BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 79


__ADS_3

Nolan menarik lepas tangannya dari Jose. Ia mengusap-usap pergelangan tangannya sendiri. "Kau seorang Argent, hah?" desisnya pelan, "dan tidak ada yang bisa memerintahmu? Karena itu kau pikir kau bisa menggeretku ke sana-kemari seenaknya?"


Mereka sudah ada di bukaan hutan, di permukaan lapangan hijau yang berdampingan dengan jembatan penyeberangan, tertutupi tubuh mobil pemadan kebakaran yang menyumpal jalan. Jose menyandarkan bahunya pada badan mobil. "Aku harus mengatakan itu agar tidak diremehkan. Lagi pula dia tadi bersikap kasar padamu."


Dalam sekejap, rasa jengkel Nolan mereda. Ia heran pada emosinya yang begitu gampang naik turun setiap berada di dekat Jose, seolah lelaki itu tahu letak saklar emosi pada dirinya.


"Dia tidak percaya waktu kau bilang kita tidak dengar apa-apa," Nolan menyahut, mencengkeram kerah bajunya yang jadi kucel karena direnggut dengan kasar. Warna wajahnya masih kemerahan karena tercekik. "Semua pamanmu orang yang mengerikan." Sekarang gadis itu menoleh pada Jose, bersimpati karena hidup pemuda itu dikelilingi orang yang aneh.


"Aku tahu. Mau pulang? Aku akan mengantarmu."


"Rumahku cuma di sana, kau tidak perlu mengantar."


"Katamu kabut sebentar lagi datang, kan? Lebih baik berdua daripada sendirian."


Nolan menyerah. "Terserah kau saja deh."


Jose melangkah duluan sebagai jawaban. Ia mendengar suara langkah kaki Nolan di belakangnya, kemudian gadis itu segera berada di sisinya, berjalan dengan langkah panjang-panjang. Nolan memang tidak pernah suka berada di belakang orang lain.


Tidak ada yang menghalangi keduanya pergi. Polisi patroli yang melihat mereka lewat bahkan menawari diri untuk mengantar. Keduanya menolak dengan tegas.


"Aku tahu apa yang kau pikirkan," Nolan berkata, napasnya mewujud dalam bentuk uap putih. Suara langkahnya terdengar keras merambah rerumputan kering. "Kau pasti akan ke rumah orang itu, kan?"


"Rumah siapa?"


"Tuan Bannet."


Sepatu Jose berhenti di tempat, membuat Nolan berada lima langkah di depannya. Gadis itu ikut berhenti. Dedaunan kering di bawah mereka berkemerosak keras ketika dia berbalik.


"Dari mana kau tahu nama itu?" Jose bertanya.


"Oh, ya ampun. Masa kau lupa? Waktu pertama kali kita bertemu, kau kan sedang mencari orang itu. Kau bertanya pada kami, apa ada di antara keluargaku yang melihat pria bernama Tuan Bannet itu. Nama itu muncul lagi dalam pembicaraan dua pamanmu yang gila itu. Aku tidak sekolah, tapi tidak bodoh, Jose. Gampang saja melihat bahwa kau menganggap dia ada hubungannya dengan semua ini—atau setidaknya begitu menurut kalian."

__ADS_1


Jose tertawa datar. "Kau berbakat jadi detektif, Nolan."


"Tidak, itu cuma pengambilan kesimpulan yang gampang," sahut Nolan cepat, pipinya sedikit merona. Ia mengusap rambut pendeknya ke belakang, terlihat senang. "Memangnya, orang yang kau cari itu seperti apa sih?"


Jose menggeleng. "Ayo, pulang saja."


"Kau tidak mau memberitahuku?"


"Kadang, tidak tahu itu jauh lebih baik, Nolan." Jose menyesal setelah mengucapkan kalimat itu. Hal yang sama dengan yang pernah dikatakan Marco padanya.


"Omong kosong," tukas Nolan. "Tahu selalu lebih baik. Pengetahuan akan membuatmu tidak bisa dibohongi!"


Jose berhenti. Sepatunya menginjak rumput hijau tebal di lapangan. Ia menoleh pada Nolan. "Bagaimana kalau kebohongan itu justru mempermudah hidupmu?"


"Soal mempermudah atau tidak mudah, itu aku sendiri yang putuskan. Orang lain tidak usah sok tahu apakah sesuatu akan jadi mudah atau sulit setelah mereka membohongiku."


Jose tersenyum tipis. "Kau pintar."


Nolan hanya mengangkat bahu, seolah pujian itu ia terima setiap hari dan ia sudah tak peduli lagi. Tapi pipinya merona merah dan matanya berbinar senang. "Jadi? Mau cerita tentang orang yang mau cari atau tidak?"


