
Mereka semua menoleh ke arah asal suara, kepada Nolan yang dengan mata basah dan pipi merah menahan marah, menggunakan jarinya yang tersembunyi dalam lengan mantel untuk menunjuk Xavier. Suaranya sember. "Kau membunuh orang dan menjadikan mayatnya sebagai hantu!"
Jose terperanjat. Ia bangkit dari kursinya dan menatap Xavier yang tertunduk diam. "Itu benar?"
"Hey, kau jangan bicara dulu," Rolan menegur Nolan, memaksanya duduk begitu gadis itu hendak bangun. "Pita suaramu belum pulih benar."
Jose mengerutkan kening melihat Rolan yang biasanya bersemangat dengan info baru kini justru tampak tenang. Terlalu tenang. "Paman sudah tahu soal ini?"
"Barusan tahu. Aku baru mau memberi tahumu soal ini waktu kau meminta Nolan dibawa ke sini." Rolan mengangguk ke arah Xavier, menatap pria itu dengan tatapan menghakimi. "Mereka melakukan transmutasi, tetapi menggunakan mantera evokasi dan kemungkinan juga menggunakan sigil evokasi. Gabungan yang mengerikan!"
"Hah? Kau bicara apa?" Xavier mengangkat wajah, menatap Rolan seolah pria itu sudah sinting. "Evokasi? Transmutasi? Apa itu?"
"Kau melakulan transmutasi dan evokasi tanpa mengetahui apa itu?" Gantian Rolan yang bingung. Ia menoleh pada Jose ketika menerangkan, "Evokasi adalah pemanggilan spirit atau iblis atau malaikat atau hal ekstraterrestrial lainnya. Sementara, transmutasi itu proses mengubah suatu obyek jadi obyek lain. Alkimia juga mempelajari ilmu ini, setahuku." Sekarang ia berpaling kembali pada Xavier. "Seharusnya, golem dibuat dari benda tak hidup dan dijadikan hidup tapi tanpa kesadaran. Tapi orang-orang ini mempermainkan roh orang mati, menjadikannya boneka, mengikatnya dalam kontrak dengan iblis!"
Xavier mengangkat wajah, menggeleng cepat. "Tidak!" serunya. "Kami memang biasanya merampok mayat, tapi tidak membunuh. Tanah adalah media yang sulit untuk dijadikan bergerak, jadi kami menggunakan bangkai atau mayat sebagai vessel. Dan tidak ada iblis dipanggil, jangan ngawur! Kau kan tidak tahu!"
"Oh, tentu saja aku tahu!" Rolan menyahut menang. "Biar kutebak: kalian menyebutkan doa ini, kan? Mungkin tidak persis seperti ini, tapi aku yakin yang pertama adalah: O, Alfa dan Omega, Tetragrammaton—"
Jose memperhatikan perubahan wajah Xavier. Pria itu kini setengah bangkit dari kursi. Ekspresinya berubah dari bingung lalu tercengang, dengan bola mata makin melebar seiring tiap kata yang keluar dari bibir Rolan.
"Abdia. Aku tidak begitu tahu apa artinya, tapi ini jelas memanggil spirit," Rolan meneruskan. "Solluzen—muncullah dalam lingkaran ini."
Jose menunduk memandangi telapak tangannya, lega karena kelihatan normal. Barusan ia merasa kedua tangannya aneh, seolah membengkak. Jantungnya juga berdegup agak lebih kencang.
"Lalu halliza—muncullah dalam bentuk manusia. Pasti setidaknya ada tiga kata tadi yang kalian ucapkan dalam doa!"
"Kau juga orang Scholomance?" tanya Xavier, wajahnya memucat.
Rolan memutar bola mata. "Tidak perlu jadi solomonari untuk tahu bahwa itu adalah rapalan mantera memanggil spirit!"
"Tapi kami tidak memanggil ..." suara Xavier melemah, ia seperti ingat sesuatu.
"Paman?" Jose memandangi sekitar dengan bingung. Tangan kirinya mencengkeram dada. Ia mengernyit sakit. "Apa ada gempa ... atau ini kepalaku?"
