BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 150


__ADS_3

Kyle dan Ask baru saja menginjak usia dua puluh satu pada Juli lalu dan diizinkan memakai jubah rahib Scholomance. Mereka memakainya dengan rajin setiap kali datang menghadiri pertemuan di puri.


"Pertemuan yang mirip bersih-bersih," komentar Ask ketika mereka membicarakan itu. "Aku ingin cepat-cepat dewasa supaya bisa bertemu Beliau."


Pimpinan Scholomance disebut Beliau. Mereka, para rahib muda, tidak pernah bertemu dengan orang tersebut. Namun menurut rumor, orang itulah yang selamat dari iblis dengan meninggalkan bayangannya.


"Apa boleh buat, kita kan masih rahib muda," kata Kyle. Ia memandang ke luar melalui jendela koridor yang besar-besar, hanya terdiri dari lubang berbentuk setengah lingkaran di sepanjang dinding batu. Senja merayap dengan cepat menembus hutan. Sebentar lagi akan gelap total dan mereka harus menyalakan api obor di sepanjang koridor. "Nanti pasti ada saatnya kita naik. Lagi pula tugas kita kali ini cukup mudah."


Ask mengangguk. Kemudian seperti dikomando, mereka berdua menoleh perlahan ke dalam kamar di belakang mereka.


Inspektur Robert menemukan kurban mereka yang sempat kabur dan kali ini mengikatnya lebih kuat dan menempatkannya dalam kamar di lantai dua yang hampir selalu disambangi solomonari.


Ask dan Kyle dipilih oleh Baron Hastings sebagai penjaga sampai malam datang. Tugas mereka mudah, hanya dengan cara mengintip saja sesekali, memastikan kurban itu masih bernapas sampai saat gerhana beberapa hari lagi.


"Dia tidak diberi makan?" bisik Kyle, menundukkan kepala pada Ask.


Ask menggaruk hidungnya yang berbintik, menggeleng. "Baron Hastings bilang, cukup dua kali sehari beri dia air. Buang airnya juga tidak perlu diurusi karena kita kan bukan pelayannya."


"Dia buang air di celana dong?" Kyle meringis jijik, menampakkan gigi kuningnya.


Ask mengangkat bahu tak peduli. "Biarkan saja. Toh yang dibutuhkan Beliau kan nyawa dia, bukan tubuhnya."


Kyle mengangguk lagi. Ia menoleh ke belakang, ke arah kamar yang tidak diberi penerangan. Tidak ada bau pesing tercium, jadi pria itu belum buang air. Kyle merasa senang. Ia akan malas berdiri diam di kamar yang baunya seperti isi jamban. Ia mungkin malah akan muntah. "Katanya dia menjebol penjara yang di belakang puri," ucapnya. Mereka sudah pernah membahas ini, tetapi ia sedang bosan dan tidak punya bahan pembicaraan lain, jadi Kyle mengulangnya.


Ask mengangguk. Ia juga menanggapi karena sama bosannya, "Dan dia selamat dari golem yang dibuat Baron Hastings."


Hening sejenak. Kyle menoleh. "Kau pernah lihat apa itu golem?"


Ask menggeleng. "Tidak tahu, tapi katanya bisa disuruh-suruh. Dua rahib pernah coba iseng melihat, tapi katanya mereka jadi gila dan bunuh diri. Golem sangat bahaya untuk orang-orang yang kurang beriman."

__ADS_1


"Dan Baron Hastings bisa membuatnya. Aku suka Baron Hastings," bisik Kyle.


Ask tersenyum, masih memandang senja yang merayap seperti keong. Langit berwarna oranye. "Aku juga," katanya. "Dia baik. Tidak seperti orang Utara lain yang sombong."


Awalnya sama seperti kebanyakan orang Selatan lain, Ask dan Kyle membenci orang Utara. Mereka berhati-hati setiap kali berada satu ruangan dengan mereka dan tidak mau melihat ke mata mereka setiap bicara. Namun setelah mengenal Scholomance, keduanya berubah pikiran. Baron Hastings adalah orang yang baik dan ramah, juga sopan. Pria itu rendah hati, selalu memberi mereka cerita menarik tentang yang terjadi di luar Bjork.


Scholomance membuat mereka tahu bahwa yang salah dalam dunia ini bukan strata sosial, bukan ras atau etnis, juga bukan manusia sendiri secara umum. Yang salah adalah agama mereka.


"Harusnya semua orang gabung dengan Scholomance," kata Kyle. Ia menguap. "Andai semua orang berpikir sama seperti Baron Hastings: semua orang sama. Darah kita sama-sama merah, tulang kita sama-sama putih. Dan kita semua bisa jadi Tuhan."


Ask mengangguk setuju, tertular menguap. "Andai semua orang tahu kalau kita bisa jadi Tuhan, mereka pasti berhenti ribut dan perang. Berhenti meributkan strata sosial, berhenti meributkan harta, atau wanita."


