BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 193


__ADS_3

Maria turun untuk menemui Renata, tapi yang berpapasan dengannya justru Nolan. Kali ini gadis itu tidak lagi mengenakan gaun, mungkin sudah bosan. Seseorang meminjamkan kemeja dan celana panjang padanya. Penampilannya kini mirip anak pelayan.


"Mau ke mana?" tegur Maria cepat begitu Nolan melewatinya. Ia merasa gadis itu pasti ingin ke sayap timur.


"Katanya dia muntah darah dan kepalanya bocor?" Nolan berhenti di samping Maria. Wajahnya cemas. "Dia mati?"


"Hush! Siapa yang mati?!" Maria melotot galak, tahu siapa yang dimaksud Nolan. Ia menaruh sebelah tangan di selusur tangga sementara tangan yang lain sudah mencekal Nolan. "Kalau maksudmu Jose, dia baik-baik saja. Kepalanya tidak bocor dan aku bersumpah akan menamparmu kalau kau sembrono menyebut-nyebut lagi soal mati!"


Nolan menyentakkan lengannya hingga lepas. "Syukurlah!" katanya, tapi dengan raut wajah kesal. "Makasih infonya, aku mau lihat sendiri!"


"Dia sedang istirahat!" Maria kembali menarik lengan Nolan dengan gemas, menghentikan langkahnya. "Jangan ganggu dia! Kan sudah kularang!"


"Kau punya hak apa melarangku?" Nolan lagi-lagi berhasil menepis lepas cekalan Maria. Matanya menyorot marah, tersinggung karena digeret-geret. "Kau ini apanya? Ibunya? Istrinya? Kau kan juga tamu di sini, jadi nggak usah sok larang-larang!"


Maria merasakan amarah dingin menggelegak dalam dirinya, menyentuh ubun-ubun. "Aku Maria Garnet—"


"Dan aku Nolan dari Selatan, lalu kenapa?!" potong Nolan galak, merasakan kepuasan yang kekanak-kanakan karena berhasil menggunakan nama itu. "Kau pikir cuma kau doang yang bisa menyebut namamu dengan nada seperti itu?" Ia naik satu anak tangga dan berbalik sepenuhnya menghadap Maria. Kini tinggi mereka sama. Ditatapnya mata biru Maria dengan pandangan menantang. "Dengar Nona Garnet, berhenti menarikku. Aku bisa tak sengaja meninju wajahmu sampai jadi tidak cantik lagi kalau kau terus-terusan menggeret lenganku. Dan kalau itu sampai terjadi, kau boleh yakin aku tidak akan disalahkan di sini."


"Dan kenapa itu?" Maria menatap curiga. Hatinya langsung kalang kabut.


Apa yang membuat bocah ini begitu angkuh? Tuhan, jangan bilang dia punya hak melakukan itu karena Jose yang memberikannya. Jangan sampai Paman Marco menjodohkan mereka. Paman Marco orang yang selalu membalas orang lain dengan kejam. Apa sekarang dia menggunakan bocah ini untuk membalas perbuatanku dulu? Apa permintaan maafku tadi tidak diterima? Aku terlambat minta maaf?


Maria memikirkan begitu banyak doa dalam sekejap, tak peduli sekonyol dan semustahil apa pun doa itu. Jantungnya terasa sakit. Ia merasa kesusahan bernapas. Pelipisnya berdenyut nyeri.


Apa Jose tahu apa yang kukatakan di kamar Paman Marco dan dia kecewa padaku? Itu mustahil. Ia baru saja turun dari lantai dua dan tidak bertemu dengan Jose, jadi tidak mungkin lelaki itu tahu. Namun Maria tetap saja ketakutan. Ia bahkan hampir menangis.

__ADS_1


"Kau kenapa, sih?" Nolan bertanya heran, mulai waswas. "Kau sakit? Asma?"


Sekarang dia malah bersimpati. Aku benar-benar menyedihkan. Maria menggeleng, melambai untuk memberi tanda bahwa ia baik-baik saja. "Katakan," katanya. "Kenapa kau tidak mungkin disalahkan kalau sampai memukulku?"


"Ya karena aku hanya membela diri, dong!" jawab Nolan heran. "Kau pikir ditarik-tarik begitu tidak sakit?! Dan kalau aku ditarik di tangga, aku kan bisa jatuh! Kau pikir kau kebal hukum? Marco orangnya adil kok, jadi kalau aku bilang aku menonjokmu karena membela diri, dia pasti tidak akan marah-marah banget!"


