BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 192


__ADS_3

Marco mengembalikan berkas draf yang dibawa oleh Lady Chantall. "Semuanya sudah baik. Lusa kita bongkar kebusukan Spencer. Buat dia tidak bisa lagi mengangkat muka di Bjork tanpa diludahi."


"Beres." Wanita itu mengamati Marco dengan saksama. "Pinggangmu masih sakit?"


"Sudah lebih baik." Marco membetulkan posisi duduknya. Gara-gara diungkit, sekarang ia jadi menyadari rasa nyeri itu. "Kalau tidak ada hal lain, kau bisa pergi," ucapnya, berniat merebahkan diri beberapa jam. Ia akan melewatkan sarapan agar bisa beristirahat lebih lama.


"Sebenarnya ada yang ingin kutanyakan." Lady Chantall mendekati meja kerja Marco, menyandarkan pinggang di sisi meja. Ia mengamati rambut berombak di depannya, mendadak merasakan keinginan untuk menyentuh surai perak itu. Tangannya sudah bergerak, dan Marco justru menjauhkan kepala dengan waspada.


"Kenapa?"


Lady Chantall tertawa melihat sorot curiga itu. "Aku cuma ingin menyentuh rambutmu."


"Ada apa di rambutku?"


Tidak ada apa-apa, rambutmu seperti benang perak. Lady Chantall tidak mengatakannya. Ia justru membungkuk sedikit dan mencondongkan tubuh ke depan, memasang raut keheranan seperti melihat sesuatu yang aneh. Jarinya menyentuh rambut Marco, menelusurinya dengan lembut, membiarkan helai-helainya melingkar di jari dan jatuh ke tempat semula. Tidak selembut kelihatannya, tapi aku suka.


Setelah beberapa lama menunggu, Marco akhirnya sadar wanita itu hanya main-main. Ditepisnya tangan Lady Chantall dengan sopan. "Kalau tidak ada lagi yang ingin kau sampaikan," katanya sambil mengulurkan tangan ke depan, menunjuk pintu.


"Kau tadi memeluk Garnet?" Lady Chantall bahkan tidak menjauh. Senyumnya terkembang tipis. Suaranya terdengar penuh rasa ingin tahu, tapi matanya sedingin es. "Atau dia yang memelukmu?"


"Jangan konyol. Dia teman Jose."


"Nolan juga teman Jose dan dia memelukmu. Jadi, kau dipeluk atau memeluk?"


Marco bangkit dari kursi kerjanya, berhati-hati agar tidak melakukan gerakan yang menyakitkan. Ia sendiri tidak mengerti kenapa kedua teman perempuan Jose hobi menubruk seperti hewan liar saat memeluk. Apa mereka tidak bisa memeluk dengan penuh persahabatan dan lembut?


"Dipeluk atau memeluk, itu bukan urusanmu."


"Sayang sekali, tapi aku ingin menjadikan itu urusanku." Lady Chantall tersenyum manis. Pipinya merona merah dengan alami. "Aku belum mendapat jawaban baik ditolak atau diterima, jadi menurutku kau sedang mempertimbangkanku. Dan itu berarti kau tertarik padaku meski sedikit. Ya kan?"


Marco memikirkan pertanyaan itu selama dua detik. Ia sendiri tidak menemukan jawaban kenapa tidak segera menolak Lady Chantall. Bahkan meski wanita itu hanya main-main atau salah menafsirkan perasaannya sendiri, harusnya ia segera memberi penegasan. "Aku lupa," akhirnya ia beralasan. "Dengar, milady, aku tidak berniat menjalin hubungan dengan siapa pun. Apalagi dalam situasi seperti sekarang. Sekarang jelas bukan saat yang tepat untuk membahas ini."


Lady Chantall tertawa. Suaranya bergema tinggi dan manis, seolah datang dari suatu tempat sejauh mimpi. "Memangnya kapan saat yang tepat, Argent?" tanyanya santai. "Apakah pernah ada saat yang tepat bagimu?"


Tidak ada, Marco tahu itu. Sejak tiga puluh tahun lalu, ia sudah menutup semua pintu dan jendela dalam dirinya, tidak mengizinkan siapa pun masuk atau mengetuk.


"Kau diam lagi." Lady Chantall mendekat dengan berani. Kini mereka berdiri berhadapan, hanya dipisahkan jarak beberapa senti. Ia mengangkat wajah, bisa merasakan napas pria itu menyapu keningnya. "Kau tahu aku yang benar dalam hal ini. Saat yang tepat tidak ditunggu, tapi diciptakan."


