BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 153


__ADS_3

Renata duduk di kursi di kamarnya, siku bersandar pada meja, kepala ditopangkan pada tangan. Ia sedang bergumul dengan perasaannya sendiri.


Ia sudah pernah melewati banyak situasi sulit ketika menjadi pengantin Keluarga Argent maupun ketika sudah menjadi nyonya di rumah ini. Tidak jarang ia melihat darah ditumpahkan di depan matanya.


Marco mengurus bagian bawah Bjork dan Edgar bagian atas Bjork, pembagian mereka sepeeti itu. Namun bukan berarti urusan keduanya benar-benar terpisah. Renata beberapa kali mendapati Edgar pulang dengan wajah makin suram dan mata begitu kosong, seolah baru saja kembali dari neraka. Dan memang mungkin itulah yang terjadi.


Merampas nyawa orang lain dengan tangan sendiri adalah beban yang berat. Sangat berat sehingga setelah melakukannya, orang itu tidak akan mungkin kembali menjadi dirinya yang dulu. Ketika seorang manusia membunuh manusia lain, ia juga membunuh salah satu bagian dari dirinya. Nuraninya.


Renata menggigit bibir, tidak ingin memikirkan akan jadi seperti apa Jose nantinya saat pulang. Namun ia sadar ia tidak boleh seperti ini. Ia tidak mungkin mengurung semua anak-anaknya dalam sarang yang hangat. Terlebih, mereka adalah anggota Keluarga Argent. Sarang yang hangat justru akan membunuh mereka.


Pintu diketuk dari luar. Renata menoleh kaget. Ia buru-buru mengusap kelopak matanya untuk memastikan tidak ada basah air mata di sana, menghaluskan rambut dan pakaian, kemudian kembali pada posenya semula. Kali ini dengan wajah lebih tenang dan percaya diri. "Masuk," katanya.


Jose masuk duluan diikuti Rolan.


Renata mengulurkan tangan, membiarkan Jose mengecup cincin keluarga yang terpasang di sana dan punggung tangannya untuk berpamitan.


"Aku sudah menghubungi Clearwater," lapor Jose. "Dia akan datang membantu. Ibu bisa tenang."


Renata mengangguk. Clearwater tidak hanya dikenal karena perangainya yang dingin dan tak banyak bicara, tetapi juga karena pria itu memiliki orang-orang bayaran yang mengerikan kuatnya.


"Kapan Jake akan kembali? Aku tidak tenang meninggalkan Ibu sendiri di sini."


Renata tertawa kecil. Ia bangkit dari kursinya dan mengusap kedua bahu Jose. "Ibu bisa menjaga diri sendiri. George ada di sini. Jake bilang dia akan pulang saat makan malam, itu berarti sebentar lagi." Ia menoleh pada Rolan dengan tatapan memperingatkan.


Jangan lepaskan matamu dari Jose, permintaan itu terucap tanpa kata.

__ADS_1


Rolan mengangguk pelan, mengerti.


Renata menarik napas panjang, mencoba untuk tidak rewel. Mana boleh ia memperlihatkan kelemahan ketika putranya sama sekali tidak melemah?


"Apa pun yang terjadi," katanya pelan, "yang penting adalah kau. Segala hal bisa dibangun lagi asal kau pulang dengan selamat. Bahkan meski hanya kau yang pulang. Mengerti?"


Jose tersenyum tipis, mengerti maksud ibunya. "Aku tidak akan meninggalkan seorang pun di sana," tolaknya. "Dan aku akan kembali membawa Paman Marco."


Dia sudah bukan anak empat tahun yang berlarian mengejarku, Renata mengingatkan dirinya sendiri dengan sedih. "Semoga jalanmu diperluas."


"Semoga Ibu dan rumah ini diberkati," sahut Jose sebagai balasan, lalu mengecup pipi Renata dan berbalik pergi.


Rolan mengikuti Jose setelah sebelumnya memberi anggukan singkat yang bermakna aku akan menjaganya.


Ketika pintu kamar menutup, Renata menghenyakkan tubuhnya kembali ke kursi. Ia masih belum mengerti benar apa yang terjadi serta apa yang sebenarnya mereka hadapi, tetapi jika para pekerja disiapkan dan Clearwater dipanggil sebagai pengganti Greyland, maka hanya akan ada satu kesimpulan: akan ada yang mati.


