
Nolan masih tercenung di depan pintu menara. Ia tidak tahu sudah berapa lama waktu berlalu. Rasa sakit di lengannya membantu Nolan sadar dari lamunan. Ia beringsut lebih dekat pada pintu, lalu menempelkan telinganya di sana. Logam itu sedingin es, membuatnya bergidik.
"Marco?" bisiknya pelan, berharap ia bisa mendengar suara pria itu membentaknya dari dalam, menyuruhnya untuk bersikap sopan dan memanggilnya Tuan.
Namun tidak ada suara. Ia hanya mendengar bunyi degup jantungnya sendiri. Nolan menunduk, merapatkan mantel yang ia kenakan. Ia tidak tahu ke mana harus melangkah. Ia takut akan ditemukan orang-orang jahat itu atau malah ditemukan oleh hantu hitam. Ia takut tersesat dalam kabut dan tak bisa pulang.
Nolan membalik tubuhnya pelan-pelan dan duduk bersandar pada pintu menara tersebut, membiarkan rasa dingin baja besinya merambat dari punggung ke seluruh tubuh. Ia menatap hamparan langit yang membentang luas di atasnya. Menara ini begitu tinggi. Langit begitu luas. Pohon-pohon begitu rapat dan dingin. Marco begitu berani. Nolan merasa sangat kecil di antara mereka semua. Ia merasa tak berdaya. Kenapa Marco melemparkannya ke luar alih-alih lari sendiri?
Ia menyadari bahwa memang seperti itulah seorang Argent. Seperti itulah orang-orang Utara. Ia ingat bagaimana keteguhan hati dan konsistensi Jose dalam penyelidikannya mengenai hantu hitam itu. Ia ingat bagaimana para pekerja di rumah Argent begitu loyal pada perintah tuan mereka. Ia ingat bagaimana Maria menatapnya langsung di mata ketika mengkritiknya saat di toko baju.
Mereka semua hidup dengan menjunjung tinggi prinsip hidup mereka dengan penuh kebanggaan, dengan penuh integritas.
"Kau bilang tidak akan meninggalkanku sendiri," gumam Nolan dengan suara sember. "Kau Marco Argent, harusnya kau tidak ingkar janji."
Nolan menarik napas dalam-dalam, lalu menepuk-nepuk kedua pipinya sendiri untuk meneguhkan hati. "Aku Nolan da South, aku tidak cengeng!" Ia bangkit perlahan, merayap ke semak-semak, dan mulai menyeret langkah. Ia akan mencari sungai. Sungai di Bjork adalah sungai sakral. Ia akan merasa lebih aman di sana. Kalau ia menyusuri sungai, ia pasti akan sampai ke suatu tempat—entah sampai ke laut, atau ke kampungnya. Nolan menoleh sekali lagi ke arah menara, kemudian berpaling kembali ke depan. "Aku Nolan da South, aku tidak takut," bisiknya gemetar, mengulang-ngulang kalimat tersebut untuk menguatkan diri.
***
Maria masih marah, tapi sebenarnya ia bingung apa yang membuat Jose sekasar itu tadi. Ia mengenali Jose sebagai lelaki yang rasional.
Jose memaksa menemaninya masuk sampai ke dalam rumah, lalu sampai perlu mewanti-wanti Susan serta kedua orang tua Maria agar tidak membiarkan gadis itu sendirian.
Jose bahkan sampai perlu digeret pulang oleh Rolan supaya berhenti mengoceh soal jendela dan pintu yang harus ditutup rapat-rapat.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Nyonya Garnet heran. "Kalian terlibat masalah?"
Maria menggeleng. "Jose agak mabuk," katanya.
Tuan Garnet mengerutkan kening. Di matanya, Jose tidak kelihatan seperti orang mabuk. Pemuda itu kelihatan tegang dan cemas, bukan mabuk. Dan karena peringatan soal pintu dan jendela itu datang dari seorang Argent yang dikenal mengurusi hal-hal aneh di Bjork, Tuan Garnet memutuskan untuk mematuhinya. Keamanan di manor itu diperketat, dan Susan diminta tidur menjaga di kamar Maria.
__ADS_1
Tentu saja Maria bersungut-sungut mendengarnya, tetapi ia tidak melawan. Maria ingin cepat-cepat mandi air hangat lalu tidur.
Sejak tadi ia merasa tak karuan. Ia seolah masih bisa merasakan bagaimana tubuh Jose yang hangat menekan tubuhnya, dengan jantung mereka berdegup kencang bersama. Ia menyalahkan Jose karena membuatnya terus-terusan memikirkan hal memalukan seperti itu.
"Kau boleh tidur, Sue," kata Maria seusai rambutnya disisir dan dirapikan. Ia membaringkan tubuh di ranjang dan bergulung dalam selimut. "Kembali saja ke kamarmu, tidak masalah. Besok kalau ditanya, aku akan bilang kau tidur di sini."
