
Lady Chantall berharap ia membawa jam saku supaya bisa memperkirakan waktu. Kakinya kedinginan. Ia bisa saja masuk kembali ke aula dan meringkuk di tengah tamu-tamu yang hangat, tetapi jarang-jarang ia mendapat kesempatan berdiri diam bersama dengan Marco seperti sekarang. Jadi sedetik pun tidak akan ia sia-siakan.
Ia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya, dan meski perasaan ini memberi sensasi yang menyenangkan, ia juga jadi jengkel karena sulit menjaga jantungnya untuk tetap tenang.
Lady Chantall pernah menikah sebelumnya, pernikahan politik yang berlangsung selama lima tahun. Waktu itu usianya enam belas tahun. Ibunya menikahkannya dengan seorang menteri dengan harapan akan menguatkan posisi keluarga mereka di Skot. Namun permainan di istana tidak sama dengan permainan di jalanan. Sekali salah melangkah, anggota dinasti sendiri yang akan mengayunkan tangan, memerintahkan eksekusi. Dan seperti itulah suaminya berakhir. Suaminya yang muda dan ambisius, suami yang tidak dicintainya.
Lady Chantall menyukai pria yang kuat, yang memiliki kharisma dan integritas tinggi, lelaki yang sama sepertinya—tidak akan membiarkan orang lain memaksanya berlutut. Dan ia menemukan sosok ideal itu dalam diri Marco Argent. Menurutnya, pria itu tidak akan kalah dalam pertaruhan nasib semudah almarhum suaminya. Awalnya Lady Chantall hanya mengaguminya saja dengan hormat, tetapi makin lama ia makin tertarik pada segala hal dalam diri Marco. Baik pada sifat kekanakannya yang terkadang muncul saat tidak mau kalah dalam perdebatan, pada kekeraskepalaannya, juga pada obsesinya menjadikan Bjork lebih baik daripada Aston meski kota itu bukan milik Argent.
Banyak yang bilang obsesi itu berawal dari taruhan Marco dengan sang Ratu sendiri, tetapi tidak ada yang bisa memastikannya. Lady Chantall bahkan tidak tahu apa hubungannya Keluarga Argent dengan Ratu. Semua hal hanya sebatas rumor, kebenarannya ditutup rapat-rapat oleh Marco. Dan ia baru menyadari bahwa ia jatuh cinta saat pria itu menghilang.
Lady Chantall melirik, baru saja menemukan topik baru untuk mengisi kesunyian. Bola matanya membeliak lebar melihat keadaan Marco. "Kau harus duduk," desisnya kaget. Kedua tangannya menyentuh lengan Marco, menekannya turun ke bawah. "Kau berkeringat, wajahmu pucat! Apa lukamu terbuka?"
"Kurasa iya," Marco mengakui, menunjukkan telapak tangannya yang bersimbah darah. Warna gelap membasahi sisi waistcoat yang ia kenakan.
Lady Chantall yakin matanya sekarang pasti hampir copot. Ia mengeluarkan sapu tangan untuk mengelap darah itu, tetapi Marco mengepalkan kembali jemarinya dan kembali bersedekap.
"Jahitannya mungkin lepas. Tapi aku masih bisa berjalan."
"Tentu saja lepas kalau kau mengayun kapak seliar itu! Jangan keras kepala, tidak akan ada yang mengejekmu karena duduk sebentar! Kau terluka ... "
Marco menggeleng, berhati-hati menepis tangan wanita itu dengan ujung jarinya yang bersih. "Kalau duduk sekarang, aku tidak akan kuat bangkit lagi," katanya. Ia menyunggingkan senyum tipis dan berbisik rendah, "Dan kalau aku kembali dalam keadaan dipapah seperti orang sakit, musuh-musuhku di Bjork akan tahu bahwa mereka berhasil melukaiku. Cara pengecut ini akan terbukti efektif. Ke depannya mereka akan menggunakan cara yang sama dengan harapan aku akan melemah lalu jatuh. Selama situasi masih belum pasti, tidak ada yang boleh tahu aku bisa ditumbangkan."
Lady Chantall menganga. Ia hendak mengatakan sesuatu, tetapi membatalkannya. Bibirnya terkatup kembali. "Maaf. Kupikir kau hanya bergaya," katanya lirih, meremat sapu tangannya kuat-kuat. "Aku lupa setiap tindakanmu pasti beralasan."
"Oh, tapi kau juga benar," sahut Marco ringan, menempelkan ujung lidahnya ke sisi dalam pipi. "Aku suka kedatangan yang penuh gaya, makanya sebisa mungkin selalu tampil dandy."
Lady Chantall ingin tertawa, tetapi ia berusaha keras untuk mengerutkan kening dan tetap tampak marah. Ia tidak boleh melunak. Namun pada akhirnya ia kalah dan tertawa juga. "Baiklah, Argent," katanya geli. "Terserah kau saja. Tapi kalau terasa sakit tak tertahankan, kau akan bilang padaku kan?"
__ADS_1
"Aku akan bilang pada Rolan." Marco mengangguk ke depan, ke arah obor-obor yang berarak mendekat seperti ular. Rolan di sana, melambai senang padanya sambil merangkul lengan Jose.
***
Maria membuka mata dan terjaga sepenuhnya.
