
Nolan mencengkeram kayu pancingnya. Ia menoleh tegang, Jose sudah bangkit dan menatap sekeliling mereka dengan tegang.
“Kau juga dengar yang barusan?” tanya Nolan, tanpa sadar menurunkan suaranya sampai jadi lebih menyerupai bisikan.
Jose mengangguk pelan, memberi tanda dengan tangannya untuk menyuruh gadis itu tetap di tempat. Bukannya melakukan perintah, Nolan justru ikut bangkit dan berteriak, “Siapa di sana??”
“Hey!” bentak Jose kesal. “Kenapa malah teriak-teriak?”
“Kenapa enggak?” balas Nolan sambil melotot. “Untuk apa bisik-bisik? Toh suara itu dekat dengan kita, sudah pasti dia juga lihat kita di sini!”
“Belum tentu!” Jose mengusap kedua lengannya sendiri. Ia mengedarkan pandangan ke sekitarnya, tetapi hanya menemukan pohon-pohon dan rumput yang sedikit bergoyang karena angin. Matahari masih bersinar panas, tetapi udara mendadak terasa dingin. “Kau masih ingin memancing? Kurasa sebaiknya kita pulang.”
“Aku selalu memancing sampai sore,” Nolan menukas. “Lagi pula, kau ini kenapa? Itu kan cuma suara orang ketawa! Bukannya ada hantu atau apa yang muncul, kan?”
Jose mengerutkan kening ke arah seberang sungai. Makin ke selatan, yang ada hanya pepohonan yang lebih rapat. Celah antar pohon membuat gua yang gelap, Jose tidak bisa melihat, tetapi pandangannya sejak tadi selalu tertuju ke titik yang itu. Seperti ditarik dengan magnet. “Memangnya kau biasa mendengar suara orang tertawa waktu memancing?”
“Yah, kadang-kadang saja,” sahut Nolan. Kadang ia memang mendengar suara anak-anak tertawa. Anak-anak. Biasanya ada beberapa orang yang juga memancing di sungai dan membawa anak. Kadang juga ada teman-teman adiknya bermain di sekitar sini.
Sekarang memang sepi. Di luar kebiasaan, tetapi awalnya Nolan hanya menganggap dirinya beruntung karena bisa memonopoli tempat memancing yang bagus.
Biasanya tidak ada suara orang tertawa yang seperti barusan. Suara tawa itu begitu rendah, tapi juga melengking—persis seperti yang bisa orang ceritakan muncul dalam kabut. Tiba-tiba perasaan tidak enak menghinggapi Nolan. Punggungnya meremang.
“Kau takut?” Nolan menoleh ke atas, menatap Jose yang masih memandang ke seberang sungai. “Lihat apa sih?”
__ADS_1
“Tidak. Tidak apa-apa,” ucap Jose sambil menggeleng. Namun matanya masih terarah ke tempat yang sama. “Kau sudah dapat dua ikan. Kita kembali saja, oke?”
“Biasanya aku dapat satu lusin!”
“Nanti kubelikan ikan dari pasar! Kita pulang sekarang!”
Sebenarnya Nolan masih ingin membantah, mengatakan bahwa ia tidak sudi dibelikan oleh orang kaya. Ia paling benci orang yang memaksa. Namun ketegasan dalam nada suara Jose membuatnya tidak bernafsu untuk membantah. Nolan segera menarik kailnya dan membereskan ember serta kaleng umpan. Jose terlihat lega melihatnya patuh.
Ketika Nolan sedang menggulung senar pancing, Jose segera menyambar ember berisi ikan, lalu menggeret pergelangan tangan Nolan dan mengajaknya berlari.
“Ap-apa? Ada apa?” tanya Nolan gugup. Ia tidak sempat merasa jengkel karena terlalu kaget.
Jose tidak menjawab, hanya berlari lebih kencang lagi sambil menarik tangan Nolan. Nolan yang tidak siap ditarik malah tersandung sulur dan jatuh menghantam tanah. Perasaan ngeri menyergap seluruh tubuhnya, membuat gadis itu tidak bisa bergerak.
Hitam. Sosok itu berwarna hitam besar, seolah mengenakan jubah koyak yang berkelepak karena angin. Wajahnya tidak terlihat karena tertutup kulit hitam yang melingkar. Kedua tangannya terulur ke depan, membuat gerakan seperti hendak menggapai. Kepalanya bergerak-gerak menyundul angin, seperti sedang mengendus-endus. Tengkuk Nolan seperti dihinggapi puluhan serangga. Ia merinding hebat dan tidak bisa bergerak.
Dalam keadaan itu, Nolan malah memikirkan pancingnya yang barusan terlempar karena ia jatuh. Tangannya bergerak meraih pancing. Makhluk hitam itu berhenti mengendus. Area wajahnya kini menghadap pada Nolan, terpaku.
Ketahuan.
Cuma itu yang bisa dipikirkan Nolan selagi ia merayap di atas tanah. Daun-daun kering bergemerisik dalam hutan yang sunyi. Dahan-dahan kering terasa tajam di kulitnya.
Seseorang menarik Nolan bangkit, kemudian menggendongnya. Jose.
__ADS_1
Nolan mengerjap gugup. Ia barusan sama sekali tidak ingat bahwa Jose masih ada si sampingnya. Lelaki itu menariknya ke punggung, lalu segera berlari dengan cepat.
Suara angin terdengar asing di telinga Nolan. Bahkan hutan ini juga terasa aneh. Dahan-dahan dan cabangnya tidak bisa ia kenali. Waktu Nolan baru saja berpikir bahwa mungkin mereka tersesat, Jose sudah membawa mereka sampai pada batang pohon raksasa yang melintangi jalan. Lelaki itu meloncat tinggi-tinggi, membuat Nolan terkesiap kaget dan mencengkeram bahu Jose.
Saat itu, ia baru sadar akan satu hal.
“Pancingku ketinggalan!” serunya kaget.
Jose tidak berhenti. Bahkan bereaksi pun tidak. Dia hanya terus berlari, sambil membawa Nolan di punggungnya.
“Pancingku ketinggalan di sana!” seru Nolan ketika Jose menurunkannya di depan rumah. Lelaki itu tidak mau berhenti berlari bahkan saat mereka sudah keluar dari hutan. Orang-orang kini berkumpul mengelilingi mereka dengan tatapan geli campur heran.
“Pancingku ketinggalan! Dan embernya mana? Ikanku? Umpanku?”
Jose menyandarkan pelipis ke dinding kayu rumah Nolan, terengah-engah. Kedua pipinya merona merah karena barusan berlari. “Kau ... tidak lihat apa yang di seberang sungai?” tanyanya.
Nolan tentu saja melihat. Sebenarnya ia tahu bahwa harusnya hal pertama yang ia katakan adalah ucapan terima kasih. Namun saat melihat tangan Jose ternyata kosong, yang berarti ikan hasil tangkapannya tertinggal, Nolan tidak bisa menahan rasa kesalnya.
__ADS_1
“Maaf ya, embernya menghalangi, jadi kutinggal di sana.” Jose mengusap pelipisnya yang terasa berdenyut-denyut. Dadanya seperti terbakar dan tenggorokannya kering, tetapi rasa ngeri itu masih tertinggal.