BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 158


__ADS_3

"Kebanyakan dari rahib tinggi hanya bisa membuat golem sederhana yang akan lenyap kalau berjalan jauh dari inti hutan atau berjalan menyeberangi sungai Bjork," terang Torfin, sesekali mendongak untuk melihat pada Jose yang mengamatinya dengan kritis. "Kalau mayat yang digunakan masih segar dan perapalnya ahli, golem akan bertahan lebih lama dan bisa disuruh-suruh sesuatu yang lebih rumit."


Rolan muak mendengar nada bangga pada suara Torfin. "Golem itu biasa kalian suruh apa? Membunuh?"


Torfin cepat-cepat menggeleng. "Kami mencari kalung," katanya lemah, merasa tidak punya pilihan selain bicara. "Ada kalung yang digunakan sebagai pelengkap ritual. Baron Hastings menghilangkannya. Tanpa kalung itu, ritual kurban tidak bisa dilakukan. Golem yang dibuat dengan kalung itu akan bisa disuruh menyeberang sungai tanpa membutuhkan terlalu banyak mayat sebagai media. Saya tidak pernah memakainya, tapi Beliau bilang, dia bisa bicara dengan roh orang mati menggunakan kalung itu."


Rolan melirik Jose, yang mendengarkan dengan wajah kaku.


"Siapa Beliau?" tanya Marco bosan. Semua ini kedengaran seperti omong kosong baginya. Andai ia tidak pernah bertemu dengan golem yang dimaksud beberapa kali, ia pasti sudah memerintahkan agar Torfin dihajar karena memberinya cerita dongeng. "Kalian selalu menyebut-nyebutnya. Siapa dia?"


"Beliau adalah orang yang membuat Scholomance, yang memberi kami pengetahuan tentang banyak hal, juga yang memiliki kemampuan paling tinggi untuk membuat golem dan akan membuka pintu Eden," Torfin menyahut antusias. Pipinya merona karena bersemangat. "Duke Ashington sendiri!"


Rolan mengerutkan kening. "Maksudmu keturunan Duke Ashington, kan? Anak-anaknya perempuan semua, dan mereka sudah menikah dengan keluarga lain. Setahuku Duke Ashington tidak punya pewaris gelar."


Torfin menggeleng khidmat. "Maksud saya Duke Ashington. Kalian akan tahu kebenarannya begitu melihat Beliau."


Jose membungkukkan tubuhnya dalam-dalam dan berbisik di telinga Torfin, yang wajahnya segera berubah jadi seputih kapas.


"Saya jujur!" jerit Torfin. "Duke Ashington memang masih hidup! Beliau yang meminjamkan kastil ini! Kalau tidak melihat beliau dengan mata kepala sendiri, saya juga tidak akan percaya pada keajaiban Scholomance! Duke Ashington sudah membuka gerbang Eden dan menjadi setara dengan Tuhan. Kita semua bisa menjadi Tuhan!"


Suara jeritannya disambut keriuhan dari para tamu pesta yang ribut mengiyakan keterangan itu dan memuji-muji Duke Ashington.


Gerald membentak dan mendiamkan mereka, tetapi kebanyakan dari mereka justru bangkit dengan berani dan bersiap melawan.


Marco mengembalikan pandangan pada Torfin. "Di mana sang Duke sekarang? Aku perlu memberi salam, kalau dia memang masih hidup."

__ADS_1


"Di Aston," sahut Torfin heran, seolah itu pertanyaan konyol yang semua orang sudah tahu jawabannya. Matanya memandangi para tamu pesta dengan bangga, senang dengan keberanian mereka. "Kami tidak melanggar peraturan atau melakukan kejahatan apa pun. Kami menggunakan mayat karena itu media yang lebih mudah digunakan untuk membuat golem."


"Yang mengajari cara membuat lingkaran transmutasi dan evokasinya juga Duke Ashington?" kejar Rolan.


Torfin mengangguk. Ia menoleh dengan senyum lebar. "Kalian juga bisa melakukannya, kalau berbakat. Kita semua bisa. Kita punya bakat untuk itu. Tadinya pengetahuan itu memang milik kita. Tuhan menciptakan kita sesuai dengan citra-Nya, jadi kita sebenarnya punya potensi melakukan apa pun yang bisa dilakukan Tuhan. Nah, hanya saja ketika kita dalam tubuh manusia, kita perlu dibantu lingkaran-lingkaran semacam itu. Kalau sudah jadi Tuhan, kita bisa melakukan banyak hal tanpa lingkaran dan mantra, tanpa sigil. Kita bisa membuat emas dari tanah, kita bisa membangkitkan orang mati, kita bisa—"


"Omong kosong," sahut Marco tegas. "Hukum transmutasi adalah pertukaran setara. Emas tidak akan bisa dibuat dari tanah karena komposisinya beda. Orang mati tidak akan bisa dihidupkan selama kalian tidak mengorbankan orang lain lagi yang masih hidup." Marco berhenti. Ia mengerutkan kening, seperti menyadari sesuatu. Matanya menatap Torfin lekat-lekat. "Kalau Duke Ashington masih hidup, umurnya pasti sudah lebih dari tiga ratus tahun. Kau yakin dia memang pernah membuka Eden, bukannya mengorbankan orang lain dan mengambil nyawa mereka agar bisa hidup abadi?"


