
“Totalnya ada seratus dua puluh tiga orang, termasuk Lord Dominic dan juga Jack kita. Aku memisahkan orang-orang yang belum ketemu jasadnya dan yang sudah kita temukan.” Ia menyorongkan kertas-kertas yang baru saja ditulisinya kepada Marco. “Khusus untuk yang sudah kita temukan, aku bisa memberi informasi dari tinggi tubuh sampai apa makanan terakhir mereka. Aku tidak tahu apa artinya, tapi mungkin kita bisa menemukan sesuatu dari situ.”
Marco sudah menghabiskan kopi di cangkirnya. Rolan sebenarnya lebih suka teh daripada kopi, tetapi karena ia sedang malas membuat para pelayan jadi lebih repot lagi, ia hanya mengangkat cangkir dan menyesap kopinya. Biskuit-biskuit di depannya begitu menggoda, tetapi Rolan tidak bernafsu menyentuh satu pun. Ia malah kembali menelusuri tulisan cakar ayamnya, data-data awal yang belum dirapikan. Ada noda teh, sidik jarinya yang bernoda tinta, serta coret-coretan lain di pinggir kertas. Selagi menunggu Marco selesai membaca laporannya, Rolan mencoba menelusuri ulang datanya.
Ada sesuatu yang mengganggunya ketika ia menyalin barusan. Sesuatu yang ia tidak tahu apa tepatnya. Keganjilan itu benar-benar mengganggu, seolah ada sesuatu yang penting tetapi secara ceroboh sudah ia lupakan.
Apa kesamaan dari orang-orang ini? Rolan menggaruk-garuk pelipisnya dengan bingung. Sekilas ia bisa melihat senyum di sudut bibir Marco.
Bukan hal yang terlalu mengherankan baginya. Ia tahu bahwa Marco menyukai tantangan dan juga teka-teki. Tetapi yang ada di hadapan mereka sekarang kan berhubungan langsung dengan nasib dan nyawa seorang manusia. Tiap kali memikirkan hal tersebut, Rolan jadi muak pada rasa senang yang dilihatnya muncul pada Marco.
“Marco,” gumam Rolan pelan. Ia mengangkat wajah, tangannya menggapai untuk menarik perhatian. “Yang kulihat hanya satu persamaan di sini.”
“Bahwa kebanyakan dari korban tidak memiliki riwayat minum minuman beralkohol?” tukas Marco langsung.
“Ho, kau juga menyadarinya?” Rolan mengusap rahang. “Aku tidak menemukan persamaan apa pun pada mereka secara keseluruhan, tapi pada beberapa orang memang ada kesamaannya.”
“Ya,” Marco mengangguk. “Awalnya perempuan, pertengahan dua puluh. Kemudian memang berubah. Coba klasifikasikan ulang berdasar gender, lalu tanggal.”
Rolan memutar bola mata. Ia mengeluarkan berkas lain dari dalam tasnya. Marco memberinya tatapan tajam, tetapi dokter itu hanya tertawa dan berkata, “Aku sudah menyusunnya sejak lama."
“Aku memuji efisiensimu,” Marco berkata puas.
Rolan melengos. Bicara soal efisiensi, ia jadi ingat efisiensi orang-orang Marco. Masih segar dalam benaknya waktu itu, pada malam berbadai, ketika Marco merangsek masuk ke dalam rumahnya, disertai dengan Inspektur dan juga orang-orang bayaran. Tanpa banyak basa-basi, orang-orang tersebut segera menaruh kantong mayat yang berisi mayat kering, kemudian tanpa memedulikan protes berat dari Rolan selaku pemilik rumah, orang-orang tersebut malah sibuk menghangatkan diri.
Rolan terkesiap kaget. Ingatan itu membawa serta ingatan lain pada dirinya. Tepat pada saat ia mau mengatakannya pada Marco, pintu diketuk dari luar.
__ADS_1
George yang datang. Butler tersebut selesai menghimpun informasi, kemudian melaporkannya pada Marco dan Rolan sesuai dengan apa yang dia lihat. Yoakim, lelaki kurus bertopi pet yang menyusul Marco di jalan, pelayan itu melihat Jack bersama Sana di dalam kamar pelayan. George melihat Jack di dapur, membawakan karung tepung untuk juru masak. Margie melihat Jack melintas ke belakang rumah. Sana terakhir kali melihat Jack ketika George datang dan menegur. Beberapa pekerja lain melihat Jack bersama Gerald.
“Kalau dilihat, terakhir kali Margie yang melihatnya,” Rolan berkata. “Kita tanyai saja dia.”