Nolan menyimak cerita Jose dengan tekun. Selagi bicara, mereka akhirnya sampai ke depan rumah Nolan. Beberapa tetangga sekitar mencuri lihat ke arah mereka diam-diam.


"Kau curiga hantu itu ada hubungannya dengan William?" tanya Nolan.


Jose mendesis. "Jangan keras-keras."


Nolan meringis. "Maaf. Tapi orang-orang hilang ini sudah ada sejak sebelum William datang," ia memelankan suaranya. "Di sini ada kisah tentang Banshee, dan orang-orang berpikir Banshee lah yang menculik orang-orang itu."


"Banshee?" Jose mengerutkan kening.


"Menurutku itu cuma mitos." Nolan mengangkat bahu. "Tapi entahlah. Mana yang mitos dan mana yang benar, semuanya membingungkan."

__ADS_1


***


Banshee adalah makhluk mitos. Biasanya digambarkan sebagai seorang wanita yang melolong-lolong. Namun di Bjork Selatan ada kepercayaan bahwa Banshee tinggal di hutan, dan siluman tersebut lah yang bertanggung jawab atas menghilangnya orang-orang di Bjork.


Jose mengobrak-abrik arsip mitologi dan legenda di pusat arsip, mencari tahu lebih dalam mengenai legenda-legenda serta kisah-kisah urban. Mungkin saja ada kebenaran tersembunyi dalam legenda. Bagaimanapun, cerita-cerita itu pasti muncul karena suatu sebab. Pasti ada pemicunya.


Namun setelah berjam-jam membaca, Jose tidak menemukan apa pun yang berarti. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam dan Nina sudah menghampirinya, memintanya pergi.


"Polisi patroli sudah berkeliaran sejak tadi. Sebaiknya kau pulang." Nina mengerutkan kening ketika melihat buku-buku yang dibereskan Jose. Ia membantu lelaki itu memasukkan buku-buku yang sudah dibaca ke troli pengembalian. "Kau tertarik membaca cerita horor?"


Jose tersenyum tawar. "Hanya ingin tahu soal Bjork Selatan saja."


Nina mengangguk pelan. "Yang kudengar, sungai di sana sungai sakral. Dulunya sering digunakan untuk ritual pengembalian arwah."


Jose menoleh heran. "Ritual apa?"


"Pengembalian arwah," sahut Nina heran. "Kau tidak pernah dengar? Kalau tidak salah, pembangunan jembatannya juga sempat diprotes oleh agama lama, tapi sekarang mereka sudah hampir punah, jadi tidak ada protes lagi."


Jose menganga. Harusnya sejak awal dia bertanya pada Nina. "Apa lagi yang kau tahu? Aku ingin dengar cerita lengkapnya."


Nina tertawa. "Aku juga cuma tahu dari nenekku. Ada agama lama di Bjork, Agama Bjork Kuno. Kudengar mereka melarungkan lentera di sungai sebagai pengantar arwah, dan tempat sakralnya ada di gunung. Banyak penganut agama lama tinggal di Selatan, tapi katanya banyak yang sudah lupa pada agama itu."


"Apa nenekmu tinggal di sini? Aku boleh menemuinya?" Jose buru-buru bertanya.


Nina menatap Jose agak lama, seperti mempertimbangkan sesuatu. "Ya, tentu saja kau bisa menemuinya kalau mau. Tapi tidak malam ini."


Jose mengerjap, ia buru-buru menggeleng. "Tentu saja tidak. Tolong sampaikan pada nenekmu bahwa aku ingin menemuinya, kapan pun ia bersedia. Aku benar-benar ingin mendengar ceritanya."


Andai saja Jose tidak mengucapkannya dengan nada seserius ini, Nina pasti akan menolak. Namun Jose terlihat begitu serius, seolah hidupnya bergantung pada cerita tersebut. Jadi Nina mengangguk.


"Aku akan menanyakannya dulu." Nina menengok jam, kemudian meninggalkan Jose untuk membereskan meja kerjanya. Pustakawan lain juga sibuk membereskan berkas dan bersiap pulang. Salah satu polisi patroli sudah datang dan mengetuk pintu, memberi peringatan akan jam malam.

__ADS_1


Jose merasa ia akan mendapat kemajuan dalam penyelidikannya. Cerita mengenai agama lama dan pelarungan lentera itu entah kenapa membekas dalam hatinya, membuatnya ingat pada cerita Sana.


Seingatnya, Sana bercerita bahwa Gladys bicara soal orang-orang banyak di gunung. Orang-orang apa maksudnya?


__ADS_2