BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Chapter 56


__ADS_3

“Tapi kau tidak bisa datang seenaknya ke rumah keluarga Argent!” tukas Maria.


“Jadi, kau ini mau ngomong apa, sih?” Nolan mulai kesal. “Kenapa tidak langsung saja? Kenapa kau suka sekali bicara berputar-putar? Apa kau pikir semua orang punya waktu seharian penuh untuk menebak-nebak apa yang sebenarnya kau inginkan?”


Maria menganga. Ia memang menyadari bahwa Nolan tidak tahu adat, tetapi tidak menyangka bahwa akan separah ini. Bahkan gadis di depannya sama sekali tidak bisa diajak berbasa-basi maupun bersiasat. Ia sangat tidak menyukai Nolan dan benar-benar heran apa yang diinginkan Jose dari anak itu.


“Begini, Maria bermaksud baik,” Jose mencoba menengahi. “Dia khawatir kau akan mendapat perlakuan buruk dari pamanku. Kau kan sudah bertemu dengannya kemarin dan tahu bagaimana sifatnya, kan?”


Nolan mengangguk. Dalam kepalanya kembali terbayang sosok tua angkuh yang dagunya selalu diangkat tinggi kalau sedang bicara dengan orang lain.


“Nah, karena Paman Marco sangat mementingkan penampilan, Maria bersedia membantumu untuk setidaknya menghindari tahap awal pengusiran.” Jose berkata, “Tapi sebenarnya, aku juga tidak akan membiarkan tamuku diusir, kok.”


“Tapi dia tetap harus mengerti cara berpakaian sopan!” sanggah Maria cepat, takut rencananya jadi buyar.


“Aku rapi,” tukas Nolan tersinggung, sekarang menyadari apa yang diinginkan dua orang itu. Mereka mau mendandaninya dengan pakaian ini itu yang sesuai dengan selera orang Bjork Utara. Nolan merasa ia pasti akan dikerjai dengan diperlakukan sebagai boneka.


“Kau tidak cukup rapi untuk ukuran paman Marco.” Maria tersenyum. “Coba lihat aku dan bandingkan dirimu.”


Nolan membisu, menyadari bahwa mereka berdua memang berbeda bagai langit dan bumi. “Baiklah,” ucapnya pelan.


Sekilas Nolan menangkap senyum aneh dari Maria. Ia benci cara gadis itu tersenyum.


***


Nolan merasa konyol. Harusnya ia tidak pernah menerima permintaan Nona Garnet; Maria memintanya memanggil seperti itu.


Sekarang ia ada di dalam butik, dihadapkan pada berbagai macam pakaian yang warnanya mencolok mata, dengan banyak hiasan renda dan pita heboh. Ada dua orang karyawan toko mendampingi mereka memilih dan menyimpan setiap pakaian yang ditunjuk Maria. Gadis itu kelihatan santai saja, tetapi Nolan merasa rikuh.

__ADS_1


Ruangan itu luas, dengan banyak manekin dan gawangan baju yang indah-indah. Aroma kain dan parfum menguar di antara pakaian dan manusia, membuat Nolan merasa agak pusing.


Maria menyodorkan padanya banyak gaun, memintanya memilih bahan mana yang dia sukai.


"Aku lebih suka buatan Anna Sui, manis," ucapnya sambil menyodorkan satu buah atasan tanpa kancing.


Nolan tidak tahu siapa itu Anna Sui. Ia juga tidak peduli. Kakinya pegal dan Maria selalu bicara dengan istilah asing seperti linen, organdi, flanel, brukat. Nolan tidak tahu apa artinya. Ia capek, padahal tidak banyak bergerak. Ia tidak menyukai Maria.


Cara gadis itu bicara dengan nada manis, caranya bercanda dengan para karyawan toko seolah sudah sangat biasa dengan rutinitas ini, Nolan membencinya. Ia meyakinkan diri bahwa perasaannya datang karena ia memang membenci orang kaya, semua orang kaya. Tetapi yang paling dibencinya adalah fakta bahwa gadis menyebalkan itu berteman akrab dengan Jose.


Jose tidak ada bersama mereka. Maria memintanya menunggu di ruangan lain. Tadinya Nolan hampir ingin meminta Jose menemaninya, tetapi batal karena ia tidak mau kelihatan seperti sedang merengek.


Sekarang Nolan menyesali sikap sok tegarnya. Memangnya apa yang bisa ia lakukan di sini, bersama orang asing yang baru saja ia temui.


"Nah, kurasa yang ini cocok. Bagaimana menurutmu?" Maria menyodorkan satu buah gaun terusan yang masih tergantung pada hanger. Gaun warna pastel tanpa lengan dengan sedikit hiasan renda dan payet.


