BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Episode 196


__ADS_3

Rambut Lady Chantall membentuk ikal-ikal lembap menuruni bahu, tergerai bebas di kulitnya yang putih susu. Sudut bibirnya masih terangkat membentuk senyum puas. “Aku boleh memanggil nama depanmu kan sekarang?” bisiknya, menyandarkan pipi ke bahu Marco. Tidak sepertinya, pria itu sudah kembali berpakaian lengkap, kini sedang mengancingkan manset.


“Kau sudah memanggil nama depanku sejak tadi,” tukas Marco. “Bukankah agak terlambat baru minta izin sekarang?”


Lady Chantall tertawa kecil. Pipinya masih memanas kalau mengingat apa yang baru saja mereka lakukan. “Kau juga harus panggil aku Jeanne,” katanya dengan nada merajuk. “Aku tidak mau dipanggil my lady.”


“Chantall,” sahut Marco keras kepala. “Sebaiknya kau berpakaian sekarang. Stuart akan datang sebentar lagi.”


“Jeanne!”


“Milady, silakan berpakaian.”


“Baik, baik. Chantall saja tidak masalah,” gerutu wanita itu. “Tapi Chantall bukan namaku, itu kan nama klanku. Bahkan tadi pun kau memanggilku begitu. Memangnya kau sedang bercinta dengan seluruh klan? Menyebalkan!”


Marco tertawa geli dan hanya itu yang diinginkan Lady Chantall. Ia merengkuh wajah pria itu, mempertemukan kembali bibir mereka dengan panas. “Bagaimana lukamu?” tanyanya, sedikit terengah. Ia sempat lupa bahwa Marco sedang terluka, padahal perbannya kelihatan dengan jelas. “Masih sakit? Aku tadi sempat mengenaimu tidak? Perbannya harus diganti tidak? Aku bisa membantu.”


“Tidak sakit,” Marco menjawab jujur. Ia memang tidak merasa sakit sedikit pun, hanya agak pegal dan mengantuk. “Perbannya masih kencang, biar Rolan yang menggantinya saat dia kembali. Dia bakal mengamuk kalau tahu kau ikut mengusik pengobatanku.”


Lady Chantall sudah mengenakan kembali gaunnya dan saat ini sedang mengikat tali cape di depan dada, menjalinnya membentuk pita mungil. Rambut ikal cokelatnya ia ikat tinggi di atas kepala. Setelah memastikan di cermin bahwa tidak ada lipatan aneh atau noda pada gaunnya, ia kembali duduk di sofa panjang tempat mereka barusan bermesraan. Pipinya diletakkan di bahu pria itu, tangan mereka bertaut. “Aku ingin waktu berhenti,” bisiknya pelan.


Marco hanya menggenggam lebih lembut tangan Lady Chantall, menenggelamkannya dalam genggaman. Ia akan membuat wanita itu kecewa nantinya, tapi percuma memberi peringatan bahwa ini adalah kekeliruan. Lady Chantall tidak akan mau mendengar, dan ia sendiri juga bersalah karena membiarkan dirinya terseret terlalu jauh dalam sihir mata hijau itu, yang mengisapnya seperti rawa-rawa.


“Kau memikirkan apa?” Lady Chantall menoleh, menemukan kesenangan baru memperhatikan perubahan pada garis-garis wajah pria itu dari dekat. “Aku mencintaimu,” bisiknya tanpa sadar.


“Aku tahu.”


“Aku tahu? Tentu saja kau tahu! Aneh kalau kau tidak tahu karena aku mengucapkannya ratusan kali pagi ini.” Lady Chantall mencubit dengan sebal. Ia sedikit kecewa. “Bagaimana denganmu?”


Marco tidak menjawab. Apakah yang ia rasakan adalah cinta? Ia bahkan tidak yakin. Jika yang dirasakannya sekarang adalah cinta, lalu yang dulu itu apa? Apa yang membuatnya menutup diri dan membangun benteng selama tiga puluh tahun? Kedua perasaan yang dialaminya terasa berbeda, baik yang dirasakannya pada gadis itu dulu maupun yang ia rasakan sekarang dengan Lady Chantall. Ia mengejek Lady Chantall pagi ini, menganggapnya tidak mengerti apa itu cinta. Tapi sekarang Marco menyadari, ia sendiri juga tidak tahu apa-apa.