***


Jose berhenti panda landasan tangga pertama di lantai satu, memandangi lima puluh orang pekerja yang sudah berhenti bicara dan kini menatapnya. Lima puluh. Hanya lima puluh orang. Tapi Jose merasa ini sudah cukup. Membawa lebih banyak orang lagi malah akan memperlambat gerakan mereka. Lagi pula puri itu hanya berisi orang-orang sipil yang tidak penting. Ikan-ikan kakapnya tidak sedang berada di sana.


"Kita akan menjemput Paman Marco," seru Jose lantang, yang disambut dengan seruan penuh semangat dan suara logam berdentang. Mereka semua dilengkapi dengan senjata pedang dan kapak. Jose mengangkat sebelah tangan, mendiamkan mereka. Jantungnya berdegup lebih kencang. Darahnya berdesir.


Satu kesalahan, pikirnya. Satu saja kesalahan, maka orang-orang ini bisa saja berpaling dariku.


Jose tidak memperlihatkan emosinya. Ia menurunkan tangan, menatap mereka satu per satu. "Kalian tahu bagaimana Higgins meninggal di pondoknya. Kalian masih ingat malam di mana kita berpencar di luar, mencari penyusup yang mondar-mandir antara luar rumah dan di bagian dalam rumah; penyusup yang membuat Linda dan Anna masih trauma hingga saat ini. Kalian mungkin sudah tahu tapi belum mendapat kejelasan, karena itu aku akan jujur pada kalian malam ini: yang akan kita hadapi nanti kemungkinan ada yang bukan manusia."

__ADS_1


Suasana sunyi. Beberapa orang saling berpandangan, sebagian besar masih menunggu apa yang ingin diucapkan tuan mereka. Jantung mereka berdegup penuh semangat dan darah mereka menggelegak dalam tubuh, sudah gatal untuk bergerak—tak peduli apa pun bentuk lawan mereka.


"Gerald dan Hans akan membagikan perkamen pelindung mereka yang sudah teruji, jadi kalian tidak akan sampai terluka," Jose meneruskan. "Satu hal yang ingin aku tekankan adalah: jangan membunuh satu manusia pun, kecuali terpaksa. Kalian bukan Viking, bukan pembunuh bayaran, apalagi bajingan rendahan." Ia berhenti untuk menatap wajah-wajah pekerjanya satu demi satu, kemudian melanjutkan dengan penuh penekanan, "Tiap-tiap dari kalian adalah pekerja Argent yang terpilih, anggota Keluarga Argent yang dibanggakan! Dan hanya dengan etika Argent lah kalian harus bergerak. Tujuan kita satu: menjemput Marquis Argent! Jangan izinkan siapa pun menghalangi kita."


Senjata diangkat ke atas, saling berdentang di udara, disambut suara seru-seruan ribut penuh semangat. Ruangan disesaki semangat yang membubung tinggi sampai ke langit-langit, menggema sampai ke luar manor.


"Lumayan," bisik Rolan di samping Jose, memandangi orang-orang di lantai satu yang meneriakkan yel-yel mereka dengan semangat berkobar. "Kau bisa membakar mereka."


"Aku harap itu tadi cukup bagus, aku harusnya menuliskannya dulu dan mengoreksi mana yang salah," Jose balas berbisik. Senyumnya terangkat naik dalam sentuhan humor.


Krip muncul dari arah kamar pelayan, menghampiri mereka. "Tuan Stuart mengabari," katanya. "Sekitar delapan puluh orang masuk ke Bjork pada waktu festival, tapi tidak ada yang keluar lagi. Juga tidak tercatat di penginapan mana pun di Bjork. Mereka seolah lenyap."


Jose mengangguk, tahu bahwa orang-orang tersebut saat ini ada di Selatan.


"Lalu soal mayat Gladys," Krip meneruskan laporannya sambil memandangi para pekerja yang sudah terbagi-bagi dalam kelompok yang lebih kecil. "Mayatnya memang menghilang dari kamar mayat. Dan tadi informan Tuan Kecil datang, dia menitipkan ini dari Sersan Gordon."


"Masih Sersan?" Jose menerima kertas laporan yang dilipat dalam bentuk segi empat.


"Masih, Tuan. Dia tidak menerima surat pemberhentian, tapi katanya akan segera melayangkan surat pengunduran diri."


Jose membaca isi laporannya, kemudian mengangguk pelan. Surat itu berisi nama-nama opsir yang mencurigakan, yang segera masuk ke kantor Inspektur Robert dan bicara secara privat dengannya begitu Jose pergi.


"Kapan Tuan akan berangkat?" tanya Krip.


Jose mengeluarkan jam sakunya. Pukul setengah enam sore. "Sekarang."

__ADS_1


***


__ADS_2