Jika ada satu hal yang dibenci sekaligus dikagumi Marco dari Lady Chantall, itu adalah sifat keras kepalanya. Wanita itu bisa terus mengejar hal yang diinginkannya tanpa goyah sedikit pun, tanpa bisa dibujuk untuk melakukan sebaliknya. Kalau ingin Lady Chantall menyerah, Marco tahu ia harus benar-benar membuatnya mati kutu.


"Kenapa kau menyukaiku?" tanyanya. Ia menyilangkan tangan di depan dada, matanya memperhatikan bagaimana wajah wanita itu berubah dari heran menjadi tersipu malu. Lady Chantall jelas tidak menduga akan ditanya seperti itu.


"Kenapa tidak? Kau berani, kuat, cerdas, sedikit menyebalkan dan lidahmu juga kadang kelewat tajam, tapi itu tidak masalah. Aku suka. Aku justru ingin bertanya pada semua wanita, kenapa mereka bisa tidak jatuh cinta padamu?"

__ADS_1


Itu bukan jawaban yang memuaskan bagi Marco. "Banyak lelaki seperti maumu di luar sana. Mereka berserakan. Tak sedikit yang kaya atau berstatus tinggi, banyak juga yang umurnya sepantaran denganmu."


"Tidak ada yang sekuat kau," sahut Lady Chantall lugas. Mata hijaunya menatap keras. Kini bukan hanya pipinya yang bersemu merah, rona itu bahkan menjalar sampai ke telinganya yang mungil. "Secara alamiah, perempuan memang akan tertarik pada pria alpha."


"Manusia pada akhirnya akan melemah dan mati," Marco berkata hati-hati, memikirkan tiap kalimat seperti menata bidak catur. "Sepuluh atau dua puluh tahun lagi, jika aku masih hidup, kau akan melihat aku tidak sekuat yang kau bayangkan."


Kerut kecil muncul di kening wanita itu. "Kau pasti masih hidup! Dan aku tidak bicara soal kekuatan fisik." Dia melotot sebal. "Yah, kau kan juga kuat secara fisik, tapi bukan itu maksudku. Aku bicara soal integritas! Soal keteguhanmu. Soal ... jiwamu." Kedua tangannya terulur, meraih tangan kanan Marco dan menariknya, meletakkan telapak pria itu ke atas dadanya agar bisa merasakan tempo detak jantungnya. "Semua yang hidup memang akan menua dan melemah. Itu siklusnya. Bahkan seekor singa pun akan jadi tua dan tak mampu lagi berburu. Tapi itu tidak lantas mengubah diri mereka jadi bukan singa. Mereka tetap sang raja hutan."


Marco membiarkan Lady Chantall terus bicara. Suara wanita itu mengalun dengan artikulasi jelas dan penuh intonasi. Ia seperti mendengar seseorang membacakan cerita, dan itu cukup mengalihkan rasa sakitnya. Ia tersenyum simpul. "Jadi kau menyukai orang yang berjiwa kuat. Dan kalau aku terlihat lemah, kau tidak akan menyukainya?"


"Tetap suka," sambar Lady Chantall cepat, merasakan ada jebakan di sana. Jari-jarinya yang kurus dan lentik masih menahan tangan Marco di dadanya, kini genggamannya justru tambah kuat. "Aku malah akan tersanjung. Kau begitu angkuh hingga tidak pernah mau orang lain melihat rasa sakitmu. Taruhan, saat ini pun kau mati-matian menahan sakit karena tidak ingin kelihatan lemah! Memangnya kau pikir aku tidak lihat di sebelah mana tangan Garnet tadi berada?" Ia mendengus. "Aku ingin mematahkan tangannya. Tapi kau tidak akan suka, jadi aku menahan diri. Meski sedang sekarat, kau pasti tetap bersikap seolah tidak ada apa pun terjadi padamu. Karena itu, kalau kau sampai mau terlihat lemah di depanku, itu berarti ..." Ia berhenti untuk tersenyum. "Berarti kau percaya padaku."


Marco tidak tahan lagi. Ia tergelak keras. "Astaga," katanya di sela tawa panjang yang seolah tak ada habisnya. Tangannya sudah lepas dari genggaman Lady Chantall, kini mencengkeram meja untuk menahan tubuh. "Apa kau dengar bagaimana tidak konsistennya dirimu?" tanyanya. "Kalau kau ada di Gedung Diskusi, kau sudah kalah bahkan sejak sebelum ronde pertama dimulai!"


