
Jose berjalan melewati Tin Lizzie yang roda belakangnya masih berputar di udara. Ia tidak perlu memejamkan mata sekarang.
Apakah ini yang diinginkan Sekte Scholomance? Jose mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ia bisa melihat segalanya dengan jelas meski dalam gelap.
Seluruh kesadarannya sudah menyatu dengan Bjork. Ia menjadi transenden. Segala hal bisa dilihatnya sekaligus tanpa perlu pergi ke mana pun. Ia melihat ayahnya dan Lord Greyland di tengah Bjork, ia melihat Inspektur Robert. Orang-orang Bjork—baik Utara maupun Selatan, mulai keluar dari rumah-rumah mereka dan membantu melawan shelédbolis. Hans berlari ke karavan masih sambil menggendong Maria, gadis itu hanya pingsan. Ia melihat Nolan yang menangis sambil terus mengayunkan tongkat besinya, menyeberangi lapangan rumput ke arah sungai. Lady Chantall ada di dalam Tin Lizzie, terjepit di antara kemudi dan kursi mobil, patah tulang dan pingsan. Ada garis-garis lembut berkilau menyelimuti seluruh dunia seperti jaring laba-laba, seperti serat bumi.
Apakah ini yang akan rusak saat ada yang melakukan intervensi? Jose berjalan melewati beberapa benang yang terurai putus. Benang takdir.
Kemudian ia melihat Sir William.
Pria itu masih di tengah sungai, terbenam sampai dada, kebingungan karena tidak bisa bergerak.
Dia tidak bisa melihatnya? Jose melirik lelah. Padahal di matanya tampak begitu jelas. Semua orang itu, semua korban manusia dari awal ritual, semua tangan-tangan putih kosmis mereka memegangi Sir William, menahannya tetap di tempat. Bahkan Gladys, dengan tubuh rusak dan rahang lepas, tetap menempel keras kepala pada punggung Sir William.
Gadis malang, Jose menyesal ia tidak benar-benar memahami apa mau Gladys sebelumnya. Run mendompaknya hingga jatuh dari tebing dan gadis itu pasti merambat menaiki jurang untuk kembali ke sini.
"Tipuan apa ini Argent?!" Sir William berteriak keras dari tempatnya mematung.
Jose ikut menceburkan diri. Bagian yang dekat jembatan penyeberangan cukup dangkal. Tingginya hanya sedada. Arusnya cukup kuat di bawah, tapi Jose merasa itu bukan masalah. Sekarang, semua hal bukan masalah. Ia membuka pintu mobil tanpa kesulitan berarti. Bagian tengah Tin Lizzie tersangkut di bahu sungai, tapi moncongnya terbenam, membuat kompartemen depan dibanjiri air. Tubuh Lady Chantall tersungkur di atas kemudi. Kening wanita itu berdarah. Jose mengambil tubuh wanita itu dengan hati-hati dan meletakkannya di permukaan kering di bahu sungai. Ia menyentuh luka-luka Lady Chantall sambil berdoa sepenuh hati.
Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, Jose berpaling kembali pada Sir William yang masih berteriak dengan kepala makin terbenam. Jiwa-jiwa yang mengelilingi pria itu sebagian marah dan terus mendesaknya turun agar tenggelam.
"Lepaskan aku! Aku akan pergi dari sini!" Sir William berseru, terbatuk ketika air sungai masuk ke mulutnya. Ia berusaha berontak, tapi percuma. Semua orang memeganginya. Sungai dan Gunung Bjork menahannya. "Argent, lepaskan aku! Aku sudah tidak punya apa-apa!" jeritnya. "Aku tidak punya apa pun lagi!"
Bahkan kau pun takut mati rupanya. Jose berenang mendekat tanpa suara. Telinganya dipenuhi bunyi arus air. Ketika ia sampai di depan Sir William, sungai mendadak tenang. Arusnya menghilang. Mereka seperti berada di tengah danau.
Bisa menangkap bahwa ini bukan hal baik, Sir William makin panik. Ia mengangkat wajah ke atas, ke arah awan gelap yang berpusar samar di atas Bjork, lalu berteriak memanggil-manggil bantuan.
"Tidak akan ada bantuan," sela Jose kalem. Ia menyentuh kening pria itu. Air menetes-netes dari lengan kemejanya yang basah kuyup. "Sejak awal, dia tidak pernah membantumu."
Sir William menggertakkan gigi, balas menatap dengan penuh kebencian. "Aku mengutukmu, Argent!" desisnya gemetar, entah karena marah atau takut. "Aku mengutukmu dan seluruh keturunanmu!"
