
Nolan mengangkat bahu. "Kabut datang tidak menentu. Harusnya sih setengah jam lagi, kalau memang datang. Kenapa?"
"Sebaiknya kita keluar dari hutan ini," kata Jose.
"Dan orangnya?" Nolan menunjuk ke seberang sungai. Jose cepat-cepat menjatuhkan tangan anak itu dan memelototinya.
"Tidak sopan menunjuk-nunjuk, Aku bukannya mau meninggalkan dia." Jose menarik ikat pinggang tali yang melingkar di mantelnya, kemudian menalikannya ke salah satu pohon terdekat, menjadikannya penanda. "Kita kembali dan mencari polisi patroli. Kalau dia orang sakit, dia harus ditolong."
Nolan menatap Jose dengan ragu. "Polisi? Tidak ada polisi yang pernah datang ke sini."
Jose selesai mengikat simpul ke dahan pohon trembesi terdekat. "Kau lupa sedang bicara dengan siapa?" tanyanya sambil meloncat kembali ke jalan setapak dan melambai pada Nolan. "Aku Jose Argent. Kalau aku minta polisi datang, mereka pasti akan datang."
"Kau ... " Nolan menganga, tapi terkesima. "Sombong banget."
Tidak ada waktu untuk menanggapi Nolan, Jose berbalik tergesa untuk keluar dari hutan. Ia mendengar suara Nolan melangkah mengikuti dari belakang. Sekejap kemudian, gadis itu sudah berlari di sisi Jose.
Meski barusan mencibir Jose, Nolan sebenarnya cukup senang mendengar cara bicara Jose yang meyakinkan, dan kagum dengan kepercayaan diri lelaki itu. Namun ia memendam semua kekaguman itu jauh-jauh dan menggantinya dengan rasa jengkel tentang betapa mudahnya semua hal bagi Jose hanya karena lelaki itu adalah orang Utara.
Nolan menoleh ke belakang, ke arah sungai, dan hampir tersandung jatuh.
"Kenapa?" tanya Jose. Mereka sudah berbelok ke jalan yang lebih luas yang menuju ke lapangan hijau.
Nolan menggeleng. “Perasaanku tidak enak. Rasanya bakal menakutkan kalau ketika menoleh, orang itu ternyata sudah menyeberangi sungai.”
“Bukannya malah bagus, ya? Berarti dia masih sadar,” Jose menyahut sambil lalu.
Jose sejenak merinding, tetapi ia menggeleng cepat untuk menjaga fokus. Yang ia harapkan saat ini hanya semoga wanita yang mereka lihat itu tidak mengalami hal yang sama dengan Higgins.
__ADS_1
Semoga darahnya masih ada.
Semoga saja wanita itu cuma sedang tidur dan istirahat di sana.
Jose tahu harapannya konyol, tetapi hanya itu yang bisa ia pikirkan. Sebab, saat mendengar gemericik air sungai serta desau angin di hutan ini, mau tak mau ia jadi teringat pada peristiwa tempo hari; saat makhluk hitam yang mengendus itu mengejar mereka sambil menyeberangi sungai.
***
Ketika Marco berjalan turun dengan langkah terayun yang kelihatan penuh penguasaan, yang terlintas di benak Sir William adalah pemandangan yang sama dengan belasan tahun lalu, ketika ia melihat pria itu dalam versi yang lebih muda.
Di sisi lain, yang dilihat Marco adalah versi lebih muda dari Sir William Bannet senior yang dikenalnya. Seseorang bernama William Bannet pernah tinggal di Bjork, kemudian pindah dari kota ini setelah terlibat masalah kecil.
“Selamat siang,” sapa Sir William sambil memamerkan senyum terbaik. Meski tahu bahwa Marco tidak akan menggubris sopan santunnya, tetap saya ia mengulurkan tangan untuk berjabat.
Marco membalas dengan anggukan, kemudian langsung bertanya, “Selamat sore, Nak. Rasanya sudah lama sekali rumah ini tidak dikunjungi Keluarga Bannet, aku bahkan tidak tahu ayahmu punya putra. Bagaimana kabarnya?”