"Aku konsisten," gerutu Lady Chantall kesal, tapi ikut tersenyum sedikit. "Aku suka padamu, mau kau lemah atau kuat. Oh baiklah, aku memang tidak konsisten! Mana bisa aku konsisten kalau di dekatmu?!"


Marco masih tertawa, lalu mengaduh karena itu membuat pinggangnya sakit. "Kau benar-benar menghiburku hari ini," katanya sambil menghela napas, meredakan rasa geli yang masih melandanya. Ia menepuk-nepuk kepala berambut cokelat ikal itu, masih sedikit terkekeh. "Kau wanita yang manis, my lady. Sangat menarik. Sangat cerdas. Sangat muda." Senyumnya lenyap secepat kedatangannya. "Tapi tempatmu bukan di sini."


"Hanya aku yang berhak menentukan di mana tempatku, Argent." Lady Chantall ingin menjangkau ke depan, tapi memutuskan untuk memberi jarak. Ia tahu kapan harus maju dan kapan harus mundur. Sekarang bukan saatnya mendesak. Belum saatnya.


Marco menggeleng. "Kau bukan jenis wanita yang bisa tinggal di sisi ini dalam waktu lama. Kau menginginkan seseorang yang kuat di sisimu karena trauma masa lalumu."


"Aku tidak punya trauma!"


"Kau hanya tidak menyadarinya," sahut Marco lembut. "Kau selalu bergidik setiap tak sengaja mendengar dekrit istana diumumkan. Kau mencari pria yang kuat karena menganggap almarhum suamimu lemah. Kau tidak ingin merasakan rasa sakit itu, perasaan kalah itu, atau apa pun yang kau rasakan waktu melihat suamimu meninggal. Kau mungkin merasa tidak aman. Dan ketika melihatku, kau pikir aku bisa menjadi perisaimu." Ia menggeleng. "Kau terkesan padaku, tapi kalau kau berpikir memiliki perisai sama dengan memiliki ksatria, kau akan kecewa. Aku tidak bisa menjadi satu pun dari dua hal itu untukmu."


"Kau bahkan tak tahu apa itu cinta," sahut Marco dingin.


Lady Chantall tahu pria itu sengaja menggunakan nada dingin yang mencemooh. Ia tahu Marco ingin menyakitinya agar ia mundur. Namun meski sudah mengetahuinya, tetap saja segalanya tidak berubah jadi lebih mudah. Ia bisa merasakan matanya memanas basah. "Aku mengetahuinya sekarang," katanya tersendat. "Satu senyum dari orang yang kau cintai bisa membuatmu bahagia sepanjang hari ... segala hal terlihat jadi lebih baik, lebih indah, lebih stabil saat kau bersamanya. Satu nada dingin darinya bisa membuatmu sulit bernapas. Kau ingin mendengarnya terus bicara denganmu, menyentuhmu." Ia mendekat lagi, meletakkan kedua tangannya di bahu Marco. Ia dibantu oleh sepatu hak tinggi, jadi hanya perlu sedikit mendongak untuk bisa menatap langsung ke mata hitam itu. Hitam pekat. Hitam yang menelan. "Aku menginginkanmu," bisiknya lemah.


Marco membeku di tempat, selama beberapa saat hanya bisa balas memandangi bulatan hijau yang lebih tua di dalam iris hijau Lady Chantall. "Ketika melihatmu," akhirnya ia bisa membalas tenang, "aku bisa melihat kau adalah wanita yang menginginkan sesuatu yang mapan, my lady. Istana yang luas, dengan jamuan minum teh selalu diadakan di taman, pesta-pesta rutin dalam ajang pergaulan. Kau akan memandangi anak-anakmu berlarian di taman bunga. Mungkin sedikit-sedikit kau akan terlibat hal gelap seperti memanipulasi berita atau semacamnya, tapi bukan sesuatu yang bisa membahayakan nyawamu. Kau hanya akan mengingatnya sebagai petualangan yang seksi untuk dikenang, sejarah masa muda."


Lady Chantall menatap Marco dengan kedua mata terbuka lebar. Yang diuraikan pria itu barusan memang salah satu bayangannya tentang masa depan yang ia inginkan. "Kau cenayang?" bisiknya.