Rolan menoleh kaget. Ia segera berlari dan menangkap tangan Jose yang masih menggapai udara, mencari pegangan. "Tidak ada gempa! Kau kenapa? Duduklah!"
Abdia.
Solluzen.
__ADS_1
Abdia.
Halliza.
Suara Rolan bergema di kepala Jose, mengganda di dalam sana, menyerangnya dengan ribut. Ia memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan dirinya dipapah duduk kembali.
Kepalanya sakit. Matanya sakit. Jantungnya sakit. Jose menggertakkan gigi, menahan erangan. "Kepalaku mau pecah," geramnya, kedua tangan mencengkeram kepala. "Suruh mereka diam!"
"Siapa?" Rolan menatap ke sekeliling dengan heran. Nolan ikut berlutut di karpet, di sisi kursi Jose, memegangi lengan pemuda itu. Xavier hanya menonton dengan raut bingung.
"Sebelum kalian menuduhku, aku tidak melakukan apa pun padanya," kata Xavier begitu melihat Nolan melemparinya dengan tatapan penuh kebencian. "Kami duduk terpisah agak jauh!"
Jose membungkuk di kursinya, menempelkan keningnya yang basah berkeringat ke lutut. Sesuatu yang tajam menusuk-nusuk punggungnya, dan rasa sakit itu menjalar ke seluruh bagian tubuhnya sampai ke kepala. Jantungnya seperti diremas dengan kerikil tajam. Bahkan bernapas pun menyakitkan. Ia mendengar Rolan memanggil-manggil namanya, tetapi itu semua terasa jauh, tenggelam dalam seru-seruan suara lain.
Jose menarik sapu tangan dari dalam saku kemejanya, menyumpalkan benda itu ke dalam mulut untuk meredam suaranya sendiri. Ia belum selesai menanyai Xavier. Kalau ia menjerit kesakitan sekarang, semua pekerjanya akan datang. George akan datang. Mereka akan menyeret Xavier dan mungkin membunuh pria itu dalam proses membuatnya mengaku apa yang terjadi.
Ia tidak akan bisa mengendalikan mereka dalam kondisi seperti ini, Jose menyadarinya. Ia melepas sapu tangannya untuk menarik napas panjang, tersengal. Ketika mengangkat wajah, ia kaget melihat begitu banyak orang berada di ruangan itu. Terlalu banyak. Sangat banyak. Kamar baca penuh sesak dengan manusia-manusia. Dan mereka semua menatap Jose dengan mata sedih.
Jose mencengkeram lengan Rolan, yang masih memeganginya. Seluruh tubuhnya gemetar. Awalnya ia bingung dan ngeri, ia pikir ia berada dalam mimpi. Namun begitu melihat Wallace dan Higgins ada di antara kumpulan itu, Jose mengerti.
Xavier bergeser ke samping pelan-pelan karena takut pada Jose yang menatap lurus padanya, kemudian bersyukur ketika mata pemuda itu tidak bergerak mengikutinya.
"Kau tidak perlu memikirkan itu dulu!" Rolan menyahut gusar. "Coba lihat ke arahku, aku tidak bisa melihat matamu kalau kau menunduk."
"Paman, pukul kepalaku," kata Jose gemetar. Ia mengernyit lagi. Matanya berair menahan sakit. Ia tidak bisa menahannya lagi. Lebih dari ini, ia akan menjerit-jerit seperti orang gila.
"Ya?" Rolan mengerutkan kening.
Suara-suara makin keras dalam kepala Jose, berteriak, menjerit.
"Pukul aku sampai pingsan! Cepat!"
***
Mereka semua mengambang, melayang seperti kunang-kunang, memenuhi area rumah. Memenuhi Bjork. Memenuhi dunia.
Jose bisa merasakan seluruh inderanya berubah lebih tajam, lebih awas. Ia bisa melihat semuanya lebih jelas, bahkan menghitung berapa banyak debu mengambang di sekitarnya kalau mau. Ia seperti memisahkan diri dari tubuhnya. Ia tidak melihat dengan mata, Jose menyadari. Semua hal terasa aneh, ia seperti sedang mengamati mimpinya sendiri.
