
Pagi hari sebelum sarapan, Jose dipanggil ke kamar Marco. Awalnya Jose menebak pamannya itu masih tak sadarkan diri, tetapi ia salah.
Marco mengenakan setelannya yang rapi dan resmi seperti biasa, menunggunya di ruang duduk dengan raut segar seolah tidak pernah disekap atau mengalami malam-malam gila dan pingsan karena terluka. Minuman panas dan makanan ringan terhidang di meja rendah di depannya.
"Duduk," Marco mengangguk ke arah kursi kosong di dekatnya. Rolan ada di kursi lain, juga sudah tampak rapi dan lebih segar. Namun bayangan hitam masih tercetak jelas di bawah matanya.
"Paman sudah sehat?" tanya Jose heran. Tulangnya sendiri masih sakit di sana-sini baik karena kejadian di hutan dan karena Jacob. Bahkan duduk di sofa empuk pun membuatnya mengernyit sakit.
"Aku baik-baik saja," sahut Marco kalem. Matanya mengawasi dengan cermat, menyelidik. "Kau masih menyimpan kalungnya? Rolan bilang kau bisa membuka kalung itu."
Jose mengangguk. Ia melepas talisman yang ia kenakan, membukanya dengan mudah, lalu menyerahkannya pada Marco.
Pria itu mengamati isinya selama beberapa saat. Keningnya berkerut. "Ini bukan Arabella," katanya.
"Krip bilang, itu Arabella," Rolan mengabarkan.
Marco menggeleng. Ia melepas foto itu hati-hati, mengamatinya lagi dengan lebih saksama. "Aku tidak pernah melupakan wajah orang lain," katanya. "Tiga puluh tahun lalu, pasangan ini datang ke Bjork dan aku mengawasi mereka. Ini bukan Arabella ... tapi yang satunya memang Sir William."
"Itu Arabella," Jose berkata pelan. "Arabella yang asli. Yang Paman lihat tiga puluh tahun lalu adalah Arabella ... dalam tubuh lain."
Keheningan merambati ruangan. Sayup-sayup terdengar kokok ayam dan bunyi geradak roda para pedagang pasar dari kejauhan.
"Paman percaya bahwa jiwa bisa dipindah?"
Marco mengamati ukiran heksagram pada katup atas talisman. "Kau tahu aku tidak percaya hal semacam itu, kan?"
__ADS_1
Jose tahu itu. Pamannya selalu menolak untuk percaya pada apa pun yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah. "Data," katanya dengan nada mengalah. "Kesadaran manusia itu seperti data. Untuk mudahnya, manusia menyebut itu jiwa. Aku tidak ingin berdebat soal ini, Paman. Aku hanya ingin menjelaskan apa yang aku tahu saja ... Paman sudah melihat sendiri bagaimana hantu hitam ... bagaimana golem itu hidup. Sekte Scholomance melakukan pemindahan data kesadaran. Ketika manusia mati, kesadaran kita ikut terurai. Ritual yang mereka lakukan adalah menyabotase sistem alam untuk mengembalikan kesadaran itu, memindahkannya pada tubuh mati. Masalahnya, mereka menggunakan lingkaran transmutasi yang mengubah mayat-mayat jadi ... tidak karuan, lalu memasukkan kesadaran yang dipanggil tadi secara asal-asalan pada tubuh tak karuan itu."
Rolan mengerutkan kening. "Sebentar, jadi maksudmu mereka memang menghidupkan orang mati?"
"Secara teknis begitu. Tapi karena mereka asal mengambil kesadaran di sekitar mereka, tentu saja yang dibangkitkan bisa tercampur-campur. Sulit untuk spesifik mencari satu jiwa saja ... kecuali ada mekanisme khusus."
"Kenapa mereka menggabungkan lingkaran transmutasi dengan mantra evokasi? Kenapa tidak menggunakan lingkaran evokasi saja?"
Jose menggeleng, merasa mual. "Supaya mereka bisa membentuk tubuh baru, menciptakan boneka bernama golem. Kesadaran yang dikumpulkan diambil secara acak, dan begitu lahir kembali, mereka jadi tidak memiliki tujuan. Jiwa matang yang kebingungan karena dipaksa kembali. Dengan menjadikan mereka golem, orang-orang Scholomance memberi medium itu tujuan sederhana. Misalnya, cari kalung." Jose mengangkat wajah, menatap Marco dengan penuh arti. "Atau jangan biarkan Marquis Argent pergi dari lingkaran sihir."
Marco teringat pada lingkaran aneh yang ditulis di bawah kursinya ketika ditahan di puri. Jadi benar kata Lady Chantall, golem itu memang mengincarnya. Golem itu juga menjerit dengan beragam suara saat dicincang, sesuai dengan keterangan Jose mengenai kesadaran acak yang dimasukkan paksa ke dalam makhluk jadi-jadian itu.
"Kesadaran manusia dan semua makhluk hidup terikat pada jasad mereka. Jadi kalau tubuh yang digunakan sudah lama busuk, maka golem yang dihasilkan juga akan lemah. Makhluk itu akan lebur kembali setelah beberapa waktu." Jose memusatkan perhatian pada kalung di tangan Marco. "Kecuali kalau dibuat dengan melibatkan kalung itu. Sigil di sana membantu perapal mengikat jiwa yang dipanggil ke dalam tubuh baru, dan jiwa yang diikat akan bisa bertahan sangat lama."
