BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Chapter 69


__ADS_3

Marco perlu mengetahui soal ini. Ia sudah menyuruh orang-orangnya untuk mengawasi dan memata-matai Wallace. Krip bahkan sudah disuruhnya untuk membongkar data diri Wallace, mulai dari latar belakang keluarga, riwayat penyakit, bahkan sampai isu-isu yang beredar tentangnya. Isu apa pun. Marco perlu tahu segalanya, sampai pada siapa saja yang ditemui lelaki itu tiap harinya.


Krip berjanji akan memberikan laporan secepatnya. Pria botak itu juga menyampaikan bahwa ia baru saja menyerahkan laporan tentang Sir William pada Jose. Laporan yang sudah disunting. Versi yang belum disunting baru saja dikirimkan Krip pada Marco.


Marco sedang membaca laporan itu pagi ini, sambil memikirkan bagaimana mendidik Jose dan menyeretnya perlahan menjadi penguasa penggantinya di Bjork. Ia perlu memberi pemuda itu banyak latihan, salah satunya adalah, tidak boleh memercayai siapa pun.


Jose agaknya sangat memercayai Krip. Bahkan meski tahu bahwa Krip adalah bawahan langsung Marco.


***


Hantu hitam yang ia lihat mungkin memang berhubungan dengan kabut. Nolan sudah memikirkannya semalaman, dan ia memutuskan untuk mencari tahu sendiri apa sebenarnya yang ada di balik sungai di hutan.


Sungai itu membentang mengitari Bjork Selatan, memisahkan antara daerah pemukiman dengan hutan gelap yang semua pohonnya tumbuh sangat rapat. Nolan memperkirakan waktu ketika berangkat dari rumah. Kabut memang kadang datang mendadak tanpa bisa diperkirakan, tapi biasanya ada waktu-waktu khusus di mana kabut itu pasti datang. Nolan menghindari jadwal yang pasti, memperkirakan ia akan bisa kembali tepat waktu kalau berlari dari hutan.


Setelah menerabas semak perdu dan pohon-pohon muda, Nolan sampai ke tempatnya biasa memancing. Sungai itu lebarnya hanya dua meter. Ia bisa menyeberanginya dengan berenang atau menyusuri tepian sungai mencari kalau-kalau ada jembatan. Namun pilihan yang kedua akan makan waktu, sementara ia sedang berlomba dengan waktu kabut muncul.


Nolan memilih berenang. Ia baru saja membuka kancing bajunya yang paling atas ketika sikunya ditarik ke belakang. Nolan memekik kaget.


"Anak bodoh!" bentak suara di belakangnya. Nolan menoleh, menabrak mata hitam gelap yang menatapnya marah.


"Jose?"


"Apa yang mau kau lakukan? Berenang ke sana?" tanya Jose kesal. Rambut hitam lelaki itu berantakan karena angin. Ujung mantelnya yang semata kaki kotor karena lumpur. "Apa kau gila? Kau sendiri yang bilang bahwa sungai ini dalam dan arusnya deras, kan?"


"Kau ... ngapain ke sini?" Nolan masih bingung. Ia bolak-balik bergantian menatap antara sungai dan Jose, yang kini berdiri berkacak pinggang di sampingnya. "Kok kau ada di sini?"


"Aku melihatmu berlari seperti dikejar setan ke arah hutan, jadi kuikuti," Jose menjelaskan tanpa rasa bersalah. Ia melihat ekspresi Nolan berubah dari bingung jadi kesal.


"Kau membuntutiku?" bentak gadis itu. Pipinya merona merah. Ia hampir saja membuka baju di depan Jose.

__ADS_1


"Aku cuma khawatir, kupikir kau dikejar sesuatu," Jose berkilah. "Pokoknya, jangan bertindak gegabah! Aku tidak tahu apa yang kau mau atau bagaimana kebiasaanmu. Tapi yang jelas, berenang di sungai dalam cuaca sedingin ini jelas bukan hal bagus."


Setelah Jose mengatakannya, Nolan baru menyadari bahwa ujung-ujung jarinya kedinginan. Ia hanya memakai pakaian tipis karena bertekad berenang menyeberangi sungai tadi.


"Kau lapar tidak? Mau makan crepes?" Jose masih berusaha membujuk. Ia ingat Nolan menyukai crepes yang ia belikan dulu. Lelaki itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantel, menahan dingin. "Aku sedang lapar. Ayolah, temani aku. Akan kubelikan banyak crepes kalau kau mau menemani."


"Memangnya kau tidak punya teman lain?" Nolan mendengus, kini sudah tak berselera menyeberangi sungai.