__ADS_1


“Kalau kau belum bisa menjawabnya, tidak masalah,” Lady Chantall berkata lembut, mempererat pelukannya pada lengan Marco. “Kita masih punya banyak waktu.”


Tidak sebanyak itu untukku. Marco menatap ke luar jendela, mengamati langit biru yang menggantung tanpa awan. “Aku bukan dikecewakan oleh seseorang,” katanya pelan, menjawab pertanyaan Lady Chantall jauh sebelumnya. “Sebaliknya, aku yang mengecewakan orang itu.”


“Gadis yang mengujimu itu?”


“Ya. Dia sering melakukannya, menjebakku hanya untuk melihat apa pilihan yang akan kuambil. Apakah aku akan tetap setia padanya atau apakah aku akan melawannya. Dan caranya sangat …,” Marco berpikir sebentar, mencari padanan kata yang tepat. “Keji,” akhirnya ia memilih diksi itu, yang bahkan tetap saja terasa terlalu murah hati di telinganya. “Kadang dia hanya bergurau, kadang dia benar-benar serius dengan ancamannya.”


Perempuan itu kedengaran gila dan berbahaya. Lady Chantall mengerutkan kening, tidak mengerti kenapa Marco bisa menyukai gadis seperti itu atau tidak bisa menundukkannya. “Pantas saja,” gumamnya pelan, hanya memberi sedikit reaksi untuk memberi ruang bagi Marco bercerita. Ia senang pria itu mau membuka diri padanya. “Dan kau mencintainya.”


“Ya.”


Jawaban itu menusuk Lady Chantall begitu dalam, membuatnya meringis kesakitan. Ia menundukkan wajah, menyembunyikan matanya yang basah. “Sampai sekarang?” tanyanya.


“Tidak lagi.” Marco menggeleng. Suaranya berubah dingin. “Aku meninggalkannya ketika dia memintaku memilih mana yang sebaiknya dia lenyapkan: keluargaku, atau statusku. Dia sangat kecewa, tapi kami masih sering berkorespondensi.”


Lady Chantall terdiam. Kepalanya mendadak terasa pening. Ia melepaskan lengan Marco perlahan. “Maksudmu statusmu sebagai Marquis atau status lain?”


Marco menyunggingkan senyum kecil. “Menurutmu?”


Tadinya Lady Chantall merasa heran kenapa Marco membiarkan seorang gadis mengujinya berulang kali dan bercerita seolah menjebak perasaan seseorang adalah hal yang wajar dilakukan gadis itu, tetapi jika tebakannya benar, jika gadis yang pernah dicintai oleh Marco memang sesuai dugaannya, maka semua hal jadi masuk akal.


“Kau berkorespondensi dengannya soal apa?” Ia berani bertanya karena sadar Marco bukan sedang bersikap sentimental atau romantis dengan menceritakan masa lalunya. Ia sadar bahwa Marco memang bukan orang seperti itu. Pria itu tidak akan pernah memberi informasi secara cuma-cuma atau tanpa tujuan. Pasti selalu ada alasan.


Marco bangkit dari duduknya dan berjalan ke meja kerja, membuka laci paling atas, kemudian mengeluarkan satu amplop yang masih baru dari sana. Ia memastikan isinya sebelum menyerahkan surat itu pada Lady Chantall. “Surat cinta semacam ini datang sebulan sekali,” katanya. “Tapi akhir-akhir ini jadi cukup sering karena kasus orang hilang di Bjork.”


Amplop tersebut terbuat dari kertas berkualitas tinggi. Lilin merah yang mengelak tutup suratnya berlambang imperial.


Hanya satu orang di Albion Raya yang bisa mencabut status seorang Marquis. Lambang pada lilin segel tersebut membenarkan tebakan Lady Chantall, membenarkan gosip yang beredar sejak dulu mengenai Marco. Lelaki itu memang pernah menjalin hubungan khusus dengan keluarga kerajaan. Dengan Yang Mulia Ratu Albion Raya.

__ADS_1


Lady Chantall tertawa panjang dan pahit begitu membaca isinya. Ia mengangkat wajah, mata hijaunya berlumur kesedihan. “Jadi ini yang kau lakukan? Surat cinta?” Ia tertawa dari hidung. Isi surat itu adalah perintah yang dituang dalam narasi halus. Perintah yang lebih mirip desakan untuk mengatasi kasus orang hilang di Bjork. “Cinta macam apa ini?”