Wajah Torfin berubah-ubah warna. Mulanya putih pucat, lalu merah, kemudian jadi biru. "Lancang!" serunya marah. "Penghinaan!" sambil menyerukan itu, ia bangkit dari lantai untuk menerjang Marco.


Namun sebelum tangannya sempat menyentuh leher Marco, Torfin sudah terbanting jatuh ke lantai dengan wajah duluan. Darah merah pekat menggenang dari tenggorokan pria itu, membasahi lantai batu. Di depannya, Rolan berdiri menggenggam scalpel. Wajah pria itu sedingin patung.


Lady Chantall mengelus lehernya sendiri tanpa sadar, seperti memastikan kulitnya masih utuh di sana. "Dia belum menceritakan semua hal, Dok."


"Maaf sudah memperlihatkan pemandangan tidak enak di depan seorang Lady. Tenang saja. Dia sudah cerita semuanya pada Jose, kan?" Rolan melirik keponakannya, yang memasang raut tak senang.


"Kita kembali sekarang," Marco memutuskan. Lebih lama lagi istirahat di sini, ia tahu seluruh tubuhnya akan mulai sakit dan susah digerakkan. "Tempat ini terlalu menjijikkan untuk diinapi."


"Bagaimana dengan orang-orang ini, Tuan?" Gerald menunjuk para tamu dan rahib yang kembali diam begitu melihat Torfin mati. Sejak tadi ia menyimak semua hal dalam diam, menunggu perintah.


"Tinggalkan saja. Potong lidah para rahibnya, jangan sampai mereka membuat golem."


Jose tercekat. Ia mendekati Marco dan berbisik, "Tidak ada rahib tinggi di sini, mereka yang tersisa ini bahkan tidak tahu apa itu golem!"


"Kau mengasihani mereka? Mengasihani orang-orang yang mau membunuhku?"

__ADS_1


"Paman, jangan lakukan ini." Jose menggeleng. Ia menatap cemas pada para pekerja yang sudah mulai menggeret rahib-rahib muda jadi satu di tengah ruangan. "Bukan mereka yang menangkap Paman. Kita bisa menjelaskan kenapa beberapa orang mati dalam usaha penyelamatan Paman, tapi kalau istana tahu kita memotong lidah rakyat, itu akan jadi bumerang untuk Paman sendiri."


Marco tersenyum kecil, lagi-lagi merasa puas dengan perkembangan keponakannya. Jose tidak lagi melawan atau membantahnya langsung di hadapan orang lain. Jelas kejadian akhir-akhir ini sudah membuat pemuda itu banyak berubah. Marco menjentikkan jarinya, memanggil Gerald lagi. "Aku berubah pikiran. Ikat saja mereka kuat-kuat. Kalian bawa tali?"


Gerald mengangguk tegas, kemudian meneruskan perintah itu pada para pekerja lainnya.


"Diikat dan ditinggalkan dalam kastil gelap seperti ini akan lebih menakutkan daripada kehilangan lidah," kata Marco. "Cuma itu satu-satunya alasan aku mengabulkan permintaanmu."


"Terima kasih, Paman," gumam Jose.


Ada lima puluhan orang yang masih hidup dan sadar. Mereka semua diikat kuat dan disandarkan ke tembok, dikumpulkan jadi satu. Ia sebenarnya tidak terlalu kasihan pada semua orang itu, Jose menyadari dengan rasa bersalah. Ia hanya tidak ingin benar-benar jadi sedingin paman-pamannya dalam memandang nyawa manusia lain. Ia tidak ingin kehilangan kewarasannya. Dalam benaknya masih terbayang sosok-sosok yang menatap sedih dalam ruang baca, sosok-sosok yang berpendar dalam cahaya transparan.


"Kau membawa lima puluh pekerja?" Marco menumpukan sebelah tangannya ke altar dan menghela tubuhnya bangkit. Lady Chantall ikut bangkit dari duduknya dengan sopan.


Jose mengangguk. "Gerald memimpin dua puluh. Hans, Finnian, dan Harold masing-masing membawa sepuluh."


"Dan kalian bergerak berbondong-bondong dengan orang sebanyak ini lewat jalan utama Bjork?"


"Tentu. Memangnya bisa lewat mana lagi?"


Marco menyipitkan mata, mengamati wajah halus pemuda itu dengan saksama. "Kau sadar kan bahwa itu sama saja mengumumkan pada semua musuh kita bahwa rumah Argent tidak dijaga?"


"Tenang saja," sahut Jose. Sebelah tangannya menyentuh dada, mengusap bandul talisman yang tersembunyi di balik kemeja. "Jake pasti sudah di rumah sekarang. Dia bisa mengurus semuanya."


Rolan mendengarkan sambil membersihkan scalpelnya yang bernoda darah dengan sapu tangan, lalu menyimpannya kembali ke balik jas. Ia bolak-balik menatap bukaan gelap yang mengarah ke dalam puri, serta ke luar ke arah halaman gelap. Ia tidak melihat raksasa jamur.

__ADS_1


Mungkin makhluk itu sudah pergi, Rolan berharap.


***


__ADS_2