Jose tersenyum sambil menggeleng. "Tidak. Aku tidak punya teman satu pun, kau tidak kasihan kalau aku makan sendiri seperti anak hilang?"


Nolan tahu itu bohong. Ketika beberapa kali bersama Jose di Utara, ia melihat banyak orang menyapa lelaki itu dan mengajaknya ngobrol. "Kalau lapar, harusnya kau pergi saja dengan Nona Garnet itu!"


"Maria?" Jose mengerutkan kening mendengar nama itu disebut. "Kau ingin kita makan dengan Maria?"


"Bukan! Maksudku kau!" Nolan mengentakkan kaki dengan jengkel.


"Kau ingin aku makan dengan Maria?"


Jose tertawa, ia berlari kecil menyusul Nolan.


***


Gladys dan Sana masih menjerit sambil melarikan diri. Bunyi daun dan ranting kering yang terinjak memenuhi kepala, memenuhi gendang telinga. Sana sendiri sebenarnya tidak ingin berlari terlalu jauh, tetapi Gladys selalu berada semeter di depannya, membuat Sana tidak mau berhenti.


“Hei!” jerit Sana ketika langkah Gladys makin cepat. Napasnya tersengal. Jantungnya berdebar sangat kencang. Mereka malah memasuki sisi hutan dan bukannya pemukiman. “Hei, Gladys!”


Gladys perlahan berhenti. Napasnya masih teratur. Sana tersengal-sengal di belakangnya dengan punggung bercucuran keringat. Pergelangan tangannya masih digenggam Gladys.


“Kenapa larimu kencang sekali, sih?!” bentak Sana sambil mengusap kening.

__ADS_1


“Maaf, aku takut sekali! Putih-putih tadi apa, sih?” Gladys beralasan.


“Aku juga tidak tahu.” Sana bergidik. Ia menatap ke sekeliling, melihat hanya ada pohon-pohon besar dan jarang yang menjulang tinggi ke atas, membentuk kanopi alami. Akar dan bagian bawah pohon-pohon itu kebanyakan sudah berlumut. “Tapi rasanya barusan memang ngeri sekali. Kakiku otomatis lari. Lagi pula, kau yang duluan menjerit.”


“Bukan, tapi kau,” tuduh Gladys.


“Kau duluan!”


“Kau!”


Mereka berdua saling menatap dengan mata melotot, lalu akhirnya hanya tertawa canggung.


“Kita berdua memang lari sangat kencang,” Sana mengangkat sebelah tangan sebagai isyarat menyerah. Ia menatap lagi ke sekeliling, kali ini dengan lebih waspada. Perasaannya tidak nyaman, rasanya seperti ada orang yang mengawasinya. “Mungkin … aku tidak begitu ingat, tapi rasanya tadi cuma putih-putih, kan? Mungkin sampah.”


“Kurasa juga begitu,” Gladys berkata pelan-pelan.


Sana tersenyum kikuk. Ada sesuatu yang aneh pada Gladys hari ini. Gadis itu bicara sangat lambat dan aneh, tetapi ia cepat-cepat menggeleng. “Kita kembali, yuk. Aku tidak nyaman dikelilingi pohon begini.” Ia menunjuk ke arah jalan yang terbuka, tempat mereka lari barusan. Batang-batang pohon membentuk pintu gerbang seperti pada cerita di negeri dongeng, menampakkan sedikit tanah lapang tempat mereka mengobrol tadi.


Sana bermaksud menggandeng Gladys kembali, tetapi gadis itu terpaku di tempatnya.


“Jangan kembali dulu,” bisik Gladys pelan.


“Kenapa?”


“Temani aku sebentar.”


“Ke mana?” Sana mulai gelisah. Matanya menatap heran pada posisi tangan mereka. Gladys menggenggam pergelangan tangannya erat sekali, tapi tangan gadis itu dingin seperti batu pualam. “Kau mau ke mana?” tanyanya lagi karena tidak ada jawaban.


Gladys menengok ke arahnya, lalu berkata dengan suara yang lebih mirip bisikan, “Di belakang sana, di seberang sungai, temani aku ke sana sebentar.”

__ADS_1


“Mau apa di sana?” tanya Sana lagi. Ia tahu bahwa sungai Bjork ini berputar memisahkan pemukiman di Bjork bagian Selatan dengan hutan . Tidak ada yang tinggal di sana. Setelah hutan, yang ada hanya tebing tinggi yang terjal, lalu gunung mati. Ia tidak tahu apa yang diinginkan Gladys di sana, tetapi gadis itu memang kelihatan lain dari biasanya. Wajah gadis itu datar seperti topeng.


***


__ADS_2