"Kenapa? Anak perempuan harusnya pakai gaun."


"Siapa yang mengharuskan?"


"Masyarakat," Maria menukas lelah.


"Dan kenapa harus menurut pada masyarakat?" balas Nolan ketus. "Kenapa tidak bisa jadi diri sendiri?"


Maria meremat gaun di tangannya. Dua karyawan yang melayani hanya saling lempar pandang dengan kode-kode umum. Tidak setiap hari mereka bisa melihat perang mulut seperti ini. Apalagi keduanya sangat berbeda. Yang satu nona kalangan atas dari keluarga Garnet yang terpandang, sementara yang satunya lagi entah siapa. Penampilannya mirip gelandangan.


"Tidak bisa begitu," Maria berkata kaku. "Kita hidup di masyarakat. Kitalah masyarakatnya. Memenuhi ekspektasi yang ada adalah keharusan ..." Ia terdiam, menyadari sendiri kejanggalan pada kata-katanya.

__ADS_1


Nolan menghela napas. "Jadi begitu? Aku sih tidak tahu ya soal kalian di sebelah utara sini. Waktu pertama kali datang, aku merasa silau. Kupikir kalian ini sangat bahagia dan juga beruntung. Pasti menyenangkan hidup seperti kalian. Tapi ternyata tidak juga. Yang kalian lakukan bukan 'hidup'. Kalian bahkan tidak punya hidup. Kalian cuma bergerak sesuai rute yang sudah ditentukan. Seperti budak. Seperti mayat hidup."


Hening.


Dua perempuan itu saling berpandangan dalam diam. Nolan, dengan sorot mata dan raut wajah keras kepala, sementara Maria masih berdiri tegak dengan dagu terangkat.


Hatinya terasa panas, menjalar ke kedua pipinya, membuat wajah cantiknya merona merah. Bola mata birunya berkilat tajam.


"Boleh juga semangatmu," tukas Maria kalem, menahan gejolak emosi untuk mengguncang-guncang bahu Nolan. "Aku tidak tahu bagaimana kau menikmati keseharianmu yang kumuh di Selatan, tapi tiap masyarakat punya tata caranya sendiri. Dan kalau dengan mengikuti tata cara itu menjadikan kami mayat hidup di matamu, tidak masalah. Siapa yang peduli pada pandangan seorang gembel?"


"Gembel?!" Nolan hanya bisa mengulang saking kaget dan bencinya.


"Kau memang gembel, kok. Gembel arogan. Kau pikir bisa datang ke rumah Argent dengan wujud tak pantas begitu? Kau pikir siapa dirimu? Kau menuntut supaya dirimu diterima apa adanya, tapi di sisi lain tidak mau melakukan yang sebaliknya untuk pihak lain. Ketika berada di Roma, bersikaplah seperti orang Roma! Beginilah cara berpenampilan orang utara Bjork, suka atau tidak suka."


Nolan membuka dan menutup mulut dalam bisu. Maria menganggapnya sebagai isyarat menyerah, jadi ia menepuk tangannya dengan ringan di depan dada, lalu berkata dengan suara manisnya yang biasa, "Nah, kau kan tidak mungkin pakai gaun indah tapi berbadan dekil dan kampungan, jadi sekalian saja perawatan di sini!"


"Hah? Perawatan apa?" Nolan mengerjap kaget.


Tidak ada jawaban. Dua orang pelayan barusan segera menarik gadis itu ke ruang lain di balik pintu kaca, mengabaikan Nolan yang memberontak seperti kucing kena air.


***


Jose mengambil majalah kedua yang disediakan di atas meja. Sebenarnya ia ingin berkeliling kota, mencari tahu banyak hal—khususnya kabar dari Krip. Ia memang memberi banyak waktu pada pria itu, terlalu banyak kalau sekarang dipikirkan kembali oleh Jose. Mencari tahu informasil tentang Sir William Bannet seharusnya tidak terlalu lama, mengingat kiprah Krip di dunia informasi.


Namun sekarang ia berhadapan dengan Maria, orang yang sulit dibantah atau dialihkan. Karena sudah berkawan sejak kecil, ia dan Maria saling mengenal satu sama lain tanpa perlu mengatakan apa pun.


Maria kelihatan lelah dan sebal bersama Lady Lidya, karena itu Jose memutuskan untuk jadi orang jahatnya dengan mengusir Lidya pergi. Memang, setelah itu Maria melancarkan berbagai macam protes dan omelan, tetapi Jose tahu itu cuma cara lain Maria untuk berterima kasih.

__ADS_1


***


__ADS_2