"Aku bergelut dengan manusia setiap harinya, my lady. Kau lupa itu? Aku hapal bagaimana pola mereka dalam sekali lihat. Kau masih bagian dari masyarakat normal. Tempatmu bukan di sini."


Lady Chantall tidak suka diberi tahu di mana ia harus berada. Matanya berkilat marah. "Tempatku juga di sini! Dan kau tertarik padaku. Kau lupa aku berjubel dengan segala informasi, baik dusta maupun fakta? Kenapa kau tidak bisa jujur? Memangnya berkata jujur akan membuatmu terbakar atau bagaimana?"


Seumur hidupnya ia tidak pernah ditolak, dan Lady Chantall tidak akan membiarkan rekor itu pecah. Kalau ia mundur sekarang, ia sadar Marco benar-benar akan lepas darinya. Ia maju lebih dekat hingga pucuk dadanya menyentuh tubuh lelaki itu. Senang karena melihat sedikit ekspresi terkejut, Lady Chantall mengalungkan kedua lengannya ke leher Marco, menariknya turun, kemudian menubrukkan bibir mereka dan menciumnya lembut.


Kumis pria itu menusuk wajahnya, tapi Lady Chantall tidak keberatan. Jari-jarinya masih bertaut di tengkuk Marco ketika bibir mereka berpisah. Ia mengerjap lembut, merasa masih bisa mencecap aroma dan rasa pria itu di lidahnya. Rasa teh Earl Grey?


Senyumnya terbit dalam sentuhan nakal. "Nah, aku sudah menciummu. Itu klaimku. Kau tidak mungkin bisa melupakanku."

__ADS_1


Marco menaikkan satu alis mendengar tantangan dalam nada suara itu. "Yang seperti itu kau sebut mencium?" tanyanya. Ia melengkungkan senyum congkak. Sebelum Lady Chantall sempat menanggapi, Marco sudah merengkuh tengkuk wanita itu dan menariknya mendekat.


Bibir mereka bertemu lagi, kali ini terasa lebih liat, dalam sentuhan yang lebih agresif. Lady Chantall merasa jantungnya pindah ke telinga, berdenyut di sana dengan kuat, mengirim denyar panas ke seluruh tubuhnya. Panas tubuh mereka saling menular dari balik lapisan pakaian, memengaruhi satu sama lain. Kemudian entah siapa yang memulai duluan, bibir mereka membuka dan ujung lidah mereka bertemu dengan panas, saling menggoda. Ia mencecap rasa asin yang seperti candu, membuatnya merapatkan tubuh. Kepalanya terasa panas, tubuhnya panas, sesuatu berpusar dalam dirinya, membuat jari-jarinya mencari pegangan agar tidak merosot jatuh. Ia mencengkeram bagian punggung jas lelaki itu kuat-kuat, membenamkan kuku-kukunya di sana. Suara detak jam, suara napas dan kecap, suara detak jantungnya, perlahan semua itu menjauh dan terdengar samar dalam kepala Lady Chantall. Belum pernah ada yang menyentuhnya seperti ini, yang menggoda sekaligus menyiksanya di saat bersamaan.


Marco melepaskan bibir mereka begitu merasakan hasrat Lady Chantall mulai naik. Ia masih menyangga pinggang dan bahu wanita itu, menjaganya agar tidak oleng.


"Itu tadi," bisiknya berat, memperhatikan bagaimana Lady Chantall menatap dengan kelopak mata setengah terpejam, masih tersengal menata napas, "baru yang namanya mencium."


Ada rasa jengkel, malu, sekaligus kecewa bergumul dalam hati wanita Skot itu, membuatnya merasa kacau. "Lagi," pintanya.


"Wah. Apa kau tidak punya malu?"


"Kenapa aku harus malu meminta kecupan dari pria yang kucintai?" balas Lady Chantall, merasa lebih berani setelah kemesraan barusan. Seluruh tubuhnya berdenyut karena ingin dan matanya panas. Ia mendekat lagi, merapatkan tubuh mereka sambil berhati-hati dengan pinggang Marco yang luka. "Tidak ada harga diri di depan cinta."


"Di depan nafsu." Marco memutar bola mata. Ia mendorong bahu Lady Chantall. "Aku setuju dengan ide membawa Hubbert ke Selatan," katanya, kembali mengungkit hal yang sempat dibahasnya. "Pancing supaya dia sendiri yang ke sana. Pekerjaku sudah mengabari bahwa orang-orang Scholomance sedang melakukan sesuatu yang mencurigakan—kebanyakan sudah berhasil lepas dari ikatan."