"Semua orang sama dan setara di Scholomance," tutup Kyle dengan khidmat. Mereka berdua hanya mengulang apa yang pernah diucapkan Baron Hastings dulu.


Ucapan itu begitu menarik bagi Ask dan Kyle sehingga mereka sering mendiskusikannya seolah itu adalah hasil pemikiran mereka sendiri. Ada kepuasan tersendiri bagi mereka ketika menggunakan cara orang Utara bicara, mereka merasa jadi lebih pintar. Namun keduanya tidak pernah bicara seperti itu di Selatan. Bisa-bisa mereka ditertawakan.


Kyle menengok sekali lagi ke dalam kamar, kemudian setelah memastikan bahwa tubuh itu masih bernapas, ia kembali mengalihkan pandangan. Ia tidak merasa bersalah melihat bagaimana kondisi Marco, yang pergelangan kakinya masing-masing ditali ke kaki kursi serta kedua tangannya ditarik ke belakang punggung dan diikat di sana. Ia sudah dengar dari Baron Hastings bahwa pria itu sangat kejam dan lidahnya berbisa.


"Setelah ini mau ke lantai satu? Katanya ada minuman," kata Ask.


Kyle menggeleng. "Harus segera pulang. Aku dilarang keluyuran. Kau tahu Nolan hilang, kan? Cewek yang selalu main dengan orang Utara itu."


"Aku tahu, aku kenal Nolan. Pernah ngomong dengannya dulu."


"Yah ... dia hilang. Banyak yang lalu jadi takut."


Ask mengesah. "Sayang banget, padahal dia lumayan cantik kalau diam."


"Kalau diam." Kyle mengangguk setuju dan terkikik. Ia sendiri tidak terlalu akrab dengan Nolan. Ia hanya pernah melihat gadis itu beberapa kali, dan di setiap kesempatan, Nolan sedang marah atau sedang menendang orang. Ia mengetuk-ngetuk kosen batu jendela. "Di lantai satu ada banyak orang?"

__ADS_1


Ask mengangguk. "Ada lebih banyak lagi yang datang. Soalnya gerhana makin dekat."


"Mereka masuk waktu festival kemarin, kan?"


"Yap. Katanya biar orang Utara nggak curiga. Orang yang di kamar itu, kata Inspektur Robert, dia yang peka sama keluar masuknya orang. Makanya kebetulan bagus dia datang sendiri untuk ditangkap."


Kyle tergelak. "Ternyata orang Utara itu goblok." Ia menatap ke dalam kamar, mengerutkan kening, lalu menyenggol Ask. "Hey, ini mataku yang salah atau dia memang nggak bernapas?"


Ask berbalik. Ia memicingkan mata, berusaha menatap lebih jelas. "Kayaknya gerak."


"Tapi kayak nggak bernapas."


Ask menghela napas. Ia meraih obor yang berada di sisi pintu kamar, menyerahkan benda itu pada Kyle. "Sana ke lantai satu, cari petugas yang lebih tua dan bilang kalau kurbannya sakit."


"Kau?" tanya Kyle.


"Aku di sini. Harus ada satu orang yang menjaga," Ask meraih satu obor lagi di sisi lain. "Sekalian nyalakan juga obor sepanjang dinding kalau sudah kembali ke sini."


Kyle mengangguk. Ia menggenggam erat obor di tangan, menjauhkannya sedikit karena panas api mengenai wajahnya. "Aku segera kembali," katanya sambil berbalik, berjalan tegesa ke arah tangga turun.


Kyle baru mencapai belokan koridor ketika ia mendengar suara Ask tercekik, lalu ada bunyi debum keras seperti suara batu dijatuhkan. Kyle berhenti. Tungkainya terasa panas.


"Ask?" Tanpa pikir panjang, Kyle berlari kembali ke tempat mereka berada tadi. Bayang-bayangnya berkejaran di dinding kastil. Jantung Kyle berdebar kencang. Ask tidak ada di koridor.


"Ask?" Kyle segera menyerbu masuk ke kamar kurban, tempat di mana Ask kemungkinan berada. Ia benar, Ask memang ada di situ.


Lelaki itu terbaring di lantai menghadap ke arah kursi. Sesuatu yang gelap menggenang di bawah kepalanya, makin lama makin besar. Tubuh Ask berkedut-kedut lemah beberapa kali, kemudian diam.


Di samping tangan Ask yang masih menggenggam obor, berdiri pria tua dengan tali terutai di tangan. Pria itu menyeringai pada Kyle, yang tidak bisa menemukan suaranya untuk menjerit. Mendadak celana dalamnya terasa basah. Urin panas melelehi kakinya hingga ke sela sepatu.

__ADS_1


***


__ADS_2