BLOODY LOVE

BLOODY LOVE
Extra 7: The Curtain Rises


__ADS_3

Nolan berlari kecil menghampiri Jeanne ketika melihat wanita itu di depan Gedung Diskusi, bersandar pada dinding batu di tempat yang teduh dari matahari.


"Kok kau jalan-jalan sendirian?" tanyanya begitu sampai. Ia sekarang cukup sering berkeliaran di Utara karena bekerja paruh waktu di Pusat Arsip. Mata birunya menatap ke sekeliling dengan heran. "Tidak bawa dayang?"


"Aku tidak suka, tidak bebas. Marco dan Rolan ada di dalam." Jeanne mengedikkan kepala ke bukaan lengkung yang mengarah pada ruang pertemuan. "Barusan pulang kerja?"


Nolan mengangguk. "Kau sendiri? Kenapa menunggu di luar?"


"Aku baru saja mengobrol dengan orang Daily Bjork di tempat lain. Tadinya ingin menemui Marco agar bisa pulang bersama." Jeanne membetulkan letak mantelnya. Ia mengenakan gaun dengan potongan tepat di bawah dada, dilapisi mantel tipis yang membuat kelihatan ramping. "Sayangnya di sini bau rokok. Aku ingin pulang saja, tapi setelah dilihat lagi ternyata tangganya curam. Naiknya sih gampang, tapi turunnya agak menakutkan."


"Kau harusnya bawa dayang," Nolan mendecak. Ia menyodorkan lengannya dengan gagah. "Sini, kubimbing turun!"


Jeanne tertawa. Ia baru mau melingkarkan lengan pada Nolan ketika serombongan orang keluar sambil mengobrol keras dari gedung. Salah satu dari rombongan itu menoleh ke arah mereka, lalu memisahkan diri dan berjalan menghampiri.


Pria itu mengenakan jas dan mantel mahal. Penampilannya perlente. Wajahnya persegi, dengan cambang halus menghiasi rahang. Jidatnya sempit dan alisnya hampir tidak ada. Nolan tidak pernah melihat orang itu sebelumnya, tapi ia waspada karena bisa merasakan Jeanne menegang di sampingnya. Wanita itu berdiri lebih tegak, sebelah tangan diletakkan di depan perut dengan protektif, dan aura di sekitar mereka berubah jadi lebih dingin meski matahari bersinar cukup hangat pagi ini.


"Selamat pagi, Lady Chantall," sapa pria itu dengan senyum manis. Gerombolannya masih menunggu di belakang, bersandar pada langkan undakan batu. "Sudah lama kita tidak bertemu, ya."


"Lady Argent," koreksi Nolan ketus, mengawasi pria di depannya dengan curiga. "Dia bukan Chantall lagi."


"Terima kasih sudah meralat, Nolan," Jeanne tersenyum ke arahnya. "Selamat pagi juga Eastwood. Memang sudah lama kita tidak bertemu, sebenarnya aku harap akan begitu seterusnya."


Eastwood menatap Nolan dan Jeanne bergantian, seperti menimbang mana yang harusnya ditanggapi. Ia memutuskan mengabaikan Nolan. "Aku juga inginnya begitu. Tapi Marco mengundangku hari ini. Lucu, ya? Kau tahu kenapa tiba-tiba dia mengundangku padahal selama ini tidak menganggap baron sepertiku ada?"


"Kau akan tahu kalau datang, Eastwood. Percuma bertanya padaku." Jeanne masih mempertahankan ekspresi dinginnya.


"Datang?" Eastwood tertawa mengejek. Ia menoleh ke belakang, ke arah teman-temannya. "Hey, dia tanya kenapa aku tidak datang ke rumahnya! Dia kira aku bodoh seperti Spencer!"


Gerombolan yang menunggu di tangga hanya tersenyum dan terkekeh, tapi wajah-wajah mereka agak cemas. "Sudahlah, Guy!" salah satu berkata. "Ayo pergi."

__ADS_1


"Kalian harus dengar ini! Ini kan lucu!" seru Eastwood marah. Ia berpaling kembali ke depan dan melangkah mendekat. "Aku diam saja selama ini dihina oleh kalian, tapi bagaimana rasanya saat situasi berbalik seperti ini, Chantall?"