Marco mengangguk, dan George segera menelepon ke lantai satu tempat para pelayan berada. Beberapa menit kemudian, Margie sudah muncul. Wanita paruh baya itu mengenakan seragam pelayan yang berwarna hitam. Rambut cokelatnya yang beruban diikat rapat ke belakang dalam bentuk sanggulan, tidak menyisakan helai rambut satu pun pada wajahnya yang mulai keriput. Kedua bola matanya yang kehijauan menatap kedua pria di dalam kamar kerja dengan penuh hormat, meski tidak takut.
Menanggapi pertanyaan Rolan soal Jack, Margie menuturkan dengan singkat dan jelas, “Terakhir saya kali melihatnya, setelah dia membantu pelayan dapur membawakan stok makanan dan barang yang datang untuk minggu ini. Lalu dia berjalan ke belakang rumah, sepertinya menuju bangsal perawatan.”
“Kau tidak menegurnya?” Rolan mengerutkan kening. Ia yang bertindak sebagai juru bicara dalam masalah ini. Marco hanya mengawasi dalam diam di sampingnya. Marco memang lebih suka tampil sebagai pria dingin yang jarang bicara.
Margie menggeleng sebagai jawaban. “Waktu itu saya sedang mengurusi pelayan lain; ada pelayan baru yang malah mengotori karpet dengan arang. Lagi pula ....”
“Lagi pula?” tuntut Rolan.
“Lagi pula, Jack memang cukup sering ke bangsal perawatan di belakang.”
Margie diam sebentar, terlihat seperti sedang menimbang-nimbang apa yang sebaiknya ia katakan.
“Margie,” Marco mendehem, akhirnya angkat bicara. “Kau tahu Bjork sedang diliputi peristiwa yang aneh. Orang-orang menghilang tanpa diketahui keberadaannya. Sampai sekarang belum ada satu pun yang ditemukan. Bahkan mayatnya.”
Rolan diam-diam memutar bola mata.
“Kali ini rekan kerja kalian, Jack, tiba-tiba lenyap. Kita tentu tidak berharap ada hal buruk terjadi padanya, tapi mungkin saja dia secara tak sengaja masuk juga dalam keanehan yang terjadi ini.” Suara Marco penuh intonasi, begitu persuasif. “Apa pun informasi darimu, sekecil apa pun, mungkin penting.”
Margie tergesa menjawab, “Maafkan Tuan, bukan maksud saya untuk diam. Hanya saja, saya pikir ini sedikit mengherankan. Saya sedang memikirkan bagaimana cara mengatakannya.”
__ADS_1
“Memangnya bagaimana?” Rolan menyahut.
“Sepertinya dia menemui Linda dan Anna, Tuan. Beberapa pelayan kadang mendengar suara orang bicara. Tuan tahu, Jack dan Higgins sangat akrab, seperti ayah dan anak. Beberapa orang berpikir, dia mungkin ingin mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya terjadi,” Margie menuturkan perlahan. “Beredar gosip di antara pelayan bahwa Higgins meninggal dengan cara yang tidak wajar, waktu mengetahui bahwa Linda dan Anna trauma akan sesuatu, Jack pikir itu ada hubungannya.”
Marco dan Rolan saling berpandangan dalam diam, bertukar informasi lewa sorot mata.
Mungkinkah ini memang ada hubungannya? Tetapi benang merahnya ada di mana? Marco mendesah. Ia baru saja mau membuka mulut untuk menyuruh Margie ke luar, tetapi Rolan keburu bertanya lagi.
“Dari mana kau tahu bahwa yang bicara dengan Linda dan Anna adalah Jack?”
Margie mengerjap. “Maksud Dokter?”
“Maksudku, siapa saja yang mendengarnya? Apa ada yang melihatnya secara langsung?”
Marco mengerutkan kening, menanyakan lewat pandangan mata pada Rolan, apakah semua pertanyaan itu ada hubungannya. Rolan mengangguk sebagai balasan.
“Mei, Shina, Era, mereka bertiga pernah mendengar suara seorang lelaki yang bicara di dalam bangsal perawatan. Bukan suara Dokter Rolan, lebih muda dan tinggi. Yang suaranya seperti itu di sini hanya Jack, Tuan. Dia yang paling muda.”
Rolan mengusap rahang, tanpa pikir panjang segera memutuskan, “Panggil tiga orang itu ke sini. Aku perlu menanyakan sesuatu.”
Ketika Margie mengangguk dan beranjak pergi, Marco segera bertanya, “Kenapa? Kau menemukan sesuatu?”
“Tepatnya, aku ’ingat’ sesuatu. Ingat waktu kau datang malam berbadai kepadaku sambil membawa ... ehem,” Rolan mendekatkan kepala saat berbisik, “mayat.”
“Jangan bicara vulgar begitu saat pintu tidak terkunci,” gumam pria tua di sebelahnya.
__ADS_1
Rolan mengedikkan bahu. “Baiklah, kita sebut saja Ikan Kering, atau apa pun yang kau suka. Bagaimana? Ingat?”