"Aku tidak peduli soal itu," gerutu wanita di depannya. Kedua tangannya disilangkan rapat di bawah dada, mengangkat bagian tubuh itu hingga terangkat naik. Rompi cape-nya tersibak sedikit, menunjukkan leher gaunnya yang rendah dan apa yang disembunyikan di balik sana. "Aku peduli soal kita."


"Tidak akan pernah ada kita."


"Lalu kenapa kau membalasku barusan? Kalau bukan karena tertarik, setidaknya beri aku satu alasan yang tidak munafik kenapa aku ditolak."


Marco menghela napas. Ia menoleh pada Lady Chantall, menatap mata hijau itu dalam-dalam. "Aku benci perempuan," katanya. "Kalian semua berisik, ciap-ciap ribut seperti anak ayam tanpa induk dan tidak pernah mau mendengar, kepala batu, selalu semaunya sendiri dan—" Ia diam sebentar untuk mencari apa lagi yang kurang. Hanya sekilas, ada kepahitan melintas di wajahnya. "Dan selalu menguji pasangan kalian dengan beragam cara serta jebakan, makhluk yang serakah dan tak pernah puas! Paham sekarang?"


Lady Chantall mengerjap keheranan, lalu tergelak. "Jadi itu? Ada lagi?"


"Aku bisa menulis rentetan daftar lengkapnya untukmu, tapi nanti saja. Yang ingin kudengar darimu sekarang adalah soal Hubbert. Kita belum membahasnya tadi."


"Sekarang aku mengerti." Lady Chantall melangkah ke sisi Marco. Bibir merahnya merekah dalam senyum manis. Ia menarik berkas dari tangan pria itu dan menyembunyikannya di belakang punggung. "Kau pernah dikecewakan seseorang. Marco yang malang." Ia menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum. "Apa gadis itu tidak pernah mau mendengarmu dan malah mengusik harga dirimu? Tapi jangan cemas, aku bukan wanita itu. Aku tidak akan mengujimu, juga tidak berniat mengecewakanmu." Dalam satu tarikan mudah, tali rompinya terurai dan cape yang ia kenakan segera lolos dari bahunya, melayang jatuh ke lantai. Gaun satinnya yang berleher rendah jatuh dengan pas mengikuti lekuk tubuh, tampak menggoda. Lady Chantall melempar berkasnya ke belakang. "Aku cuma ingin mencintaimu."


Aku tidak dikecewakan siapa pun, Marco ingin menyergah. Namun ia tidak bisa mengatakannya. Wanita itu lagi-lagi mendekat padanya dalam cara yang sama seperti kucing Persia melompat, kemudian dengan egois memagut bibirnya. Teknik wanita itu masih sepayah di awal. Bibirnya agak gemetar, gerakannya amatiran, dan sedikit tergesa.


Kalau kubalas, aku tidak akan bisa mundur lagi, Marco mengingatkan diri sendiri selagi bibir wanita itu turun menyusuri tulang lehernya dan tubuh mereka makin merapat.


Lady Chantall membisikkan namanya ketika mengangkat wajah. Tubuh lunak itu disandarkan padanya. Detak jantung mereka bertemu, saling bersahutan dari balik pakaian seolah sejak awal memang merupakan satu bagian. Aroma tubuh wanita itu membelitnya, memabukkan.


Ini bukan waktu yang tepat, pikirnya. Aku harus mengusirnya sekarang.


Ia menatap mata hijau itu untuk bicara, tapi di situlah kesalahannya. Ketika menatap pupilnya yang hijau gelap, Marco merasa wanita itu seperti mengisapnya, mencuri napasnya, membuatnya lupa akan banyak hal. Ia lupa harus mengatakan apa, lupa pada rasa sakit yang menyayat sisi pinggangnya, juga lupa pada suara kekehan manis yang kadang muncul jauh dalam sudut mimpinya.


Untuk sejenak, ia melupakan nama pemilik tawa itu, lupa bagaimana wajah gadis yang pernah mengujinya dengan kejam. Dan itu sudah cukup.


"Yah, kau mendapatkanku," katanya, "semoga beruntung."

__ADS_1


Marco meletakkan tangan di atas lekuk pinggul Lady Chantall, kemudian menunduk dan menangkupkan bibirnya pada bibir wanita itu.


***


__ADS_2