BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Chapter 74


__ADS_3

Suara dan ekspresi Rolan tenang, tetapi matanya tampak serius.


“Tuan Argent!” Wallace berteriak pada Marco, matanya mencari pembelaan, meski tanpa kata lain yang terucap.


Rolan ikut menoleh pada Marco untuk melihat reaksinya. Tidak ada sinar jenaka pada mata dokter itu.


“Kenapa?” Marco mengangkat bahu. “Tadi belum kubilang, ya? Tuan Wallace milikmu. Terserah kau mau memperlakukannya bagaimana.”


“Argent!” Kini Wallace menjerit. Tubuhnya bergerak-gerak mengguncang kursi. “Anda tidak akan lolos dari ini! Bahkan meski Robert bersamamu! Anda tidak akan lolos!!!”


“Ya ampun, kau pikir berapa lama dia berada dalam dunia seperti ini?” Rolan sekarang berpaling kembali pada Wallace. Senyumnya dingin tanpa belas kasihan. “Kau bukan direktur pertama yang dilemparkannya padaku. Robert bukan Inspektur polisi pertama yang bekerja dengan keluarga Argent. Kau pikir kau istimewa? Nah, sekarang, biar kuambil dulu tang-nya.”


Sementara Rolan beranjak mengaduk-aduk isi tas, mencari entah peralatan siksa macam apa, Wallace mulai kembali berontak dan mengamuk. Andai tangan dan kakinya tidak diikat erat ke bagian kursi, dia pasti sudah bergulung-gulung menghancurkan ruangan ini. Tetapi Wallace terikat. Yang bisa dilakukannya hanya membuat kursi bergoyang dengan gerakan-gerakan yang liar. Marco diam saja memandangi semua itu. Ia tahu betapa Rolan sangat menyayangi Yvone, almarhum istrinya. Gadis malang itu meninggal karena terjatuh dari tangga, tapi orang-orang menyebarkan gosip bahwa Rolan menggunakannya untuk eksperimen. Wallace sudah melewati batasannya.


Ketika Rolan berhasil menemukan tang logam miliknya dengan seruan “Aha!”, telepon di ruangan itu berdering. Marco mengangkatnya, karena ia yang paling dekat dengan telepon. Itu sambungan dari bawah, dari George.


“Kenapa?” tanya Rolan begitu melihat ekspresi Marco berubah.


“Ada tamu,” tukas pria itu sambil menaruh gagangnya di tempat semula.


Bibir Wallace terbuka lebar. Lelaki itu tertawa, meski wajahnya tetap pucat. Tak ada rona merah di sana.


Rolan tidak tahu apa yang lucu dari kabar tentang tamu. Hidungnya mengernyit mencium bau pesing. Matanya menatap sekitar, menemukan genangan air di bawah kursi Wallace. Lelaki itu sempat mengompol saat ia mengeluarkan tang barusan.


“Aku akan menemui tamuku dulu, sebaiknya jangan macam-macam dulu pada Wallace,” perintah Marco.


“Tidak bisa kujamin,” sambut Rolan dingin, masih mencengkeram tang besi di tangan.


Marco tidak menanggapi. Ia cepat-cepat berjalan keluar setelah menyambar sebuah mantel dari gantungan. Sekilas, ia mendengar suara Rolan bicara dengan suara pelan, kemudian suara itu hilang ketika pintu kamarnya tertutup.

__ADS_1


Dua tamu sekaligus datang pada siang yang sama.


Yang lebih membuat Marco heran sekaligus bersemangat adalah kedatangan tamu kedua hari ini.


Sir William Bannet.


***


“Tidak, orang tidak akan bisa menyeberangi sungai ini dengan berjalan,” ucap Jose ketika melihat arus yang deras serta kedalaman sungai.


Mereka lagi-lagi berbalik pada sungai pembatas dua hutan di Bjork bagian selatan. Sebenarnya Jose sudah cukup lelah dengan semua ini. Ia masih ingin meneliti di Pusat Arsip atau pergi ke tempat Krip, tetapi Nolan segera berlari ke sungai setelah mendengar cerita Sana, membuat Jose tidak punya pilihan selain menemani gadis itu.


“Kau sebenarnya tidak perlu menemaniku, kok,” ujar Nolan ketika melihat tampang bosan Jose. Hatinya sedikit sakit melihat tak ada rasa tertarik di sana. Padahal ia pikir Jose akan memahami ketertarikannya. “Aku kan bisa sendiri. Ini rumahku, tempatku! Aku cuma mau melihat apa yang sebenarnya terjadi di sebelah sana.”


Jose mengabaikan Nolan. Matanya menatap lekat pada arus air di depan mereka. “Sungainya lebar, bagian tengahnya dalam, dan arusnya kuat."