Marco mengetuk-ngetukkan jari ke lengan kursi, berusaha mencerna semuanya. "Dan siapa yang memberitahumu soal ini, Jose?"
"Aku punya dugaan," kata Jose begitu ceritanya selesai, "bahwa bisikan-bisikan yang kudengar ... berasal dari leluhur kita di Bjork. Bisikan itu terdengar begitu jelas ketika aku di sana. Mereka menyebutku cucu, dan saat mendengar suara itu aku merasa seperti pernah mendengarnya di suatu tempat di masa lalu. Dan mereka juga yang memperlihatkan apa yang sebenarnya terjadi padaku."
Ia menatap kedua pamannya bergantian. "Aku tahu ini sulit dipercaya," katanya penuh penekanan. "Tapi aku tidak bermimpi."
Rolan sedari tadi mendengarkan dengan gelisah. Ia bahkan tidak menyentuh cangkir tehnya. "Enam orang yang kau lihat itu," katanya pelan setelah tidak ada yang bersuara selama semenit. "Kau ingat bagaimana saja wajahnya atau posturnya atau ekspresinya? Coba deskripsikan, Jose!"
Jose masih mengingat wajah-wajah itu samar-samar. Ia menghitung dengan jari. "Seorang laki-laki yang gendut dan tambun, seorang lagi laki-laki yang perlente—"
"Kelihatan seperti perayu wanita?" sela Rolan.
__ADS_1
"Eh? Yah, aku tidak tahu soal itu, tapi wajahnya memang cukup tampan, kurasa."
"Lalu ada yang kelihatan serakah atau tamak?" desak Rolan.
Jose menurunkan jari. Ia menatap pamannya dengan serius. "Apa yang ingin Paman katakan?"
"Itu pasti enam dosa besar," sahut dokter itu. Ujung kakinya bergerak-gerak gelisah. "Sloth atau kemalasan, gluttony atau kerakusan, lust atau hawa nafsu, wrath atau amarah, envy atau iri hati, greed atau ketamakan. Semua orang yang kau lihat mewakili enam dosa pokok manusia."
"Kupikir harusnya ada tujuh dosa besar?" tanya Jose heran, tetapi kemudian napasnya tercekat.
Rolan mengangguk, menumpukan sikunya di lutut. Ia menatap Jose tajam. "Tentu, ada satu yang belum kusebut. Dosa paling utama. Dosa yang membuat iblis dibuang dari surga." Ia menoleh pada Marco dengan tatapan menuduh. "Pride. Karena itu dia yang dipilih sebagai tumbal."
Marco sudah tahu ke arah mana pembicaraan ini, jadi ia tidak kaget. Punggungnya disandarkan pelan-pelan pada senderan sofa. Ia ingat Robert mengatakan alasannya dipilih sebagai kurban adalah karena semua orang tahu ia tidak percaya eksistensi Tuhan. Jadi semua hal terasa cocok.
"Ini benar-benar rumit." Jose menghela napas. Kepalanya benar-benar penuh. Ia tidak bisa memikirkan apa pun. Semua hal masuk ke telinga kanan dan keluar dari telinga kiri.
Tidak ada yang sempat menanggapi. Pintu kamar terbuka dalam satu ayunan kurang ajar dan Nolan menghambur masuk. "Marco!" seru gadis itu gembira.
Rolan menganga mendengarnya. Jose bahkan melotot kaget melihat Nolan berlari masuk dan menghampiri Marco dengan kedua tangan terulur seperti hendak memeluknya. Namun gadis itu berhenti tepat sebelum ia benar-benar menabrak Marco.
"Hai Jose," sapa Nolan ringan dengan lambaian kecil. Suaranya masih agak serak. Gadis itu mengenakan gaun sederhana berwarna pastel. Wajahnya bersih dan rambut pirangnya tertata rapi, membuatnya sekilas kelihatan seperti orang lain, seperti perempuan dari keluarga terhormat. Andai saja suaranya tidak selantang dan sekasar itu. Nolan mengembalikan wajah pada Marco dan mengulurkan padanya sapu tangan biru yang terlipat rapi. "Sapu tanganmu," katanya dengan senyum cerah. "Aku senang melihatmu kembali dengan selamat! Waktu Nyonya Argent memberi tahu kau sudah pulang, aku langsung ke sini."
Marco mengerutkan kening. "Pintar. Kau bisa memanggil Renata sebagai Nyonya Argent," ujarnya dingin. "Mempelajari itu pasti sangat berat hingga di kepala kecilmu tidak ada tempat tersisa untuk tata krama lain."
Orang biasa akan gentar mendengar nada sesinis itu, tetapi Nolan justru tergelak senang. Yang barusan memang reaksi yang ia harapkan dari Marco. "Senang sekali mendengar kau marah-marah begini!" serunya riang, tanpa ragu memeluk pria itu.
__ADS_1
Di ambang pintu, Lady Chantall dan Renata mengangkat kedua alis tinggi-tinggi.
***