“Yang bersimbah darah.” Marco menyeringai. Mereka segera diam ketika mendengar bunyi pintu diketuk. Baru setengah jam yang lalu Rolan mengetuk dari luar, saat itu kedua orang di dalam kamar masih tidur-tiduran dengan malas di sofa dan belum berpakaian, jadi keduanya memilih diam saja. Ketukan kali ini terdengar berbeda.


Jose, Marco menebak, hapal dengan cara pemuda itu mengetuk. Keponakannya pasti ingin bicara soal Maria atau meminta izin pergi. Ia memutuskan untuk tidak menjawab atau membuka pintunya. Begitu tidak ada lagi suara, Marco menoleh kembali pada Lady Chantall dan berkata pelan, “Kalau kau sudah selesai membacanya, bakarlah. Seperti itu kebiasaan kami.”


“Ayahmu dulu juga melakukan ini?” Lady Chantall menyadari. “Dan ayahku sebelumnya …”


“Tidak, hanya Argent yang akan mendapatkan surat semacam itu. Keluarga Chantall hanya kebetulan bekerja dengan kami.” Matanya menatap wanita itu dengan sungguh-sungguh. “Ada dunia atas dan bawah di Albion, dan keduanya harus berimbang. Keluarga Argent adalah salah satu dari beberapa bangsawan kuno yang diminta oleh istana untuk menjaga Albion dari bawah, mengatasi hal-hal kotor yang tidak bisa diselesaikan oleh hukum biasa. Ada beberapa keluarga lain yang juga melakukan hal yang sama denganku, meski aku tidak tahu pasti apakah mereka juga berurusan dengan iblis atau tidak. Kau tahu dari mana aku dapat anggaran untuk melakukan begitu banyak hal di Bjork?” Marco tersenyum.


Dari istana, Lady Chantall menebak. “Dan kau memberi tahu semua ini padaku karena …?”


“Aku minta kau membantu Jose setelah ini.”


Lady Chantall menggeleng tegas. Matanya terasa panas. “Aku tidak suka kalau kau bicara begitu, kesannya seperti kau ingin meninggalkanku, dan aku tidak suka itu.”


“Suka atau tidak suka, kita harus mengakui bahwa kita sedang menghadapi hal yang tidak pasti.” Marco menghela napas. “Selain bersama dengan beberapa bangsawan lain menjaga rantai dunia bawah, misiku adalah mengembangkan Bjork, mengembangkannya jadi lebih terpelajar, lebih … bermartabat. Dulu tempat ini lebih mirip sarang penyamun. Yah, awalnya kupikir aku bisa menyelesaikan ini sendiri, lalu membebaskan Edgar dan anak-anaknya dari kutukan keluarga, mereka tidak perlu ikut-ikutan menjadi budak imperial. Tak kusangka malah ada iblis tersesat sampai ke sini.”


“Dan kau akan mengalahkannya. Kau punya cara. Kau selalu punya cara!”


Senyum manis terbit di bibir Marco mendengar keyakinan wanita itu. “Ya.Tapi kalaupun cara itu berhasil, aku rasa Jose tetap akan terpaksa menyelesaikan sisa hal yang belum sempat kupenuhi. Karena itu aku ingin memastikan kau membantunya. Aku akan sangat berterima kasih kalau kau tetap bekerja dengan keluarga Argent setelah ini, membantu Jose.”


Lady Chantall menggeleng. Bibirnya membuka tutup tanpa suara. Tenggorokannya tercekat. Pada akhirnya ia hanya menggeram rendah seperti binatang terluka, “Aku ... tidak … mau ...”


“Jeanne ..."


“Persetan! Aku tetap tidak akan mau meski kau memanggilku begitu!” Lady Chantall meremas surat di tangannya dan melemparnya kencang ke dalam perapian yang masih menyala kecil. Air matanya bergulir tanpa suara. “Aku cuma mau membantumu, bekerja untukmu. Aku cuma ingin kau! Aku tidak mau bekerja untuk Argent yang lain! Aku tidak mau kalau tidak ada kau!” Ia menyentuh wajah Marco dengan satu tangan. Sepatunya belum ia pakai, jadi Lady Chantall berjinjit tinggi ketika menjemput bibir Marco dengan bibirnya, menciumnya dengan lembut dan perlahan, ingin meyakinkan pria itu bahwa mereka punya waktu seumur hidup untuk memuaskan diri, untuk saling menyayangi. Tidak perlu tergesa.


***

__ADS_1


__ADS_2