Nolan cepat-cepat berdiri di tengah mereka dan melempar tatapan tajam. "Mundur! Mana sopan santunmu? Lady Argent belum mengizinkanmu mendekat!"


"Mana sopan santunmu?" balas Eastwood tajam. Ia memandangi Nolan dengan tatapan menelanjangi, mendengus ketika sampai pada dada rata gadis itu. "Aneh sekali Keluarga Argent. Membayar pelayan lelaki untuk memakai rok."


Nolan memang sudah jarang memakai celana. Ia mengenakan rok terusan biru dan rambut panjangnya dikucir satu, disembunyikan di balik topi usang. Ia tergelak menanggapi celaan barusan. "Aku memang kelihatan seperti lelaki, beda denganmu."


"Nolan bukan pelayan, dia temanku," sahut Jeanne cepat sebelum Eastwood sadar dirinya sedang balas dihina. Jantungnya berdegup kencang memperhatikan tongkat metal di tangan Eastwood. Orang-orang berkumpul di sekeliling mereka, tapi hanya menonton dari jauh sambil berbisik-bisik. "Aku tidak tahu apa masalahmu, Eastwood. Kenapa kau tiba-tiba mengamuk?"


"Wah, berlagak jadi korban sekarang?" balas Eastwood sambil bertepuk tangan. Tongkatnya ia kempit di ketiak. "Kau mau bilang kalau kau tidak tahu yang dilakukan keluarga barumu pada Hastings?"


"Apa sih urusanmu?" Nolan bingung sendiri apa alasan pria itu cari gara-gara. "Kalau ada masalah dengan Marco, kau ngomong saja padanya! Beraninya kok dengan wanita hamil!"


Eastwood melengos. "Hamil anak setan? Menikah belum ada setengah tahun tahu-tahu sudah bunting. Semua orang tahu itu bukan anak Marco."


Nolan melotot. Ia baru mau menghardik, tapi pundaknya digeser ke samping. Jemari yang mencengkeram pundaknya terasa dingin hingga ia merinding. Aroma manis bunga merebak, tercium sekilas ketika Jeanne melewatinya. Nolan tidak sempat mencegah. Tidak ada yang sempat bereaksi. Tahu-tahu saja suara telapak menampar pipi sudah meletus di udara.


Namun Eastwood tidak setenang Jeanne. Begitu menyadari bahwa ia baru saja ditampar di hadapan banyak orang—yang kini malah tertawa sembunyi-sembunyi, Eastwood segera meraung membalas. Tongkatnya diayunkan keras ke arah kepala. Nolan memekik, tapi tidak cukup cepat untuk menghalangi.


***


"Tidak bisa dipercaya! Kalian harusnya tidak meninggalkan dia sendirian!" Nolan masih memprotes, mengejar Rolan yang berjalan cepat melintasi lorong panjang Gedung Diskusi. "Kutebak kalian pasti juga tahu orang gila itu ada di sini! Jangan bilang kalian sengaja memancingnya?"


Rolan berhenti tiba-tiba. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan kilat untuk memastikan situasi. Hanya ada mereka berdua di koridor itu. "Kau benar, kami memang tahu Eastwood di Gedung Diskusi, karena itu kami ke sini." Ia melangkah lebih dekat pada Nolan, yang buru-buru mundur dengan waspada hingga punggungnya menabrak dinding lorong.


Jika ada satu hal yang membuat Nolan takut, itu adalah Rolan. Dokter itu pernah mencekik dan mengguncangnya di udara dengan mudah seolah ia hanya boneka kain—dan Rolan melakukannya dengan seringai mengerikan di wajah.


"Kau juga benar bahwa kami memang memancing Eastwood barusan," sambung Rolan lagi dengan suara pelan. Tangannya mengusap wajah. "Undangan ke rumah Argent hanya alat untuk membuatnya datang ke Gedung Diskusi. Marco sejak awal tahu dia tidak akan ke sini dan membual. Kami memancing supaya dia paranoid dan bermaksud menggiringnya agar lepas kendali di depan umum. Tapi kami tidak tahu Jeanne ada di luar. Marco tidak tahu. Kau pikir dia akan tega membahayakan keluarganya? Istrinya?"