Jose tidak berkomentar. Ia mendorong kepala Sir William masuk ke dalam sungai dan menenggelamkannya.
CRUX SACRA SIT MIHI LUX
Ketika Jose mulai berdoa, suaranya menggema di seluruh Bjork dalam gema bisikan, seakan seluruh kota ikut berdoa bersamanya. Angin muncul dalam bunyi kemerosak ribut membelah hutan Bjork di Selatan, bertiup kencang ke seluruh kota, membawa serta bunyi tiap patah doa yang didaraskan sampai ke ujung-ujung jalan.
NON DRACO SIT MIHI DUX
VADE RETRO SATANA, VADE RETRO SHAKRAN
NUMQUAM SUADE MIHI VANA
SUNT MALA QUAE LIBAS
IPSE VENENA BIBAS
Sir William masih berontak dalam air. Gelembung-gelembung udara keluar dari mulut dan hidungnya, juga telinganya. Jose mengangkat pandangan menatap jiwa-jiwa transparan di depannya yang dirusak oleh dendam. Mereka semua marah. Mereka semua tidak ingin melepaskan Sir William begitu saja—hal yang ironisnya malah menjadi kekuatan Shakranim dan William.
Jose memejamkan mata dan berbisik dalam permohonan yang rendah hati, meminta pengampunan dan belas kasih bagi semua jiwa tersebut.
Seluruh anak sungai berkeredep dalam warna putih keunguan dari hulu sampai hilir, berkilau dalam terang transparan. Terang yang sama menyelimuti seluruh Bjork. Malam mendadak berubah jadi siang. Doa-doa setiap orang muncul dalam bentuk sinar orbs lembut, menguap dari tiap rumah menembus genting-genting dan dinding, membubung naik hingga melesap masuk ke dalam awan gelap yang memayungi Bjork, kemudian melenyapkannya.
Perlahan tapi pasti, semua shelédbolis ikut menghilang menjadi debu pasir. Pekik dan kikik mereka redup dari seluruh penjuru Bjork, hanya meninggalkan kerusakan-kerusakan dan noda hitam di dinding dan jalanan kota.
Jose membuka mata, bertatapan langsung dengan iris biru Sir William yang menyorot frustrasi dari dalam sungai. Jose menahan kedua bahu pria itu agar tetap di dalam air, kemudian ikut menenggelamkan kepalanya masuk, memeluk tubuh itu erat-erat. Air sungai terasa sedingin es, menggigit sampai ke sumsum tulang.
Aku memaafkanmu, bisiknya dalam hati. Bintik-bintik gelembung udara berkerumun di sekitarnya. Kami memaafkanmu, William Bannet.
Tuhan, terimalah orang ini ke dalam cahaya wajah-Mu.
***
William masih berusaha berontak. Ia bisa mencurangi iblis. Ia diizinkan mencurangi kematian. Harusnya ia bisa selamat kali ini. Harusnya. Namun kaki dan tangannya tak bisa digerakkan dan ia terlalu banyak menelan air sungai yang menjijikan.
__ADS_1
Air sungai yang menjijikan.
William tertegun menyadari ia bisa mencecap rasa air sungai ini. Bukankah seluruh inderaku sudah mati rasa sejak dulu?
Begitu keluar dari Scholomance, ia adalah Solomonari. Ia bukan lagi manusia. Makanan terasa hambar seperti pasir dan air bagaikan minyak. Meski tidak makan ataupun minum, ia bisa tetap hidup. Ia pernah ditabrak, dipanah, terguling jatuh dari jurang, tapi beberapa saat kemudian lukanya lenyap tanpa bekas. Beberapa puluh tahun pertama, itu terasa menarik. Namun setelah dua ratus tahun berlalu, rasanya seperti menjalani hukuman abadi. Ia tidak bisa mati. Ia tidak bisa makan. Ia tidak bisa merasakan kehangatan tubuh orang lain.
Yang lebih menyedihkan, tidak ada orang untuk berbagi cerita dengannya. Setiap kali ia siap untuk membuka diri, manusia tersebut keburu mati. Manusia begitu lemah, begitu pendek umur. Sakit sedikit sudah cukup untuk membuat mereka masuk ke peti mati. William menutup diri hingga sempat lupa bagaimana caranya bicara dengan orang lain sampai ia bertemu Duke Ashington.