Maria diam. Denyut di kepalanya perlahan hilang. Jantungnya bahkan mulai tenang. Ia menatap Nolan agak lama, mencermati tarikan wajah gadis pirang itu. "Kau bilang apa?" tanyanya begitu pulih dari rasa heran.


"Kau tuli?"


Maria mengabaikan ejekan itu. "Kau bilang tidak akan ada yang menyalahkanmu kalau kau sampai memukulku. Ya kan? Dan maksudmu itu karena kau hanya membela diri?"


"Memang!"


"Itu saja?"


"Kau tidak diberi hak istimewa oleh Paman Marco atau Jose?" Maria memastikan.


"Memangnya ada hak istimewa untuk memukulmu?" Sekarang Nolan yang heran.


Maria tersenyum, terkikik, lalu tertawa keras-keras. "Kau ini lucu," katanya di sela tawa. Gadis bangsawan seharusnya tidak terkikik sembarangan seperti ini, tapi Maria tidak peduli. Ia merasa begitu konyol. "Kau lucu dan menggemaskan," katanya sambil naik satu langkah, menepuk-nepuk pundak Nolan dan mengacak-ngacak rambut pendeknya.


"Kau gila?" Nolan berusaha menepis. Tadinya ia marah, tapi sekarang jadi bingung. Maria masih terbahak-bahak sampai air matanya menetes. Kemudian gadis itu memeluknya erat-erat. Nolan mencium aroma wangi yang menenangkan dari leher dan gaun gadis itu, seolah Maria berendam dalam bubuk peri dan keluar dari kuntum bunga tiap hari. "Kau gila," katanya datar, bukan lagi bertanya.


"Ya aku sudah gila. Aku memang gila karena sayang padamu Nolan. Jangan berubah ya. Seperti ini saja terus." Ia menciumi pipi gadis itu dengan senang. Nolan menjerit-jerit dan berontak. Tangannya mendorong pinggang Maria, menjatuhkan benda yang dibawa gadis itu.

__ADS_1


Benda itu terbanting dalam suara pukulan berat, seperti suara martil menghantam tegel. Kedua gadis itu terdiam dan menoleh ke bawah bersamaan.


Nolan terkesiap, setengah kaget setengah kagum. "Itu senjata, kan?" pekiknya tertahan, tangannya heboh menunjuk-nunjuk pistol yang tergeletak pada dua anak tangga di bawah mereka.


Maria menuruni tangga dan membungkuk anggun, memungut kembali senjata itu lalu menelitinya dari ujung sampai ujung.


"Aku merusaknya?" tanya Nolan cemas, ikut turun untuk membantu meneliti meski tidak tahu apa yang harus dilihat.


Maria sendiri juga tidak tahu apa yang harus diperiksa. Ia hanya meneliti apakah ada penyok atau goresan. "Tidak apa-apa," katanya tenang. "Kelihatannya tidak apa."


"Itu bisa meletus, kan?" Nolan bersemangat sekarang. Kedua pipinya merona dan bola mata birunya bercahaya. "Aku melihat di lomba-lomba, itu ditembakkan ke atas!"


Maria melirik gadis itu, kemudian tersenyum kecil. "Ya, semacam itu. Tapi ini tidak ada pelurunya. Belum ada."


"Kau akan menggunakannya? Mau menembak siapa? Monster itu? Sir William?"


Pertanyaan itu begitu polos. Nolan bertanya karena memang itu yang membuatnya penasaran. Tidak ada permainan kata, tidak ada trik dan sindiran berlapis, tidak ada kata-kata bersayap. Maria mulai mengerti kenapa Marco bahkan luluh pada Nolan. Gadis ini seperti hewan liar, seperti tupai liar yang membuatnya ingin memberi kacang, hanya agar ia bisa memandanginya lebih dekat dan membuat tupai itu senang. Bahkan jika tupai itu marah dan menggigit atau kemudian kabur setelah diberi makan, maka apa boleh buat. Memang seperti itulah tupai liar.


"Mau tahu?" Maria menyunggingkan senyum manis, suasana hatinya membaik karena merasa lega. "Mau pegang?"


Nolan mengangguk cepat. "Aku boleh pegang?"


"Jangan di sini," Maria tertawa. Ia berjalan duluan menuruni tangga yang menuju ke ruang utama. "Di rumah kaca saja, supaya tidak ada yang melihat."


Nolan berlari menyusulnya di belakang, dan Maria benar-benar merasa seperti sedang memancing tupai dengan kacang.

__ADS_1


***


__ADS_2