Rolan dan Xavier membawa tubuhnya ke kamar di sisi ruang baca, menidurkannya di ranjang. Nolan mengikuti dari belakang dengan wajah cemas.
__ADS_1
George bicara dengan Margie di lantai satu. Renata berjalan-jalan di rumah kaca dengan tatapan melankolis. Jose melihat semuanya semudah menggeser pandangan. Ia bisa melihat keadaan Maria sekarang. Gadis itu di kamarnya, meringkuk di bawah selimut. Sesuatu yang aneh dan asing tumbuh dalam tubuh Maria, dan gadis itu juga menyadarinya.
Kau tidak bisa menghindarinya dengan cara tidur, pikir Jose. Kemudian apa yang ia lihat berubah lagi, seolah semua hal tergeser dengan gampang sesuai keinginannya, tetapi ia tidak merasakan emosi apa pun. Tidak ada sedih, senang, kecewa, atau marah.
Ia melihat puri besar di belantara hutan di Selatan. Pamannya ada di salah satu kamar puri tersebut, diikat kuat di sebuah kursi, ditempatkan di kamar kosong tanpa perabot. Lingkaran dan pola magis digambar saksama dengan kapur di lantai. Marco tertunduk, kepala menempel ke dada. Pamannya sendirian di kamar itu, tapi dua orang lelaki berjaga di depan pintu.
Jose memikirkan Sir William. Ia baru mau melihat ke rumah lelaki itu ketika sesuatu menariknya. Kesadarannya diseret pergi dari segala gambar yang ia lihat, ia seperti dipaksa bangun dari mimpi.
Jangan ke sini, banyak suara berbisik berbarengan. Suaranya lembut yang menyejukkan. Meski tidak tahu siapa yang bicara, Jose merasa suara-suara itu berasal dari Bjork Selatan. Dari hutannya, dari sungainya.
Yang bisa menyeberang sungai hanya yang mati.
Kau belum. Bukan kau. Yang satunya, bawa yang satunya menyeberang.
Selagi kami masih kuat. Selagi kami belum rusak.
Suara-suara itu membuat Jose merasa nyaman, membuatnya rindu. Ia ingin terus mendengarnya, dan hatinya kecewa menyadari gelombang itu perlahan pergi. Ia tidak melihat apa pun lagi. Ia sudah diseret pergi ke tempat yang gelap, tapi menenangkan. Suara-suara tadi hilang digantikan suara lain, suara wanita. Suara yang terasa akrab baginya, tapi ia lupa siapa.
Jose.
Argent.
Tolong dia.
Jose tidak bisa mendengarnya dengan jelas karena ia ditarik pergi dalam kecepatan tinggi. Sesuatu yang gelap menghantamnya keras, membuat Jose membuka mata dan terjaga sepenuhnya.
Jantungnya berdegup kencang. Ia merasa nyawanya barusan seperti dibanting dengan kasar, dikembalikan ke tubuhnya. Ia tersengal. Tubuhnya dibanjiri keringat dingin.
Jose menggerakkan kepalanya untuk menoleh ke kiri, melihat begitu banyak manusia mengitari tempat tidurnya. Kali ini manusia sungguhan. Ada Rolan, Gerald, Krip, Hans, George, Margie, kemudian Renata.
Ia sudah dipindah ke kamar tidurnya di sayap timur.
Renata yang pertama bergerak mendekatinya, memeluknya erat sambil melantunkan rentetan doa syukur.
Jose menggeser pandangannya ke arah Rolan, yang kelihatan lega setengah mati. "Jam berapa sekarang?" tanyanya.
Rolan menengok arlojinya. "Jam setengah lima sore. Kau pingsan setengah hari."
Jose membalas pelukan ibunya, menepuk-nepuk punggungnya dengan sayang. "Aku sudah tidak apa, Bu. Tidak perlu cemas." Ia melirik Gerald. "Siapkan pekerja. Kita akan menjemput Paman Marco."
__ADS_1