Aneh, pikirnya heran. Sambil menoleh ke sana kemari dengan bingung, menyapu setiap sudut kamar dengan pandangan. Ia barusan seperti merasakan kehadiran Jose di kamar itu.
Bodohnya, pikir Maria malu sambil menepuk-nepuk pipi. Mana mungkin dia di sini.
Jam berdetak nyaring di telinga Maria, jarumnya menunjukkan pukul delapan tepat. Ia menyingkap selimut dengan lembut, berhati-hati agar tidak membangunkan Susan. Sekarang belum terlalu malam, tetapi segala hal terasa senyap seolah seseorang mematikan tombol suara di bumi.
Maria duduk di bibir ranjang agak lama, memikirkan apa yang membuat segalanya begitu senyap. Ia memiringkan kepala untuk mendengarkan lebih jelas, kemudian mengerti apa yang hilang: suara makhluk lain. Tidak ada suara binatang apa pun. Tidak ada bunyi jangkrik, tidak ada lolongan anjing di kejauhan, tidak ada dekut burung hantu. Bahkan gemerisik kain pun terasa begitu lemah hingga Maria memukul-mukul pelan sisi kepala untuk memastikan telinganya tidak tersumbat. Andai ia tidak mendengar detak jam, Maria pasti yakin telinganya sudah tuli.
Ia merapikan rambutnya yang berantakan, mempertimbangkan untuk membangunkan Susan agar menemaninya mengobrol.
Begitu melangkah ke luar kamar, Maria dicekam rasa ngeri yang sangat hebat. Rasanya seolah ia terlempar ke dunia yang tak dikenalnya. Ia merasa banyak mata mengawasinya, membuatnya lumpuh.
Ujung-ujung lorong rumahnya seperti berputar dalam pilinan pelan, menguncinya tetap di tempat. Segala hal mendadak terasa begitu asing. Maria memandang ujung-ujung tangannya sendiri, merasa ngeri meskipun semuanya terlihat normal.
Apa aku demam? Ia menempelkan telapaknya di kening untuk mengukur suhu. Tidak panas.
Maria ingin kembali ke kamarnya, tetapi sesuatu mendorongnya untuk terus melangkah meski bahkan dinding-dinding rumah ini terasa meneror.
Aku merasa seperti gadis itu, pikir Maria heran sambil terus berjalan, gadis yang mengejar kelinci dan terperosok dalam lubang di tanah. Gadis itu juga berada dalam ruangan aneh, dan tubuhnya bisa mengecil atau membesar.
Maria sampai di anak tangga terakhir yang menuju ruang utama. Ia menyeberangi ruangan, masih tidak menyadari sepenuhnya apa yang ia lakukan. Semuanya terasa bagai mimpi.
__ADS_1
Tapi aku, pikirnya lagi, aku mengejar apa?
Ia membuka rantai pintu dan memutar handel. Udara malam menyergapnya dalam belaian lembut. Maria memejam sebentar, menghirup hawa dingin yang menerpa. Ketika membuka mata, ia melihat seorang pria berdiri di depannya, di luar gerbang. Tangan pria itu mencengkeram teralis gerbang, tampak seperti menanti sesuatu. Menantinya.
Jose? Maria memiringkan kepala, bertanya-tanya dalam hati kenapa nama itu yang pertama terlintas di benaknya padahal jelas-jelas bentuk tubuh sosok itu tidak mirip Jose.
Alih-alih waspada dengan keberadaan orang asing tersebut, Maria justru menapak ke teras rumah. Ubin yang terbuat dari granit hitam terasa dingin di telapaknya yang telanjang. Ia lupa mengenakan alas kaki, tetapi alas kaki memang tidak penting. Maria merasa segala hal tidak berarti sekarang. Orang itu di sana, menantinya, dan hanya itu yang penting.
Maria berjalan lebih cepat ketika menuruni undakan teras. Senyum merekah di bibir merahnya. Ia mengulurkan kedua tangan ke depan seperti hendak memeluk.
"Sebentar lagi," pria di depan gerbang berkata. Suara itu hanya bisikan, tetapi terdengar begitu jelas di telinga Maria, membuatnya begitu sedih hingga ingin menangis. "Sebentar lagi kita bisa bersama."
Tinggal beberapa langkah lagi untuk sampai ke gerbang utama dan mereka bisa bertemu, ia bisa melihat wajah pria itu lebih jelas. Angin malam bertiup, membuat gaun tidurnya menempel di kulit, berkibar di belakang kaki setiap ia melangkah. Jantungnya berdegup kencang dengan antusias, seluruh tubuhnya seperti siap meledak.
"Nona!"
Seseorang menarik pergelangan tangan Maria dan memutar tubuhnya ke belakang. Maria tersentak kaget. Kedua matanya membuka lebar-lebar.
"Sue?" tanyanya heran, seolah tidak yakin. Segala suara kembali terdengar, bahkan desir angin yang melintas pun bergemuruh lembut di telinganya. Serangga-serangga malam berkerik di sudut-sudut halaman, begitu ramai.
Susan terlihat ketakutan. Bibirnya gemetaran. "Nona, ayo kita masuk. Sudah malam."
Maria mengangguk patuh, membiarkan dirinya digiring kembali ke dalam rumah. Ia sempat menengok sekilas ke belakang, tetapi pria itu sudah tidak ada.
Apa aku memang bermimpi? Maria masih kebingungan. Yang tadi itu mirip Sir William.
***
__ADS_1