita akan bercerita di dalam.” Marco menghela napas. Dia menoleh pada Gerald dan berkata, “Periksa rumah ini, semuanya. Periksa juga keadaan dua dayang itu. Aku mau tahu kabarnya. Minta George bawakan kami semua teh. Semua orang lelah.”
Gerald mengangguk mantap.
__ADS_1
Ia segera mengutus beberapa pekerja untuk meminta semua orang berbalik kembali ke rumah utama.
“Dan Nolan, dia harus dibebaskan!” Jose berkata cepat. “Orang tuanya pasti akan cemas kalau dia tidak segera pulang!”
“Orang tuanya tidak cemas ketika dia datang ke sini,” sahut Marco.
“Siapa Nolan?” Edgar menatap putranya dengan heran.
“Temanku. Paman menangkap dan memukulinya di gudang jerami,” Jose menjawab dengan nada riang yang menyindir.
“Marco?” Renata berpaling dengan dahi berkerut dalam.
Ini pertama kalinya Jose masuk ke kamar orang tuanya setelah bertahun-tahun.
Tidak banyak yang berubah sejak saat itu. Ranjang besar itu masih ada, muat untuk empat pria dewasa tidur berjejer. Lalu ada meja kerja tepat di samping rak buku mini yang berisi banyak koleksi buku-buku berat. Edgar duduk di sana. Renata di atas ranjang. Jose mengambil tempat di samping ibunya karena wanita itu minta ditemani. Sementara itu Marco ada di depan jendela yang menghadap ke halaman, memandang ke luar, ke arah para pekerjanya yang berjalan kembali ke rumah dengan gerakan cepat. Seperti semut yang kehujanan dan terbirit-birit kembali ke dalam sarang.
“Jadi ..." Edgar menggerakkan tangannya membuka, seperti siap menerima cerita apa pun. “Malam ini kelihatan ramai. Apa yang terjadi?”
Marco bercerita secara ringkas tentang apa yang sudah terjadi semalaman ini sesuai dengan yang dilaporkan oleh para pekerja padanya. Jose kelihatan tidak suka cerita yang terlalu ringkas. Pemuda itu menambahkan tentang perlakuan kasar pada kawannya serta soal penamparan pada anak perempuan itu.
Marco tidak menyalahkan para pekerja yang salah mengira jenis kelamin anak yang diikat di gudang jerami itu. Rambut Nolan memang dipotong pendek, hanya sedikit lebih panjang dari batas daun telinga. Tatapan matanya tajam dan mulutnya benar-benar lancang. Meski suaranya memang setinggi anak perempuan pada umumnya, Marco tidak akan pernah menduga bahwa Nolan adalah anak perempuan kalau saja tidak diberitahu oleh Jose duluan.
__ADS_1
“Marco? Kau menampar anak itu?” Renata menatapnya tajam setelah mendengar cerita Jose. Raut wajahnya jelas menunjukkan ketidaksetujuan.
“Mulutnya lancang. Dia memaki sepanjang waktu.” Marco tidak berbohong soal itu. Selama tindakannya masih bisa dijelaskan dengan keterangan yang masuk akal, ia tidak akan pernah mau mengaku salah. Ia memang tidak merasa bersalah sudah membuat anak kurang ajar itu dipukul.
“Bukan alasan untuk menamparnya berkali-kali,” Jose menyergah.
“Coba beri tahu kami.” Marco berjalan menjauh dari jendela. Ia mengayunkan langkahnya mendekat pada Jose yang sedang duduk di samping Renata. “Beri tahu, dari mana kau bisa mengenal anak tidak tahu adat sepertinya? Kapan kau berkenalan dengannya?”
Jose memalingkan wajah, menjatuhkan pandangan ke arah karpet. Sekali pandang saja Marco sudah tahu bahwa ponakannya menyembunyikan sesuatu yang tidak ringan. Maka ia melanjutkan dengan suara berat, “Mungkinkah, kau ke selatan Bjork untuk menemui berandalan itu?”
“Dia bukan berandalan,” sanggah Jose.
Edgar mendesah dari balik meja, sementara itu Renata mengusap-usap pergelangan tangannya seperti sedang pegal.
“Bukan ini yang mau kita bicarakan, bukan?” Jose berkata lagi sebelum Marco sempat membuka mulut. “Tidak peduli dari mana aku mengenalnya dan bagaimana cara kami berkenalan, kita sedang membahas soal penyusup itu! Kenapa tidak memeriksa sayap barat rumah? Kenapa malah ke timur?” Dia menatap pada ayahnya, kemudian berpindah pada wajah sendu ibunya. “Kenapa kalian mengunci pintu dengan itu?” Jose menggerakkan sebelah tangan untuk menunjuk bufet serta nakas yang tadinya digunakan untuk menyegel pintu. “Dan para dayang di depan pintu bahkan sampai pingsan! Aku tadi sempat mengira Linda sudah mati!”
“Siapa yang mati?” Renata membelalakkan mata.
“Siapa yang mati, Kak?” Kali ini Edgar yang bertanya karena tidak ada jawaban baik dari Jose maupun kakaknya.
“Coba tanya pada Jose, siapa yang mati?” balas Marco dingin.
__ADS_1