__ADS_1


Nolan menjatuhkan pandangan. "Kau benar," gumamnya sambil mengusap lengan. "Marco bukan orang seperti itu."


"Bagus. Jadi jangan menyalahkannya, mengerti? Meski kelihatan kalem, dia sebenarnya sangat menyesal." Rolan menghela napas, mau tak mau jadi ingat Yvone. Ia bisa memahami bagaimana perasaan Marco sekarang. "Yah, syukurlah dia tidak apa-apa. Hanya tergores sedikit."


Nolan mengangguk. Ia mengikuti Rolan menuju ke ujung koridor, masih sambil membayangkan apa yang terjadi beberapa saat lalu. Semuanya terjadi terlalu cepat. Jeanne menampar Eastwood, kemudian pria itu mengayunkan tongkat metal yang dibawanya untuk memukul. Jeanne pasti terluka parah andai Marco tidak datang ke tengah mereka tepat pada waktunya, menjadi tameng.


Setelah memastikan bahwa Jeanne baik-baik saja, Marco dengan cekatan dan sopan memberi tahu Eastwood bahwa alasannya mengundang pria itu berkaitan dengan rumor yang tersebar.


"Banyak orang menyebut nama Anda ketika aku mencari tahu siapa sumber kisikan, karena itu aku mengundang Anda untuk bicara; untuk meluruskan kesalahpahaman yang mungkin ada di antara kita," Marco mengatakannya dengan tenang tanpa terganggu pelipisnya yang berdarah. "Sayang sekali, Anda tidak datang ... dan malah menyerang istriku di siang bolong. Setidaknya aku akhirnya diyakinkan bahwa rumor rendahan memang datang dari orang rendahan."


Eastwood mencoba membela diri dan memberi pembenaran, tapi semakin ia bicara, ia malah kelihatan makin buruk karena semua tuduhannya dimentahkan dengan piawai. Ia justru memberi kesempatan pada Marco untuk memberi klarifikasi dan tampil sebagai orang yang benar. Sepanjang peristiwa itu mata Jeanne terpaku khawatir menatap Marco, membuat semua yang menonton bisa melihat sendiri dengan jelas bahwa hubungan keduanya bukan didasari alasan politis.


Eastwood tidak mungkin menang bicara di hadapan orang yang memelopori dibangunnya Gedung Diskusi dan tak pernah kalah berdebat dalam forum di sana.


Sebelum semua orang ikut merasa malu melihat tingkah Eastwood, Rolan menggeret pria itu masuk ke dalam gedung sementara polisi dipanggil.


Wajah Rolan terlihat sangat menyeramkan tadi, seolah yang hampir dilukai adalah istrinya sendiri.


Sekarang pun masih menyeramkan, batin Nolan sambil mengikuti sang dokter yang berjalan cepat ke ujung ruangan.


"Kau mau mengikutiku sampai mana?"


"Aku ingin lihat apa yang akan kalian lakukan pada orang itu."


"Sebaiknya jangan." Rolan menoleh, memberinya seulas senyum ganjil. "Kau anak jujur dan baik, jadi tidak akan suka melihat apa yang nanti kulakukan."


Kalimat itu diucapkan dengan nada ramah, tapi mata Rolan menusuk tajam, membuat kaki Nolan membatu. Sesuatu dalam pandangan dokter itu membuat Nolan mengerti bahwa peringatan barusan pasti serius.


Satu titik keringat dingin mengalir di punggungnya. Begitu punggung Rolan menghilang di kelokan koridor, barulah Nolan menyadari bahwa sejak tadi ia menahan napas.

__ADS_1


Jujur dan baik? Nolan menggaruk pelipis. Hatinya melambung mendengar pujian itu, tapi ada sedikit rasa sebal karena Rolan masih menyebutnya anak padahal umurnya tahun ini sudah delapan belas.


***


__ADS_2