Susan menggeleng tegas. "Saya diperintah untuk menjaga Nona malam ini. Jadi saya akan tetap di sini. Lagi pula saya rasa Nona memang perlu ditemani. Sejak tadi Nona kelihatan gelisah." Ia duduk di kursi baca di samping tempat tidur Maria. "Ada hubungannya dengan pesta malam ini? Dengan Tuan Jose Argent?"
Maria menggigit bibir. Pipinya mendadak panas mengingat rasa panas pelukan itu tadi. "Tidak ada hubungannya dengan dia!" bentaknya ketus. "Aku tidak memikirkan dia, kok!"
"Saya tidak bilang bahwa Nona memikirkannya, kan?" Susan tertawa geli, malah bisa menebak bahwa ini memang ada hubungannya dengan Jose. "Baiklah, Nona. Saya tidak akan bertanya lagi. Tidurlah saja."
"Aku masih beranggapan ini berlebihan," gerutu Maria. "Ayah dan Ibu keterlaluan. Aku bukan anak kecil. Kau bisa tidur di kamarmu."
"Bjork dalam keadaan mencekam, Nona. Banyak orang hilang. Melihat Tuan Jose begitu cemas seperti tadi, tentu saja Tuan Besar berpikir peringatannya penting. Dan mungkin memang penting."
Susan hanya tersenyum geli melihatnya. Ia cukup lega melihat Maria sehat malam ini.
Mungkin soal muntah tadi siang memang bukan hal penting, mungkin Nona hanya masuk angin.
Susan menguap. Ia merasa matanya makin berat dan makin berat.
***
Susan membuka kelopak matanya lebar-lebar, mendadak terjaga. Ia mengerjap-ngerjapkan mata dengan menyesal, tidak menyadari sejak kapan dirinya tertidur. Harusnya ia berjaga. Rasa takut yang hebat menabraknya. Susan baru menyadari betapa kosongnya kamar itu. Maria tidak ada di tempat tidur.
Ia bangkit berdiri untuk memeriksa kamar mandi pribadi di kamar majikannya, tetapi Maria tidak ada di sana juga. Pintu kamar terbuka lebar. Seluruh tubuh Susan terasa panas dingin. Lututnya bahkan melemas. Ia berjalan keluar kamar untuk memeriksa dapur, berpikir jangan-jangan tuannya itu haus dan tidak mau membangunkannya untuk mengambil minum. Namun Maria tidak ada di sana.
Maria tidak ada di ruang baca. Tidak ada di ruang tamu. Tidak ada. Ketika memeriksa pintu depan, Susan merasa jantungnya hampir berhenti. Pintunya tidak terkunci.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, Susan bergegas lari menuju ke kamar Housekeeper.
Sekarang pukul satu dini hari, tetapi wanita itu harusnya masih bangun. Edna biasanya masih memeriksa pembukuan di ruang Housekeeper. Ia masuk tanpa mengetuk pintu, hanya untuk menemukan Edna tertidur di atas meja—masih mengenakan kaca mata bacanya.
Rasa tak nyaman mengusik Susan. Ia menggoyang-goyang tubuh wanita empat puluh tahun tersebut, memaksanya sadar. Edna berhasil dibangunkan, tetapi mata wanita itu masih menutup setengah.
"Susan?"
"Tolong saya," bisik Susan kalut. "Nona tidak ada di kamar! Nona menghilang! Apa yang harus kita lakukan?"
Kedua bola mata mata Edna terbuka setengahnya. Wanita itu menegakkan tubuh. Matanya menatap tajam, memicing. "Kau tidak sedang bercanda, kan?"
"Apa saya kelihatan sedang bercanda?" balas Susan tak percaya. "Saya sudah mencari ke seluruh rumah, tapi Nona tidak ada! Nyonya, apa yang harus saya lakukan? Kita bangunkan Tuan dan Nyonya Besar?"
Edna menimbang sebentar, kemudian menggeleng. "Kesehatan Nyonya memburuk akhir-akhir ini. Kita coba cari sendiri dulu. Kalau kita bisa menemukan Nona tanpa membuat keributan, itu lebih baik."
Susan mengangguk. "Kita perlu bangunkan butler?"
"Tentu saja. Kita butuh bantuan Tuan Dale."
Keduanya bergegas menuju kamar kepala pelayan, pria itu muncul setelah pintu kamarnya diketuk untuk kesekian kalinya. Dale menatap mereka berdua dengan waswas dari ambang pintu. Pria itu masih mengenakan piyama. "Ada masalah, Nyonya Edna? Susan?"
"Masalah besar," sahut Susan cepat, kemudian menjelaskan duduk perkara secara singkat. Dale mengerti. Tanpa banyak bicara, pria itu meraih mantel bepergiannya dan memimpin jalan ke luar rumah.
Mantel dan sepatu Maria masih di tempatnya, juga topinya. Kesimpulan yang bisa diambil adalah Maria berjalan-jalan keluar rumah di malam hari tanpa memakai alas kaki, hanya mengenakan baju tidur.
Dan itu jelas gawat.
***
__ADS_1