Marco ingin mengatakan bahwa ia berduka, tetapi tidak jadi. Rasanya akan konyol mengatakan hal itu padahal pria di depannya sama sekali tidak kelihatan sedih. Malah sebaliknya, William kelihatan ceria. Sekitar tiga puluhan tahun yang lalu Sir William Bannet yang lebih tua datang ke Bjork. Saat itu Marco sudah menjadi penguasa belakang Bjork, meski belum sekuat sekarang. Pada waktu itu pun ada banyak kejadian aneh yang muncul di Bjork. Marco masih belum bisa menghilangkan kecurigaannya pada Sir William Bannet senior, dan sekarang malah putranya yang muncul. Dalam hati, Marco bertanya-tanya, kapan pria itu memiliki anak dan berapa usia William Bannet junior yang sekarang ada di hadapannya.
Usia Sir William sekitar 30an awal. Tubuhnya tegap, tulang wajahnya halus dan tegas, rambutnya pirang emas, dan pria itu punya senyum ramah yang menyenangkan, dan tutur katanya santun. Tidak ada alasan kenapa orang bisa tidak menyukainya, tapi tengkuk Marco tetap saja merinding, seolah ia sedang berdiri di hadapan singa lapar.
“Kudengar, Marquis Argent adalah orang yang sopan,” William menyindir, menarik kembali tangannya yang diabaikan sejak tadi.
Mengabaikan salam orang lain jelas tidak pernah ada dalam kamus Marco, ia bisa tetap bersikap sopan meski pada orang yang sangat dibencinya. Namun ada alasan khusus kenapa ia tidak membalas jabatan tangan Sir William. Instingnya meneriakkan alarm bahaya, menyuruhnya waspada. “Ya, tapi persediaan terbatas untuk kalangan tertentu," Marco membalas sindiran pria itu.
“Tenang, aku bukan ke sini untuk mengajak bertengkar,” William mengangkat kedua tangannya dalam posisi menyerah. Bola matanya berkilat lembut tertimpa pantulan sinar matahari yang membias dari jendela. “Sebenarnya aku ada perlu dengan Tuan Wallace. Kepentingan mendesak. Aku dengar, dia berada di sini?”
Pipi Marco berkedut-kedut. Hatinya berbungah gembira. “Tidak, dia sudah lama pergi.”
__ADS_1
“Oh? Jadi, dia pergi? Apakah sudah lama?”
Marco melirik jam tangannya sebelum menjawab, “Sejam yang lalu.” Entah kenapa, tiba-tiba ia merasa perlu berbohong pada Sir William. Ia merasa ada hubungan yang aneh antara Bannet dengan kejadian ganjil di Bjork. Dan kalau Wallace tahu sesuatu, sebaiknya mereka berdua dijauhkan.
“Aneh,” gumam William sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya pada dagu. “Jadi, Tuan Wallace pergi dengan meninggalkan mobilnya di sini.”
Jantung Marco seperti mencelos. Ia lupa sama sekali untuk membereskan kendaraan yang dinaiki Wallace. Penemuan-penemuan barunya siang ini membuatnya buntu. Dalam hati, Marco bertanya-tanya apakah mungkin usianya yang memengaruhi hal ini.
William melebarkan senyum. “Kapan kira-kira Tuan Wallace akan kembali? Apa dia memberitahu Anda?”
Marco tahu bahwa William tahu, Wallace masih ada di rumahnya. Ia bisa melihat dari sorot penuh penilaian pada pemuda berambut pirang emas itu. Marco tidak ingin membiarkannya menemui Wallace, tetapi juga tidak mau meloloskan pria itu begitu saja.
“Kalau boleh tahu, ada urusan apa memangnya? Sepertinya hal yang sangat penting, sampai kau bersedia jauh-jauh datang mencari ke kediaman Argent.”
William mengulaskan senyum miring. Ia berjalan mantap selangkah menuju Marco, kemudian berkata dengan suara pelan, “Mencari sesuatu.”
Marco mengerjap.
Tembakan langsung ke inti masalah.
Marco sekarang yakin memang ada hubungan antara Wallace dengan Sir William.
Marco mengusap rahang, mempertimbangkan apa yang akan ia katakan. Tepat pada saat ia sedang membuka mulut untuk menjawab, George masuk ke dalam ruangan dengan tergesa.
“Maaf, Tuan,” ucapnya dengan wajah serius. “Inspektur Robert menunggu di luar.”
Marco mengerutkan kening. Tiga tamu tak terduga di satu siang yang sama. Ia mulai berpikir bahwa hari ini mungkin merupakan Hari Tidak Beres Sedunia.
__ADS_1
***