Setelah mengkhianatinya, Frederick Ashington memilih hidup di Aston alih-alih berlindung di Bjork, William sebenarnya tahu apa alasan sang duke. Ketika seseorang menjadi abadi, malam-malam yang dihabiskan sendirian jadi terasa sangat panjang. Kesendirian akan membuat mereka jadi gila. Hiruk-pikuk Aston membuat Duke Ashington sedikit terhibur, membuatnya merasa jadi manusia kembali.
Tapi yang bisa menghibur William hanya satu. Hanya Arabella.
Hanya gadis itu yang tak takut padanya, bahkan ketika tahu bahwa ia diikuti oleh iblis. William memanggil iblis Shakranim ketika berusaha mengajaknya bicara. Ia sudah melakukannya di tempat tersembunyi, tapi Arabella melihatnya. Gadis itu tidak kebetulan melihatnya. Arabella memang selalu mengikutinya selama ia menjadi tamu Duke Ashington. Gadis itu menyebutnya "Pria Penuh Keajaiban" karena selalu menceritakan hal-hal menarik dan membawakan benda-benda antik.
Alih-alih menjerit ketakutan atau berlari pergi, gadis itu malah menghampirinya. William masih ingat jelas bagaimana ia langsung memutuskan dalam hati untuk pergi sebelum diusir. Namun Arabella tidak mengusirnya, malah sibuk menanyainya soal dari mana iblis itu datang.
"Kau tidak takut?" tukas William yang risih diberondong banyak pertanyaan.
"Aku sakit," kata Arabella waktu itu. Pipinya yang pucat sedikit merona saat William dengan santai duduk di sisinya. "Kata dokter, waktu hidupku cuma sebentar lagi. Tapi kematian terasa menarik buatku. Aku penasaran apakah ada kehidupan lain setelah kematian. Lalu kau muncul dan membuktikan padaku bahwa memang ada." Gadis itu tertawa manis dari balik kipasnya. "Bersamamu memang tidak pernah membosankan. Kau selalu memperlihatkan hal baru yang menarik." Arabella meneruskan dengan bisikan lembut yang agak malu-malu, "Terima kasih sudah datang ke sini."
Terima kasih. Kata sederhana itu melekat di benak William selama beberapa hari. Ia jadi lebih sering memperhatikan Arabella, mengamati kegemarannya berpesta dan berteman dengan orang sebanyak mungkin, suara nyanyiannya yang manis, serta caranya bicara dengan ceria meski kematian berada dekat dengannya. Gadis itu demikian kontras dengannya, membuat William merasa seperti ditentang terang-terangan.
William sering berpindah-pindah tempat untuk menghindari kecurigaan manusia, tapi saat itu ia berhenti sejenak. Cara hidup Arabella yang dinamis membuatnya ingin menetap, ingin terus melihat bagaimana gadis itu menjalani tiap harinya.
Arabella merasakan hal yang sama dan mereka menjalin kasih sembunyi-sembunyi. William tidak bisa merasakan apa pun, jadi Arabella selalu sibuk mendeskripsikan rasa makanan dan minuman, juga bagaimana rasanya ketika mereka berciuman.
Itu adalah hari-harinya yang bahagia. Hari-hari yang singkat, yang menyelamatkannya dari kemuraman dunia.
Ketika Arabella tiada, William berlari ke kesunyian untuk memanggil gurunya.
Arabella bisa kembali.
Gadis itu bisa kembali asal ia bisa membuka tujuh gerbang dosa secara berurutan setiap tujuh tahun tanpa terputus.
Lust.
Greed.
Sloth.
Wrath.
Envy.
Pride.
Hanya tinggal satu. Tinggal satu lagi dan ia bisa bertemu Arabella. Ia bisa mengabulkan keinginan gadis itu untuk melihat kehidupan setelah kematian. Ia bisa memberikannya kehidupan kembali setelah kematian.
Hanya tinggal sedikit lagi dan ia bisa mendengar suara tawa gadis itu. Lalu mungkin ... mungkin terima kasihnya sekali lagi.
Tapi itu sudah tidak mungkin. Ia kalah.
William mengerutkan kening dalam gelenyar air sungai. Ia bisa merasakan energi hidupnya terserap habis. Pandangannya menggelap. Samar-samar ia seperti mendengar suara Arabella memanggilnya, memarahinya dengan nada main-main.
"Aku sudah lama menunggumu, Billy!"
Tidak hanya Arabella, bahkan Frederick Ashington dan kesembilan kawan lamanya juga menunggu di sana. Jauh di ujung lorong yang panjang.
Apa aku akan sampai ke sana?
William memutuskan mencoba. Kali ini tanpa kecurangan, tanpa bantuan iblis.