"Dua meter itu lebar! Kalau kau nekat, tubuh kecilmu itu cuma akan terbawa arus lalu hilang sampai laut.”


“Kecil?! Umurku sekarang tujuh belas!”


Jose rasanya ingin menjitak Nolan dan mengatakan bahwa yang dimaksudnya tadi bukan urusan umur. Tetapi dibatalkan karena ia merasa itu akan menjadikannya setara dalam level kekanak-kanakan dengan Nolan. Sebagai gantinya, Jose malah ikut menyururi tepian sungai, mencari-cari bagian yang sedikit dangkal.


“Mungkin kita bisa bikin jembatan,” Nolan melempar usulan karena sebal.


“Dengan apa? Batang pohon?" Jose menatap ke sekitar. Pohon-pohon di sekeliling mereka begitu gemuk dan tua, tapi dahannya tipis-tipis. "Tidak ada yang cukup kuat untuk jadi jembatan."


“Pasti ada. Di sini banyak pohon yang panjang dan besar!”


Jose menghela napas. “Cari usul yang lebih masuk akal, coba.”

__ADS_1


Mereka makin jauh berjalan, sampai tiba-tiba Nolan berhenti di tempat, seperti menabrak dinding transparan.


“Kenapa?” tanya Jose, heran melihat gadis itu terpaku menatap seberang sungai. Ia menoleh, mengikuti arah pandang Nolan, dan darahnya ikut berdesir begitu menemukan titik fokus yang sama.


Hantu putih.


Nolan menyeret sepatunya mundur hingga punggungnya menabrak Jose. Gadis itu meraih lengan Jose, mencengkeram tangannya erat-erat, kedua bola matanya yang biru melotot.


Pohon-pohon seperti merapat, membuat udara di sekitar mereka berubah sesak. Angin bahkan seperti terperangkap, menimbulkan rasa dingin yang menusuk sampai sumsum tulang. Keduanya mendengar suara debar jantung bertalu-talu, membuat mereka bertanya-tanya milik siapa debar yang mereka dengar tersebut.


Agak lama mereka membeku di tempat. Bahkan Nolan sampai tidak berani bernapas. Kemudian Jose bersuara dengan suara lembut. “Nolan, kurasa ... itu manusia.”


“Manusia? Di seberang hutan?” Nolan akhirnya berhasil menemukan suaranya, meski hanya dalam bentuk bisikan. Seluruh tubuhnya panas dingin saat ini. Tetapi setelah memperhatikan dengan lebih tenang, Nolan baru sadar bahwa bentuk itu memang mirip manusia. Manusia yang sedang duduk.


Di hadapan mereka, tepat di seberang sungai, dihalangi rerumputan dan ilalang yang tumbuh sampai setinggi lutut, keduanya bisa melihat pohon-pohon yang menjulang tinggi dan rapat, menutupi jalan matahari. Ada sela antar pohon yang lumayan, memperlihatkan sesosok perempuan yang sedang duduk bersandar pada sebatang pohon. Dua tangannya tergantung di sisi tubuh, telapak tangan menempel pada rumput.


Gaunnya berwarna putih kusam. Rambut cokelatnya kelihatan hitam karena gelap, terurai di depan, menutupi wajah. Gadis itu duduk dengan kedua kaki terlipat di depan, lutut menempel pada dada. Sekilas tadi, yang terlihat oleh mata Jose dan Nolan adalah sosok hantu cebol bertangan panjang yang berdiri membelakangi mereka.


“Nona!” seru Jose sambil mencorongkan kedua tangan di depan mulut. “Nona! Kau tidak apa-apa?!”


“Sedang apa dia di sana?” bisik Nolan, masih merasa ngeri. Ia bergeser menjauh dari Jose selangkah, merasa malu karena barusan bersikap seperti anak-anak.  “Apa dia sakit? Itu manusia atau boneka?”


“Entahlah, Nolan,” gumam Jose pelan, tidak menyadari Nolan sudah beranjak tiga langkah darinya. “Entahlah, tapi perasaanku tidak enak.”


“Kau pikir perasaanku enak?” desis Nolan sama pelannya. Ia ganti menempelkan corong tangan ke depan wajah, kemudian berteriak nyaring, “Ooooooiiiiii!!!!! Yang di sanaaaa!!! Kau dengar kamiiii????”


“Harusnya dia mendengar, kalau sadar,” Jose bimbang. Ia bolak-balik menoleh antara seberang sungai dan arah ke bukaan hutan yang mengarah pada lapangan. "Jam berapa kabut akan datang?" tanyanya.


***

__ADS_1


__ADS_2