***
Mereka berdua tenggelam makin dalam ke dasar sungai yang seolah tak ada ujungnya, masuk makin dalam ditarik oleh tangan-tangan putih transparan yang lembut. Sir William menyusut dalam pelukan Jose, kemudian perlahan berubah kisut dan lebur menjadi pasir basah. Jose hanya memeluk mantel Marco. Tangannya menangkap kalung Salomo yang melayang gemerlap dalam sungai.
__ADS_1
Di sekitarnya, tangan-tangan dan wajah-wajah asing muncul menerpa seperti gulungan ombak. Setiap ada yang menembus kepalanya, Jose mendengar suara berbisik lembut di telinga.
Terima kasih.
Terima kasih.
Terima kasih.
Suara-suara itu bersahut-sahutan seakan diucapkan ratusan orang sekaligus di tengah bunyi arus dan gelembung udara dalam air. Jose mendengar suara Gladys di tengah ribut gema suara tersebut.
Ini belum selesai, pikirnya sambil menggenggam erat talisman di tangan. Ia mengatupkan kelopak matanya dan melemaskan tubuh untuk melepaskan kesadaran, membiarkan dirinya diseret makin jauh ke dasar kegelapan.
Banyak kitab menceritakan kisah manusia yang bisa melakukan penawaran dengan Tuhan. Yang terkenal yang Jose tahu adalah Abraham. Dalam Kitab Kejadian diceritakan bahwa Abraham melakukan tawar-menawar untuk menyelamatkan saudaranya, Lot, dari Sodom dan Gomora yang hendak dihancurkan oleh Tuhan. Ketika Tuhan menceritakan rencananya untuk memusnahkan dua kota tersebut, Abraham memberanikan diri bertanya apakah kota tersebut tetap akan dihancurkan jika ada lima puluh orang benar di dalamnya. Tuhan berkata bahwa Ia akan mengampuni kota itu jika ada lima puluh orang benar di sana. Abraham kemudian terus bertanya sambil mengecilkan jumlah orang benar dari lima puluh, empat puluh lima, dua puluh, hingga sepuluh orang benar. Menepati janji yang dibuat-Nya, Tuhan tidak akan memusnahkan kota Sodom dan Gomora jika ada sepuluh orang benar di kota itu. Jadi Tuhan mengutus malaikat untuk membawa Lot dan keluarganya keluar dari Sodom supaya kedua kota itu bisa dimusnahkan. Tawar-menawar Abraham berhasil menyelamatkan Lot.
Kemudian dalam kitab Matius seorang wanita Kanaan bersikeras meminta bantuan Yesus untuk mengusir iblis yang merasuki putrinya. Ketika desakannya ditolak dengan alasan bahwa tidak patut memberikan roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparnya pada anjing, wanita itu berkelit dan berkata bahwa anjing pun makan dari remah yang jatuh dari meja tuannya. Imannya menyelamatkan dia, putrinya selamat.
Negosiasi dengan Tuhan sudah dilakukan sejak dulu oleh manusia, baik oleh nabi maupun bukan nabi, oleh orang suci maupun berdosa.
Jose bertekad melakukan hal yang sama.
Ia akan melakukan negosiasi.
***
Catatan:
¬Transenden: di luar jangkauan manusia/di luar logika manusia.
¬Vade Retro Satana (Enyahlah Kau Setan) yang digunakan Lady Chantall (bab 154) dan Jose adalah rumus doa Katolik abad pertengahan untuk eksarsisme. Rumus ini tercatat dalam sebuah manuskrip tahun 1415 yang ditemukan di Keabbasan Metten Benediktin di Bayern.
CRUX SACRA SIT MIHI LUX
NON DRACO SIT MIHI DUX
VADE RETRO SATANA
NUMQUAM SUADE MIHI VANA
SUNT MALA QUAE LIBAS
IPSE VENENA BIBAS
Yang kira-kira dapat diterjemahkan menjadi:
Biarlah Salib Kudus menerangiku
Janganlah iblis (tertulis sebagai 'naga') menguasaiku.
Enyahlah kau Setan
Jangan mencobaiku dengan hal yang jahat
Apa yang kau tawarkan itu adalah jahat.
Minumlah sendiri racun-racunmu.
¬ Tawar menawar Abraham yang dimaksud Jose ada dalam Kitab Kejadian 18:16-33
__ADS_1
¬Perempuan Kanaan yang dimaksud ada dalam Kitab Matius 15:22-28
Sebenernya pengin pake contoh tawar-menawar dari kitab agama lain biar variatif, tapi takutnya ntar menyinggung, jadi yang aku tulis cuma yang dari kitab di rumahku aja 😂